[FF] Let’s Go Home

Title: Let’s Go Home

Author: fishyoriga
Rating : T
Casts: YOU and OC
Other Casts: Super Junior, SNSD
Genre: Family, AU, Angst
Length : Oneshoot
Part: –

Disclaimer : The characters in this story is the character of their own with a bit of my imagination and this story is only a fiction. So don’t sue me.

A/N :

– The main cast is YOU and called Park Hyori.

– You can find other cast when you read this story.

***

***

HYORI’S POV

“Hyori~ Ibu dan ayah akan bercerai,” ucap ibu sesaat setelah makan malam. Aku terdiam menatap ayah dan ibu. Aku terkejut mendengar perkataan ibu. Ibu bilang bahwa ayah dan ibu akan bercerai. Mengapa ? Tapi aku pikir zaman sekarang perceraian bukan hal yang aneh.

“Oh~ begitu~” ucapku santai—tepatnya berusaha agar tampak tenang dan tidak terpukul sama sekali sesaat mendengar pengakuan ibu. “Oh begitu ? Cuma itu ?” ucap ayah heran menatapku. Aku sendiri tak tau harus berkata apa. “Kakak~” ucap Taejun adikku yang tak kalah heran menatapku. Ibu juga menatapku dengan sangat heran.

“Kenapa ?” tanya ku pada ayah, ibu dan Taejun. “Ani~ sudah malam, lebih baik kau tidur. Besok kau sekolah kan ?” ucap ibu yang menyuruhku untuk segera tidur karena besok aku harus pergi ke sekolah. “Ne~ Ayo Taejun kita tidur!” ucapku bersemangat mengajak adikku pergi tidur. Aku dan Taejun memang satu kamar karena Taejun sendiri masih kelas 3 SD. Yaa~ menurutku dia sudah cukup umur untuk tidur sendiri bukan ? Tapi Taejun memang sedikit penakut dan manja sehingga ayah menyuruh kami untuk tidur di kamar yang sama.

::::::::::

“PAGIIIIIIIIIIIIIIIIIII !” ucapku bersemangat saat memasuki ruang kelas ku yang sudah banyak teman-temanku disana. “Pagi Hyori~” ucap Hyuna—temanku dengan cara berpakaiannya yang khas dan rambut panjangnya yang diikat yang tak kalah semangat dengan ku. “Kamu selalu bersemangat ya Hyori~” ucap Yoonmi—gadis berambut pendek yang merupakan temanku juga—berkomentar. “Bukankah jika kita akan menghadapi hari baru harus bersemangat ?” ucapku tersenyum kepada Yoonmi dan Hyuna.

Yoonmi menimbang perkataanku. “Betul juga,” ucapnya pelan seraya menganggukkan kepalanya. “Kamu menghalangi,” ucap Lee Donghae—salah satu murid laki-laki yang satu kelas denganku—sudah berada dibelakangku. Yaa ku akui tempat aku berdiri memang diambang pintu. Tapi sikapnya itu sungguh dingin sekali. “Ma-maaf,” ucapku meminta maaf padanya.

Kulihat ia berjalan melewatiku dan menuju tempat duduknya yang berada di barisan kedua dari belakang. “Pagi monyeet~” sapanya pada Lee Hyukjae yang memang sering dipanggil dengan sebutan ‘monyet’. Aku pun tak mengerti mengapa Hyukjae sampai bisa dipanggil ‘monyet’ seperti itu. Hhh ya sudahlah, toh itu bukan urusanku.

“Kemarin aku dan Hyuna membuat kue bersama. Ini, makanlah bersama Taejun~ Taejun suka kue ‘kan ?” ucap Yoonmi tersenyum padaku dan membuat ku tersadar dari lamunanku. “Sebenarnya kue ini ga boleh dibawa tapi karena rasanya lumayan enak jadi ku bawa~” ucap Hyuna tersenyum seraya menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya yang tipis.

“Waaaah~ yang benar ? Gomawo~” ucapku senang—aku bersyukur mempunyai sahabat seperti Yoonmi dan Hyuna tapi bukan karena mereka memberiku kue tentunya. “Ayah dan Siwon oppa suka mencuri makanan jadi bisa gawat kalau disimpan dirumah~” ucap Yoonmi bersemangat.  “Oh~ begitu ya~” ucapku tersenyum—tepatnya senyum yang dipaksakan.

::::::::::

Sepulang sekolah—seperti biasanya aku pergi menuju sekolah Taejun untuk menjemputnya. Sepanjang perjalanan aku kembali teringat perkataan Yoonmi tadi pagi. Entah mengapa aku merasa iri kepada keluarga yang punya hubungan baik. Tapi jujur saja, aku juga tak begitu menyukai ayah. Aku merasa aku sangat kejam karena berpikiran seperti itu. Tapi aku pun bersyukur karena aku mempunyai ayah dan ibu yang hebat.

“Waaah~ itu kakaknya Taejun~” seru teman-teman Taejun saat aku sampai didepan sekolah Dongjoon. Salah satu temannya—Yeon Ji Hee berlari kearahku lalu memelukku. Aih~ manis sekali. “Annyeong Hyori eonni~” sapa Ji Hee menatapku. “Annyeong Ji Hee-ya~” balasku tersenyum ke arah Ji Hee.

“Apakah kau melihat Taejun ?” tanyaku pada gadis kecil yang berada dihadapanku. Gadis itu mengangguk semangat. “Ayoo !” ucapnya menarik lenganku. Aku dibawa kesebuah ruangan yang penuh dengan anak-anak kecil, sungguh manis. “Taejun-ah~” panggilku saat sudah berada didalam ruangan itu. Taejun berbalik. “Kakaaak!” ucapnya setengah berteriak saat melihat ku. Aku tersenyum pada adikku yang sangat ku sayangi ini.

Taejun berlari kecil menghampiriku. “Ayo kita pulang~” ajakku pada Taejun yang sudah siap dengan tas ransel dipunggungnya. “Ibu guru~ aku pulang dulu~” ucap Taejun semangat kepada wali kelasnya. “Kami permisi~ annyeong,” ucapku pamit pada wali kelas Taejun.

***

“Kakak~” panggil Taejun dengan suara yang seperti berbisik. Aku hanya bergumam menjawab panggilannya. “Kita akan ikut ibu ‘kan ?” tanyanya menundukkan kepalanya. Aku menatap Taejun lalu aku tersenyum padanya. “Hmm ya, sepertinya begitu~” ucapku.

“Jadi, kita bisa main sama-sama ?” tanya Taejun penuh harap dan bersemangat. “Tentu saja !” jawabku seriang mungkin dihadapan Taejun. “Benarkah ?” ucap Taejun meyakinkan dengan mata yang berbinar. “Iyaaaa~” ucapku mengacak-acak rambut Taejun. “Waaaah~” Taejun berusaha melepaskan diri dari ku.

HYORI’S POV END

::::::::::

“Waaah~ enaaaak !” seru Taejun saat melihat beberapa kue kering diatas meja dapur—tentunya setelah berganti pakaian terlebih dahulu. “Katanya Yoonmi dan Hyuna noona loh yang buat,” ucap Hyori semangat.  “Benarkah ? Waah hebaat~” ucap Taejun kagum. “Katanya kalau kue yang baru diangkat dari oven lebih enak lagi loh,” ucap Hyori tersenyum ke arah Taejun.

“Waaah, kira-kira ibu mau membuatkan nggak yah ?” tanya Taejun yang berpikir. “Ng…sepertinya nggak~” ucap Hyori pelan. Raut wajah Taejun berubah—menjadi sedih. “Iya, soalnya ibu pasti sangat sibuk~” ucap Taejun murung. Hyori menatap Taejun. Ia tak ingin melihat adiknya seperti ini. “Aku—ingin makan lagi,” sambung Taejun dengan suara pelan—hampir seperti berbisik.

“Baiklah, bagaimana jika kita buat berdua ?” ucap Hyori tersenyum menatap Taejun. “Ayoooo !” seru Taejun semangat.

***

“Kau cetak cokelatnya ya,” ucap Hyori memberikan beberapa cetakan kepada Taejun. “Iya!” ucap Taejun semangat. “Ng… Taejun-ah kau buat apa ?” tanya Hyori saat melihat adiknya membuat sesuatu dari adonan kue. “Cacing,” ucap Taejun polos. “Aih~ itu makanan jangan dibuat mainan. Ini ‘kan kue yang dicetak, jadi pakai cetakan Taejun~” ucap Hyori dengan sabar menjelaskan bagaimana cara mencetak adonan dengan cetakan.

“Kalau begitu aku mau buat yang berbentuk bintang,” ucap Taejun mengambil salah satu cetakan yang ada di atas meja tempat mereka membuat kue. “Iya~ ayoo buat yang banyak,” ucap Hyori menyemangati Taejun. Hyori tersenyum menatap adiknya yang begitu bersemangat.

***

“Naaah sudah mataang !” seru Hyori saat melihat kue yang berada didalam oven—yang ternyata sudah matang. “Eh jangan dipegang, ini sangat panas~” ucap Hyori saat Taejun akan memegang Loyang yang digunakan untuk membuat kue.

“Ibu pulang~” terdengar suara Taeyeon—ibu Hyori dan Taejun dari pintu depan rumah. “Selamat datang~” ucap Hyori dan Taejun bersamaan. “Waah—apa ini ? baunya sangat harum,” ucap Taeyeon menghampiri Hyori dan Taejun. “Enak ya!” seru Taejun semangat.

‘Aku senang sekali jika aku setiap hari bisa bersama ibu dan Taejun. Karena kami lebih sering menghabiskan waktu bertiga, jadi tak ada ayah pun tak masalah bukan ?’—pikir Hyori seraya tersenyum menatap Taeyeon dan Taejun.

“Waah kuenya sangat lezat, itu untuk besok ?” tanya Taeyeon saat melihat kue yang masih ada. “Ani~ ini untuk ayah,” jawab Hyori menatap ibunya. “Mungkin ayah tak akan memakannya~” ucap Taeyeon pelan. Sebenarnya ia tak ingin membuat Hyori merasa kecewa tapi ia tak ingin melihat putri pertamanya yang beranjak dewasa lebih kecewa karena suaminya tak memakan kue buatan Hyori dan Taejun.

“Iya—tapi, tak apa ibu~” ucap Hyori tersenyum—Taeyeon menatap putrinya, ia tau betul senyuman Hyori adalah senyuman yang dipaksakan. “Tidurlah~ sudah malam~” ucap Taeyeon mengusap kepala Hyori.

:::::::::

Hyori baru bangun dari tidurnya, ia segera keluar dari kamarnya untuk mengambil handuk dan segera mandi. Hyori mencari ayahnya, namun Park Jungsoo—ayah Hyori dan Taejun sepertinya sudah pergi ke kantor. Hyori berjalan menuju dapur.

“Ayah tidak membawanya~” ucap Hyori pelan dan juga kecewa. Diambilnya salah satu kue dari kantung yang sudah berisi beberapa kue. “Eh, nggak enak~”

***

“Aaah aku sudah lama tidak pergi kerumah nenek,” seru Taejun semangat saat dalam perjalanan menuju stasiun untuk pergi kerumah neneknya yang berada di Jeonju.  “Masih ada waktu sebelum kereta datang, bagaimana jika kita beli kue dulu~” ajak Taeyeon. Dangan semangat Taejun langsung mengiyakan ajakan Taeyeon untuk membeli kue terlebih dahulu.

“Eh, ponsel ku ketinggalan~” ucap Hyori setelah mencari ponselnya didalam tas yang ternyata tertinggal di rumah. “Kalau begitu, kamu ambil dulu. Ibu mau membeli oleh-oleh dulu untuk nenek,” ucap Taeyeon tenang. “Baiklah~” ucap Hyori segera berlari kembali menuju rumahnya.

***

“Aku pulaang~” ucap Hyori saat sampai dirumah. Terdengar suara batuk yang berasal dari ruang keluarga. “Ayah ? Ayah sudah pulang ?” ucap Hyori saat melihat ayahnya sedang duduk dilantaididepan subuah meja pendeksambil batuk-batuk. “Iya, ayah baru saja pulang,” ucap Jungsoo pelan.

“Ayah masuk angin ?” tanya Hyori menatap Jungsoo khawatir. “Iya, ayah sedikit demam. Tapi kalau tidur demamnya juga akan hilang~” ucap Jungsoo menatap Hyori putrinya. “Kamu mau kerumah nenek ‘kan ? Ayah tidak apa-apa, kau pergi saja,” sambungnya tak ingin melihat Hyori khawatir. “I-iya,” ucap Hyori ragu.

Hyori berjalan menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya yang tertinggal. ‘Ayah masih pakai kemeja, padahal ayah sedang masuk angin tapi malah makan mie ramen’—pikir Hyori. Hyori kembali berjalan menuju ruang keluarga.

“Ayah, ini aku bawakan selimut. Setidaknya ayah tidurlah di sofa,” ucap Hyori saat melihat Jungsoo tertidur dilantai. Jungsoo beranjak menuju sofa lalu berbaring—sesuai dengan apa yang dikatakan Hyori. Hyori menyelimuti ayahnya. “Ayah mau minum ?” tanya Hyori menatap ayahnya yang terlihat sangat lemas. “Eh~ ayah mau air putih saja,” jawab Jungsoo.

Hyori berjalan menuju dapur lalu mengambil segelas air putih untuk ayahnya. ‘Ini pertama kalinya aku melihat ayah seperti ini’—pikir Hyori menatap ayahnya khawatir. “Ah gawat,” ucap Hyori terkejut saat melihat ada panggilan masuk dari ibunya.

“Yeoboseyo~” ucap Hyori seraya menempelkan ponselnya ke telinga kananya. “Hyori-ya apa yang terjadi ? Sekarang kamu ada dimana ?” tanya Taeyeon sedikit khawatir karena Hyori tak kunjung kembali ke stasiun.

‘Bagaimana ini ? aku harus segera pergi’—pikir Hyori. Hyori menoleh ke arah ayahnya yang terbatuk. “Err—ibu aku lupa kalau aku ada janji dengan Hyuna dan Yoonmi,” ucap Hyori yang akhirnya berbohong kepada Taeyeon. “Apa ? Memangnya tidak bisa kamu batalkan saja ?” tanya Taeyeon.

“Mianhae tidak bisa, ‘kan nggak enak jika kita membatalkan janji secara mendadak. Lagipula aku sudah janji sejak lama,” jawab Hyori. “Hmm benar juga,” ucap Taeyeon pelan. “Jika soal makanan Ibu tidak usah khawatir, aku ‘kan sudah bisa masak. Lagipula disini ada ayah jadi aku akan baik-baik saja,” ucap Hyori berusaha agar ibunya tak khawatir dengan keadaannya. “Kau yakin ? Kalau begitu berhati-hatilah. Jangan berbuat yang macam-macam, arasso ?” ucap Taeyeon meyakinkan.

“Iya ibu~” jawab Hyori seriang mungkin. Lalu percakapan antara Taeyeon dan Hyori berakhir. Hyori bersandar ke dinding, menatap ayahnya yang tertidur. ‘Haah, apa yang telah kulakukan ?’—pikir Hyori.

***

“Kami pulaaang~” seru Taejun saat kembali kerumahnya. “Selamat datang,” sambut Hyori tersenyum saat melihat adiknya yang tampak sangat senang. “Kakak, coba dengar. Kata nenek kalau kita tinggal dirumah nenek kita akan dapat kamar sendiri-sendiri~” ucap Taejun bersemangat—yaa memang sudah waktunya Taejun untuk memiliki kamar tidur sendiri bukan ?

“Nenek mengajak kita tinggal bersamanya, Taejun ‘kan masih kecil jadi menurut nenek labih baik ada orang dewasa yang dapat menjada Taejun dan kamu jadi punya banyak waktu untuk bermain bersama teman-temanmu,” ucap Taeyeon menjelaskan semuanya pada Hyori.

“Oh begitu~” ucap Hyori singkat.

“Kak, katanya Dara-noona suka marah kalau Cheondoong-hyung masuk kekamarnya. Apakah kakak juga akan seperti Dara-noona jika aku masuk ke kamar kakak ?” tanya Taejun polos. Hyori tersenyum pada Taejun.

“Tentu saja tidak, selama ini kita ‘kan sekamar jadi kakak tidak akan marak jika kamu masuk ke kamar kakak dan akamu boleh masuk kekamar kakak kapan saja~” jawab Hyori menatap Taejun. “Benarkah ? Janji yaa,” ucap Taejun senang seraya menjulurkan jari kelingkingnya. “Jaji~” ucap Hyori menyambut kelingkin Taejun.

“Eh, kakak bikin kue lagi ?” tanya Taejun saat melihat ada beberapa kue diatas meja. “Iya, tadi kakak membuatnya bersama teman~” ucap Hyori tersenyum—‘Sebenarnya aku membuat kue ini untuk ayah’—ucap Hyori dalam hati.

“Waah enaak, kakak tambah hebat yah~” seru Taejun. “Benarkah ?

Tiba-tiba Jungsoo keluar dari kamar seraya memegangi kepalanya yang masih terasa sakit. “Ng… ayah mau makan kue juga ?” ucap Hyori menawarkan kue buatannya kepada ayahnya. “Tidak, ayah sedang tidak selera makan~” jawab Jungsoo berjalan melewati Hyori, Taejun dan Taeyeon. Hyori menatap ayahnya, begitu pula dengan Taeyeon yang khawatir sikap suaminya itu dapat membuat anak-anak mereka menjadi merasa sedih.

::::::::::

Hyori duduk dibangku kelasnya. Terdengar beberapa murid bercerita mengenai keluarganya. “Kemarin aku jalan-jalan dengan keluarga, hhh sangat memalukan. Mana ayahku sangat cerewet,”

Lalu percakapan yang lainnya. “Hari ini aku mau belanja dengan ibuku…” Dan selanjutnya. “Apa ? Ini dibelikan ? Waah senangnya~”

‘Padahal semua itu percakapan yang biasa ku dengar setiap hari. Tapi, kenapa aku merasa sangat sedih ? Ah mungkin karena kue yang tak dimakan ayah’—batin Hyori. Hyori beranjak dari duduknya. “Hyori-ya mau kemana ?” tanya Yoonmi saat melihat sahabatnya berjalan keluar kelas. “Ah, aku mau ke toilet,” jawab Hyori tersenyum kearah Yoonmi.

***

Hyori berjalan menuju belakan sekolah—tepatnya menuju tempat sampah yang berada di sekitang area belakang sekolah.

“Eh, daripada dibuang labih baik untukku saja,” ucap seorang lelaki yang sedang duduk si salah satu undakan tangga menuju aula sekolah saat Hyori akan membuang kantung kue yang ia bawa. “Tapi—ini tidak enak,” ucap Hyori pada Donghae—lelaki tersebut.

“Tidak apa-apa, yang penting bisa dimakan. Aku sangat lapar,” jawab Donghae sambil menatap Hyori. Lalu Hyori memberikan bungkusan yang berisikan kue buatannya kepada Donghae. “Oh~ buatan sendiri ya, kamu hebat!” puji Donghae saat melihat kue yang diberikan Hyori. Hyori tersenyum ke arah Donghae lalu ia duduk di dekat lelaki itu.

“Kuenya enak,” sambung Donghae setelah menggigit salah satu kue Hyori. “Benarkah ?” tanya Hyori tak percaya. “Bohong pun tak ada gunanya bukan ?” ucap Donghae menatap gadis yang ada disampingnya.

“Kita berpikir sesuatu itu enak karena kita sudah pernah merasakan sesuatu itu enak ‘kan ? Jadi nggak ada bedanya. Coba kau makan saja,” sambung Donghae menyerahkan salah satu kue yang ada di bungkusan itu. Hyori menatap Donghae, belum pernah ia melihat pria itu berbicara panjang lebar seperti tadi. Lalu ia menerima kue yang diberikan Donghae.

Hyori menggigit kue yang ada ditangannya. “Iya, kamu benar—“ ucap Hyori. ‘Kue yang sudah dingin hampir mirip dengan kondisi keluarga ku. Aku ingat, dulu keluarga ku begitu hangat dan karena itu aku sangat merindukannya’—batin Hyori. Ia tersenyum kearah Donghae. Begitupun sebaliknya.

::::::::::

“Aku akan tinggal disini dengan ayah,” ucap Hyori saat semua kelurganya sedang berkumpul di ruang kelurga. “Apa ? Kenapa ? Jadi kakak tidak jadi tinggal dirumah nenek ?” tanya Taejun kecewa. “Hyori, kau tak perlu memaksakan diri,” ucap Jungsoo yang saat itu sedang membaca Koran disofa. “Tidak. Ada banyak alasan mengapa aku memilih untuk tinggal bersama ayah. Lagi pula sebentar lagi aku kenaikan kelas dan aku pikir aku akan menyelesaikan sekolahku dulu. Kelas 3 SMA ‘kan sebentar,” ucap Hyori menjelaskan.

“Ibu—berarti kakak akan pisah denganku ?” tanya Taejun kesal.  “Itu nggak benar,” ucap Hyori. “Kakak bohong ! Padahal kakak sudah berjanji padaku ! Kakak pembohong !” ucap Taejun yang lalu berlari masuk kekamar. “Taejun-ah,” panggil Hyori, namun Taejun terus berlari dan tak menghiraukan panggilan kakaknya.

“Hyori-ya, ibu juga ingin kamu ikut dengan kami~” ucap Taeyeon memenggang tangan dan bahu Hyori. “Maaf ibu, tapi aku sudah memutuskannya~” ucap Hyori lirih.

***

“Taejun ?” ucap Hyori saat memasuki kamarnya yang juga kamar Taejun. Hyori melihat adiknya yang menangis sambil membelakanginya. Hyori lalu berjalan menuju tempat tidurnya. “Maaf ya Taejun~” ucap Hyori. Entah mengapa air mata keluar begitu saja dari mata Hyori. Sungguh ia tidak ingin menjadi seperti ini tapi ia sudah memutuskan.

:::::::::

‘Suara tangisan Taejun masih terdengar hingga tengah malam dan selama itu dadaku terasa sesak’—batin Hyori.

Hyori berjalan menuju sekolah Taejun. “Kenapa ? Ada sesuatu ya?” tanya Donghae—yang entah sejak kapan berada disamping Hyori. Hyori sangat terkejut dibuatnya. “Ah, ani~” ucap Hyori membuang muka.

“Ceritakanlah~” desak Donghae. Hyori menatap Donghae lalu menghela nafas panjang. “Belakangan ini adikku tak mau bicara denganku,” ucap Hyori yang akhirnya bercerita pada Donghae. “Tapi aku yakin sebentar lagi ia akan kembali bicara padaku~” ucapnya seriang mungkin.

“Hyori-ssi~” panggil Choi Sooyoung—wali kelas Taejun—berlari kearah Hyori dan Donghae. Hyori tersenyum kearah Sooyoung. “Maaf, apa Taejun masih ada disekolah ?” tanya Hyori tersenyum kearah Sooyoung.

“Maaf tapi sepertinya Taejun sudah pulang tadi,” ucap Sooyoung heran. “Apa ?” tanya Hyori terkejut sekaligus khawatir. Hyori tidak menyangka jika adiknya bisa senekat ini. Jari-jari Hyori dengan lincah mengetikkan beberapa nomor telepon di ponselnya, setelah nomornya lengkap ia menekan tombol call.

“Apa ini sering terjadi ?” tanya Donghae kebingungan. “Ani~ Taejun belum pernah seperti ini,” ucap Hyori panik. “Kalaupun dia tidak mau bicara denganku, ia pasti menungguku~” sambung Hyori semakin panik karena teleponnya tidak diangkat oleh Taejun.

“Aih~ tidak diangkat,” ucap Hyori putus asa ketika teleponnya benar-benar tidak diangkat oleh Taejun. “Mau dicari ? Kebetulan hari ini aku tidak ada acara jadi aku bisa membantumu mencari adikmu,” ucap Donghae seraya mengambil ponsel Hyori dari genggaman gadis itu. Hyori menatap Donghae tak mengerti—mengapa lelaki itu mengambil ponselnya.

“Apa kau punya foto adikmu ?” tanya Donghae seraya mengetikkan beberapa nomor di ponsel Hyori. “A-ada,” ucap Hyori terbata-bata.

“Baiklah, aku akan ke stasiun. Lalu kirimkan foto adikmu ke no itu,” ucap Donghae tersenyum pada Hyori. Enatah mengapa Hyori merasa sangat senang. Hyori tersenyum pada Donghae. “Iya~ Gomawo~” ucapnya yang lalu berjalan berlainan arah dengan Donghae.

***

Hyori terus berlari dan mencari Taejun ke tempat dimana Taejun biasa menunggunya jika ia telat menjemput Taejun. ‘Taejun-ah kau dimana ? Aih~ kenapa dia pergi seperti ini ? Harusnya aku bicara dengannya~’—batin Hyori seraya terus mencari Taejun.

“Haah disini juga tidak ada,” ucap Hyori kecewa saat sampai di sebuah taman.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Hyori melihat layar ponselnya ‘Donghae calling’, dengan segera ia mengangkat telepon dari Donghae. “Apa ? Ada? Baik, aku akan segera kesana~” ucap Hyori yang lalu mengakhiri pembicaraannya dengan Donghae.

***

Hyori berlari secepat mungkin agar ia segera tiba di stasiun. “Taejun-ah~” panggil gadis itu saat melihat Taejun sedang bersama Donghae. Donghae yang sedang duduk disalah satu bangku yang ada disitu—seraya menahan tas Taejun agar anak laki-laki itu tidak pergi kemana-mana—menatap Hyori yang berlari kearahnya.

“Itu dia datang~” ucapnya pada Taejun yang berusaha mengambil tasnya. Taejun menoleh kearah Hyori lalu ia kembali menatap lurus kedepan—membelakangi Hyori—dan diam. “Adikmu tertangkap karena mondar-mandir di depan loket penjualan tiket,” ucap Donghae menjelaskan pada Hyori.

“Kenapa ?” tanya Hyori khawatir menatap punggung adiknya. “Ha-Habis, kakak membenciku ‘kan ?” tanya Taejun dengan suara yang tertahan karena menangis. “Makanya kakak nggak mau ikut aku dan ibu kerumah nenek ‘kan ?” sambung Taejun menundukan kepalanya. Hyori hanya bisa menatap Taejun dalam diam. Air matanya mulai membasahi kedua pipinya.

Hyori benar-benar tak menyangka jika Taejun sampai berpikiran seperti itu. “Ya! Jika Hyori membencimu, dia nggak akan mencarimu. Malahan dia sangat sedih karena dia pikir kau membenci kakakmu,” ucap Donghae menepuk pundak Taejun. “Apa ?” ucap Taejun tak percaya seraya menoleh kearah Donghae lalu menoleh kearah Hyori. Lalu Taejun berbalik dan berdiri.

“Maafkan kakak Taejun. Kakak tidak pernah membenci Taejun ataupun ibu. Aku sangat menyayangi kalian. Bahkan aku tak tau harus bagaimana jika Taejun membenciku~” ucap Hyori berlutut lalu memeluk Taejun erat.

Taejun terdiam. Ia menoleh kembali pada Donghae yang berada disampingnya. Donghae tersenyum kearah Taejun. Taejun membalas pelukan Hyori. “Kakak~ maaf~” ucap Taejun menangis dibahu Hyori.

::::::::::

Hyori berbaring di tempat tidurnya yang bersebelahan dengan tempat tidur Taejun. Hyori merubah posisi tidurnya sehinggah menghadap Taejun. “Taejun-ah, apakah kau membenci ayah ?” tanya Hyori menatap Taejun. “Nggak, aku nggak membenci ayah malahan aku sangat menyukai ayah. Ayah ‘kan ayah kita,” jawab Taejun polos.

Hyori tersenyum. “Ne~ dia ayah kita, karena itu kakak nggak ingin membiarkan ayah sendirian,” ucap Hyori pelan. “Begitu ya,” ucap Taejun menatap langit-langit kamar mereka.

“Taejun-ah,” panggil Hyori beranjak dari tidurnya lalu berjalan menuju tempat tidur Taejun. “Kita tidur sama-sama ya~” ucap Hyori menatap adiknya. “Eh ? Tapi ‘kan sempit kak,” ucap Taejun menatap Hyori heran—karena terkadang kakaknya ini bersikap seperti anak kecil.

“Sudahlah, tak apa-apa. Bukankah dulu juga kita suka tidur sama-sama ?” ucap Hyori. Taejun menggelengkan kepalanya. “Taejun-ah, kakak akan membiarkan tempat tidurmu ini disini. Jadi pulanglah kapanpun juga ara ?” sambung Hyori yang kini tidur berhadapan dengan Taejun.

“Iya,” ucap Taejun tertahan—tepatnya menahan agar ia tidak menangis.

::::::::::

“Baiklah kami pergi ya~” ucap Taejun berpamitan pada ayah dan Hyori. “Iya,” ucap Jungsoo. “Mulai hari ini kamu pulang kerumah nenek, ya~” ucap Hyori berusaha tersenyum.

“Hmm,” Taejun mengangguk. “Mulai hari ini rumahku jadi ada dua !” ucap Taejun semangat. “Pulanglah kapan pun kau mau,” ucap Jungsoo pada Taeyeon yang berusaha tegar dihadapan kedua anaknya. Taeyeon menatap Jungsoo—ia tersenyum padanya. “Ne~” jawab Taeyeon singkat.

“Jangan lupa bantu ibu ya dan kau jangan nakal !” ucap Hyori mengacak-acak rambut Taejun. “Iya, serahkan saja padaku !” ucap Taejun mengepalkan kedua tangannya. “Aku pergi, annyeong~” ucap Taejun setengah berteriak meninggalkan Hyori dan Jungsoo yang masih menatap kepergiannya dan Taeyeon.

Hyori tersenyum—ia merasa hatinya sudah lega. “Maaf, apakah aku mengganggu ?” tanya seorang lelaki—yang entah sejak kapan sudah berada dibelakang Hyori dan Jungsoo. “Donghae-ssi ?” ucap Hyori terkejut saat melihat Donghae sudah berada dibelakangnya.

Jungsoo menatap Hyori dengan tatapan—siapa dia. “Pagi paman, aku Donghae—teman Hyori,” ucap Donghae langsung memperkenalkan diri tanpa disuruh. “Ah ne~” ucap jungsoo tersenyum kea rah laki-laki itu.

“Ah kalau begitu, aku pergi. Annyeong~” ucap Hyori berpamitan pada ayahnya untuk pergi kesekolh bersama Donghae. “Eh, ayah~ tugas rumah dibagi dua ya~” ucap Hyori setengah berteriak seraya berbalik menghadap Jungsoo—ayahnya.

Jungsoo tersenyum menatap putrinya. Lalu mengangkat ibu jarinya.

***

“Hyori-ya, kau terlihat sangat bahagia~” ucap Donghae yang berjalan disamping Hyori. “Ah, ne. Gomawo sudah membantuku~” ucap Hyori menatap Donghae.

‘Mungkin kondisiku sedikit berbeda dari orang lain tapi aku bersyukur karena aku masih mempunyai orang-orang yang masih menyayangiku. Dan kini aku akan memulai hari baru yang lebih indah’—batin Hyori.

END

NB: Maaf kalo gambarnya gak sesuai, dan maaf juga kalo ceritanya agak maksa soalnya aku bikinnya ngebut hehe ^^v

10 thoughts on “[FF] Let’s Go Home”

  1. i saw this link yesterday on satnite hahaha
    itu yang poster di atas hyori sama taejun yah? kekekeke
    cantik .___.
    jadi itu kedua orangtuamu (?) jadi bercerai atau berpisah saja, hyori ya? —(kita berbagai orangtua) hahahalololol

    riga , aku masih agak rancu sama yang ini nih, ga

    ” Aku pulaang~” ucap Hyori saat sampai dirumah. Terdengar suara batuk yang berasal dari ruang keluarga. “Ayah ? Ayah sudah pulang ?” ucap Hyori saat melihat ayahnya sedang duduk dilantai sambil batuk-batuk. “Iya, ayah batu aja pulang,” ucap Jungsoo pelan.

    –sedang duduk di lantai == kasian amat ga, ayah saya .___. udah sakit gitu duduk di lantai.😦 XP angkat ke sofalah~~
    hahaha.

    kiw kiw kiw ah ada Yoonmi kekeke, :* jangan iri dengan kemesraan keluarga choi yak! wkwkwkwk

    1. iya itu poster hyori sama taejun kekeke tp sebenernya itu foto dongjoon bukan taejun hahaha

      itu ada typo, maksudnya baru bukan batu

      terus yg jungsoo duduk dilantai itu ceritanya ada meja pendek yg emg buat lesehan gt hehe kurang jelas yak ? Maap yak hehe

      iye noh yoonmi ngeksis haha
      oh tentu tidaaaak, saya tidak iri haha

      1. hahahay doongjoon–Ze:A *bener ngga sih nulisnya?*
        oh, biwai bukan maksudnya? yang meja tapi ada selimutannya (?)
        sayang yah, Kyuhyun ngga muncul disini hahahalol

      2. ohhahahaha, anak lu … kekeke, eh chamkam. disitu ente ‘kan belum kawin sama si Donghae .___.
        hahahalol
        iya ich, kyunya lg atittt makanya ngga main yah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s