[FF] Sorry, But This Is Our Time – Prologue

Tim—kelompok-atau?

Apa itu tim ? Mengapa harus ada sebuah tim ? Apakah kau anggota dari tim itu atau justru kau adalah pemimpinnya?

Lalu bagaimana caranya agar kita bisa mempunyai tim yang kompak ?

Bagaimana caranya agar tim itu tetap bertahan dan terus maju ?

Apakah kau akan terus berusaha agar tim itu tetap ada atau justru kau akan menyerah ?

***

Begitulah yang dialami tim basket putra Seoul National School. Tim basket mereka merupkn tim basket terbaik seantero Seoul. Tapi entah mengapa selama 3 tahun belakangan ini tim basket mereka menurun drastic. Entah karena anggotanya ataupun prestasinya.

Sang kapten pun berusaha membangkitkan kembali tim-nya. Ia ingin tim-nya menjadi juara di event turnamen basket ternama. Namun bagaimana caranya ? Hingga saat ini anggota tim basket putra yang masih ‘aktif’ hanya empat orang.

Hingga seorang siswa pindahan dari Jepang masuk ke sekolah mereka. Siswa tersebut sungguh memiliki talenta yang tidak dapat diragukan lagi. Tapi apakah siswa tersebut mau bergabung dengan mereka ?

—-

Pada awalnya kepindahan Xin ke Korea Selatan khususnya Seoul tidak lain adalah karena kepindahan ibunya setelah perceraian itu. Perceraian kedua orangtua dimana seperti biasalah seorang anak harus menjadi ‘tumbal’ akibatnya. Xin mengikuti ibunya sementara adiknya—Yu Yang lebih memilih mengikuti ayahnya di Guangzhou—China.

Ia mengira kepindahannya ke Seoul adalah salah satu keputusan salah yang pernah ia lakukan sepanjang hidupnya. Namun itu pada awalnya… jika saja ia tidak bertemu dengan mereka.

_

“ Hei! Permainanmu sangat bagus sekali, kenapa kau tidak ikut klub basket sekolah saja?” ujar Aiden seraya berteriak kepada siluet seorang lelaki yang sedang membelakanginya, mengelap keringat dinginnya. “ Kau anak baru bukan?”

Tanpa mengindahkan perkataan Aiden, sosok itu memulai kembali permainan basketnya. Senyum manis terbenuk sempurna di bibirnya, ia melepaskan jaketnya dan juga rompi sekolahnya dan melemparkannya berserta tasnya ke sembarang arah, dan berlari menghampiri sosok itu dan larut dalam permainan bola besar itu.

Dengan gesit Aiden mengambil bola besar di tangannnya, dan men dribble bola itu menuju ring basket, sesaat saat ia akan mengambil ancang-ancag untuk men-shoot bola ke arah ring—namun kegiatannya terhenti karena sosok tadi merebut bola yang ada ditangan Aiden. Sosok itu men-dribble bola besar itu kearah three point dan sempurna membuat Aiden takjub.

Bolanya masuk dengan sempurna—‘benar-benar hebat’ pikir Aiden. Sosok tersebut diam menatap Aiden. Aiden menggaruk dagunya dengan pelan, dan tersenyum. Ia mendekati sosok itu, belum saja ia mendekati sosok itu. Lelaki itu; sosok yang tampak sombong dan angkuh itu sudah terburu melewatinya dengan santai, mengambil tasnya dan mengeluarkan botol minum. Ia menoleh ke belakang; refleks saat sosok itu melewatinya.

“ Kau ikut saja klub basket kami, oh iya namaku Aiden Lee. Kau cukup memanggilku dengan nama Aiden saja. Kau?” Tanpa disangka Aiden mengulurkan tangannya—sebuah perkenalan hal lumrah yang akan dilakukan jika bertemu dengan seseorang yang ingin dikenal.

Aiden memegang prinsip, “ Dekatilah orang yang ingin kau kenal, sebuah langkah kecil yang mungkin dapat membawa perubahan besar” Sosok di depannya bergeming. Hanya desahan napas tersengal-sengal akibat kelelahan bermain basket.

“ Terimakasih atas tawaranmu, hanya mungkin aku kurang berminat.”kata sosok itu. Dengan suara bass khas anak remaja lelaki seusia SMA. Tanpa berkata apa pun ia meninggalkan Aiden seorang diri di tepian lapangan basket.

Ia hanya terdiam. Ia sendiri bingung, memang ajakannya itu salah? Bukankah ia hanya ingin mengajaknya bergabung dengan klub basket? Hanya itu saja.

***

Aku berjalam menuju lapangn basket sekolahku. Kulihat disana ada empat orang yang sepertinya ku kenal. Ya~ mereka adalah Andrew, Aiden, Spencer dan Vincent. Aku memutar arh pandanganku, yah sebenarnya aku tidak ingin ada orang yang berhasil memergokiku sedang mengintip latihan anak basket

Kulihat Andrew –lah yang membawa bola basket bersamanya sambil tertawa-tawa, ketika ia baru saja aku melemparkan bola ke ring, Spencer mengambil bola di tangan Andrew dan berbalik menjadi mengiring bola basket menuju sisi ring di ujung lapangan yang lain seraya tertawa puas dengan kemenangannya berhasil merebut bola dari Sang Tuan Muda

Sementara di tengah lapangan Aiden sudah bersiap-siap, dan ketika Spencer passing bola ke arahnya. Donghae tersenyum dan mendribble bola menuju ring sementara di belakangnya Andrew dan juga Vincent mengejarnya.

Hingga akhirnya Spencer –lah yang pihak akhir yang akan mengekseskusi bola, ia melempar bola ke dalam ring. Bola bergulir tepat di pinggir ring, berputar sebentar hingga seperti ada udara  yang meniupkan angin, tiba-tiba bola tersebut bergulir semakin ke pinggir dan menjauh dari bagian tengah ring. Spencer memekik kesal.

“ Ah, payah!” gerutunya.

Andrew dan Vincent tertawa terbahak-bahak mentertawakan kekalahan Spencer dan juga Aiden yang dijuluki duo ikan maut. (LOL) Aiden menggerutu kesal, dan merangkul Spencer membisikkan sesuatu di telinganya, sementara Andrew dan juga Vincent masih sibuk merayakan kemenangannya.Seolah merasa menjadi pihak yang gagal, Aiden dan Spencer berjalan lesu menuju pinggir lapangan.

Keduanya saling berusaha untuk menahan senyum jahil, Aiden dan Spencer mengambil botol minum mereka dan kemudian berlari menghampiri Andrew dan juga Vincent dan kemudian mengguyur keduanya hingga menjadi basah. Vincent menggerutu kesal, dan berbalik mengambil botol minumnya membalasnya kemudian diikuti oleh Andrew. Hingga lapangan menjadi basah karenanya.

“ Kau ingin menjadi bagian dari mereka?” Suara itu. Aku menolehkan kepalaku dan kulihat gadis itu (lagi) ia tersenyum ke arahku dan berjalan menghampiriku. Kulihat ia membawa sesuatu di tangannya seperti… kotak makanan.

“ Tidak.”

“ Lalu? Untuk apa kau disini? Ini ‘kan waktu latihan anak basket?” Gadis itu terlalu banyak bicara dan menginterogasiku. Ia tersenyum yang menurutku seperti terlihat mengejekku.

“ Ya, mungkin.” Tidak ada jawaban yang lain. Mungkin.

Gadis itu kembali tersenyum.

“ Kalau kau ingin ikut latihan datanglah besok ke Jamsil Arena, kami akan latihan bersama-sama, sekitar jam 8 mungkin. Terserah kau, ingin datang atau tidak itu keputusanmu. Baiklah aku duluan, aku harus mengantarkan makanan ini kepada mereka. Annyeong.” Ujarnya seraya menepuk pundakku pelan, dan berlalu kemudian menghampiri keempat sosok yang tertawa-tawa di tengah lapangan.

Aku iri.

Ah setidaknya wajar bukan? Rasanya aku seperti sudah lama sekali tidak tertawa seperti itu bersama dengan teman. Aku menarik napas panjang, dan mengaturnya perlahan sebelum aku berbalik meninggalkan lapangan.

Basket.

Aku menyukainya, tapi terlalu sulit bagiku untuk mendekati dan melakukan hal yang kusukai. Aku butuh game, sesuatu yang mungkin saja bisa menghilangkan rasa jenuhku.

……….

4 thoughts on “[FF] Sorry, But This Is Our Time – Prologue”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s