[FF] Life (Isn’t Easy as You Think) part 1

Title: Life

Author: Liora Lee and Carrie Cho
Rating : PG+15 / straight
Casts: Lee Donghae, Cho Kyuhyun (Super Junior) and OC
Other Casts: Super Junior, SNSD
Genre: Romance, Friendship, Family, AU, Angst
Length : Chaptered
Part: 1 of 3/4

Disclaimer : The characters in this story is the character of their own with a bit of my imagination and this story is only a fiction. So don’t sue me.

A/N :
– I created this story with my chairmate and this story was publishen on her blog too.
– You can find other cast when you read this story.

***

***

Suara dentuman musik begitu terdengar di sebuah pub yang penuh dengan kaula muda kota Seoul. Semuanya menari mengikuti music yang dimainkan oleh seorang disc jokey cantik dengan rambut panjang terurai. Gadis itu seperti menghipnotis pengunjung yang ada malam itu—termasuk temannya yang sedang menari di tengah dance floor. Gadis itu tersenyum seraya menggelengkan kepalanya ketika melihat temannya itu.

Lalu seorang pria dengan postur tubuh yang ‘sempurna’—tubuh tegap, dada bidang, tinggi dan tampan menghampiri gadis yang tengah asik menggerakan tubuhnya di tengah dance floor. Pria itu tersenyum lalu melingkarkan tangannya ke pinggang gadis itu.

Gadis itu menoleh ke arah pria yang kini berada disampingnya dan ia tersenyum ketika mengetahui siapa yang ada disampingnya kini. Gadis itu merubah posisinya yang kini saling berhadapan dengan pria tampan tadi.  Kedua tangannya dilingkarkan ke leher pemuda itu. Dan pemuda itu pun melingkarkan kedua tangannya di pinggang gadis yang ada dihadapannya. Lalu mereka menari seraya mengikuti dentuman music penuh energi yang mungkin dapat membuat tuli.

***

Mokpo, Jeollanam-do, South Korea

“Ayah, mau pergi lagi ya?” tanya seorang gadis yang sedang menyandarkan kepalanya ke bahu sang ayah. Ayahnya berguman pelan, dan menoleh ke bahunya tersenyum sembari mengelus rambut gadis itu dengan lembut. “Apakah itu harus ?”

“Kau akan merindukan ayah bukan? Tentu saja keharusan sayang, ini sudah menjadi kewajiban ayah.” ucap Jordan tersenyum pada putrinya—Liora. Liora menganggukan kepalanya. Meski sebenarnya ia sangat kecewa, ia paling tidak suka jika ayahnya sudah akan pergi meninggalkannya karena pekerjaannya sebagai seorang pelaut.

 “Ayah ‘kan sudah janji padaku untuk pergi kerumah paman di Seoul minggu ini.” Desak gadis itu kesal. Jordan membalikkan badannya, menghadap putrinya seraya meraih tangan Liora dengan lembut.

“Maafkan ayah karena tidak dapat menepati janji, tapi ayah janji setelah ayah pulang ayah akan menemani mu kemanapun kau mau,” ucap Jordan mengacak-acak rambut Liora. “Jinjja ?” ucap Liora penuh semangat. Jordan tersenyum seraya mengangguk.

“ Ayo, makan dulu. Ibu sudah memasakkan masakan yang kalian suka, loh.” ucap seorang wanita keluar dari dapur memanggil Liora dan Jordan untuk segera makan malam. Liora menatap Taeyeon—ibunya lalu berdiri dan menarik lengan Jordan. “Ayoo kita makan~”

***

“BOHONG!!!” teriak Liora begitu kencang saat sampai di rumahnya sesaat setelah kepulangannya dari sekolah. Liora menangis, dan ia merasa begitu rapuh. Taeyeon menarik putrinya kedalam pelukannya, dan mengelus punggung gadis itu dengan lembut. Berusaha menenangkan perasaan putrinya yang begitu shock.  

“Ibu, ini bohong ‘kan? Ini hanya lelucon bukan?” ucap Liora lirih. Taeyeon tak menjawab, ia terus menangis seraya memeluk Liora lebih erat.

“Maaf, kami akan berusaha menemukan jasad tuan Kim. Tapi bagaimana Anda harus tetap menerima kenyataannya, jika—jasadnya tidak kami temukan. Tetapi kami akan terus berusaha menemukannya.” ucap salah seorang petugas yang menyatakan jika Jordan meninggal dunia ketika berlayar beberapa hari yang lalu. Liora bangkit, menghampiri pria itu dan mengguncangkan bahunya dengan kencang.

“ Tuan, kumohon jangan berbohong padaku! Kumohon, Tuan~” ucap Liora menatap petugas tadi. Tapi tak ada jawaban yang keluar dari petugas itu, hanya sebuah tundukan kepala dan sebuah ucapan maaf yang keluar.

“Kalian semua pasti bohong!!!” ucap Liora yang lalu pergi meninggalkan Taeyeon bersama dua orang petugas tadi.

_

Liora berlari meninggalkan rumahnya. Dadanya terasa sesak. Ia terus menangis. Akhirnya ia berhenti berlari didepan sebuah marcu suar. Ia terlihat kelelahan. Ia menatap sekelilingnya—menatap lautan yang terhampar luar dihadapannya.

“YA!! KAU BOHONG!! KAU TAK MENEPATI JANJIMU LAGI!! KAU PEMBOHONG!! AKU BENCI AYAAAH !!!” teriak Liora—seketika pertahannya runtuh. Liora kembali menangis, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Tiba-tiba ada seseorang yang merengkuhnya. Aroma tubuh yang sangat dikenali oleh Liora. “Aku yakin ayah belum pergi~ ayah masih ada~” isak Liora. Sosok itu mengusap punggung Liora. Ia tak tega melihat Liora yang begitu rapuh jika menyangkut urusan ayahnya.

“Aiden~ aku yakin dia belum pergi~ aku yakin itu~” ucap Liora pada Aiden—sahabatnya sejak kecil yang selalu menemaninya. Aiden memeluk Liora erat. “Paman Jordan pasti akan selalu ada untukmu~ dia akan selalu hadir untukmu~ karena dia ada dihati mu Liora~” ucap Aiden yang masih memeluk Liora.

***

Beberapa hari sepeninggal Jordan, keadaan Liora dan Taeyeon belum membaik. Segalanya memang terlihat baik-baik saja, tetapi pada kenyataannya… mereka rapuh. Tanpa Jordan yang selalu membimbing mereka, kini sudah tidak. Mereka seperti kehilangan arah. Kini mereka sudah tak sering tertawa seperti dulu. Mereka benar-benar kehilangan sosok Jordan.

Liora memasuki rumahnya. Tercium bau alkohol. Liora menarik nafas panjang. Dia berjalan menuju ruang tengah. Benar saja Taeyeon tertidur disofa dengan beberapa botol minuman yang terdapat di meja.

Liora menghampiri ibunya. “Ibu~ tidurlah dikamar~” ucap Liora seraya berusaha membopong Taeyeon menuju kamar. “Jordan-ah~ aku akan menunggumu~” ucap Taeyeon mengigau. Liora merasa tersayat hatinya ketika mendengar sang ibu mengigau seperti tadi.

Liora menatap ibunya yang kini sudah terbaring di atas tempat tidur. “Aku juga merindukan ayah~”

***

“Tumben sekali kau berpakaian seperti ini~” ucap Aiden menghampiri Liora yang sedang terduduk dihalaman depan rumahnya yang tak begitu besar seraya mengeringkan rambutnya yang basah. Liora yang sudah menunggu Aiden sejak 30 menit yang lalu hanya menghel nafas panjang. “Kenapa ?” tanya Aiden.

“Ibu mengajakku untuk menemui temannya~” ucap Liora. “Waah~ jangan-jangan kau akan dijodohkan dengan temannya bibi Taeyeon,” goda Aiden. “Sembarangan kau!” ucap Liora sambil menatap Aiden tajam yang kini ada disisinya.

“Tapi aku senang, ibu sudah tidak minum-minum lagi sejak tiga hari yang lalu~” ucap Liora tersenyum pada Aiden. Deg! Jangtung Aiden serasa copot ketika ia melihat senyuman gadis itu lagi.

“Syukurlah kalau begitu~” ucap Aiden memalingkan wajahnya—menyadari jika wajahnya mulai memerah. Gadis itu begitu manis dengan balutan gaun selutut berwarna peach yang begitu pas dengan tubuh Liora.

Liora menarik tangan Aiden dan lalu melihat jam tangan hitam yang melingkar dipergelangan tangan Aiden. “Aku harus pergi sekarang~” ucap Liora bangkit dari duduknya. Aiden mengangguk lalu tersenyum pada Liora. “Annyeong~” ucap Liora berjalan menuju rumahnya.

***

Liora berjalan mengikuti Taeyeon memasuki sebuah café. Dilihatnya seorang pria menghampiri sang ibu. Pria itu tersenyum, memperlihatkan lesung pipinya. Lalu pria itu menatap ke arah Liora dan kini menghampiri Liora. “Ayo~” ucap pria itu mengajak Liora dan Taeyeon menuju meja yang terletak tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi.

Dilihatnya ada seorang gadis yang mungkin seumuran dengan Liora. Gadis itu berdiri dan membungkukkan tubuhnya. “Annyeong~ namaku Carrie~” ucap gadis itu yang ternyata bernama Carrie.

“Wah~ kau manis sekali~” puji Taeyeon seraya tersenyum pada Carrie. “Terima kasih bibi~” balas Carrie. Lalu Taeyeon menarik Liora untuk mendekan karena sejak tadi Liora hanya diam dibelakang Taeyeon.

“Oh ya, kenalkan ini Liora putri ku~” ucap Taeyeon memeperkenalkan Liora pada Carrie beserta sang ayah. Liora hanya tersenyum dan lalu membungkukan tubuhnya—memberikan salam.

“Hallo Liora~ aku Dennis, teman dekat ibumu~” ucap pria yang ternyata bernama Dennis itu seraya tersenyum memamerkan lesung pipinya yang terukir sempurna.

__

“Liora~ Carrie~ maksud kami mempertemukan kita semua yaitu untuk memberitau kalian jika kami akan menikah~” ucap Dennis yang lalu merangkul Taeyeon. Liora langsung menatap Taeyeon ibunya. Ia terlihat marah dan kecewa.

Liora langsung berdiri dan pergi meninggalkan Taeyeon, Dennis dan Carrie. Ia tak habis pikir dengan keputusan sang ibu, ia masih belum dapat menerima pria lain untuk menjadi ayahnya.

“Liora~ tunggu ibu~” ucap Taeyeon di belakang seraya mengejar Liora. “Liora!” ucap Taeyeon sedikit membentak seraya menarik lengan Liora. Liora menghentikan langkahnya, berbalik menghadap ibunya.

“Ibu gila ?! kita baru satu minggu ditinggal ayah bu~” ucap Liora lirih. “Apa ibu sudah tak mencintai ayah ? Apa ibu sudah benar-benar melupakan ayah ? Apa ayah memang tak pantas untuk ibu ingat ?” ucap Liora yang kini terisak.

“Maafkan ibu, tapi ibu kini butuh seseorang untuk ada disisi ibu sayang~” ucap Taeyeon menjelaskan selembut mungkin agar tak membuat Liora semakin kecewa. Liora menggeleng. “Ibu masih punya aku~” ucap Liora menatap ibunya dalam. Dilihatnya Dennis menatap mereka dari kejauhan.

“Ibu mohon~” ucap Taeyeon lirih.

­­­­__

Seoul, South Korea

Semua undangan telah datang untuk melihat momen bahagia ini. Dennis dan Taeyeon terlihat sungguh cocok. Dennis mengenakan pakaian bagaikan pangeran yang datang dari surga tersenyum pada Taeyeon yang kini sudah resmi menjadi istrinya. Taeyeon pun begitu anggun dengan menggunakan gaun pernikahan rancangan designer terkenal.

Dengan malas Liora berusaha bangkit dari duduknya, ia memilih untuk menyingkir dari euphoria pernikahan ibunya dengan pria yang mau tidak mau harus ia panggil ayah. Ia tersenyum sinis ketika di depan sana, sang pria yang—yah sebut saja ia ayah, mengajak ibunya untuk berdansa di tengah-tengah hall.

“ Hei, harusnya kau di depan sana Liora. Bukannya menyendiri seperti ini?” ujar Aiden yang entah sejak kapan duduk di sampingnya. Liora menoleh dan mendesis sebal.

“ Untuk apa? Aku ‘kan bukan bagian dari mereka.” Jawab gadis itu acuh tak acuh. Aiden mendengus kesal. Ia menarik kursinya mendekat ke Liora,  menghadap Liora dan mengintenskan perhatiannya ke arah gadis itu, sementara tangannya mentaut di dagu.

“ Ra, kau harus menerimanya. Ayahmu—oke, ini sulit untukmu tapi kau harus menerimanya. Hidup harus tetap berjalan, Ra. Ibumu menikah dengan Paman Dennis karena ia merasa itu hal yang terbaik, ia butuh pendamping—kalian butuh figure “

Liora menoleh pelan.

“ Kau tidak usah menceramahiku, ayahku tetap tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun!” pekik Liora. Gadis itu beranjak dari duduknya, Aiden menghela napas.

“ Aku tidak bilang kau harus melupakan, ayahmu. Tidak ‘kan?”

Liora berbalik, sementara rahangnya sudah mengeras dan kedua tangannya mengepal dengan keras. Aiden beranjak berdiri dan berjalan pelan menghampiri gadis itu, sesaat sebelum seorang gadis yang tampak seusia dengan Liora menghampirinya.

“ Hai, kau Liora ‘kan? Kenalkan namaku… Carrie Park, mulai sekarang kau jadi kakakku. Semoga—“ ujar gadis itu seraya membungkukkan badannya dengan sopan. Liora melihat gadis itu dengan aneh, bingung, sekaligus.. marah.

“Aku bukan kakakmu—dan selamanya aku bukan kakakmu!” Bentak Liora keras sontak membuat seluruh tamu yang hadir disana melihat kearahnya dan juga gadis yang tiba-tiba menghampirinya. Liora menoleh ke belakang dimana ibunya dan pria itu menghampirinya dengan cemas.

“ Ada apa, Carrie?” tanya pria itu lembut menghampiri gadis yang mengaku-ngaku sebagai adiknya—dan ia sebagai kakaknya.

“ Ngga apa-apa, ayah. Tadi aku sama Liora baru saja berkenalan, ayah bilang kami harus akrab satu sama lain bukan?” kilah Carrie dan berusaha tersenyum senormal mungkin. Sementara Liora berusaha memalingkan wajahnya, hingga saatnya ia bertemu dengan kedua mata ibunya yang menyiratkan kekecewaan.

Suasana kembali normal, dan acara pernikahan pun berlangsun meriah hingga akhir acara. Liora melepaskan ikatan rambutnya membuat rambut panjangnya terurai, dan mengambil tas kemudian bergegas agar secepat mungkin meninggalkan tempat ini. Sungguh memuakkan melihat adegan romansa keluarga—Carrie, pria itu, dan juga ibunya—dan tentu saja ia bukan bagian dari itu.

“ Ra! Tunggu!” pekik Aiden keras dan berusaha berlari mengejar Liora. Liora menoleh ke belakang, dan ia berlari sekencang mungkin menghindar dari Aiden. Ia harus segera menuju lobby, dan berlari secepat mungkin menuju halte bus. Malam ini juga ia harus pulang ke tempat seharusnya ia sebut rumah, Mokpo.Rumah dimana ia dilahirkan, dibesarkan, dan penuh dengan kenangan di setiap sudut ruangan bersama dengan ayahnya.

“ Dasar gadis keras kepala!” bentak Aiden kasar, dengan kasar ia menarik lengan Liora dan membalikkan badan gadis itu menghadapnya. Keduanya saling bertatapan dengan marah. “ mau kemana kau? Kau gila Liora, malam-malam pulang ke Mokpo! Kau kira aku tidak tahu niatmu!” bentak Aiden dengan sangat keras membuat kesunyian halte bus menjadi sedikit bersuara.

“ Aku mau pulang, Bodoh! Rumahku bukan disini!” bentak Liora tidak kalah kerasnya dengan teriakan Aiden, gadis itu berusaha melepaskan cengkeraman Aiden yang mengunci langkahnya.

 “ Kau kira dengan pulang ke Mokpo, kau akan menemukan ayahmu yang akan langsung menyambutmu begitu kau membuka pintu pagar? Sekarang siapa yang, Bodoh! Kau akan menemukan ayahmu yang akan langsung memelukmu jika kau terlihat letih?! Sadar, Liora! Ayahmu sudah MATI!”

Perlahan Liora menurunkan lengannya dengan pelan, sementara ia berusaha mungkin untuk tidak menangis. Jangan menangis di saat seperti ini, Liora— umamnya.

“ AYAHKU MASIH HIDUP, BODOH! IA AKAN MENYAMBUTKU, MEMELUKKU JIKA AKU KEDINGINAN, AKAN MEMBUATKANKU BUBUR PALING ENAK SEDUNIA  JIKA AKU SAKIT, AKAN MENGGENDONGKU DALAM PUNGGUNGNYA JIKA AKU DAN DIA BERJALAN DI PANTAI! AYAHKU M-A-S-I-H-H-I-D-U-P!!!” Liora berteriak dalam keheningan halte bus, dan akhirnya ia berteriak sekeras mungkin seraya memukul dada Aiden dengan kencang.

“ Ayahku masih hidup, Aiden… dia belum pulang, hanya itu. Ia sedang melaut ke luar negeri, dan tidak lama lagi akan pulang. Ia pasti pulang, Aiden~” lirih Liora merosot dari hadapan Aiden, menutup wajahnya yang sudah sangat berantakan. “ ayah pulang~”

Aiden terdiam. Selama apa pun ia mengenal gadis ini, ia belum pernah melihat Liora serapuh, hancur seperti ini. Ia terdiam cukup lama sebelum akhirnya berlutut di depan gadis itu, dan mengangkat dagu gadis itu, dan menghapus air matanya.

“ Maafkan, aku. Tapi kumohon kau jangan kabur ke Mokpo. Sekarang hidupmu akan berlanjut di Seoul, ayahmu akan menangis juga kalau kau seperti ini.” ucap Aiden.

Liora menghapus air matanya. Ia menggelengkan kepalanya. Ayah, apakah kau akan menangis seperti –ku? Ayah… apakah kau merindukan seperti aku merindukanmu juga?”

“ Ia pasti pulang.” Lirihnya.

Sssssh..

Angin lembut seperti menyapa tengkuk Liora, membuat gadis itu terkesiap dan bangkit berdiri. Ia melirik ke sekelilingnya, dan lagi angin lembut seperti menyapanya dan seolah-olah membawa pesan tidak tersampaikan dari seseorang.

Aku sangat sedih kau menjadi seperti ini—putriku adalah gadis yang kuat, dan tidak akan pernah menangis sekeras apa pun masalah yang ia hadapi. Aku merindukanmu, seperti kau merindukanmu. Dan aku mencintaimu, sebesar cintamu padaku.. dan cintaku padamu jauh lebih besar dari cinta yang kau miliki untukku.

Liora berkeliling, itu suara ayahnya bukan? Ayahnya masih hidup? Ia berlari mengikuti arah angin dan terhenti di depan sebuah toko yang sudah tutup dengan sebuah poster di bagian depan toko itu bertuliskan, “ Lihatlah ke depan, masa depanmu berada di depanmu—bukan di belakangmu, masa lalumu.”

Gadis itu membekap mulutnya, tubuhnya bergetar. Dan lagi ia merosot, sebelum seseorang menariknya dalam dekapannya yang erat, menenggelamkan kepala Liora dalam dadanya yang besar. Nyaman.

“ Ayahmu sudah mengirimkan pesan untukmu, “ Bisik Aiden pelan seraya mengecup puncak kepala Liora. Sementar tangisan gadis itu semakin kencang, seiiring dengan hari yang semakin larut.

***

3 Tahun kemudian.

Seoul, South Korea

Suasana malam tak urung mengubah keadaan kota Seoul yang cukup sibuk. Malam beranjak menuju pergantian hari, tidak menyebabkan suasana jalan utama Seoul menjadi lengang. Banyak dari mereka yang menuju rumah mereka setelah seharian bekerja. Namun, tidak untuk sebuah mobil sport putih yang melaju dengan kecepatan tinggi. Kecepatannya sudah menunjukan 150 km/jam tapi sang gadis yang mengendarai mobil itu tak urung untuk mengurangi kecepatannya.

Lalu ia berhenti di depan sebuah pub yang ramai oleh pemuda dan pemudi kota Seoul. Ia memberikan kunci mobilnya pada petugas yang menawarkan jasa valet parking.

Dengan santai ia memasuki pub tersebut. Dentuman music begitu terdengar, membuat jantungmu berdegup mengikuti dentuman music yang dimainkan oleh seorang disc jokey cantik yang menyihir para pengunjung untuk terus mengikuti irama music yang dimainkannya.

Gadis itu tersenyum ketika sang disc jokey begitu semangat menghibur para pegunjung dengan musiknya yang berenergi. Lalu ia berjalan menaiki beberapa anak tangga yang terdapat di begian atas -pub itu—yang bisa dibilang itu merupakan tempat untuk orang-orang ‘spesial’. Dari tempat itu dapat terlihat dengan jelas setiap sudut pub.

Ketika gadis itu sampai disalah satu deretan kursi yang saling berhadapan, gadis itu kembali tersenyum. Seorang pria menghampirinya. Pria itu sangat tampan. Pria itu melingkarkan tangan kanannya ke pinggang gadis itu lalu mengecup pipi gadis itu.

“Kau datang juga~” ucap pria itu. “Ayo, Marcus dan Spencer sudah menunggu,” ucap pria itu seraya berjalan menuju tempatnya duduk. Menaiki tangga menuju balkon khusus para pengunjung klub kelas VIP. Gadis itu melirik ke sekitarnya, dan tersenyum seraya melambaikan tangannya ke arah seorang gadis yang sedang asyik dengan cekatannya memainkan dan alat musik piringan itu dengan cekatan.

“ Hai, Spencer… kapan pulang dari London?” sapanya ke arah pria yang sedang asyik memainkan poker di atas meja di kawasan VIP itu.

“ Baru tadi pagi, hehehe…” balasnya. Ia meneguk tequila dan melanjutkan permainnya. Kemudian, seorang pria melingkarkan lengan di pinggang ramping gadis itu dan mengecup sela-sela rambut gadis itu.

“ Liora, ke bawah yuk.” Bisiknya. Liora menoleh dan menganggukkan kepalanya dengan pelan, kemudian pria itu pun menarik tangannya—menuntunnya menuju hiruk pikuk dance floor.

__

“Ya! Marcus~ kenapa kau diam ? bersenang-senanglah,” ucap Spencer pada seorang pria—Marcus yang ada dihadapannya. Marcus hanya tersenyum tipis seakan-akan meledek Spencer. Kemudian, Spencer pun berlalu dari hadapan Marcus dan ikut bergabung dengan euphoria di lantai bawah dan menghampiri  salah seorang gadis yang sedang asyik dengan alat disc jockey.

Marcus mengedarkan pandangannya. Lalu ia bangkit dari duduknya, berjalan menuju pintu keluar. Ia butuh udara segar, dan tempat ini sangatlah sesak.

“Mau kemana kau?” teriak Spencer kencang, berusaha untuk menyamakan suara bising pub.

“Keluar!” teriaknya kencang. Spencer menganggukkan kepalanya dengan pelan. Marcus tersenyum dan kemudian bergegas menuju pintu keluar, hingga akhirnya ia bertemu—bukan bertemu hanya berpapasan dengan seorang gadis di dekat pintu masuk, terlihat kebingungan.

Ia tersenyum, entahlah hanya saja gadis itu terlihat menarik untuk dilihat. Ia menyenderkan punggungnya di salah satu dinding klub, sembari melipat kedua lengannya di dada. Sementara, gadis itu terlihat tidak nyaman dengan suasana yang baru saja ia masuki, dan melenggang berjalan di depannya.

Marcus mendengus mengejek.

“ Kalau kau tidak nyaman disini, untuk apa kau kemari?!” Desisnya. Gadis itu menoleh ke belakang, dan hingga saat matanya menangkapnya dengan tatapan menyipit. Jelas ia melihatnya. Namun tampak tidak terlalu memperdulikannya.

Gadis itu menghampiri Liora—benarkah? Tapi tampaknya ke arah sana. Lagi. Gadis itu menolehkan kepalanya ke arahnya, dan tatapan itu. Seperti takut, cemas, dan khawatir. Oke ini aneh, tapi ada sesuatu yang salah dengan dirinya, mengapa bisa ketika gadis itu melihatnya detak jantungnya sudah tidak beraturan?

__

Liora terus menari mengikuti irama yang ber-genre hiphop itu. Dihadapannya terlihat Andrew—pria yang sedari tadi bersamanya yang tak lain merupakan kekasihnya yang juga menikmati irama music itu. Tanpa sengaja Liora menoleh kearah pintu masuk dan ia melihat—Carrie yang terihat menghampirinya. Untuk apa ia disini ?—pikir Liora.

Liora membisikan sesuatu tepat ke telinga Andrew. Lalu Liora dan Andrew berjalan menghampiri Carrie.

“Aku tunggu diatas~” ucap Andrew mengecup pipi Liora. Liora hanya tersenyum.

Setelah Andrew meniggalkan mereka berdua, Liora langsung menarik Carrie menjauh dari dance floor. “Untuk apa kau kesini?” tanya Liora sinis—setengah berteriak untuk menyamakan suaranya dengan dentuman music yang cukup keras.

“Ayo pulang~” ucap Carrie sekeras mungkin. “Untuk apa aku pulang ?” ucap Liora tanpa mengubah nada suaranya. “Ibu sakit Liora, kau tahu ‘kan ayah baru pulang besok. Kasian, Ra. Kita harus menjaganya.” jawab Carrie dengan memelas. Liora tertawa mengejek.

“Lalu apa hubungannya denganku? Kenapa tidak kau saja yang mengurusnya?” Liora melipat kedua tangannya didada. Sementara ia sudah bisa mendengar teriakan Spencer di belakang, untuk kembali bergabung dengan mereka.

“Dia ibu mu Liora, ibu kita. Sebagai anak—“  ucap Carrie memegang bahu Liora. Ucapannya terputus ketika dengan kasar Liora menepak lengannya, dan berdesis kesal. “ Ra! Aku tahu kau itu benci sama aku, tapi tidak dengan kau membenci ibumu juga.”

“ Dia bukan ibuku lagi—tidak semenjak ayahmu menikahinya, dan merebutnya dariku.” Desis Liora. Carrie memekik seolah tidak percaya, ia membekap mulutnya.

“ Ra! Ayah tidak merebut ibu, –oke kuralat, ibumu. Kumohon, Ra.” Carrie berusaha meraih kedua tangan Liora dan dengan kasar ia menepaknya serta mendorong bahu gadis itu kasar membuatnya mundur beberapa langkah.

“ Pulang! Sebelum aku meneriakimu sebagai pencuri!” teriak Liora. Carrie menggelengkan kepalanya, ia meringis. “ Pulang!” teriaknya keras.

“ Ngga bisa, Ra. Tahukah kau, aku kesini butuh waktu hampir empat jam mencari-cari pub ini, dan sempat terjebak macet serta tersesat. Sekarang sudah jam sebelas malam, Ra. Aku takut kalau pulang sendiri, kau tahu kalau bus di saat seperti ini sangat menyeramkan, dan… uangku habis.” Jelas Carrie memohon. Liora tertawa mengejek.

“ Bukan urusanku!” bentaknya dan berbalik dari hadapan Carrie, berjalan menuju meja bar yang terletak di kawasan VIP itu—dimana Spencer dan Angela sang disc jokey sekaligus teman Liora yang tak lain merupakan salah satu dari anggota elite tersebut. Kedua mata Carrie sudah benar-benar memerah sekarang, ia benar-benar pasrah. Bagaimana caranya ia pulang?

Gadis itu menarik napas panjang, dan menarik tas selempangnya bergegas untuk segera keluar dari tempat yang penuh dengan asap rokok, alkohol—2 hal yang paling ia benci. Carrie melirik ke sekeliling berharap tidak ada seorang pun yang mengikuti. Sementara itu, Marcus kakinya sudah bergerak untuk segera melangkah, lebih tepatnya mungkin mengikuti gadis itu sebelum perasaannya berkata ia harus menemui Liora terlebih dahulu.

“ Kenapa kau membiarkan dia pulang sendiri? Siapa dia?” ujar Marcus menginterupsi.

Liora tertawa, dan meneguk vodka dengan sekali teguk. Marcus berdesis, ini bukan saatnya main-main. Sementara Andrew melihat keduanya dengan tatapan seolah-olah menarik

“ Siapa dia? Siapa?” Liora berbalik tanya, membuat Marcus kesal. Ia tidak suka jika pertanyaannya dikembalikan.

“ Siapa lagi yang baru saja kau usir?”

Raut wajah Liora langsung menjadi pias, ia menatap Marcus dengan kesal. Kemudian, Liora menuangkan satu gelas vodka sekali lagi ke dalam gelasnya, sesaat sebelum gadis itu meneguknya Marcus merebut gelas itu dan meneguknya kemudian menaruh gelas di atas meja bar dengan kencang.

Sontan Spencer berteriak heboh, untuk pertama kalinya ia melihat Marcus meneguk vodka yang jelas-jelas ia hindari, bahkan dalam sekali teguk. Spencer justru menuangkan vodka sekali lagi dan menyodorkannya ke depan Marcus.

“ Ini bukan saatnya bermain, Spencer.” Tukas Marcus dingin. Spencer mengangkat bahunya, seraya tertawa mengejek, kemudian menarik kembali gelas vodka dan meneguknya. “ siapa dia?” tanya Marcus sekali lagi.

“ Kenapa kau ini begitu penasaran sekali dengannya, huh? Kau tertarik padanya? Asal kau tahu dia adalah anak perempuan yang dibawa oleh pria yang menikahi ibuku. Puas, Marcus?”

“ Dia adikmu?”

“ Tidak. Dia anak perempuan yang dibawa oleh pria yang menikahi ibuku! Ibuku hanya melahirkan aku!” bentak Liora.

“ Tapi kau tidak pantas memperlakukannya seperti itu, Liora!” Marcus terbawa emosi. Ia melengos meninggalkan kumpulan kaum elite itu, dan bergegas meninggalkan pub. Liora mendengus kesal,lalu berjalan menghampiri Andrew dan duduk di samping Andrew dengan merengut.

“ Kenapa?” tanya Andrew lembut seraya tersenyum. Liora menggelengkan kepalanya, dan menenggelamkan wajahnya di dalam dada bidang Andrew. Pria itu tertawa lembut, dan mengacak-acak rambut gadis itu dengan lembut.

“ Marcus?” bisiknya lembut. Liora hanya menganggukkan kepalanya, dan memeluk Andrew semakin erat.

__

“ Sial! Gadis itu cepat sekali jalannya!” Desis Marcus seraya memukul setir dengan keras. Ia menyenderkan punggungnya di kursi balik kemudi, dan sesekali mengecek jam tangannya. Hingga akhirnya ia kembali menyalakan mobilnya.

Di perempatan jalan tepatnya di halte bus tidak jauh dari pub tadi, ia bisa melihat sosok gadis yang baru saja ditemuinya namun sukses membuatnya penasaran setengah mati dengannya. Gadis itu menekuk tangannya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sementara pandagannya tidak berhenti untuk berkeliling. Hingga akhirnya ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan, pada awalnya mungkin ia berniat menghampiri gadis itu—tidak. Setelah seorang pria menghampiri gadis itu, ah—tidak! Ia harus tetap menghampiri gadis itu,sebelum pria itu berbuat lebih jauh kepadanya.

Ah, mikir apaan sih!

“ Carrie?” ujar suara lembut, yang dengan lembut menepuk pundaknya membuat Carrie berteriak kencang bahkan terlonjak dari bangkunya, bersiap untuk menghajar pria itu dengan tasnya. “ hei! Ini aku—Aiden? Kau masih ingat denganku?”

Gadis itu terdiam. Kemudian, ia mengangguk dan tersenyum.

“ Ah, kau temannya Liora yang waktu itu di pernikahan ayah dan ibu? Benar?”ujar Carrie dengan ragu. Pria yang menyebut diri sebagai Aiden itu mengangguk senang, senang karena ternyata gadis itu masih mengingatnya. “ ah, sedang apa kau disini? Bukankah kau tinggal di Mokpo? Disini tidak bus jurusan Mokpo, Aiden.”

Aiden tertawa, ia mengacack-acak rambut gadis itu dengan gemas.

“ Nggalah, aku baru saja pindah ke Seoul baru seminggu sih. Kau sendiri sedang apa malam-malam?”

“ Ngga itu—Liora. Ah sudahlah, kau mau pulang? Bisa antarkan aku tidak? Hehehehe, uangku habis, Aiden.” Ujar Carrie seraya tertawa. Aiden tertawa dan menganggukkan kepalanya, dan mengulurkan tangannya kepada Carrie.

“ Oke, kau bisa menceritakan padaku apa yang terjadi selama 3 tahun? Kurasa lebih baik naik taksi, biar lebih leluasa?” tawar Aiden.

“ Boleh, asal kau tetap mengantarkanku sampai rumah dengan selamat!”

“ Baiklah~”

Marcus terdiam. Entah ia merasa seperti ada sesuatu dalam hatinya yang melonjak-lonjak kesal dan ingin sekali melampiaskannya. Setidaknya dari reaksi gadis itu, ia tahu pria itu baik dan gadis itu mengenalnya. Dengan pelan, ia membalikkan badannya dan kembali ke dalam mobilnya. Meski rasanya ingin sekali ia… —kalau boleh jujur untuk mengatakan—ia ingin menarik gadis itu bersamanya.

***

Carrie berjalan di koridor tempatnya kuliah. Gadis itu hendak berjalan ke perpustakaan untuk mengembalikan beberapa buku yang dipinjamnya tempo hari. Sudah menjadi barang kebiasaannya untuk meminjam beberapa buku dari perpustakaan sebagai referensi tugas kuliahnya.

“ Hai Carrie! ” sapa seorang pria seraya menepuk pundaknya.

“Aiden?” ucap Carrie tak percaya. Aiden tersenyum manis padanya. Kemudian keduanya pun berjalan bersama-sama bersampingan.

“ Kau kuliah disini, Car? ” tanya Aiden. Carrie tertawa pelan, kemudian mengangguk pelan. Ia menunjuk buku tebal yang dipeluknya sebagai bukti, ia benar-benar kuliah dan buku yang dibawanya adalah referensi tugasnya.

“Harusnya aku yang bertanya, sedang apa kau disini?” ucap Carrie balik bertanya pada Aiden. Aiden lagi-lagi tersenyum seraya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak gatal.

“Aku kuliah disini Carrie. Aku mengambil jurusan Teknik Industri, bagaimana denganmu? ” jawab Aiden. Aiden tampak berpikir.  Carrie menganggukkan kepalanya, membulatkan bibirnya yang seakan-akan berkata ‘Oh~’.

“ Kau tahu? Ternyata kita satu kelas! Hahaha, aku pun juga anak teknik, kau mau ke kelas, Aiden?” ujar Carrie. Aiden melongo tidak percaya, dan tertawa kencang.

“ Benarkah?! Whua, kita harus bersama-sama setiap hari! Aku bareng denganmu ke kelas yah? Sebenarnya aku nyaris putus asa, tadi sempat tersesat.”

“ Kau harus membawa peta kampus, Aiden supaya tidak tersesat.”

“ Kau betul. Eum, Carrie… bukankah Liora satu universitas denganmu juga?” tanya Aiden. Carrie menghentikan langkahnya, diikuti dengan Aiden. Pria itu menatap gadis itu dengan lembut, Carrie mengangguk pelan.

“ Lalu—dimana dia? Kenapa kau tidak bersama dengannya?”

“ Aku tidak tahu, tapi… mungkin ia sedang di kantin sekarang bersama dengan teman-temannya.” Kata Carrie. Alis Aiden terangkat, seolah-olah ingin agar gadis itu menjelaskannya lebih panjang kepadanya. Bukankah seharusnya seorang adik-kakak bersama-sama?

“ Kalau gitu… antarkan aku ke kantin sekarang juga!” Aiden menarik lengan Carrie dengan paksa, dan memaksanya mengikuti langkah kakinya menuju kantin.

“ Aiden, kau benar-benar lapar—atau kau ingin bertemu dengan Liora?” tanya Carrie pelan. Aiden menghentikan langkahnya, dan berbalik menoleh ke  arah gadis itu dengan lembut.

“ Kau tahu, apa maksudku Carrie.”

_

Terlihat kumpulan orang-orang yang bisa disebut elite community sedang duduk disalah satu kursi yang saling berhadapan di kantin. Orang-orang elite itu sedang bercanda gurau namun tidak dengan Marcus yang terus sibuk dengan PSP-nya dan gadis yang dihadapannya—Liora yang tak lepas dari iPod miliknya.

Andrew, Angela, Brian dan Vincent tertawa ketika mendengar lelucon yang dibuat oleh Spencer. Spencer memang orang yang paling humoris diantara semuanya.

Andrew melepaskan handfree sebelah kiri yang dikenakan Liora lalu memasangnya di telinga kanannya. Liora menoleh pada Andrew—jarak wajah keduanya hanya terpaut beberapa centi. Lalu Andrew tersenyum pada gadis itu. Senyuman yang akan membuat siapa pun wanita akan merasa paling beruntung memiliki sebuah senyuman yang seolah memang diciptakan untuknya seorang.

Lalu keduanya menatap Spencer yang masih sibuk dengan leluconnya. Sesaat liora tersenyum menahan tawa setelah mendengar leluconnya. Namun senyuman Liora perlahan hilang ketika kedua matanya mendapati Marcus yang terlihat kesal seraya menatap kearah belakangnya, mungkin.

Lalu tidak lama kemudian seorang pria dan seorang gadis berjalan melewati kursi—tepat disamping tempat keduanya duduk. Marcus megalihkan pandangannya. Liora menatap dua orang tadi dari belakang. Liora seperti mengenali postur tubuh pria itu dan gadis itu—Carrie ?—pikirnya.

Tak disangka pria yang tadi berjalan melewatinya menolehkan kepalanya—melihat ke arahnya. Sontak Liora terkejut ketika mengetahui siapa yang baru saja melewatinya—ia terdiam, tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya tadi. Tiba-tiba Marcus bangkit dari duduknya.

“Aku pergi~” ucapnya dingin seraya mengambil tas dengan kasar, memasukkan PSP yang sejak tadi menjadi barang berharganya ke dalam tas dan tanpa berkata sepatah kata, lagi segera saja meninggalkan meja kantin tersebut dengan tergesa-gesa.

“Mau kemana kau ?” tanya Spencer setengah berteriak, membuat para penghuni kantin lainnya sontan melihat ke arah meja mereka.

“Entahlah yang jelas tidak disini,” jawab Marcus malas.

“Bukankah kau ada kelas sebentar lagi ?” tanya Angela. Marcus menoleh ke belakang dengan malas, sekilas ia melihat jam tangannya dan mendesah.

“Sesuatu sudah membuat mood ku menjadi buruk, dan bye!” ucap Marcus kemudian menatap Liora yang masih terdiam dan lalu ia berjalan meninggalkan kumpulan elite tersebut.

Tak lama kemudian Liora juga bangkit dari duduknya. Membuat yang lain pun terkejut, dua orang hari ini menjadi sangat aneh.

“Aku juga harus pergi.” ucapnya datar.

“Kau mau kemana, sayang?” tanya Andrew lembut seraya meraih lengan Liora. Namun Liora tak menjawabnya. “Kalau begitu aku antar ya~” ucap Andrew bangkit dari duduknya. Liora menggelengkan kepalanya.

“Nggak usah~” ucapnya menolak tawaran Andrew selembut mungkin. “Tapi—“

“Nanti ku telepon, Aku janji.” ucap Liora memotong perkataan Andrew seraya tersenyum pada pria itu. Liora mengecup pipi Andrew dan lalu meninggalkan para anggota kalangan elite tersebut.

_

Aiden dan Carrie berjalan menuju kantin. Begitu mereka memasuki kantin, dilihatnya  sekumpulan orang-orang yang terlihat ‘berbeda’  dari mahasiswa lain sedang bergurau. Aiden terfokus pada seorang gadis berambut panjang yang sedang duduk diantara orang-orang itu membelakanginya.

“Itu Liora.” ucap Carrie menatap gadis yang sama pada Aiden. Aiden menatap gadis yang ternyata memang benar merupakan gadis yang dicarinya. Namun Aiden teralihkan pada seorang pria yang duduk disamping Liora—pria itu seperti merangkul Liora. Lalu pria itu dan Liora saling bertatapan—membuat Aiden merasa sedikit kesal.

“ Dan… lelaki yang di samping, Liora itu.. Andrew. Kekasihnya, aku sudah mengatakannya padamu semalam bukan?” tambah Carrie. Aiden menangguk pelan, sementara rahangnya mengeras dan berusaha mengalihkan pandangannya dari meja yang baru saja ditunjuk Carrie.

“ Kau mau es krim?”

Carrie menunjuk dirinya sendiri, dan tertawa.

“ Untukku? Kau mentraktirku, Aiden?” Carrie tertawa keras, membuat Aiden menggelengkan kepalanya. Ia meringis, sungguh gadis ini.

“ Oke, kutraktir kau. Ayo!”

Satu cup es krim rasa vanilla sudah berada di tangan Carrie, Aiden tersenyum pelan. Seperti ia baru saja menemui gadis yang benar-benar  seperti anak polos yang terperangkap dalam tubuh 20 tahunnya. Carrie mendongakkan kepalanya, dan mengerutkan keningnya saat kedua matanya menangkap basah Aiden yang sedang menatapnya.

“ Tatapanmu aneh sekali, Aiden.” ujar Carrie pelan seraya menjilat es krim miliknya. Aiden tertawa, dan mengacak-acak rambut gadis itu dengan gemas. Kemudian, menarik lengan gadis itu bersamanya segera menuju kelas yang akan segera dimulai.

Tiba-tiba seseorang menyenggol bahu Carrie dengan kasar, membuat gadis itu terkejut dan… es krim di tangannya. Nyaris membuat es krim yang dipegangnya jatuh, sebelum Aiden menahannya. Carrie mendengus kesal.

“ Bisakah kau meminta maaf padaku? Es krimku nyaris jatuh karenamu…”

Pria itu menoleh ke arahnya dengan dingin, sesaat kemudian Carrie merasa terpaku di tempatnya berdiri. Bukankah itu pria yang ia lihat semalam di pub yang sama dengan Liora? Oh, baiklah. Ia mengakui, ia memang cukup payah dalam hal mengenali orang tapi ia begitu yakin bahwa itu adalah pria semalam.

“ Maaf, Carrie.” ujarrya dingin. Tidak ada ekspresi apapun selain—dingin, angkuh yang bisa Carrie gambarkan. Dan anehnya pria itu mengenalnya, di saat ia tidak mengenal pria itu.

“ Kau tahu namaku?”

Sekilas pria itu tersenyum, dan berbalik meninggalkannya dalam kebingungan. Aiden menoleh dan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Carrie yang sama sekali tidak berkedip.

“ Siapa dia, Car?” tanya Aiden seraya melipat kedua tangannya menatap punggung pria itu semakin menjauh dari mereka. Carrie menggelengkan kepala dengan pelan. Ia sendiri tidak tahu siapa pria itu. “ sudahlah jangan terlalu dipikirkan, ke kelas saja yuk?”

“ Tapi—Aiden.”

“ Apa?”

Gadis itu menggelengkan kepalanya, dan kembali menjilati es krimnya dengan pelan kemudian berjalan terlebih dahulu di depan Aiden. Aiden hanya tersenyum geli, dan berlari pelan menyusul gadis di depannya.

***

“ Kau mau kemana, Marcus?” tanya Liora begitu jam mata kuliah berakhir dengan tenang. Pria itu segera bergegas keluar kelas, dan menoleh dengan malas ke arahnya.

“ Mencari sesuatu.” Jawabnya santai.

Liora tersenyum, menutup notesnya dan memasukkannya dengan asal ke dalam tas dan beranjak menghampiri pria itu. Tiba-tiba saja Andrew sudah berada di depan pintu kelas, dan langsung menghampiri kelas begitu kelas hanya terisi oleh mereka bertiga saja.

“ Mau kemana hari ini?” tanya Andrew lembut. Liora mengangkat bahunya, dan  mengecup pipi kekasihnya dengan lembut dan cepat. Melihat adegan picisan di depannya, Marcus berdesis sebal dan bergegas berbalik meninggalkan keduanya.

Andrew tertawa kencang begitu melihat sahabatnya yang mungkin terlihat kesal dengannya. Ia melirik ke arah Liora, dan menuntun gadisnya bersamanya. Liora tersenyum lembut kepada pria yang menuntun lengannya dengan lembut. Ia memang merasa nyaman namun, ada sesuatu yang kurang dengan apa yang sudah ia miliki saat ini.

Kebahagian yang begitu sangat kurang sempurna.

­_

Sesuatu membawanya untuk melangkahkan kaki menuju kantin, tempat yang tidak ia rencanakan sebelumnya. Sebelum ia menyadari keberadaan gadis itu disini, tepat di bangku kantin paling ujung sembari membuka buku di atas mejanya dengan serius. Awalnya ia berniat langsung meninggalkan tempat ini, lagi hati kecilnya berkata untuk bertahan disini… bahkan lebih gilanya, seluruh sistem koordinasinya bergerak untuk memerintahkannya membeli sebuah es krim vanilla.

“ Gila! Untuk apa aku beli es krim!” desis Marcus. Sebuah cup es krim vanilla di tangannya, ia menoleh sekilas ke arah gadis di pojok ruangan itu. Ia menarik napas, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menghampiri gadis itu.

“ Untukmu. Maafkan atas  kejadian tadi siang.” ujarnya. Ia menyodorkan es krim di tangannya. Gadis itu mendongakkan wajahnya, sekaligus mengerutkan keningnya. Ia menatap Marcus dengan teliti dari atas kepala hingga bawah membuatnya sangat tidak nyaman.

“ Untukku?” Gadis itu menunjuk dirinya sendiri.

“ Ambillah.” Jawabnya. Gadis itu tersenyum dan mengambil es krim dari tangannya, meski mungkin terlihat aneh, atau terkesan freak—biarlah, pikir Marcus. Ia tersenyum sendiri melihat gadis itu menjilati es krim di tangannya, seperti anak kecil. Kemudian, Marcus mengambil kursi di depan meja gadis itu.

“ Eum, apakah kita sudah saling mengenal? Kau tahu namaku?” ujar gadis itu. Ia menggaruk dagunya, dan kemudian menjilati es krimnya seraya menatapnya.

Marcus tertawa.

“ Kau itu, ‘kan adiknya Liora.” Jawab Marcus. Gadis itu melongo, dan menggantung es krimnya yang di depan mulutnya, serta tersenyum terpaksa. Saat itu pun, ia merasa bahwa ia sudah salah bicara.

“ Oh, gitu ya.” ucap gadis itu dengan senyum yang menurut Marcus terpaksa. “ namamu siapa? Kalau begitu kau teman Liora bukan? Karena dia—ah sudahlah lupakan. Siapa namamu?”

“ Panggil aku, Marcus.”

“ Ah, iya. Marcus ssi. .“  ujar gadis itu seraya tersenyum. Sesuatu yang bisa membuat jantung Marcus seperti ingin melompat dari tempat yang seharusnya. Bagaimana pun yang terjadi, ia ingin selalu bersamanya.

“ Car, maaf ya aku agak lama ke rektoratnya, soalnya begitulah.” Seorang pria berlari terengah-engah menghampiri gadis itu. Marcus menyipitkan kedua matanya, pria yang bersama dengan Carrie tadi siang di kantin, yang entah sangat sukses membuatnya kesal. Gadis itu tersenyum, dan kemudian beranjak dari bangkunya seraya mengambil tasnya yang disampirkan di bahu, dan mengigit kue es krim.

“ Marcus, maaf ya aku duluan.  Ah, iya-Aiden, kenalin ini Marcus—temannya Liora.” Ujar gadis itu seraya menepuk bahunya dengan pelan. Pria itu menoleh ke arah gadis itu dengan bingung. “ ngga apa-apa, Aiden. “ tambahnya seolah sudah bisa membaca pikiran pria itu.

Marcus mendesis, tidak di kelas, di kantin masih saja ia melihat romansa kekasih. Khususnya yang membuatnya kesal adalah yang sedang berada di depannya ini.

“ Hai, aku-Aiden. Salam kenal.” ujar pria—Aiden-itu mengulurkan tangannya kepada Marcus. Dengan kikuk, ia menyambut perkenalan singkat –sekaligus menyebalkan baginya- dan memperkenalkan namanya.

“ Aiden, ayo pulang~ aku sudah janji sama ayah, mau ke kantornya habis ini.” Desak Gadis itu menarik-narik lengannya di pria itu. Aiden menoleh dan menganggukkan kepalanya, dan kemudian meraih lengan Carrie dan menggenggamnya. Shit! Jangan tunjukkan kemesraan kalian, di depanku!

“ Kami duluan ya, Marcus ssi. Terimakasih es krimnya.” ujar Carrie seraya membungkukkan badannya, dan akhirnya meninggalkannya seorang diri—ia merasa seorang diri sekarang, meski di tengah keramaian kantin.

“ Kenapa aku bisa menyukai gadis  yang jelas-jelas sudah punya kekasih.” Gerutu Marcus.

**

“ Liora, kau sakit?” tanya Andrew cemas, ia mengangkat wajah Liora dan menempelkan telapak tangannya di kening gadis itu. “ ngga panas, kok.”

Liora tersenyum, dan menepis tangan pria itu dengan lembut.

“ Aku ngga sakit, hanya… pusing memikirkan tugas yang belum selesai,” kilahnya. Andrew mengangguk pelan, dan kemudian meraih tangan Liora menuntunnya mengikuti langkahnya. Ah, itu hanya alasanku saja, Andrew—gumamnya. Ia menoleh ke pria di sampingnya, rahang keras dan tegas, yang sangat ia sukai dari Andrew. Tiba-tiba Andrew menoleh ke arahnya, dan tersenyum kemudian menariknya ke dalam dadanya dan mencium puncak kepalanya.

Liora memejamkan kedua matanya, sejenak menghirup aroma kesukaannya dalam-dalam, parfum Bvlgari–parfum kesukaan Andrew. Pria itu—yang sejak dulu berusaha ia lupakan kini sudah kembali. Aiden.

“ Aku mau pulang saja, ya. Kepalaku pusing~” keluh Liora. Andrew menganggukkan kepalanya, pria itu berjalan terlebih dahulu melepaskan dekapannya menuju mobilnya yang terparkir cukup jauh dari pintu keluar, sehingga Liora memutuskan menunggu Andrew di gerbang pintu keluar kampus.

Gadis itu terhenyak ketika dua orang yang sangat ia kenali, melewatinya dengan santai. Keduanya tidak menyadari kehadirannya karena mereka terlalu fokus dengan sebuah bacaan di tangan sang pria dan keduanya tertawa-tawa. Liora menggigit bibir bawahnya berusaha untuk menahan kesal. Aiden bersama dengan Carrie, sejak kapan keduanya menjadi terlihat sangat akrab ditambah ketika keduanya pun ke kantin bersama-sama tadi siang.

“ Liora, kau mau berdiri di situ sampai kapan?” ujar Andrew yang mengeluarkan kepalanya di kaca mobilnya, dan tertawa geli. Pria itu melepaskan kacamata hitamnya, dan membuka pintu samping kemudi. “ ayo, masuk. Nanti kau bisa dehidrasi kalau terlalu lama berdiri.”

Liora mengangguk, dan sesaat ia menarik napas dalam-dalam sejenak. Ia harus segera sampai rumah, dan menanyai Carrie mengenai kehadiran Aiden di Seoul.

**

Brak!

“ Hei, Ra!” Teriak Carrie yang langsung saja beranjak dari baringan santainya, dan duduk di atas tempat tidurnya dan meletakkan komik yang sedang dibacanya di sampingnya. Gadis itu tersenyum dan menepuk-nepuk tempat tidurnya, menyuruh agar Liora duduk disana.

Berbeda dengan reaksi Carrie yang tampak senang, Liora menghampiri gadis itu dengan tatapan tajam. Gadis itu melipat kedua lengannya di dada, menatap Carrie dengan tatapan menginterupsi. Carrie menarik napas, ia tahu… ia salah—Liora bukan menemuinya di kamar karena merindukan atau semacamnya, tapi sesuatu membuat Liora marah kepadanya.

“ Ada apa, Ra?” tanya Carrie.

“ Kenapa Aiden bisa ada di Seoul?”

“ Oh itu, ia baru saja pindah kesini sekitar seminggu yang lalu. Ia dapat beasiswa di kampus, Ra. Kenapa?”

Liora tertawa sinis.

“ Lalu… apa saja yang ceritakan padamu selama ini?”

Carrie menggaruk dagunya, dan tersenyum.

“ Ngga bilang apa-apa kok, hanya dia bercerita alasannya kesini, terus tujuannya dan sebagainya, Ra. Kau sudah bertemu dengannya?” Carrie berbalik tanya, membuat Liora kesal.

“ Apa yang ia ceritakan lagi?”

“ Itu… maaf, Ra. Aku ngga bisa menceritakannya lebih jauh padamu, bukannya aku tidak mempercayaimu. Hanya saja Aiden bilang padaku, untuk merahasiakannya dari siapapun—dan itu termasuk kamu. Maaf.”

Liora mengerling kesal.  Baiklah, Aiden lebih mempercayai Carrie dibandingkan dengannya. Ditambah pria itu sama sekali tidak memberitahu mengenai kedatangannya ke Seoul, dan sekarang dengan terang-terangan Carrie mengatakan pria itu meminta agar merahasiakan sesuatu darinya.

“ Kalau begitu, jangan pernah bicara padaku lagi… untuk selamanya.” Tukas Liora seraya berjalan meninggalkan kamar Carrie dan membanting pintu cukup keras. Carrie hanya menarik napas sepeninggal kakaknya—meski Liora selalu menegaskan menolak menjadi saudarnya.

Ia menghapus air mata yang mengalir tanpa seiijinnya. Seberusaha apa-pun ia menahan dan juga bersabar dengan sikap Liora yang selalu mengacuhkannya, ia tetap tidak bisa untuk tidak menahan emosi jika gadis itu sudah terangan menolak untuk berbicara dengannya lagi.

“ Carrie, kau baik-baik saja, nak?” Carrie mengangkat wajahnya, dan dengan cepat menghapus air matanya ketika Taeyeon menghampirinya dan duduk di sampingnya. Ia tersenyum. “ Liora bersikap kasar lagi ya?”

“ Tidak apa-apa, Bu. Mungkin ia sedang kesal saja, aku baik-baik saja.” ucapnya. Taeyeon tersenyum sembari mengelus rambut Carrie dengan lembut kemudian menariknya ke dalam dekapannya. Ia paham Liora masih belum menerimanya, menerima Carrie sebagai adiknya. Dan hingga kini pun, ia masih belum bisa menerima Dennis sebagai ayahnya, seberusaha apa pun ia membujuk gadis itu.

“ Ah, iya. Aku harus ke toko Sungmin, kalau tidak bisa-bisa Sungmin memarahiku!” ujar Carrie melepaskan lengan Taeyeon dan bergegas berganti baju. Taeyeon terkikik pelan, dan kemudian meninggalkan kamar gadis itu.

_

            “ Oke, aku akan kesana sekarang. Spencer sudah kukatakan aku sedang di jalan, ok? Disana ‘kan udah ada Andrew  juga, ‘kan? Kau bermain dulu saja dengannya.” ujar Marcus dengan kesal ketika Spencer menelponnya dan menginterogasinya agar segera tiba di arena tembak—kegiatan yang selalu ia lakukan bersama dengan Andrew dan juga Spencer.

Ia melempar ponselnya dengan asal ke kursi samping kemudi, dan memukul kemudi dengan keras. Tiba-tiba Marcus memelankan kecepatan mobilnya, dan berjalan di pinggir jalan. Sebisa mungkin ia tiba di arena tembak dengan waktu yang lama, karena ia benar-benar malas bertemu dengan temannya saat ini.

Dengan kasar, Marcus menghentikan mobilnya dengan paksa membuat badannya sempat terhempas ke depan saat ia melihat seorang gadis tidak jauh di depannya bersiap menyeberangi jalan dengan kepala menunduk dan bodohnya gadis itu sama sekali tidak melihat sekitarnya padahal sudah jelas rambu lalu lintas masih hijau.

Marcus segera keluar dari mobil, dan berlari menghampiri gadis itu ketika sesaat gadis itu akan melangkahkan kakinya menyeberangi jalan dengan kencang dan kasar ia menarik lengan gadis itu menjauh dari jalan dan menariknya menuju mobilnya. Tidak ada perlawanan.

Ia melepaskan cengkeramannya, sebenarnya ia sudah siap untuk menceramahi tindakan bodoh Carrie. Jika saja ia tidak melihat gadis itu masih saja menundukkan wajah bodohnya darinya, dengan kasar ia mengangkat dagu gadis itu menatapnya.

“ Jahat~” ucap gadis itu pelan. Matanya jelas-jelas membengkak, dan ia baru saja menangis.

“ Jahat? Kau seharusnya berterimakasih padaku karena sudah—“ Marcus memotong kalimatnya, ketika tiba-tiba saja gadis itu memukul dadanya sembari menangis kencang.

“ Kalau kau tidak mau bicara padaku selamanya, untuk apa aku menjadi adikmu, Liora. Untuk apaa!” jeritnya kencang masih dengan memukul dada Marcus dengan kencang. Marcus menggelengkan kepalanya, untuk apa pula nama Liora disebutkan. Jelas-jelas ia bukan LIORA!

“ Aku—bagaimana pun kau bersikap kasar padaku, aku tetap menganggapmu kakak, Liora. Tapi—“ Gadis itu masih meracau tidak jelas. Marcus menggelengkan kepalanya sekali lagi, dan menarik gadis itu dalam dekapannya. “ Liora… jangan bersikap seperti itu padaku.” Lirih Carrie, memukul dada Marcus tidak henti, sementara kemeja Marcus sudah seutuhnya basah oleh air mata gadis itu.

***

To Be Continued…

***

Thank you for Kartika Nurfadhilah because you have helped me to create this story ^^ 

10 thoughts on “[FF] Life (Isn’t Easy as You Think) part 1”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s