[FF] Life (Off One’s Trolley) part 2

Title: Life

Author: Liora Lee and Carrie Cho
Rating : PG+15 / straight
Casts: Lee Donghae, Cho Kyuhyun (Super Junior) and OC
Other Casts: Super Junior
Genre: Romance, Friendship, Family, AU, Angst
Length : Chaptered
Part: 2 of 3/4

Disclaimer : The characters in this story is the character of their own with a bit of my imagination and this story is only a fiction. So don’t sue me.

A/N :
– I created this story with my chairmate and this story was publishen on her blog too.
– You can find other cast when you read this story.

READ THE PREVIOUS STORY HERE.

***

***

Previously…

Marcus menghentikan mobilnya dengan paksa membuat badannya sempat terhempas ke depan saat ia melihat seorang gadis tidak jauh di depannya bersiap menyeberangi jalan dengan kepala menunduk dan bodohnya gadis itu sama sekali tidak melihat sekitarnya padahal sudah jelas rambu lalu lintas masih hijau.

Ia pun segera keluar dari mobil, dan bergegas berlari menghampiri gadis itu ketika sesaat gadis itu akan melangkahkan kakinya menyeberangi jalan dengan kencang dan kasar ia menarik lengan gadis itu menjauh dari jalan dan menariknya menuju mobilnya. Tidak ada perlawanan.

Kemudian ia melepaskan cengkeramannya, sebenarnya ia sudah siap untuk menceramahi tindakan bodoh Carrie. Jika saja ia tidak melihat gadis itu masih saja menundukkan wajah bodohnya darinya, dengan kasar ia mengangkat dagu gadis itu menatapnya.

“ Jahat~” ucap gadis itu pelan. Matanya jelas-jelas membengkak, dan ia baru saja menangis.

“ Jahat? Kau seharusnya berterimakasih padaku karena sudah—“ Marcus memotong kalimatnya, ketika tiba-tiba saja gadis itu memukul dadanya sembari menangis kencang.

“ Kalau kau tidak mau bicara padaku selamanya, untuk apa aku menjadi adikmu, Liora. Untuk apa!” jeritnya kencang masih dengan memukul dada Marcus dengan kencang. Marcus menggelengkan kepalanya, untuk apa pula nama Liora disebutkan. Jelas-jelas ia bukan LIORA!

“ Aku—bagaimana pun kau bersikap kasar padaku, aku tetap menganggapmu kakak, Liora. Tapi—“ Gadis itu masih meracau tidak jelas. Marcus menggelengkan kepalanya sekali lagi, dan menarik gadis itu dalam dekapannya. “ Liora… jangan bersikap seperti itu padaku.” Lirih Carrie, memukul dada Marcus tidak henti, sementara kemeja Marcus sudah seutuhnya basah oleh air mata gadis itu.

***

Akumencintaimu, tapi aku tidak tahu bagaimana mengucapkannya kepadamu.

Marcus mengulum permen mentholnya ke dalam mulutnya, dan kemudian menutup pintu mobilnya dengan cukup keras lalu berjalan meninggalkan lapangan parkir. Seharusnya ia cukup datang ke kampus siang pun tidak masalah, karena toh mata kuliahnya hanya satu dan setelah makan siang. Hanya saja untuk kali ini ia ingin menjadi sedikit lebih rajin, rajin dalam tanda kutip.

Ia sangat benci untuk datang terlalu lebih awal ke kampus, ia akan lebih memilih untuk datang tepat waktu dibandingkan datang ke kampus. Sesuatu yang aneh, namun tidak pernah ia sesali. Apa pula ini, Marcus benar-benar aneh sekarang.

Marcus melangkahkan kaki dengan santai seraya menenteng PC tablet kesayangannya yang menampillkan permainan Diablo kesukaanya, hingga tidak sadar ia sudah memasuki wilayah kantin.

“ Kenapa tiba-tiba bisa jalan ke kantin?” gumamnya bingung sendiri. Ia tertawa sendiri, dan kemudian mencari tempat duduk yang nyaman. Tempat yang selalu dipilihnya ada kursi di bagian luar kantin yang menghadap taman kampus.

Namun itu pada awalnya, ia hanya ingin menikmati waktu panjangnya sebelum kelas dimulai. Ia melihat gadis itu di pojok kantin, tempat yang sepertinya menjadi favoritnya. Berkutat dengan modul, dan beberapa kertas  di depannya sesekali menyeruput es bubble miliknya.

Marcus tersenyum. Gadis itulah alasan keberangkatan paginya hari ini. Terdengar begitu picisan tapi apalah artinya jika akhirnya kau melepaskan segala ketidaksukaanmu, dan digantikan dengan sesuatu yang menurutmu… ternyata sangat sulit untuk dideskripsikan.

“ Hai…” sapanya. Gadis itu mengangkat wajahnya, dan tersenyum. Ia menunjuk sebuah kursi kosong di hadapannya kepada Marcus. “ apa yang kau lakukan?”

“ Tidak ada, hehe… aku hanya sedang mengecek paper milik Aiden, ia memintaku untuk mengoreksinya. Kau sendiri?”

Aiden—mengapa hanya pria itu yang selalu meluncur dengan lancar dari bibir Carrie. Tidak adakah nama lain selainnya?

“ Menunggu kelas.” jawabnya singkat. Carrie menganggukkan kepalanya, dan tersenyum lembut. “ kau baik-baik saja?”

“ Eh? Baik—baik?”

“ Masalah kemarin. Kau sudah merasa baikan, apakah ada perkembangan?” tanya Marcus. Gadis itu hanya tersenyum kikuk, dan tanpa perlu penjelasan ia sudah tahu jawabannya. Hanya saja ia berharap gadis itu bisa menceritakan lebih rinci kepadanya.

“ Liora menolak untuk berbicara padaku, jangan bicara untuk menatap wajahku saja enggan. Haha, sudahlah. Mungkin aku sudah terlalu biasa, toh… selama ini—dia…”

“ Dia?” Marcus menggantung kalimat terakhir Carrie. Carrie tersenyum.

“ Dia ‘kan menolakku, bahkan sampai detik ini dia tidak mengakui sebagai adik. Yah, meski sebenarnya agak menyakitkan, anggap sajalah aku dan dia tidak memiliki hubungan khusus. Sama seperti ketika ayah belum menikahi ibu, aku adalah anak tunggal sama sepertinya,” ujarnya. Carrie menghabiskan bubble ice miliknya, dan kemudian membereskan buku yang berserakan di atas meja ke dalam tasnya.

“ Kau ada kelas?” tanya Marcus. Gadis itu menggeleng pelan, dan berjalan terlebih dahulu kemudian Marcus mengikutinya dari samping.

“ Ngga sih, masih sekitar satu setengah jam lagi. Aku hanya ingin jalan-jalan saja.”

“ Boleh aku temani?”

“ Kalau kau tidak keberatan.” Sahut Carrie santai.

__

Angela menatap keluar jendela kelas  seraya menghela napas,  kemudian ia membalikan tubuhnya dan menatap Liora yang masih sibuk menulis beberapa materi untuk kuis minggu depan. Gadis itu duduk tidak jauh dari tempat duduknya, hanya terpaut sekitar tiga bangku. Lalu ia berjalan menghampiri Liora, berdiri dihadapan sahabatnya itu.

“ Kau yakin segalanya akan baik-baik saja?” ucapnya menatap Liora.

Gadis di depannya bergeming membuat Angela sedikit kesal dan kembali mengulangi pertanyaannya hingga akhirnya gadis itu mau menghentikan kegiatannya, dan mendongakkan kepalanya menatap Angela dengan malas.

Wae?! Kau mau menuntutku juga?” ucap Liora datar dan lalu melanjutkan kegiatannya yang memang belum selesai. Angela mendengus kesal.

“ Bukan seperti itu, Ra. Aiden sekarang ada di Seoul, bukankah seharusnya kau menemui dia? Bukankah—kau merindukannya bukan?“

Liora menggantung pulpennya dan kembali meneruskan catatannya, seolah ia tidak pernah mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh Angela. Tidak mungkin gadis itu tidak mengetahui segala hal menyangkut dirinya dan itu termasuk keberadaan Aiden dalam hidupnya, dan sekarang termasuk kehadiran Aiden di Seoul yang tentu tidak disangka oleh keduanya.

“Untuk apa, bukankah itu hanya membuang waktu? Bukankah Aiden sudah punya teman baru yang mungkin lebih—“

“Lebih apa? Maksudmu apa?” tanya Angela memotong perkataan Liora. “Kau cemburu Liora? Karena dengan jelas saja kemarin kau melihat keduanya berjalan di kantin bukan?” sergah Angela cepat. Liora mendengus kesal, dan menutup catatannya dengan kasar kemudian membalikkan badannya dengan kasar.

“Untuk apa aku cemburu pada orang yang telah merebut semuanya dariku?” tanya Liora dingin menatap Angela. Angela mengerutkan keningnya.

Tiba-tiba saja Marcus datang menghampiri mereka berdua. Suasana kelas yang sudah ‘keruh’ menjadi semakin ‘keruh’ terlebih dengan kedatangannya dengan tatapan menginterupsi. Ia menatap Liora dengan tajam, gadis itu tertawa mengejek sembari melipat kedua lengannya di dada.

“ Mau apa kau?”

“ Kakak macam apa kau, Liora?!” ucapnya sinis menatap Liora.

“Maksudmu?” Liora berbalik tanya membuat Marcus semakin kesal. Ia sangat tidak menyukai apabila pertanyaan yang ia ajukan kembali dibalikkan.

“ Carrie sudah cukup sabar menghadapi sikapmu selama ini, Ra. Sikapmu yang egois.” ucap Marcus dengan penekanan pada kata ‘egois’.

Liora menatap Marcus. “Jika kau tak tau masalahnya lebih baik kau tidak usah ikut campur Marcus Cho.” ucap gadis itu dingin. Meski terdengar dingin tetapi suaranya seperti terdengar bergetar menahan tangis.

Marcus tertawa sinis. “Kau tau, tidak peduli sekasar apa kau padanya tapi dia tetap mengangapmu sebagai kakak, dia tetap menyayangimu, dia—“

“Sayang? Kau bilang dia sayang padaku Marcus?! Kau pikir orang yang telah merebut segalanya dariku masih bisa dibilang menyayangiku? Apa orang yang telah merebut orang-orang yang kusayangi dan sangat berarti dalam hidupku masih bisa dibilang menyayangi ku?!” ucap Liora memotong perkataan Marcus seraya bangkit dari duduknya. Gadis itu menarik nafas sebelum melanjutkan kembali perkataannya.

“Tiga tahun yang lalu, ayahnya datang dan menikahi ibuku padahal aku baru kehilangan ayahku beberapa minggu dan sekarang—dia merebut orang yang sangat berarti dalam hidupku Marcus. Dia merebutnya. Carrie merebut semuanya dariku!” bentak Liora.

“Tapi kau tak seharusnya seperti ini, kau sudah benar-benar keterlaluan!” ucap Marcus.

Sesaat Liora, Marcus dan Angela terdiam. Lalu Liora menghapus air mata yang membasahi pipinya dan mengambil tas dan notesnya. Marcus menghela napas, meski mungkin ia terkesan jahat baiklah ia mengakui, tetapi gadis itu memang terlalu keras kepala untuk sekedar diberitahu.

“Aku pergi~” ucapnya lirih seraya meninggalkan Angela dan Marcus yang masih terdiam setelah mendengar perkataannya tadi.

Liora sungguh tak dapat menahannya lagi. Ia benar-benar kesal sekaligus marah, tapi entah mengapa ia marah bukan pada Marcus, Angela, Aiden ataupun Carrie—tapi ia merasa marah pada dirinya sendiri. Kau harus kuat Liora, Kau tak boleh rapuh—batinnya.

Liora terus menundukan kepalanya sambil terus berjalan menuju tempat ia memarkirkan mobilnya. Namun tak sengaja ia menubruk seseorang. Dilihatnya orang itu, sontak membuat Liora terkejut karena yang baru saja ditubruknya yaitu Aiden bersama Carrie. Carrie tersenyum kikuk, ia menyadari ekspresi Liora yang sungguh sangat tidak bersahabat.

“Liora, kau kenapa?” tanya Carrie polos yang menyadari Liora habis menangis. Liora tak menjawabnya. Ia membalikan tubuhnya dan bergegas untuk meninggalkan keduanya namun langkahnya terhenti ketika Aiden menahannya.

“Li, aku—“

Liora menepis tangan Aiden, menatap pria itu dalam lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Liora berlari sekencang mungkin agar ia segera sampai di tempat parkir. Namun langkahnya kembali terhenti saat akan memasuki mobilnya.

Dan lagi-lagi Aiden menahannya dan dengan kasar Aiden membalikan tubuh gadis itu.

“Li, kita harus bicara.” ucap Aiden. Liora menatap pria itu tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Dilihatnya Carrie menatap mereka berdua dari belakang Aiden. Liora melepaskan tangan Aiden dari bahunya.

“Mau bicara apa? Bukankah kau sudah memilikinya?” ucap Liora sinis seraya menunjuk ke arah Carrie.

“Kenapa sih kau ini? Aku memiliki apa? Jangan berpikiran yang aneh-aneh, Liora.” ucap Aiden kesal. “ Liora yang kukenal selama ini mana? Ini bukan Liora yang kukenal, kau Liora yang berbeda dalam tubuh yang sama.”

“Liora Kim sudah mati bersama ayahnya yang hilang ketika melaut dan sekarang hanya ada orang asing yang bernama Liora Park,” jawab Liora sinis dan entah mengapa ia kembali menangis padahal ia tak ingin menangis dihadapan Aiden.

Tidak ada kata yang terucap dari bibir Aiden, hanya sebuah ketidakpercayaan ketika Liora berkata sesuatu yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya.

“ Liora, kenapa kau—Ra, semuanya sudah berubah, dan…” Aiden sendiri bingung bagaimana ia mengekspresikan kekesalannya, kekecewaannya, dan ia benar-benar bingung.

“ Aku memang seperti ini, tidak usah bersikap seolah kau memperdulikanku, Aiden. Karena aku tidak butuh perhatianmu.” ucap gadis itu dengan keras yang lalu memasuki mobilnya dan pergi meninggalkan Aiden, juga Carrie dan beberapa mahasiswa lain yang melihatnya.

Carrie menghapus air mata yang tidak tertahan, karena pada kenyataannya ia memang sulit menerima Liora benar-benar membencinya. Gadis itu bahkan menjadi membenci Aiden dan itu adalah… karena dirinya. Bukankah dia sumber masalah bagi Liora?

“ Maafkan aku, Aiden.” Carrie menghapus air mata di pipinya, dan menarik napas memberikan oksigen segar untuk kedua paru-parunya.

Aiden menoleh, dan ia sungguh tidak mengerti maksud Carrie kecuali jika ia tidak melihat gadis itu menundukkan kepalanya seolah meminta maaf. Pria itu tersenyum lembut dan berjalan menghampiri gadis itu dan menarik kepalanya ke dalam dadanya.

“ Tidak ada satu pun yang harus kumaafkan, karena kau tidak bersalah, Carrie.” ucapnya.

Ani. Liora ikut membencimu, bukankah karena kau dekat denganku?”

“ Jangan pernah berpikir seperti itu lagi.” Bisik Aiden pelan, dan mengusap puncak kepala Carrie dengan lembut. Carrie memejamkan kedua matanya, seberusaha apa pun ia berusaha bersabar dengan sifat Liora ia tetap tidak akan sanggup untuk menahannya terlalu lama.

***

Andrew berjalan seraya mengedarkan pandangannya untuk mencari Liora. Ia berusaha untuk menghubungi gadis itu tetap saja tidak bisa, karena ponselnya tidak aktif. Sementara tadi ia baru saja berpapasan dengan Angela dan kelas sudah berakhir tiga jam yang lalu. Ia memang terlambat keluar kelas hari ini, karena ada kuis mendadak yang diadakan oleh dosen.

Tidak seperti biasanya, Liora seperti ini. Sekali lagi ia berusaha untuk mendatangi kelas Liora berharap mungkin tadi ia melewatkan sesuatu disana, namun yang ada adalah Vincent yang menghampirinya dengan terengah-engah.

“Andrew! Kau harus ke tempat parkir sekarang juga!” ucapnya dengan cepat membuat. Andrew menyipitkan kedua matanya berusaha menangkap maksud Vincent.

“ Untuk apa?”

Vincent menggelengkan kepalanya dengan kesal, di saat lelah saat ini ketika ia harus mencari Andrew secepat mungkin dan kini dengan santainya ia bilang ‘untuk apa?’

“Liora sedang beradu mulut dengan anak baru dari Mokpo itu, anak teknik!”

Seketika Andrew langsung berlari menuju tempat parkir seperti yang baru saja dibilang Vincent dan memang benar gadis itu terlihat sedang berdebat tentang sesuatu yang tidak bisa ia tangkap arah pembicaraan mereka, namun ia bisa melihat dari ekspresi Carrie di belakang pria Mokpo itu, ia tersenyum. Apa lagi selain masalah keluarga?

Liora menangis—belum benar menangis, jika saja gadis itu tidak berusaha untuk menahan emosinya. Kedua tangannya mengepal keras, pertanda gadis itu sedang berusaha menahan air matanya. Beberapa saat kemudian, gadis itu berbalik meninggalkan pria Mokpo dan juga Carrie berlari menuju mobilnya.

Jika saja gadis itu tidak mengemudikan mobil dengan kecepatan tidak wajar di depannya, mungkin seharusnya ia tidak berada disini dengan mengikuti mobil Liora dari belakang. Ia tidak tahu maksud gadis itu, hanya saja ini adalah rute menuju Sungai Hangang, dimana kini keduanya –mengitari pinggir jalan Sungai Hangang.

Gadis itu menghentikan mobilnya di tepi sungai, dan terdiam. Andrew melipat kedua lengannya di dada sembari menyenderkan punggungnya di kursi kemudi. Tidak lama kemudian gadis itu keluar dari dalam mobil dan keadaan kusut. Andrew merubah posisinya dan bersiap untuk segera keluar, namun sesaat ia ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh gadis itu.

“ Liora, benar-benar bodoh!” rutuknya kepada dirinya sendiri. Ia memegang dadanya, dan berdenyut pelan. Meski pelan namun terasa sangat sakit. Harusnya ia tidak perlu sok berdebat dengan Aiden di kampus, sesuatu yang kini sangat ia sesali.

Baboya.”

“ Jangan merutuk kepada dirimu sendiri, itu tidak baik.” Suara Andrew terbayang dengan sangat jelas. Seolah pria itu sedang berada di suatu tempat dan dapat mendengarkan perasaannya, itu pikirannya awalnya sebelum dua lengan kekar memeluknya dari belakang, dan menumpukan dagunya di bahu miliknya.

Andrew.

“ Aku benar-benar—“

“ Ssshh… jangan ulangi kalimat itu lagi, please?”

***

Keesokan harinya…

Drrt…drrt…

Liora merogoh tasnya, mencari ponselnya yang berbunyi. Ditatapnya sejenak layar ponsel yang bergambarkan sebuah apel tergigit yang terletak di bagian belakang ponselnya. Andrew calling—ia menghela napas pelan, sebelum akhirnya menjawab panggilan tersebut.

“Halo~” ucapnya.

“ Ra, maaf kayaknya aku masih lama. Dosenku mendadak mengadakan kuis tentang pemerintahan lagi sehabis mata kuliahnya selesai, kalau kau pulang duluan juga tidak apa-apa. Kau bawa mobil? Ah, iya kau juga bawa payung, antisipasi kalau hujan.” ujar Andrew.

Liora tersenyum, meski mungkin itu tidak akan dilihat Andrew.

“ Kuis? Paling lama satu jam, ‘kan? Aku tunggu saja ya, di taman belakang kampus.”

“Kamu yakin mau menungguku?” tanya Andrew ragu.

“Iya. Kalau ngga percaya, sehabis kuis kau cek kesana aja.”

“ Baiklah, sehabis kuis nanti aku langsung kesana,” ucap Andrew dan lalu mengakhiri teleponnya.

Liora kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Sebenarnya, ia sangat ingin sekali segera tiba di rumah karena ia benar-benar capek dan mengantuk. Apalagi sehabis praktikum tadi yang benar-benar melelahkan. Gadis itu pun berjalan menuju taman dan duduk disalah satu bangku taman untuk menunggu Andrew, dan mungkin bisa ia isi dengan tidur disana.

__

Setelah selesai pertemuan klub fotografi, Aiden segera bergegas pulang karena sebentar lagi akan hujan dengan tanda-tanda alam langit mulai menghitam, dan awan-awan hitam tebal ditambah dengan guntur yang tidak berhenti semenjak tadi siang. Hari memang masih sore sekitar pukul empat, namun cuaca seperti menyiratkan bahwa sudah nyaris malam.

Aiden kembali menekan beberapa nomor yang kini sudah dihapalnya di luar kepala, menelepon ponsel seseorang yang tidak diangkat semenjak ia keluar dari camp fotografi. Bagaimana kabar Carrie sekarang? Apakah ia sudah tiba di rumahnya, secara tidak sengaja payung milik gadis itu terbawa olehnya.

Camp fotografi terletak di bagian belakang kampus, meski tidak terlalu belakang. Ketika ia melewati taman, dilihatnya Liora sedang terduduk dengan iPod di tangannya dan handsfree yang terpasang di kedua telinganya tapi gadis itu tertidur. Aiden tersenyum. Dasar gadis bodoh, sudah mau hujan malah tertidur ditaman—pikirnya.

Tidak lama kemudian hujan pun mulai turun.

Aiden terdiam dalam langkahnya. Namun beberapa detik kemudian, ia mengeluarkan payung milik Carrie dan membukanya kemudian berlari menuju bangku dimana Liora sedang tertidur dengan pulas. Awalnya ia ingin sekali membangunkannya, namun gadis itu kelelahan ia bisa melihat dari kedua matanya yang terpejam seolah mereka berkata, ‘Aku kelelahan’

Kemudian, ia mendorong bangku Liora bergeser menuju pohon yang agak rindang dan tidak jauh dari posisi bangku awal. Mungkin saja sehabis itu ia bisa meninggalkannya, namun… Aiden mengeluarkan topi berbordir nomor kelahirannya, dan memayungi Liora sementara ia berdiri di belakang bangku gadis itu.

Tubuhnya basah.

Tapi Liora terlindungi oleh payungnya.

***

Andrew langsung bergegas menuju taman setelah mata kuliah yang baru saja ia ikuti telah selesai. Hujan, apa Liora masih ditaman ?—pikirnya. Andrew sedikit khawatir karena teleponnya tidak ada satu pun diangkat oleh gadis itu.

Langkahnya langsug terhenti ketika melihat pemandangan yang membuatnya—ya cemburu. Siapa pun, pria mana pun pasti akan merasa cemburu apabila ia tidak bisa memposisikan diri untuk melindungi seseorang yang dicintainya, namun posisi tersebut justru digantikan oleh orang lain.

Liora tertidur di sebuah bangku taman tidak jauh darinya.

Tapi, seseorang pria memayungi Liora dari tetesan air hujan seakan-akan tidak ingin gadis itu basah sedikitpun walaupun pria itu sudah basah kuyup karena hanya menggunakan topi. Pria itu membelakanginya.

Ia mengenal pria itu. Pria yang kemarin baru saja bertengkar denga  gadis itu—pria anak Mokpo—anak teknik.

***

“ Tuh ‘kan, hujan!” gerutu Carrie.

Ia menggerutu sebal, seraya menepuk celana panjangnya yang basah dan sedikit kotor. Kemudian ia menaruh mapnya di atas bangku halte bus kemudian menunduk untuk melipat sedikit bagian bawah celananya. Carrie benar-benar tidak menyukai hujan.

Ketika sebuah bus kota mendatangi halte bus, halte bus memang cukup penuh dengan orang-orang yang berteduh. Maka tidak heran ketika bus tiba orang-orang yang segera berteduh segera bergegas berlari menuju bus meski hujan-hujanan sekaligus berdesakkan, Carrie menelan salivanya lebih baik ia menunggu hujan reda dibandingkan apabila ia harus berdesakkan dalam bus.

“ Mau menumpang, Nona?”

Carrie menolehkan kepalanya, penggunaan panggilan Nona memang bisa berlaku bagi siapa saja—yang jelas wanita dan masih muda—tapi perasaannya mengatakan panggilan itu berlaku untuknya.

“ Eh, ternyata, kau.” ujarnya terkekeh pelan ketika Marcus sedang berjalan menghampirinya.

“ Mau menumpang?” ulangnya. Carrie tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ditawari menumpang di saat genting seperti ini mana mungkin ia tolak. Marcus tersenyum, dan menawarkan payung ia pakai. Carrie menggeleng, ah nanti bisa dibilang ngga tahu diri. Mana mungkin ia membiarkan Marcus hujan-hujanan sementara ia memakai payung miliknya.

“ Kamu gila ya? Masa sih aku pakai payung, kalau kau sendiri hujan-hujanan, Marcus.” Kesalnya. Marcus tertawa, dan jujur Carrie sangat kesal jika pria itu tertawa untuk sesuatu hal yang cukup serius baginya.

“ Siapa bilang aku mau hujan-hujanan?” tanya Marcus. Carrie menggeleng, sebenarnya pria itu memang tidak bilang, tapi tidak lama lagi pasti akan mengatakan hal yang kini sedang berkeliaran dalam pikirannya.

“ Oh, memang kau belum mengatakannya.”

Hujan semakin deras, dan bahkan seperti badai, angin bertiup cukup kencang ditambah dengan kabut yang cukup untuk menghalangi pandangan. Carrie menutup wajahnya dengan telapak tangan sementara udara semakin dingin.

“ Ah, ayo ke mobilku!” Marcus menarik lengan Carrie.

Dengan tergesa gadis itu memasukkan dengan paksa map miliknya ke dalam tas, dan menutupinya dengan jaket yang ia pakai, membungkus tasnya dengan penuh sementara Marcus hanya menggelengkan kepala dengan apa yang sedang dilakukan oleh gadis itu.

“ Kau sedang apa sih?”

“ Aku sedang menyelamatkan mapku, takut nanti kebasahan. Bisa gawat, hasil kerja kerasku menyelesaikan chapter pertama skripsiku bisa sia-sia.” ujar gadis itu. Ia memeluk ‘tas selimut’ tersebut.

Marcus menghela napas, apa sih yang Carrie pikirkan? Ia menghela napas dan menarik gadis mungil itu ke sampingnya, dan menutupi kepalanya dengan jaket yang ia kenakan, pada awalnya ia sempat mengerang jika saja Marcus tidak mengencangkan tangannya dan dengan paksa menelungkupkan kepala gadis itu ke dadanya, dan berlari menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari halte bus.

Sebenarnya Carrie tidak menyangka Marcus akan melakukan hal yang menurutnya sudah sangat jauh. Rasanya ia benar-benar sudah tidak bisa bernapas dengan baik dan juga benar, bahkan ia seperti lupa bagaimana caranya mengambil oksigen sebanyak-banyaknya.

Tangan kanan Marcus memegangi erat kepalanya agar tetap menelungkup ke dadanya, memastikan bahwa dia tidak kehujanan. Carrie berusaha menarik napas sebanyak-banyaknya, tapi debar jantung ini sungguh seperti sangat tidak terkendali. Baru pertama kali ia merasakan hal seperti ini terhadap seorang lawan jenis. Begitu tiba di mobil, Marcus dengan kasar (lebih tepatnya) memaksa Carrie agar segera masuk ke dalam bangku samping kemudi, sementara pria itu berlari tergesa-gesa dan memegangi payungnya dengan erat agar tidak terbang terbawa angin.

“ Ya ampun, Marcus. Rambutmu… hahaha.”

Carrie berusaha untuk menahan tawa, sementara Marcus mengacak-acak rambutnya menjadi semakin berantakan. Gadis itu menggelengkan kepala, dan merogoh sapu tangan miliknya dan kemudian mendekat ke arah Marcus meski sebenarnya ia sudah sangat tidak berani untuk berada di jarak sedekat ini dengannya.

Dengan pelan, gadis itu mengelap air hujan yang di wajah pria tersebut dengan lembut. Marcus terdiam, ia tidak ingin melakukan apa pun, berada sedekat ini dengan Carrie adalah hal yang sangat tidak ia duga.

“ Ini… kau elap lagi sendiri aja yah.” kata Carrie membuka telapak tangan Marcus dan menaruh sapu tangan basah miliknya disana. “ sorry, basah. Tapi itu ‘kan bekasmu sendiri.”

“ Ah, terimakasih.”

“ Sama-sama, aku juga harusnya berterimakasih pula kepadamu.” Tambahnya. Marcus menggenggam sapu tangan di tangannya dengan erat.

“ Aneh deh, kok hujannya tiba-tiba jadi reda? Padahal tadi hujannya benar-benar deras banget, cuaca yang aneh.” ujar Carrie. “ benar ‘kan, Marcus ssi?”

“ Mungkin…–ah sudahlah.”

Carrie mengerutkan keningnya, padahal tadi Marcus ingin sekali bilang, ‘mungkin hujannya reda, karena… tadi ia turun dengan deras supaya menginjinkanku lebih dekat denganmu.’ Namun setelah dipikir ulang, terlalu gombal.

***

Aku ingin bersama denganmu, tapi perasaanku mengatakan aku benar-benar tidak pantas untuk berdiri di sampingmu.

Karena kau terlalu berharga—dan, aku? Siapa aku untukmu?

Marcus menghela napas. Ditatapnya pemandangan kampus dari ruang kelasnya di lantai dua. Kemudian membalikkan tubuhnya menatap Liora dengan tatapan kosongnya.

“ Jadi itu alasanmu bersikap seperti itu padanya?” tanya Marcus tenang.

Liora menolehkan kepalanya, menatap Marcus yang sedang bersandar didekat jendela dengan PSP yang tak lepas dari kedua tangannya. Mengapa pria ini benar-benar tidak bosan untuk tidak menginterupsi hubungannya dengan gadis-yang-tidak-ingin-ia-sebut-namanya.

“Mungkin.” Sahutnya singkat.

“ Kau tidak merasa jiak setiap hari harus bersikap seperti kepadanya? Setiap hari selalu seperti itu?”

“Aku lelah. Aku hanya ingin masa laluku, kehidupanku saat di Mokpo dulu. Ketika semuanya masih berjalan dengan normal.”

Marcus tersenyum meledek, ia mematikan PSPnya dan memasukkannya ke dalam tas.

“ Dengar, hidup ini tidak akan selamanya indah, Ra. Dulu adalah dulu, masa lalu. Sekarang adalah sekarang, masa depanmu. Masa depanmu tergantung dengan apa yang kau lakukan di masa sekarang. Kau sudah bukan gadis ingusan lagi, Ra. Kau bisa menilai apa yang terbaik dan buruk untuk dirimu sendiri.” kata Marcus.

Marcus mengerti bagaimana perasaan gadis ini karena memang ketika ia bertemu dengan gadis ini ada sesuatu yang menurut Marcus membuat gadis ini menjadi seseorang yang terkesan kehidupannya terasa kosong.

“ Apa yang harus aku lakukan?” tanya Liora tersenyum sinis.

“Hentikan semua sikap bodohmu itu Liora.” jawab Marcus santai.

Liora menghela nafas.

“Aku tak bisa—“

“Kau bukan tidak bisa Liora tapi kau tidak mau. Kau terlalu menyalahkan keadaan, dasar gadis picik.” sindir Marcus. Liora hanya mendengus kesal, dan berusaha mengabaikan perkataan Marcus barusan.

Tiba-tiba Spencer datang ke kelas keduanya. Pria itu seperti habis berlari, ia menunjuk Liora dengan tajam. Sementara napasnya sendiri belum beraturan.

“Li, kau harus turun sekarang juga!”

“Untuk apa? Aku belum selesai mengerjakan laporan praktikum kemarin.” sahut Liora santai.

“Pokoknya kau harus turun dan melihatnya dengan mata kepalamu sendiri Liora!” pekik Spencer.

“Melihat apa?” tanya Liora yang tidak mengerti dengan kelakuan Spencer yang membingungkan.

“Andrew~”

“ Hei, kalau bicara jangan setengah-setengah dong!” gerutu Marcus yang sama sekali tidak mengerti maksud pembicaraan Spencer juga.

“Kenapa dengan Andrew?” tanya Liora.

“Andrew berkelahi dengan anak baru dari Mokpo itu!” ucap Spencer.

Seketika Liora dan Marcus menatap pada Spencer dengan tatapan ‘apa kau serius ?’

“Aku serius—“ ucap Spencer seraya mengangkat tangan kanannya dan membuat bentuk ‘V’ dari jari tenlunjuk dan jari tengahnya. Lalu Liora dan Marcus langsung berlari mengikuti Spencer yang menuju lapangan.

***

“ Aidenn sudahlah!” pekik Carrie berusaha untuk melerai Andrew dan Aiden yang sedang berkelahi. Carrie terlihat kebingungan. Ia tak tau harus meminta bantuan pada siapa. Tenaga kedua pria tersebut sama besarnya dibandingkan dengan tenaga yang ia miliki.

Liora, kau dimana ? aku butuh bantuan mu—batin Carrie.

Carrie kembali berusaha melerai keduanya, ia memegang lengan Aiden berusaha untuk menahan pria itu yang bersiap untuk meninju pria di depannya dengan emosi. Namun bukannya menghentikan Aiden dan Andrew berkelahi justru ia -lah yang menjadi korban. Ia terjatuh dan sukses membuat tangannya terluka.

__

“Minggir… minggir… minggir!” ucap Spencer memasuki kerumunan orang yang sedang menonton perkelahian Andrew dan Aiden. Spencer seakan-akan membuat jalan untuk Marcus dan Liora agar dapat melihat perkelahian itu.

Liora dan Marcus diam menatap perkelahian tersebut. Dilihatnya Carrie sedang berusaha untuk melerai keduanya namun, tiba-tiba Carrie terjatuh. Seketika Liora dan Marcus menghampiri mereka diikuti Spencer.

“Kau tak apa?” tanya Marcus menghampiri Carrie yang terjatuh. Carrie menatap Marcus yang berada disampingnya, dan menggeleng kepalanya dengan pelan. Tangannya terasa sangat perih, dan ia sangat benci sensasi perih ketika pertama kali kulitmu mulai robek dan terbuka. Lalu Marcus membantu Carrie untuk berdiri dan membawanya ke ruang kesehatan.

“ Hentikan! Kalian seperti anak kecil tahu ngga!” teriak Liora seraya melerai keduanya dibantu oleh Spencer. Dilihatnya Andrew berusaha melepaskan genggaman Spencer dan berusaha untuk menyerang Aiden.

Liora menahan Aiden yang juga sepertinya akan kembali menyerang Andrew.

“Aiden!” Aiden diam menatap Liora.

“Apa yang kalian lakukan, huh?!” bentak Liora kesal.

“Li, aku hanya ingin bicara denganmu~” ucap Aiden menatap gadis yang ada disampingnya. Mengabaikan perasaan Andrew yang masih kesal kepadanya akibat sesuatu ‘hal’ yang ia lihat kemarin sore.

“ Pengecut!” ucap Andrew kesal menatap Aiden dan berniat untuk menghampiri Aiden.

“Andrew cukup! Kumohon hentikan.” ucap Liora.

“Tapi—“

“Andrew kumohon~” ucap Liora menatap Andrew.

“Liora, aku hanya ingin bicara denganmu.” ucap Aiden meraih lengan Liora. Liora melepaskan genggaman tangan Aiden, dan menoleh ke belakang ke arah Andrew. Pria itu menganggukkan kepalanya, meski raut kekesalan masih terlihat jelas ditambah ketika pria itu menyeka sedikit darah dari bibirnya yang robek.

“Baiklah, bicara dimana?” kata Liora.

“ Ikuti aku.” Sahut Aiden dingin.

__

 “Dasar bodoh! Apa yang baru saja kau lakukan huh?!” ucap Liora kesal. Aiden menundukkan kepalanya, dan meringis pelan. “ sungguh kekanakan,”

“ Aku hanya ingin melihat, Liora yang kukenal. Itu saja.” sahut Aiden.

Liora menarik napas panjang.

“ Harus kukatakan berapa kali? Liora Kim sudah mati tiga tahun yang lalu, bodoh!” desis Liora kesal. Aiden tertawa lirih, ia menyeka keringatnya yang mengenai luka di tangannya dan terasa sangat perih.

Liora merogoh tasnya dan dengan kasar menarik lengan Aiden dan menempelkannya kapas alkohol yang selalu ia bawa, dan kemudian menempelkan sebuah plester di atas luka tersebut. Aiden tersenyum.

“ Jangan memaksakan diri, Ra. Aku minta maaf, jika aku punya kesalahan tanpa aku sadari.” ucap Aiden menatap Liora lekat. “ apa kau membenciku juga, karena aku dekat dengan salah satu musuhmu—Carrie?”

Liora tersenyum sinis.

“Kau harus tahu Aiden, itu urusanmu mau dekat dengan siapapun. Biarkan aku hidup dengan caraku karena aku bukan Liora Kim. Aku berbeda dengan Liora Kim jadi kau tidak perlu mengurusi urusan ku lagi karena sekarang kita berbeda.” ucap Liora datar.

Aiden diam menatap gadis itu. Kenapa kau Liora?—batin Aiden. Ia sungguh ingin merengkuh gadis ini dalam pelukannya. Ia ingin melihat Liora-nya yang dulu. Yang selalu tersenyum tulus, tidak angkuh dan penyayang. Liora-nya yang sekarang dan Liora-nya yang dulu benar-benar berbeda.

Liora menghela nafas.

“Urusan kita sudah selesai. Permisi.” ucap Liora datar lalu meninggalkan Aiden yang menatap kepergian gadis itu.

“ Plester itu diusahakan jangan dibuka, hingga kau benar-benar merasa sembuh.” ucapnya sesaat sebelum ia benar-benar meninggalkan Aiden.

Kini, ia benar-benar kesepian. Sendiri. Betapa malangnya, bukan?

***

To Be Continued…

***

Yeaaay ! part 2 selesai kekekeke~ ini bener-bener FF rempongan aku sama teman sebangku ku yang tercinta Kartika Nurfadhilah hehehehehe :*

Thank you so much hihihihi dan part 3 nya menyusul yaaaa ~

Don’t Forget to RCL ~

10 thoughts on “[FF] Life (Off One’s Trolley) part 2”

  1. Eonnieee😀
    Penasaran beratt!
    Kenapa Aiden sama Andrew sampe berkelahi? wkwk
    Marcus sma Carrie uda deket niee ^0^ *cuit2*
    Jadi Aiden suka sama Liora yaa? wkwkwk
    Cinta segitigaa bermuda (?)
    Lanjutt eon!😀

    1. hehehehehe ^^v
      Aiden sama Andrew sampe berkelahi itu gara gara ada sesuatu yang gitu deh hihii
      iya Marcus-Carrie mulai berkembang wkwkw
      yaaa bisa dibilang seperti itu kekekeke~
      ne~ tunggu kelanjutannya yak hihihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s