[FF] My All Is In You part 1

Title: My All Is in You 

Author: Kim Heecha
Rating : PG+15 / straight
Casts: Tan Hangeng and OC
Other Casts: Super Junior
Genre: Romance, Friendship
Length : Twoshoots / Chaptered
Part: 1 of 2

Disclaimer : The characters in this story is the character of their own with a little imagination of the author and this story is only a fiction. So don’t sue me.

A/N :

– I just re-post this story with a fewnecessary updates to this story.
– You can find other cast when you read this story.
– In this story Hangeng called Hankyung.
– This story is based on the novels by Illana Tan.

READ THE ORIGINAL STORY HERE.

***

“Ya sebentar lagi aku sampai rumah~ Aku sekarang sedang dijalan menuju rumah…hmm…ya aku baru saja pulang kantor…apa? …haha iya lelah, karena itu sudah dulu ya Youngwoon, aku lelah.” ucap seorang gadis seraya menutup pembicaraan dengan seorang pria yang dipanggilnya Youngwoon yang baru saja meneleponnya.

Song Sangsun—nama gadis itu— benar-benar sangat lelah setelah bekerja seharian penuh hari ini. Bosnya sangat kejam, bayangkan saja Sangsun disuruh untuk lembur terus menerus selama 3 hari ini. Sementara dia sedang lelah, mantannya kekasihnya—Youngwoon terus menerus menghubunginya, sampai akhirnya Sangsun menyerah dan mengangkat telpon dari Youngwoon.

Sangsun langsung memutuskan sambungan telponnya dengan Youngwoon sebelum Youngwoon mulai berbicara lagi. Youngwoon adalah mantan kekasihnya. Mereka putus setelah 2 tahun berhubungan. Youngwoon memutuskannya terlebih dulu, karena dia bilang dia punya orang lain yang dia cintai. Sangsun hanya bisa menerimanya. Tapi sekarang Sangsun sudah tidak apa apa. Dia justru bersyukur karena dia dan Youngwoon tidak meneruskan hubungan mereka.

Sangsun adalah seorang gadis yang bekerja dikantor designer terkenal. Dia adalah asisten Heechul—seorang designer profesional yang biasa mendesign baju untuk artis-artis terkenal.

Sangsun menatap jam yang melingkar di tangan kirinya. Sudah jam 11 malam. ‘Apa toko Bibi Kim masih buka jam segini?’—pikirnya. Dia ingin membeli minuman dingin, dan beberapa snack. Dia berjalan kearah toko bibi Kim, lalu dia tersenyum. Syukurlah masih buka—gumamnya. Gadis iyu langsung berjalan cepat kearah toko yang berada tidak jauh dari hadapannya.

“Annyeong bibi Kim~” sapa Sangsun ketika memasuki toko seorang wanita yang kira-kira umurnya 45 tahun. “Syukurlah kau belum menutup tokomu,” ucap Sangsun tersenyum yang dibalas dengan anggukan bibi Kim. Lalu Sangsun segera berjalan kearah sebuah lemari pendingin yang penuh dengan beberapa jenis minuman.

Sangsun mengambil 2 botol minuman dingin kesukaannya—Cappucino. Lalu gadis itu segera berjalan menuju deretan makanan ringan. Dia mengambil sekitar 3 sampai 4 makanan ringan kesukaannya, dan gadis itu segera mengambil mie ramen instan.

Sangsun mengedarkan pandangannya setelah mengambil beberapa barang yang dibutuhkannya. Ia melihat hanya ada seorang pelanggan lagi—seorang pria, memakai jaket dan topi, serta postur tubuh yang lebih tinggi darinya. Namun Sangsun tidak bisa melihat mukanya.

Sangsun berjalan menghampiri meja kasir. Bibi Kim tersenyum lembut padanya—sudah siap untuk melayani. “Akhir-akhir ini kau sering sekali pulang malam Sangsun. Hati-hati nanti kau sakit~” ucap wanita itu penuh pehatian pada Sangsun.

Sangsun  tersenyum. “Bos Heechul sialan itu memang sepertinya ingin membunuhku, bibi. Terus menerus menyuruhku lembur~” keluhnya, gadis itu menghela nafas. “Tapi tidak apa-apa. Aku bisa menjaga kesehatan, terimakasih, bibi~” ucap Sangsun meyakinkan.

“Kau sudah sampai rumah? ….ya sebentar lagi aku pulang”

Sangsun menoleh ke arah suara bernada rendah itu. Ternyata suara itu milik pria yang tadi dilihatnya, dan sekarang dia berdiri dibelakang Sangsun. Sedang mengantri. Pria itu menutup ponselnya, melihat kearah Sangsun yang menatapnya, lalu tanpa disangka pria itu tersenyum pada Sangsun.

Astaga. Baru pertama kali aku melihat senyum semanis itu. Sungguh~ Pria itu sangat tampan—gumam Sangsun yang terhipnotis dengan senyuman pria itu. Senyuman pria itu membuat lelahnya menguap. Senyumnya sangat menawan. Senyumnya….

Sangsun menggeleng—tersadar dari dunianya yang singkat. Dia mengalihkan pandangannya dari pria itu. ‘Astaga. Apa yang ku lakukan tadi ? Semoga wajahku tidak seperti orang idiot! begitu terpesona dengan ketampanan pria itu—pikirnya.

Sangsun meletakkan ponselnya di meja kasir. Lalu mengeluarkan dompet dari tasnya. Membayar makanan dan minuman yang dia belinya. Lalu dia mendengar dering telpon. Dia melihat ponselnya. Tapi ponselnya tidak berdering. Sangsun menoleh kebelakang, ternyata ponsel pria dibelakangnya lah yang berbunyi.

Pria itu mengeluarkan ponsel dari saku kirinya. Tapi ternyata bukan ponselnya yang itu yang berbunyi. Astaga. Cepatlah angkat, aku pusing dengan bunyi dering keras itu—batin Sangsun. Pria itu meletakkan ponsel yang sebelumnya dia keluarkan di meja kasir di samping ponsel Sangsun. Lalu merogoh saku kanannya lalu mengangkat ponselnya yang sedari tadi sudah berdering dengan nyaring.

“Halo hyung~ Ya sabarlah sebentar. Kau ini bawel sekali,” ucap pria itu seraya menutup ponselnya—mengakhiri pembicaraannya dengan seseorang. Lalu pria itu memasukkan ponselnya ke dalam saku mantel sebelah kanannya. Pria itu mengambil ponsel yang tadi dia letakkan dia meja kasir.

Sangsun mengalihkan pandangan. “Kamsahamnida bibi Kim. Aku pulang dulu~” pamit Sangsun pada bibi Kim. Lalu gadis itu mengambil kertas belanjaannya dan ponselnya. Dia berjalan keluar toko itu. Ia melihat mobil sport putih diluar toko. milik pria itukah?—pikirnya.

___

Sangsun berjalan gontai kearah rumahnya saat didengarnya ponselnya berdering. Sangsun mengutuk kesal. Sebenarnya dia tidak ingin mengangkat telponnya karena dia harus menghemat tenaga untuk berjalan kerumah, tapi benda itu terus menjerit terus minta diangkat. Segera saja Sangsun mengangkat telponnya

Yeobosseyo? Siapa ini?” ucap Sangsun ingin marah ketika menjawab telepon dari seseorang, namun suaranya terdengar sangat lemas.

Tidak ada jawaban dari seberang sana. “Yaa! Yeobosseyo? Bicaralah~” ucap Sangsun kesal. Ketika gadis itu baru saja ingin memutuskan telpon, tiba-tiba terdengar suara yang terdengar ragu.

Mianhae~ bukankah ini ponsel Hankyung?” terdengar suara seorang pria heran dan ragu. Siapa lagi orang ini?’—pikir Sangsun.

“Anda salah sambung. Ini ponsel Song Sangsun. Selamat malam” ucap Sangsun tanpa basa basi dan langsung menutup telponnya. Sangsun berniat untuk mencabut baterai dari ponselnya, namun gadis itu mengurungkan niatnya. Dia teringat untuk menelpon sahabatnya, Heecha.

Langsung saja dia menekan tombol 2 dari ponselnya, tapi dilayarnya bukan tertera ‘Heecha’ melainkan ‘Jongwoon hyung. Sangsun terkejut sekaligus heran karena ia merasa tak mengenal seseorang yang bernama Jongwoon, lalu dengan segera dia memutuskan sambungannya.

Tunggu. Tunggu. Ini ponselnya kan? Iya benar ini ponselnya—batin Sangsun. Ponsel berwarna hitam yang tertera ‘LG’ ini sama persis dengan miliknya. Dia membuka daftar kontak, lalu melongo melihat daftar nama yang tidak dikenalnya. Astaga ada apa ini?—pikirnya.

Sangsun mencoba mengingat-ingat. Tadi ketika ia berada di took bibi Kim dia meletakkan ponselnya di meja kasir. Lalu ponsel pria dibelakangnya itu bordering dan pria itu menaruh ponselnya juga di meja kasir. Sangsun mencoba mengingat bentuk ponsel pria itu. Dia tersadar sekarang, ponsel miliknya dan ponsel pria itu memang sama. Dan dia mengambil ponsel yang salah. Dia malah mengambil ponsel pria itu yang terletak disamping ponselnya. Aissh…apa yang harus dilakukannya sekarang?—pikir Sangsun.

Sangsun segera melihat daftar kontak panggilan masuk. Lalu ia menekan tombol call pada kontak yang paling atas—‘Jongwoon hyung’.

“Ayolah angkat cepat~” gumam Sangsun.

***

“Oh hyung. Kenapa kau lama sekali?” protes seorang pria pada seseorang ketika mendapati orang yang ditunggunya sekitar satu jam akhirnya datang.

Jongwoon—nama pria yang ditunggunya—tersenyum minta maaf pada pria yang membuka pintu. Dia melangkah masuk ke rumah yang sudah sering ia datangi. “Mianhae~ Jalanan macet tadi” jelas Jongwoon yang lalu berjalan menuju sofa coklat yang terdapat di ruang tengah dan duduk disofa tersebut.

“Yaa! Hankyung-ah, kau sudah beli makanan ringan kan? Mana sini aku ingin makan. Aku lapar~” ucap Jongwoon menatap pada Hankyung—pemilik apartemen—yang sudah berdiri tidak jauh darinya.

“Aisssh kau ini benar benar berlagak seperti bos. Itu aku taruh dimeja makanannya,” keluh Hankyung karena hyung-nya yang satu ini memang berlagak seperti bosnya saja.

Jongwoon melihat meja didepannya. Ada banyak makanan ringan dan beberapa minuman kaleng. Lalu ia mengambil sebungkus makanan ringan diikuti oleh Hankgung dan mereka berdua makan dalam diam.

“Hyung sudah dengar beritanya?” ucap Hankyung memecah keheningan. “Berita apa?” tanya Jongwoon heran dan tidak mengerti. “Aku dibilang gay,” kata Hankyung tersenyum samar sambil terus memakan snack chocopie—nya.

“Darimana asal gosip itu?” tanya Jongwoon mengerutkan keningnya tak percaya namun. “Mana aku tahu hyung. Kenapa bisa mereka berpikiran seperti itu? Memangnya sikapku seperti wanita? Atau karena aku selalu saja dekat dekat denganmu?” ucap Hankyung yang lebih tepatnya bertanya pada diri sendiri dengan sedikit bergurau pada Jongwoon.

“Yaa! kau dibilang seperti itu karena kau tidak pernah terlihat bersama wanita. Siapa suruh kau tidak punya pacar. Cepat carilah pacar. Sebentar lagi albummu keluar, aku tidak mau gosip ini membuat penjualan albummu mandek,” kata Jongwoon datar tanpa menatap Hankyung.

“Kalau begitu apa yang harus kulakukan hyung?” hankyung bertanya frustasi, menatap hyung-nya yang seakan-akan tak peduli. “Kita harus berikan bukti sementara untuk mereka” Jongwoon berkata mantap. Hankyung menatapnya.

“Apa?” tanya Hankyung tidak mengerti dengan jalan pikiran hyung-nya. “Foto dirimu bersama wanitu itu,” jelas Jongwoon.

“Wanita yang mana?” ucap Hankyung yang semakin kebingungan dengan alur pembicaraan ini. “Wanita yang menjadi kekasihmu,” jawab Jongwoon singkat.

“Kekasih yang mana?” ucap Hankyung yang benar-benar tidak mengerti. “Semuanya bisa diatur kalau kau memang mau,” Jongwoon berkata dengan santai.

“Maksudnya?”

Jongwoon menatap Hankyung dengan senyum kemenangan. “Kita cari wanita yang tidak dikenal siapapun dan memintanya menjadi kekasihmu selama beberapa saat. Kau hanya perlu memamerkannya pada wartawan. Beres bukan?” ucap Jongwoon yakin dengan rencananya tersebut.

Hankyung terlihat berpikir. “Lalu bagaimana kalau wartawan mulai mencari asal usul gadis itu? Lalu bagaimana kita memilih gadis yang akan menjadi kekasih gadunganku? Apa kita harus memilih dengan cara siapa wanita pertama yang melewati pintu itu?” Hankyung menunjuk pintu depan apartemennya dengan dagu.

“Hahaha. Ide bagus!” Jongwoon tertawa

Bertepatan dengan itu, terdengar bunyi bel dari arah depan pintu apartemen Hankyung. Mereka berdua terdiam. Membeku. Menatap ke arah pintu.

“Secepat inikah kekasih gadunganku dating,” kata Hankyung tak percaya. “Bagaimana hyung?” tanya Hankyung menatap Jongwoon yang ada dihadapannya.

Jongwoon menelan ludah. “Kita lihat saja dulu. Jika pantas kita ambil, jika tidak kita cari yang lain. Lagipula belum tentu tamumu itu perempuan. Siapa yang datang malam malam begini?” jelas Jongwoon.

Terdengar lagi suara bel berdentang. “Aku akan buka” Hankyung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu apartemennya. Etah mengapa ia merasa sedikit gugup. Jongwoon berjalan mengikuti Hankyung dari belakang.

Hankyung membuka pintu apartemennya. Lalu terlihatlah seorang perempuan, dengan pakaian kantoran, berwajah lusuh dan terlihat sangat lelah. Begitu gadis itu melihat Hankyung dan Jongwoon, dengan segera gadis itu mebungkuk pada keduanya.

“Annyeonghaseyo~ Saya ingin mengembalikkan ponsel ini,” ucap gadis itu seraya memberikan ponsel yang ada di genggamanya pada Hankyung. Hankyung melongo menatap gadis itu kemudian menatap ponsel yang terdapat pada genggaman gadis itu.

“Ah. Kau wanita yang menelponku tadi?” ucap Jongwoon yang baru menyadari jika ternyata gadis yang ada dihadapannya itu adalah orang yang tadi meneleponnya. “Hankyung-ah, wanita ini datang untuk mengembalikkan ponselmu. Tadi dia menelponku mengatakan kalau ponselmu dan ponselnya tertukar. Jadi dia kusuruh datang kesini untuk mengambil ponselnya. Maaf nona merepotkanmu,” ucap Jongwoon menjelaskan dan kemudian ia membungkuk meminta maaf pada gadis itu.

“Tidak apa-apa. Jeongmal gwaenchana. Eum, ponselku?” gadis itu memandang Hankyung seraya tersenyum padanya dan mengulurkan tangan meminta ponselnya. Setelah diperhatikan, sepertinya gadis ini mengenal sosok Hankyung yang ada dihadapannya.

Hankyung merogoh sakunya. Lalu mengeluarkan ponsel yang sedari tadi tersimpan di saku mantelnya. Sejenak ia mengecek ponsel itu, benar saja itu bukan ponselnya. “Maafkan aku. Sungguh aku tidak tahu kalau itu ponsel mu,” ucap Hankyung seraya memberikan ponsel yang ada di tangannya pada gadis yang ada dihadapannya.

“Tidak tidak. Aku yang salah malah mengambil ponselmu,” ucap gadis itu tersenyum pada Hankyung.

Gadis itu menerima ponselnya dari Hankyung. Ia mencoba untuk mengingat siapa pria didepannya ini. Ia merasa pernah melihatnya di suatu tempat, tapi ia menyerah dan berencana untuk pulang. Hari sudah sangat malam. Tadi ia langsung pergi kerumah Hankyung setelah Jongwoon memberikan alamat. “Aku pulang dulu kalau begitu” pamit gadis itu seraya membungkukkan tubuhnya.

“Tunggu dulu,” ucap Hankyung menahan lengan gadis itu ketika gadis itu berbalik dan hendak meninggalkan apartemennya. “Kau tidak bawa mobil? Datang sendiri?” tanya Hankyung menatap gadis itu.

Ne~ aku sendiri. Tadi aku naik taksi,” jawab gadis itu heran. “Ayo aku antar~” ucap Hankyung menawarkan diri untuk mengantar gadis itu pulang.

“Tidak perlu~ Aku bisa naik bus,” tolak Sangsun lembut. “Kalau begitu aku akan mengantarmu sampai halte bus,” ucap Hankyung yang bersikeras ingin mengantar gadis itu. Hankyung berjalan masuk ke dalam apartemennya untuk mengambil kunci mobil miliknya dan ia kembali keluar menghampiri gadis itu.

“Ayo~” ajak Hankyung sambil menggandeng lengan gadis itu. Gadis itu terkejut ketika Hankyung meraih tangannya dan menggandengnya berjalan. Gadis itu menatap Hankyung yang kini disampingnya.

___

Selama dalam perjalanan Sangsun lebih banyak diam. Jika Hankyung mengajaknya bicara, dia hanya menjawab seperlunya. Itu karena dia merasa sangat lelah. Dia hanya bersandar, lalu memandang keluar jendela.

Tiba tiba gadis itu membuka suara. “Turunkan aku didepan saja,” ucap Sangsun datar. Hankyung menoleh kearah Sangsun, menatap gadis itu. “Disini saja? Yakin tidak mau kuantar sampai rumah?” tanya Hankyung.

Sangsun menyunggingkan senyumannya. “Tidak, disini saja. Aku akan naik bus dari sini,” jelas Sangsun.

Hankyung meminggirkan mobilnya didepan halte bus. “Terima kasih. Selamat malam,” ucap Sangsun keluar dari mobil Hankyung. Hankyung pun ikut keluar dari mobil.

“Sangsun-ssi,” panggil Hankyung pada Sangsun. Sangsun menoleh lagi ke Hankyung. “Ada yang ingin kutanyakan padamu,” ucap Hankyung.

Sangsun berdiri menghadap hankyung, mereka berdua sekarang berdiri berhadap hadapan. “Apakah—kau tidak mengenalku?” tanya Hankyung menatap Sangsun.

Sangsun mengerjap matanya sekali, lalu melongo, seakan menyadari sesuatu. “Kau—kau Hankyung ‘kan? Hankyung yang penyanyi itu?” ucap Sangsun sedikit terkejut. Hankyung tersenyum. “Lagumu—lagumu bagus~” sambung Sangsun.

***

“Lalu?”

“Lalu apa?” tanya Sangsun pada sahabatnya Heecha. Kini mereka sedang berada dikantin kantor menyantap makan siang mereka.

“Kau berkata apa pada Hankyung?” tanya Heecha penasaran. “Aku bilang jika lagunya bagus,” jawab Sangsun pelan, dia sedang sangat tidak enak badan hari ini. “M—mwo? hanya itu? kau bilang lagunya bagus?” tanya Heecha terkejut. Ia sungguh tak percaya jika temannya yang satu ini benar-benar tidak dapat memanfaatkan kesempatan.

Ne~ Memang kenapa? Apa lagi yang harus kukatakan?” ucap Sangsun menatap Heecha tak mengerti. “Kenapa kau tidak minta tanda tangannya Song Sangsun? Dia seorang penyanyi terkenal. Seorang artis. Dan kau bahkan hanya berkata itu padanya?” keluh Heecha menghela nafas lalu menyesap Frappucino yang dipesannya tadi.

“Aku benar-benar lelah semalam. Lagipula aku bukan penggemarnya, sama sekali bukan,” lanjut Sangsun seraya mengangkat bahunya. “Aissh~ kau ini bagaimana,” Heecha kembali menyesap minumannya.

“Lagipula bukannya kakakmu yang bernama Lee Hyukjae itu satu management dengannya? Kenapa kau tidak suruh oppamu saja yang minta tanda tangan ke Hankyung,” usul Sangsun. “Yaa! Eunhyuk oppa baru saja jadi trainee selama 3 bulan. Mana berani dia. Lagipula sekarang dia lebih sering pacaran dengan Hyuna unnie dibanding latihan,” keluh Heecha.

“Hyuna unnie? Yang saudara kembarnya itu Hyera ya?” tanya Sangsun. Heecha menganggukan kepalanya. “Ne~ Hyera unnie juga main drama dengan Hankyung. Apa aku minta saja Hyera unnie yang meminta tanda tangan untuk Hankyung ya?” kata Heecha menimbang pemikirannya sendiri.

“Yaa! kau lebih banyak punya kenalan artis dibanding aku,” kata Sangsun dengan nada menyindir.

“SANGSUN!!” tiba-tiba terdengar seseorang memanggil Sangsun. Lalu Sangsun menoleh orang yang memanggilnya dan ternyata Youngwoon. Sangsun menghela nafas, ia sungguh tak ingin bertemu denga Youngwoon untuk saat ini.

Walaupun mereka sudah putus, tapi Youngwoon masih tetap beteman dengan Sangsun. Sering makan siang bersama. Ya Youngwoon juga bekerja dikantor yang sama dengan Sangsun dan Heecha. “Mau apa kau?” tanya Sangsun ketus.

“Kau sudah makan siang? Habis ini masih ada pekerjaan?” tanya Youngwoon setelah duduk disamping Sangsun. Sangsung menatap Youngwoon. “Ne~ aku harus membantu bos Heechul,” jawab Sangsun datar.

“Yaa! Heecha,” Youngwoon menatap Heecha. “Bilang pada pamanmu jangan selalu menyusahkan Sangsun. Kasihan Sangsun kelelahan,” kata Youngwoon pada Heecha yang ada dihadapannya.

“Walaupun Heechul itu pamanku, kau kira aku bisa seenaknya saja memohon padanya huh?!” balas Heecha sinis.

“Sangsun-ssi,” tiba-tiba terdengar lagi yang memanggil Sangsun. ‘Astaga siapa lagi sekarang?’—keluh Sangsun dalam hati.

Sangsun mendongakkan kepalanya, ternyata bosnya—Heechul—yang memanggilnya. Sangsun, Heecha, dan Youngwoon langsung berdiri dan membungkuk pada pria yang kira-kira umurnya tiga puluh tahun itu. “Ada apa Heechul-ssi?” tanya Sangsun pada bosnya yang satu ini.

“Ada seorang klienku yang ingin bertemu denganmu. Jangan bertanya padaku siapa. Nanti kau lihat sendiri,” kata Heechul menjelaskan maksudnya mencari Sangsun. “Tidak biasanya klienku ada yang ingin bertemu denganmu,” gumam Heechul seraya berjalan pergi meninggalkan mereka.

‘Siapa yang ingin bertemu denganku?—batin Sangsun.

___

Sangsun membuka pintu ruang tunggu. Kata bosnya, orang yang ingin bertemu dengannya menunggu disini. Begitu Sangsun masuk dia melihat seorang pria sedang membaca tabloid, wajahnya tertutup tabloid jadi Sangsun tidak bisa mengenalinya.

“Maaf ada yang bisa saya bantu?” tanya Sangsun dengan sopan pada sosok pria yang sedang duduk dengan tabloid dihadapannya.  Lelaki itu menurunkan tabloidnya. Dan Sangsun bisa melihat wajahnya. Betapa terkejutnya Sangsun ketika mengetahui siapa itu. “Hankyung?”

Hankyung tersenyum melihat Sangsun. Lalu dia bangkit dari duduknya. “Hai Sangsun~” sapa Hankyung. Sangsun mengerjapkan matanya. “Ada apa kau mencariku?” tanya Sangsun bingung.

“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan” kata hankyung santai seraya tersenyum padanya. Sangsun mengangkat alis. “Apa itu? dan bagaimana kau tau aku bekerja disini?” tanya Sangsun. “Aku mencari tau.”

Sangsun bertambah bingung sekarang, apa yang sebenarnya Hankyung inginkan darinya. “Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Sangsun sedikit penasaran.

“Kau sudah liat tabloid hari ini?” tanya Hankyung yang tetap tersenyum pada gadis ini. Sangsun mengerutkan keningnya dan menggeleng. “Bacalah~” Hankyung memberikan tabloid yang dibacanya tadi pada Sangsun.

Sangsung mengambilnya, lalu dilihatnya headline yang terpampang besar di tabloid itu ”PERTEMUAN TENGAH MALAM dan dibawahnya terdapat gambar Hankyung dengan seorang wanita yang memunggungi kamera.

Sangsun dapat melihat dengan sangat jelas pria itu Hankyung, tapi perempuan itu—siapa perempuan itu?’—batin Sangsun. Sangsun mengamati lebih teliti. Astaga. Itu Sangsun. Itu adalah foto Sangsun dan Hankyung semalam di halte bus. Sangsun melongo, tak percaya dengan apa yang baru saja diihatnya. Lalu ia menatap hankyung. “A—aku benar-benar tidak tau,” ucap Sangsun terbata-bata.

“Tidak apa-apa~” kata Hanyung ceria.

Ne?

“Foto itu justru sangat membantuku Sangsun,” ucap Hankyung seraya mendekati Sangsun. Gadis itu tidak bicara apa-apa jadi Hankyung melanjutkan perkataannya. “Kau tau gosip gay tentangku ‘kan?” tanya hankyung.

Sangsun mengangguk pelan. “Sekarang mereka tidak akan bisa bilang kalau aku gay lagi. Karena mereka pikir sekarang aku sudah punya kekasih,” lanjut Hankyung tersenyum.

“Ta—tapi mereka jelas salah paham. Aku bukan kekasihmu,” ucap Sangsun agak panic. “Justru itu tujuanku kesini~” jawab Hankyung.

Sangsun terdiam. Jantungnya berdegup kencang. ‘Apa maksudnya ?’—pikir Sangsun.

“Jadilah kekasihku~”

“A—apa?!” ucap Sangsun terkejut dan sedikit berteriak. Ia tak menyangka jika pria ini akan mengatakannya. Bahkan ia baru bertemu dengannya kemarin malam dan itu pun karena ponsel keduanya tertukar. ‘Hhh, seperti darama saja’—batin Sangsun.

Hankyung sedikit terkejut ketika mendengar Sangsun berteriak. Dia mengerti kenapa Sangsun memberikan respon seperti itu.

“Begini, biar kuganti kalimatku~” ucap Hankyung seraya maju satu langkah lagi kedepan Sangsun. “Aku hanya ingin memintamu berfoto denganku sebagai pacarku,”

Sangsun mengerjap ngerjapkan matanya. Dia benar benar bingung dan tak mengerti dengan jalan pikiran pria ini.

“Hanya berfoto kok. Bagaimana?” lanjut Hankyung menjelaskan. Dia bisa melihat Sangsun sangat kebingungan. Sangsun terus menatap kearah Hankyung tanpa berkata apa pun dan entah mengapa itu membuat Hankyung berdebar. Oh ayolah bicara !—batin Hankyung.

“Kenapa aku?” hanya itu yang bisa Sangsun katakan. Gadis itu masih bingung dengan apa yang terjadi sekarang. Pertanyaan bagus!’—batin Hankyung.

“Tidak ada alasan khusus,” kata Hankyung santai. “Kupikir, kau mungkin memang ingin membantuku. Lagipula kita memang sudah difoto bersama secara tidak sengaja bukan?” jelas Hankyung.

Sangsun menunduk. Alisnya berkerut. Dia sedang berpikir keras. ‘Apa yang harus aku lakukan ?’—pikir Sangsun.

“Tentu saja aku akan membayarmu,” tambah Hankyung lagi. “Hanya berfoto. Itu tidak akan mengganggu pekerjaanmu disini bukan ?”

“Memangnya aku terlihat seperti sedang butuh pekerjaan?” tanya Sangsun sinis menatap Hankyung. Hankyung tertawa mendengar perkataan Sangsun tadi. “Tentu saja tidak,” kata Hanyung.

Terdengar dering ponsel. Hankyung melihat Sangsun mengeluarkan ponsel dari sakunya. Lalu dia melihat layarnya dan dengan segera dia mencabut baterai ponselnya. Sunyi kembali. ‘Siapa yang menelponnya tadi?—batin Hankyung, entah mengapa ia merasa penasaran. Dia menatap gadis yang ada didepannya. ‘Wajahnya pucat sekali—gumam Hankyung dalam hati.

“Sangsun-ssi, apakah kau sakit?” tanya Hankyung khawatir. Sangsun mendongakkan kepalanya, memandang Hankyung. “Ne? Ah iya. Aku tidak enak badan,” jelas Sangsun.

Hankyung mengangguk mengerti. “Jadi bagaimana?” tanya Hankyung. Pria ini menyadari kalau Sangsun pasti bukanlah penggemarnya. Karena Sangsun tidak menunjukan ketertarikan apapun dari semalam. Dan sekarangpun dia tampak ragu-ragu. Hankyung tersenyum, dia memilih orang yang tepat.

Sangsun mengangkat wajahnya menatap hankyung. “Baiklah, asal wajahku tidak terlihat,” jawab Sangsun seraya tersenyum pada Hankyung.

Udara disekeliling hankyung terasa lebih ringan. Dia menghembuskan napas perlahan dan tersenyum lega. Ternyata tidal sulit untuk meminta bantuan Sangsun. Dia tidak mengajukan syarat yang macam macam.

Gomawo~ Kuharap kau tidak menceritakannya pada siapapun. Pada temanmu, bahkan pada orangtuamu,” pinta Hankyung tersenyum pada Sangsun. “Iya, aku mengerti~” jawab Sangsun.

Hankyung berputar lalu berjalan menjauhi Sangsun. Dia perlu mengabari managernya, Jongwoon. Dia menekan tombol angka 2, dan tak lama kemudian Jongwoon menjawab panggilannya.

Hyung, dia bersedia menjadi pacarku~” ucap Hankyung sambil tersenyum gembira ketika Jongwoon menjawab teleponnya. Tidak tahu kenapa, dia sangat gembira.

“Apa maksudmu?” tanya Jongwoon tak mengerti. “Tentang rencana kita kemarin, yang soal berfoto. Aku sudah menanyaknnya pada Sangsun, dan dia setuju” jawab Hankyung semangat.

Mwo? Astaga hankyung ternyata kau benar benar serius?” ucap Jongwoon terkejut, ia sungguh terkejut dengan berita yang baru saja didengarnya. “Nanti akan aku jelaskan ketika aku sampai dirumah,” ucap hankyung mengakhiri pembicaraannya dengan Jongwoon.

___

Sangsun keluar dari ruangan tersebut. Dia berusaha mengatur debar jantungnya. Dia sangat gugup tadi didalam ruangan itu bersama Hankyung. Pada awalnya Sangsun memang ragu untyuk menerima tawaran pria itu, tapi akhirnya rasa penasarnnya lah yang menang. Dia berusaha meyakinkan, mungkin ini adalah kesempatan yang selama ini dinanti nantinya untuk mendapat jawaban tentang apa yang selama ini menghantuinya.

Lagipula pekerjaan ini tidak susah. Sangsun hanya tinggal berfoto dengan Hankyung, tanpa memperlihatkan wajahnya. Sekarang dia hanya harus pintar menyembunyikan identitasnya didepan wartawan.

“Baiklah! Aku pasti bias!” kata Sangsun pada dirinya sendiri. “Astaga! Aku lupa meminta tanda tangan Hankyung untuk Heecha,” sesal Sangsun seraya menepuk jidatnya ketika ia teringat dengan topik pembicaraannya dengan Heecha sebelum bertemu dengan Hankyung tadi. ‘Eh tunggu. Bukankah tidak boleh ada yang tahu akan rencana ini. Ya Heecha pun tidak boleh tahu. Aku harus merahasiakan ini—pikir Sangsun.

Sangsun ingat tadi Youngwoon menelponnya lalu dengan segera dia cabut baterai ponselnya. ‘Sebenarnya apa yang diinginkan si Youngwoon itu? Dia yang mengakhirinya duluan tapi sekarang dia mulai berusaha untuk menjalin komunikasi lagi. Aku akui jika aku masih menyayangi Youngwoon. Bagaimanapun, 2 tahun bukanlah waktu yang singkat—pikir Sangsun.

Sangsun menghela napas. Lebih baik dia cepat cepat pulang. Mandi dan istirahat. Karena malam ini dia harus pergi menemui hankyung dan Jongwoon.

***

“Turunkan sedikit topimu, kalau kau begitu mukamu tentu saja kelihatan,” kata Hankyung sambil membetulkan topi yang dipakai Sangsun.

Mereka sekarang sedang berada didalam mobil, diparkiran depan kantor SM Entertainment, sekarang sudah sekitar jam setengah 10 malam. Mereka akan melancarkan aksi pertama mereka malam ini. Sangsun dan hankyung akan keluar dari mobil nanti, beradegan mesra. Lalu Jongwoon yang sedang menunggu diluar, sudah siap dengan kamera ditangan akan memfoto mereka.

“Kalau topiku seperti itu, aku sendiri tidak akan bisa melihat!” keluh Sangsun membetulkan lagi topi yang dipakainya. Hankyung hanya tersenyum menatap Sangsun.

Hankyung sendiri memakai topi hitam dan kacamata hitam. Dia duduk dibelakang kemudi, Sangsun duduk disampingnya, sementara Jongwoon bersiap siap entah dimana.

“Kita akan keluar semenit lagi. Kau sudah siap ‘kan?” tanya Hankyung seraya menoleh kearah Sangsun. “Jadi kita hanya perlu keluar dari mobil, bergaya sebentar, lalu masuk kembali ke mobil?” tanya Sangsun memastikan.

Hankyung mengangguk. Pria itu terdiam sejenak. “Nah ayo kita keluar sekarang. Jangan tegang rileks saja, oke? Ayo sekarang keluar,” ucap Hankyung. Mereka berdua keluar dari mobil dan mulai berjalan berdampingan.

“Kenapa jauh begitu sih?” protes Hankyung karena mereka berdua berjalan dengan jarak yang cukup jauh untuk ukuran ‘sepasang kekasih’. Sangsung menoleh dan menyadari Hankyung mengomentari tentang jarak antara mereka. “Kenapa? Kurasa ini sudah cukup dekat,” ucap Sangsun.

“Orang-orang tidak akan percaya kalau kita punya hubungan khusus jika kau berjalan begitu jauh Sangsun,” ucap Hankyung. Sangsun berhenti berjalan dan memutar tubuh menghadap Hankyung. “Menurutku begini juga sudah cukup, kita tidak perlu sampai berpelukan kan jika ingin menunjukan hubungan khusus?” ucap Sangsun menatap Hankyung seraya mengangkat sebelah alisnya.

Hankyung tertawa. “Apanya yang cukup? Tubuhmu kaku, berjalan seperti robot. Sudah kubilang padamu rileks saja,” kata Hankyung sambil mengelus rambut Sangsun. Tiba-tiba Hankyung tersenyum penuh kemenangan, ia punya ide bagus—menurutnya. Hankyung berjalan mendekatii Sangsun.

“Yaa! mau apa kau?!” tanya Sangsun ketakutan.

Hankyung berdiri tepat didepannya. Sangsun menyadari betapa pendeknya dia dibanding Hankyung. Hankyung hanya berdiri diam tanpa melakukan apa-apa. Sangsun tidak bisa melihat jelas ekspresi Hankyung karena dia memakai kacamata. Tapi terlihat kalau dia sedang tersenyum.

“Aku hanya memberikan pose yang bagus untuk foto kita,” kata Hankyung santai, lalu pria itu berjalan mundur. Sangsun mendengus. “Bagus sekali”

­­___

“Misi selesai,” kata Sangsun ketika mereka sudah berada didalam mobil lagi. Gadis itu menghela nafas. “Hhh elah sekali, benar benar pekerjaan yang berat ya,” ucap Sangsun bergurau.

Hankyung tertawa. Ternyata Sangsun bisa bergurau juga. Hankyung yakin Sangsun pasti gadis yang ramah. Tapi dia dan Sangsun hanya kurang saling mengenal, jadi Sangsun belum menunjukan sifat aslinya.

Tiba tiba ponsel Sangsun berdering. Hankyung melihat gadis itu mendesah dan melepaskan topinya, lalu mengangkat telponnya.

“Halo?—Aku?—Sekarang?—Sedang diluar,” ucap gadis itu datar.

‘Siapa yang menelponnya?’—pikir hankyung

“Haha. Sejak kapan kau mengkhawatirkanku, huh ? Sebentar lagi aku pulang—Ya nanti aku telpon kalau aku sudah sampai rumah,” Sangsun menutup telponnya. Hankyung kembali melihat kedepan

“Siapa?” tanya Hankyung penasaran. Sangsun menoleh kearahnya. “Teman~” sahut Sangsun singkat. “Eum, kita sudah selesai? Aku ingin pulang. Kalau ada apa-apa beritahu saja aku ya~” kata Sangsun sambil membereskan barang-barangnya.

Hankyung menahan tangan Sangsun. “Tunggu dulu, aku akan mengantarmu pulang~” ucap Hankyung menatap Sangsun. Baru saja Sangsun akan membuka mulutnya tetapi Hankyung langsung memotong. “Waktu itu kau sudah menolak, kali ini tidak bisa. Aku akan mengantarmu sampai rumah~” jelas Hankyung yang kemudian menstater mobilnya.

Sangsun menghela napas. Tidak ada gunanya ia melawan Hankyung. Dia hanya menghempaskan dirinya ke jok mobil. Lelah. Ditambah lagi dia sedang tidak enak badan hari ini.

“Kata Jongwoon-hyung lusa foto-foto itu akan muncul ditabloid,” kata Hankyung. “Aku harus siap-siap menghadapi wartawan,” sambung Hankyung pada dirinya sendiri. “Ya setidaknya reputasiku akan kembali seperti dulu,” ucap pria itu tersenyum, senang.

Hankyung menoleh dan mendapati Sangsun yang sedang menatap dirinya dengan tatapan aneh. “Apa? Ada apa?” tanya Hankyung bingung. “Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Sangsun ragu-ragu. “Apa?”

“Sebenarnya—kau ini beneran gay atau tidak?” tanya Sangsun dengan hati-hati. Hankyung melepas kacamata hitamnya lalu menatap Sangsun kesal. Sangsun terdiam melihat ekspresi Hankyung.

Tanpa menunggu jawaban dari Hankyung, Sangsun dengan segera mengibaskan tangannya. “Ya baiklah-baiklah~ terserah kau saja. Toh aku tidak peduli kau gay atau bukan,” ucap Sangsun menghela nafas.

***

Seperti yang direncanakan Jongwoon, foto-foto mereka sudah beredar di tabloid-tabloid. Dan sontak para penggemar Hankyung menjadi kalut. Sangsun sekarang sedang makan siang di cafe bersama Youngwoon. Youngwoon bilang dia ingin mentraktir Sangsun. Sangsun menerima tawaran Youngwoon karena menurutnya tak ada salahnya bukan menerima tawarannya toh Youngwoon bilang jika ia akan mentraktirnya.

“Pacarmu mana?” tanya Sangsun datara pada Youngwoon. Wajah Youngwoon memerah dan dia sedikit salah tingkah. “Oh itu, dia sedang ada urusan dikantornya. Lagipula hari ini aku sedang ingin makan siang denganmu Sangsun,” jawab Youngwoon tersenyum pada gadis yang ada dihadapannya ini.

Tiba tiba ponsel Sangsun berderin. Ia menatap layar ponselnya. Ia tidak mengenal nomor telpon yang tertera disana. “Yeobosseyo?”

“Sudah lihat?” tanya seorang pria yang meneleponnya. “Apa?” ucap Sangsun. Sangsun menatap ponselnya bingung, lalu menempelkannya lagi ketelinga. “Siapa ini?”

Pria yang meneleponnya itu mendengus kesal. “Kau tidak tahu?” keluh pria itu. “Tidak,” jawab Sangsun menggelengkan kepalanya.

Keduanya terdiam sejenak, lalu suara itu berkata dengan nada datar. “Ini Hankyung~”

Sangsun tesentak, lalu dia melihat kearah Youngwoon yang menatapnya heran. Sangsun mengecilkan suaranya agar tidak terdengar Youngwoon. “Oh kau rupanya. Ada apa?” tanya Sangsun pelan. Sangsun mendengar Hankyung menarik napas dalam-dalam. “Kau sudah lihat fotonya?” tanya Hankyung dengan nada suara yang sudah kembali seperti semula.

“Iya sudah,” ucap Sangsun menjaga nada suaranya agar tidak terlalu keras. “Kau bagaimana? Sudah ditanya-tanya?” tanya Sangsun.

“Sore ini aku ada jadwal wawancara,” jawab Hankyung. “Kau mau makan apa Sangsun?” tanya Youngwoon tiba-tiba menyela pembicaraan Sangsun dengan seseorang yang meneleponnya.

Sangsun menoleh pada Youngwoon. “Terserah, pesankan saja untukku~” jawabnya.

“Kau sedang tidak sendirian?” tanya Hankyung ketika mendengar ada seseorang yang mengajak Sangsun bicara. “Aku sedang makan dengan seseorang,” jawab Sangsun pelan.

“Aissh kenapa kau tidak bilang kalau sedang dengan seseorang. Kalau dia tau bagaimana?” kata Hanyung sedikit marah dan kesal. “Kenapa kau jadi marah-marah? Kau ‘kan tidak bertanya padaku,” protes Sangsun.

“Ya sudahlah aku tutup dulu,” ucap Hankyung mengakhiri pembicaraannya dengan Sangsun.

Hankyung mengakhiri pembicaraannya dengan Sangsun. Dia terdiam sejenak. ‘Siapa yang sedang bersamanya sekarang ?’—pikir Hankyung

***

To Be Continued…

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s