[FF] The Greatest Gift (Hadiah Terindah)

Title: Hadiah Terindah

Author: Carrie Cho
Rating : PG+15 / straight
Casts: Lee Donghae and OC
Other Casts: Super Junior
Genre: Family, AU, Angst
Length : Oneshoot
Part: –

Disclaimer : The characters in this story is the character of their own with a little imagination of the author and this story is only a fiction. So don’t sue me.

A/N :
– I just re-post this story.
– You can find other cast when you read this story.
– This story was inspired by Chicken Soup Graphic Novel “Hadiah Terindah” by Kim Donghwa.

READ THE ORIGINAL STORY HERE.

***

Bagiku hadiah yang kau berikan adalah hadiah terindah yang pernah kudapatkan.

Karena ada ketulusan yang kau berikan.

Dan itu akan lebih sangat berharga daripada benda apa-pun di dunia ini.

___________________________

“ Ibu kenapa kita harus membawa bekal ini ke taman?” tanya Hyojin dengan polos ketika ia melihat ibunya sedang mengepak kotak makanan yang telah berisi dengan makanan penuh. Ibunya hanya bisa tersenyum ketika ia mendengar pertanyaan polos dari putrinya yang baru saja berusia 5 tahun.

“ Karena akan lebih menyenangkan bila kita makan bersama-sama di taman sayang.” Kata ibunya lembut yang kini berjongkok di hadapan putrinya agar sejajar. Kemudian Hyojin mengangguk, dan dengan tidak sabar ia menarik lengan ibunya agar lekas berangkat.

“ Kenapa kita tidak naik mobil saja, ibu? ‘kan ada mobil?” tanya Hyojin ketika mereka akan segera berangkat. “ Kan lebih seru naik mobil. Lebih cepat!” Ujarnya menunjuk ke arah mobil yang terletak di garasi. Seraya mengunci pagar rumah, Hyorii demikian nama ibu anak tersebut hanya tersenyum.

“ Akan lebih menyenangkan bila kita naik bus, sayang. Kalau kita naik mobil, itu sama saja dengan membuang bahan bakar. Jarak taman tidak terlalu jauh, kalau kita boros bahan bakar. Nanti Bumi akan marah!” sahut Hyorii yang kemudian menuntun putrinya menuju taman.

“ Marah? Kenapa harus marah? Aku ‘kan engga berbuat salah, ibu?” gumam Jinnie, nama panggilan Hyojin.

“ Marah karena kamu melakukan pemborosan. Pemborosan itu tidak baik sayang.” Balas Hyorii. Ia hanya bisa tersenyum ketika putrinya menanyakan berbagai hal kepadanya. Dilihatnya putrinya mengangguk mengerti seraya menggumamkan.

“ Pemborosan itu engga boleh!” diucapkannya berulang kali.

****

@ taman kota…

“ Lihat itu Ayah!” seru Jinnie berteriak kegirangan saat ia melihat ayahnya sedang duduk di salah satu sudut taman. Di bawah pohon maple yang rindang. Jinnie biasa gadis itu dipanggil segera berlari menghampiri ayahnya yang sudah membuka tangannya lebar-lebar. Dan kemudian memeluk ayahnya erat-erat.

Ayah dari gadis itu tertawa terbahak-bahak ketika putrinya berlari-lari memeluknya, diciumnya pipi gadis mungil itu. “ Coba kita lihat! Umm—putri ayah cantik sekali!” pujinya. Hyojin pun memekik girang, mengecup pipi sang ayah lekat sekali.

“ Mana Junnie, ibu?” tanya Donghae, nama ayah gadis itu.

“ Dia pergi ke sekolah sejak tadi siang. Entahlah untuk apa, ketika kutanya untuk apa ia ke sekolah di hari libur seperti ini dia tidak menjawab. “ balas Hyorii yang lalu membuka flip ponselnya dan menelepon Dongjoon atau yang biasa dipanggil Junnie, putra sulung mereka.

“ Biar aku yang berbicara dengannya.” kata Hyorii mengambil alih ponsel istrinya, dan lalu menaruh ponselnya di sisi telinganya. “ Kau ada dimana? Ahh? Baiklah, cepat ke taman, boy! Ayah, ibu, dan adikmu sudah menunggumu di taman. Aku maklum.” Tutupnya yang kemudian memberikan ponsel tersebut kepada Hyorii, dan tersenyum.

“ Sebentar lagi ia tiba.” ucapnya pelan. Tiba-tiba saja Hyorii menyodorkannya sebuah kimbap, Donghae tersenyum manis dan lalu ia membuka mulutnya lebar-lebar dan mengunyah makanan yang disodorkan istrinya. “ Mashitaaa~” ucapnya yang kemudian meminta tambah.

“ Lihat! Itu kakak!” pekik Jinnie sambil menunjuk seorang lelaki yang berusia sekitar 10 tahun berlari menuju arah mereka bertiga.

“ Minum dulu.” Kata Hyorii menyodorkan botol minum kepada lelaki itu setelah ia menarik badan lelaki itu duduk di sampingnya. Dihabiskannya satu botol penuh oleh lelaki itu.

***

Hari ini—Minggu. Biasanya mereka akan berkumpul di ruang keluarga seharian penuh dan menonton berbagai acara menarik dengan makanan yang dibuat oleh Hyorii. Dan lalu bermain permainan yang menarik yang membuat hari Minggu dilewati dengan penuh tawa dan kebersamaan.

Hanya saja beda di hari Minggu sebelumnya, kali ini mereka menghabiskan acara keluarga mereka di taman. Tiba-tiba saja di minggu pagi, Donghae yang selaku kepala keluarga mendapat telepon dari tempatnya bekerja. Pekerjaannya sebagai produser sebuah rumah produksi mengharuskannya untuk pergi ke kantor di pagi hari. Sementara itu Dongjoon harus pergi ke sekolah setelah mendapat pengumuman hasil test akademik beberapa hari yang lalu. Dan Hyorii menggantinya dengan acara piknik di taman seperti ini. Baginya kebersamaan keluarga adalah hal yang utama dalam hidupnya.

***

“ Hey, gadis kecil ayoo kita main!!” seru Dongjoon menepuk pundak adiknya pelan. “ Kenapa  diam saja?! “ katanya ketika ia melihat tatapan adiknya yang melongo di pangkuannya ayah mereka.

“ Ayoo~, Kak!” balas Jinnie dengan mengapit barbie mariposa di tangannya. Dan membalas uluran tangan Dongjoon. Lalu ia pun melangkah lebar-lebar mengikuti langkah kakaknya.

Dari kejauhan Donghae dan Hyorii tertawa ketika melihat tingkah keduanya. Ketika Hyojin sedang berdiri menatap langit, melihat burung-burung gereja terbang diatas mereka, tiba-tiba saja dengan mengendap-endap Dongjoon merebut Barbie dari adiknya. Dan berlari kegirangan seraya mengacungkan Barbie itu ke udara, Hyojin berteriak kesal ketika Barbie-nya direbut oleh kakaknya. Ia pun berlari mengejar Dongjoon.

Karena kesal Hyojin pun berjongkok dan menutupi wajahnya dengan tangannya. Melihat adiknya yang gelagatnya seperti menangis, dengan cemas Dongjoon menghampiri adiknya. Dan menyodorkan Barbie-nya agar Hyojin diam, namun ketika tangan kecil Hyojin ingin menyambut barbienya. Sambil tertawa Dongjoon, menjauhkan Barbie itu dari jangkauan Hyojiin yang membuat tangisannya semakin kencang.

“ Ayaaah~” rengek Hyojin. Ia pun berlari ke dalam ayahnya. Dan menangis sekencang-kencangnya seraya memukul-mukul dada ayahnya dengan keras. “ Kakak jahat!” rengek Hyojin.

“ Iya~ kakakmu jahat? Nanti ayah marahin!” kata Donghae seraya mengelus pundak putrinya lembut. Hyojin dan Dongjoon memang lebih dekat dengan ayah mereka daripada dengan ibu mereka.

Kemudian Dongjoon menghampiri adiknya dengan lesu. “ Hyaaa! cengeng kau.” oloknya seraya mengguncangkan badan Hyojin. Lalu ia memberikan Barbie itu kepada ayahnya, dengan tatapan jahil. Donghae tersenyum lalu ia merajuk  Hyojin supaya menghentikan tangisannya.

“ Kau sih terlalu jahil ke adikmu. Lihat kan dia jadi pundung seperti itu.” kata Hyorii, sementara Dongjoon hanya membalas dengan anggukan pelan seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“  Jinnie-ya~ udah dooong jangan nangis melulu. Nih Mariposanya ada di ayah.” kata Donghae pelan. Hyojin mendongakkan kepalanya memandang Donghae, dan tersenyum ketika ia melihat Barbie kesayangannya berada di tangan ayahnya.

Saat Hyojin ingin mengambil boneka dari tangan Donghae, tiba-tiba Donghae menaikkan tangannya sehingga boneka tersebut sangat jauh dari jangkauan Hyojin seperti yang dilakukan oleh kakaknya. Alhasil Hyojin menangis sekencang-kencangnya. Donghae tertawa dan kemudian ber-high five dengan Dongjoon. Hyorii hanya menatap keduanya dengan tatapan kesal!

Lalu ia merebut Hyojin dari pangkuan Donghae. Dan mendekapnya erat-erat, dan membisikkan sesuatu yang rupanya berhasil membuat tangisan Hyojin berhenti. “ Kalian ini memang ayah dan kakak yang kurang ajar!” gerutu Hyorii yang dibalas cekikikkan oleh Dongjoon dan juga Donghae.

______________

“ Err—ayah aku-.” kata Dongjoon gugup, kata-kata yang akan keluar dari mulutnya seperti tercekat di kerongkongan. Lalu ia merogoh isi tas-nya dan alisnya sedikit terangkat ketika benda yang dicarinya tidak ditemukan, lalu seulas senyum terbentuk di bibir tipisnya kemudian ia memberikannya kepada Donghae—sebuah amplop putih bertuliskan ‘ Lee Dongjoon’

“ Apa ini?” tanya Donghae, Dongjoon menatap Donghae dengan tatapan harap-harap cemas. Ia pun menghela napas dalam-dalam sesaat sebelum ia merobek bagian atas amplop tersebut, dan lalu membaca sebuah kertas di dalamnya. “ Kau—Ya Tuhan! “ ujar Donghae berteriak membuat orang yang sedang melintas di taman berbalik memandangnya dengan tatapan heran.

“ Kenapa Ayah? Kumohon jangan membuatku tegang!” kata Dongjoon mencengkeram jemari ibunya dan meremasnya dengan gemas. Hyorii mengecup puncak kepala putranya menenangkannya. “ Ayah!” teriak Dongjoon tidak sabar. Donghae mengerling jahil, dan lalu memeluknya Membuat Dongjoong semakin heran, lalu Donghae pun memberikan surat yang diberinya, dan begitu ia membaca surat itu ia pun berteriak dan melompat kegirangan yang membuatnya di tertawakan oleh Hyojin.

“ Ayah! Aku peringkat pertama! Huaaaaa~senangnya!” pekiknya gembira. Dongjoon melompat-lompat girang, dan berlari ke dalam pelukan Donghae. Donghae tertawa melihat tingkat putranya. Tiba-tiba Dongjoon memasang wajah pengharapan. “ Ayah lupa yaa?” tanyanya polos. Donghae mendelikkan matanya meminta penjelasan, Dongjoon menghela napasnya dengan kasar. Tidak lama Donghae tertawa dan mengacak-acak rambut Dongjoon dengan gemas.

“ Tentu saja aku ingat. Baiklah ayo kita pergi ke mall~!” ajak Donghae. Hyojin dan juga Dongjoon memekik girang, dengan tidak sabar keduanya menarik lengan ayahnya dan menuntut segera pergi ke mall. Hyorii hanya bisa menggelengkan kepalanya, dan membawa tas Dongjoon.

Sepanjang perjalanan dalam mobil Hyojin dan juga Dongjoon tidak hentinya tertawa, dan saling bercanda. Donghae tersenyum manis melihat pola tingkah kedua anaknya dari balik kemudi. Keduanya tampaknya antusias memang jika akan pergi ke suatu tempat rekreasi, entah itu mall, kebun binatang, dan lain-lain. Lima belas menit kemudian mereka pun tiba sebuah pusat perbelanjaan paling megah di Seoul, setelah memakirkan mobilnya di basement dengan tidak sabar Dongjoon menarik lengan ayahnya untuk segera mengunjungi toko peralatan game.

Sebelumnya Donghae memang menjanjikan kepada Dongjoon apabila berhasil meraih peringkat pertama di kelas, ia berhak untuk membeli PSP keluaran terbaru yang sangat diinginkannya. Bagi Donghae cara itu adalah yang terbaik agar anak-anak termotivasi dalam belajar. Sementara itu Hyojin bersama dengan Hyorii merengek meminta dibelikan sebuah sepeda baru. Berulang kali ia menunjuk sebuah sepeda keluaran terbaru yang dipajang di etalase toko sepeda. Hingga akhirnya Hyorii terpaksa menggendong Hyojin, karena gadis cilik itu tidak berhenti menangis.

“ Ibu, aku mau sepeda baruu~” rengek Hyojin di sela-sela tangisnya. Dengan lembut Hyorii menghapus air mata yang mengalir dari kedua mata putri ciliknya. “ Sepeda lama Hyojin udah jelek!”

“ Nanti minta kepada ayah yah~Jinnie minta ke ayah.” ucap Hyorii.

***
“ Hyaa~! Model ini yang paling bagus, Hyunmi! Kau tidak mau mendengarkan kata ayah!” pekik seorang lelaki menunjuk sebuah kotak PSP terbaru kepada putrinya.

“ Ayah tapi model ini juga baguus! Lagi ngetren di sekolah.” timpal seorang gadis yang juga menunjukan kotak PSP dengan model lain. Lalu ayah gadis itu pun mengambil kotak dan memeriksa spesifikasi PSP yang ditunjukan putrinya, dan lalu mengangguk. “ Benar kan? Yang lebih bagus!” kata Hyunmi—nama gadis itu puas.

“ Baiklah. Ayah belikan kau model itu, tapi tidak ayah belikan kaset game bagus itu!” ucap sang ayah dengan santainya. Gadis itu mendengus kesal, dan menepuk dada ayahnya dengan kesal. “ Makanya ikut apa kata ayahmu. Nanti ayah belikan kaset itu! kita main bersama-sama.” ucap ayah gadis itu. Hyunmi mendongakkan kepalanya menatap wajah ayahnya dengan tatapan sebal.

Tiba-tiba di tengah keributan itu, Donghae dan Dongjoon memasuki toko game itu. Begitu memasuki toko tersebut dengan gesit anak itu langsung melihat-lihat PSP terbaru dengan model bagus-bagus. Donghae tersenyum ketika kedua matanya melihat dua orang yang dikenalnya di toko tersebut juga, lalu ia pun menghampiri keduanya yang sedang berdebat.

***

“ Heyy! “ ujar seseorang di belakang Yoonmi membuatnya mengerjap kaget dan membalikkan badannya ke arah belakang dan menemukan Hyorii di hadapannya dengan Hyojin dalam pangkuannya. Yoonmi tersenyum cerah, lalu Hyojin berontak minta diturunkan dan kemudian gadis cilik itu pun berlari menghampiri Donghae yang sedang mengobrol dengan Kyuhyun. Sementara itu Yoonmi dan juga Hyorii pun saling berpelukan satu sama lain.

“ Kau juga disini? “ tanya Yoonmi.

“ Tentu saja mengantar Junnie membeli yah~biasalah perangkat game.” balas Hyorii terkekeh. “ Sedangkan kau sendiri?” baliknya bertanya. Yoonmi menghembuskan napasnya kasar dan menunjuk sesosok lelaki berpakain jas cokelat, celana dilipat dibawah, dan memakai kaus abu-abu, dan seorang gadis berusia 7 tahun yang memakai celana pendek dan juga sweater dengan rambut diikat asal.

“ Mengantar kedua makhluk penggila game itu.” ucap Yoonmi sebal. “ Aku sudah menunggu kurang lebih satu setengah jam dan mereka selalu berdebat!”

Hyorii menepuk pundak Yoonmi pelan. Dan lalu keduanya menghampiri 2 orang yang sedang sibuk membayar belanjaan masing-masing. Setelah membayar anak perempuan langsung merengut ke dalam pelukan ibunya. Yoonmi hanya tersenyum ingin menahan tawa ketika Kyuhyun menariknya keluar toko.

“ Oke~ akan kubelikan kau es-krim! Sudah jangan merengut seperti itu, ayah engga suka!” ujar Kyuhyun ketus. Dan menarik putrinya ke dalam dekapannya. Hyunmi pun menegakkan wajahnya menatap sang ayah, dan tersenyum. Antara ingin menangis, tertawa, dan kesal.

***

Sementara itu…

“ Ayah, aku pengen sepeda itu!” tunjuk Hyojin. Donghae yang sedang menggendong Hyojin langsung melirikkan kepalanya ke sebuah toko yang memajang sepeda keluaran terbaru. “ Ayah belikan…” rengek anak itu. Donghae tersenyum dan lalu berbisik dalam telinga anak perempuan itu.

“ Nanti akan ayah belikan di hari ulangtahunmu.” Bisik Donghae. Sesaat kemudian raut wajah Hyojin berubah menjadi ceria. Hyojin memekik girang dalam gendongan Donghae. Hyojin mencium pipi Donghae dengan lembut. Donghae tersenyum dan menatap putrinya dengan tatapan kasih sayang, dan lalu melepaskan sebuah kecupan lembut di kening Hyojin.

Hyorii tersenyum seraya menuntun Dongjoon yang sibuk dengan belanjaan gamenya. Dan sudah tidak sabar untuk segera memainkannya di rumah. “ Oleh sebab itu, Jinnie-ya kau harus menjadi anak yang baik.” sahut Hyorii. Hyojin tersenyum lucu kepada ibunya. Dengan tidak sabar, Dongjoon menarik lengan ibunya agar segera menuju basement. Tempat Donghae memakirkan mobilnya.

“ Ayah ayoo kita cepat pulang! Aku sudah tidak sabar memainkannya!” ujar Dongjoon. Donghae tersenyum dan mengacak-acak rambut putranya dengan gemas. “ Jinnie-ya… kau bisa kan jalan sendiri saja!” beber Dongjoon sebal. Donghae dan Hyorii tertawa ketika mendengar pernyataan Dongjoon barusan. Tampaknya Junnie cemburu dengan adiknya sendiri. Gumam Donghae.

_________

Besok adalah hari yang spesial. Karena pada hari tersebut Lee Hyojin akan merayakan ulang tahun yang ke-6 dan bertepatan sekali dengan Hari Raya Chuseok. Maka dari itu Hyorii agak kebingungan mencari hadiah yang terbaik untuk gadis cilik tersebut. Bukan karena lupa akan hari spesial tersebut tetapi karena kesibukannya yang kini memulai debutnya sebagai seorang penulis professional.  Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap ada anggota keluarga yang berulangtahun. Memang tidak pernah dirayakan secara besar-besaran, setiap tahun akan diisi dengan kebersamaan keluarga. Seperti jalan-jalan ke suatu tempat, makan hingga sepuasnya, dan menonton acara keluarga di ruang tv seharian penuh. Dan meniup kue ulangtahun bersama-sama dan mengucapkan permohonan.

Dongjoon sudah pergi berangkat sekolah 1 jam yang lalu, sementara Hyojin masih tidur dengan lelap di kamarnya. Sembari menyiapkan sarapan untuk Donghae yang masih bersiap-siap untuk pergi ke kantor, Hyorii memikirkan hadiah yang akan dibelinya nanti. Tiba-tiba ada sebuah lengan yang melingkar di pinggulnya dengan lembut, dan mendaratkan cium pipi dan lalu pergi mengambil sarapan di meja makan.

Hyorii tersenyum, tentu saja ia sudah tahu siapa. Siapa lagi kalau bukan suaminya? Dengan mencium aroma parfumnya saja ia sudah tahu. Hyorii membalikkan badannya dan berjalan menghampiri Donghae yang sedang memakan dengan lahap sarapannya. Dan lalu duduk di depannya.

“ Donghae-ya… besok Hyojin ulangtahun.” kata Hyorii. Donghae membalas dengan deheman karena mulutnya masih dipenuhi dengan makanan. “ Kita ‘kan belum membelikannya sesuatu?” sambung Hyorii. Donghae menelan makanan terakhirnya, dan lalu mengambil segelas teh hijau di depannya.

“ Begini saja… kita membeli hadiah untuk Jinnie sehabis pulang kerja nanti. Kau tunggu aku di mall seperti biasa. “ balas Donghae. Donghae mengerlingkan matanya jahil. Dan bersiap untuk segera berangkat kerja. “ Nanti kita bisa memilih hadiah yang tepat untuknya. Arrayo?” kata Donghae sambil berjalan santai diikuti Hyorii di sampingnya. Menuju mobil yang sudah dipanaskan di depan rumah.

“ Ibu… ayah mana?” ujar suara lembut di belakang Hyorii. Hyorii melambaikan tangannya ke arah mobil Donghae yang sudah melaju meninggalkan rumah. Hyorii membalikkan badannya, dan ia pun tersenyum. Ketika melihat Hyojin sudah bangun dengan rambutnya yang berantakan, sementara boneka Barbie kesayangannya yang diapit kedua lengannya. Hyojin memandang Hyorii sambil mengucek-ucek kedua matanya, dan menguap pelan.

“ Ayah baru saja berangkat kerja. Ayoo kita mandi dulu!” kata Hyorii. Yang langsung mengangkat tubuh mungil Hyojin dalam gendongannya.

***

Sebuah benda akan terlihat berharga, jika diberikan oleh hati yang tulus.

Benda tersebut akan terlihat bersinar,  jika dibeli oleh perjuangan yang sungguh-sungguh

____________

Hyorii melirikkan matanya ke arah jam tangannya dengan gelisah. Ia mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai dengan cemas. Hampir 1 jam lebih ia menunggu Donghae tapi lelaki itu tidak kunjung datang juga. Hyorii menitipkan kedua anaknya kepada tetangga sebelah rumah mereka yang sudah sangat dekat dan ia percaya untuk menjada keduanya.

Hyorii mendesah napas sebal sembari memainkan kakinya, ia menggambarkan sesuatu imajiner di lantai. Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menutup matanya. Hyorii berdecak sebal, ia sudah tahu. Ia melepaskan tangan tersebut dan membalikkan badannya ke arah belakang.

“ Lama sekali, kau!” gerutu Hyorii. Hyorii menunjukkan jam tangannya, Donghae menggigit bibir bawahnya sembari mengacak-acak rambutnya. Terlihat bersalah. Hal yang selalu dilakukan Donghae jika ia merasa bersalah terhadap suatu hal.  Donghae tahu tentu saja Hyorii akan marah padanya, Hyorii adalah tipe orang yang sangat menghargai waktu. Baginya waktu adalah sesuatu yang sangat mahal untuk disia-siakan.

“ Sudah jangan membuang waktu lagi.” sahut Hyorii ketus. Dan berjalan terlebih dahulu di depan Donghae, dan lalu Donghae berlari mengejar Hyorii dan mensejajarkan langkahnya dengan gadis itu. “ Kita ke toko kue dulu ya.” ujar Hyorii dan memasuki sebuah bakery.

Donghae melihat-lihat etalase toko yang memajangkan berbagai kue ulangtahun yang cantik. Donghae terhenti dan tatapannya terarah kepada sebuah kue yang berwarna biru muda- warna kesukaan Hyojin- dan berhiaskan boneka Barbie yang terbuat dari bahan clay. Donghae berteriak memanggil Hyorii dan turut melihat kue yang dimaksukannya. Hyorii tersenyum puas dan mengacungkan kedua jempolnya.

“ Kita beli yang ini saja yaah?” tanya Donghae. Hyorii menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Lalu Donghae pun menginstruksikan kepada pegawai bakery tersebut agar membungkuskan kue tersebut untuknya. Setelah membayarnya mereka pun meninggalkan toko dan berkeliling toko mainan. Keduanya terlibat perdebatan mengenai hadiah yang akan diberikan kepada Hyojin.

“ Hyorii-ya… bukankah Jinnie minta dibelikan sepeda baru?” ujar Donghae. Hyorii menggaruk dagunya, dan mengangguk. “ Baiklah.. ayo kita cari toko sepeda!” sahut Donghae menarik lengan istrinya. Dan bersama-sama mencari toko sepeda.

“ Sepertinya semua toko hari ini tutup lebih awal, Donghae-ya. Mereka pun pasti persiapan untuk Chuseok besok.” Keluh Hyorii. Kakinya terasa sangat pegal mengingat sudah kurang lebih 3 jam mereka berkeliling tidak menemuka satu toko sepeda sama sekali. Hyorii berjongkok di depan Donghae, dan menumpukan tangannya di kedua kaki Donghae. Donghae melihat iba kepada Hyorii. Lalu Donghae pun berjongkok juga, dan mengangkat wajah Hyorii dan menatapnya dalam.

“ Kita pikirkan saja hadiah yang lain. Kita cari hadiah yang kira-kira akan disukainya meski itu bukan sepeda sekalipun yang sangat diinginkannya. Berdirilah, ayoo kita harus kuat! Ingat ini demi anak kita…” jelas Donghae. Ia menarik lengan Hyorii agar beranjak berdiri. Hyorii tersenyum dan mencium pipi suaminya seraya berbisik.

“ Terimakasih sudah menjadi ayah dari anak-anakku.” Bisiknya pelan. Donghae tersipu malu, dan mengacak-acak rambut Hyorii dengan kasih sayang.

“ Hal serupa… terimakasih menjadi ibu dari anak-anakku.” ucapnya. Ketika keduanya baru saja keluar dari Starbucks untuk membeli minuman. Hyorii berlari menuju sebuah toko, dan Donghae mengikutinya. Hyorii melihat sebuah boneka yang sangat lucu.

“ Bagaimana dengan ini?” tanya Hyorii. Menunjuk sebuah boneka perempuan bermata cokelat. “ Kemarin Jinnie bilang padaku bahwa ia ingin sekali memiliki adik perempuan yang memiliki warna mata cokelat seperti dirinya. Kukira dengan membeli ini ia seperti merasa memiliki adik perempuan” beber Hyorii. Donghae mengangguk setuju, dan keduanya pun masuk ke dalam toko tersebut untuk membeli boneka tersebut.

____________

Donghae, Dongjoon, dan Hyojin sedang berkumpul di ruang keluarga. Donghae sedang tidur santai di sofa sambil memainkan Iphone terbaru miliknya. Dongjoon sedang memainkan PS yang baru kemarin baru dibeli, sementara itu Hyojin sedang tiduran di atas karpet sembari memperhatikan kakaknya yang sedang bermain PlayStation. Hyorii menegok mereka dari konter yang tidak jauh dari ruang keluarga.

Tiba-tiba Hyojin menghampirinya dan merengek untuk segera ditemani tidur. Hyorii tersenyum, dan mengecup kening putrinya. “ Kau ke kamar tidur lebih dulu saja, nanti ibu menyusul.” ucapnya. Hyorii menganggukkan kepalanya dan berjalan lunglai menaiki tangga menuju kamarnya yang terletak di lantai 2.

“ Hey boy! Sudah malam waktunya tidur.” kata Donghae. Tanpa menengok ke arah Donghae, Dongjoon mengerang malas. Ia masih ingin bermain game. Donghae pun beranjak dari sofanya dan memaksa mematikan PlayStation yang sedang dimainkan Dongjoon. “ Tidur! Nanti ayah ambil lagi PS-nya kalau kau tidak mendengar kataku!” bentak Donghae tegas. Dongjoon mengerut ketika melihat wajah ayahnya yang mengeras. Dengan paksa ia mematikan PlayStation dan menggerutu menuju kamarnya.

________

@ Hyojin Bedroom…

Hyojin bangun dari baringannya ketika melihat ayah dan ibunya memasuki kamarnya untuk mengucapkan selamat tidur. Hal yang biasa dilakukan oleh kedua orangtuanya menjelang tidur. Hyojin mengecup pipi Donghae dan Hyorii dengan lembut, dan lalu menarik selimutnya. Hyorii tersenyum dan mengelus rambutnya lembut sementara Donghae duduk di samping ranjang gadis cilik tersebut.

“ Ayah.. ayah..” panggil Hyojin berulang kali. Donghae tersenyum. “ Ayah… sepedanya sudah ada kan, ayah? Whuaaa… Hyojin engga sabar buat menunggu besok! Hyojin mau bermain sepeda baru sama teman-teman.” Pekik gadis itu girang. Donghae melirik penuh arti kepada Hyorii. “ Sepedanya yang bagus ‘kan, ayah?” tanyanya.

Donghae membelai rambut Hyojin lembut dan lalu mendaratkan ciumannya di kening gadis cilik itu, “ Err-kita lihat besok. Lebih baik kau sekarang tidur. “ ucapnya. Dan mematikan lampu kamar Hyojin. Hyojin pun memerjamkan matanya dan tidak sabar menunggu esok hari.

Sementara itu di ruang keluarga, Hyorii dan Donghae diliputi perasaan cemas. Ternyata gadis itu masih mengharapkan sepeda baru di hari ulangtahunnya. Lama bergumul dalam pikiran masing-masing. Tiba-tiba Donghae beranjak dari duduknya dan menyambar helm serta kunci motor yang terletak di atas nakas dan tergesa-gesa meninggalkan rumah. Hyorii terkejut dan berlari menghampiri Donghae yang sudah siap dengan motornya.

“ Kau mau kemana malam-malam seperti ini?!” pekik Hyorii. Donghae melirikkan kepalanya seraya membetulkan letak helmnya. “ Sudah mau hujan!”

Donghae mengindahkan perkataan Hyorii. Dan bersiap menstarter motornya, “ Aku akan mencari toko sepeda yang masih buka.” Sahutnya. Dan tidak lama kemudian Donghae melajukan motornya dengan kencang meninggalkan rumahnya. Hyorii berteriak sementara motor lelaki itu sudah menjauh darinya.

“ Donghae!” teriaknya. Sia-sia. Dengan kesal Hyorii masuk ke dalam rumah. Dan menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan kasar. Ia memijat keningnya yang sedikit pusing. Donghae memang keras kepala. Ia berpikir mana mungkin ada toko sepeda yang masih buka di jam seperti ini? Sungguh sangat keras kepala. Ditambah cuaca yang tampaknya sebentar lagi akan hujan deras. Menenangkan pikirannya yang kacau, Hyorii beranjak menuju dapur dan membuat kopi hangat sambil menunggu kepulangan suaminya.

__________

Beberapa jam kemudian…

Hujan turun dengan sangat deras. Deras sekali. Air begitu tinggi menggenangi bahu jalan sehingga menyulitkan para pengguna jalan. Donghae melirikkan kepalanya ke sekitarnya dan berhadap masih ada toko yang masih buka.

Sementara badannya sendiri basah kuyup. T-shirt yang dipakainya sudah basah dan menempel di kulitnya dan memperlihatkan otot-ototnya yang terbentuk. Donghae berusaha mengabaikan rasa dingin yang dirasakannya.

Meski ia tahu… percuma saja mencari toko sepeda yang masih buka pukul 1 pagi. Tetapi setidaknya harapan itu masih ada. Meski ia sendiri sudah putus asa, bahkan rasanya ia ingin menangis saja dan beruntunglah air hujan menyamarkan tangisannya. Ia putus asa harus bagaimana lagi? Kau tahu perasaan seorang ayah yang ingin melihat kebahagiaan putrinya yang sedang berulangtahun ketika ia menerima hadiah yang sangat dinantikannya.

Tapi apa reaksi gadis kecil itu ketika justru ia menerima sesuatu yang bukan sesuatu yang sangat diinginkannya? Donghae memejamkan matanya sesaat, dan lalu kembali fokus ke jalan. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah, namun ia menyempatkan diri untuk membeli sesuatu di sebuah toko buku 24 jam. Disaat terdesak pun ia masih memikirkan cara lain untuk membahagiakan putrinya. Apa pun akan ia lakukan yang terpenting… ia bisa melihat senyum malaikat itu. Masih ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk bisa membahagiakan Jinnie.

________________

Begitu memasuki rumah, Hyorii terkejut ketika melihat Donghae basah kuyup. Ia langsung menyelimuti Donghae dengan handuk, dan dengan langkah lemas Donghae pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hyorii tidak bertanya apa-pun ketika Donghae pulang ke rumah, ia lebih memilih diam. Dan membuatkan coklat panas untuk Donghae.

Sehabis mandi Donghae langsung berkutat dengan sesuatu di meja kerjanya. Hyorii menghampiri Donghae dan meletakkan secangkir coklat panas di hadapan Donghae. Dan duduk di sofa yang tidak jauh dari meja kerja Donghae. Memperhatikan yang sedang dikerjakan Donghae dini hari seperti ini. Melihat coklat panas yang mengepul,  Donghae menghentikan aktivitasnya sejenak dan mengesap coklat panas dan kembali mengerjakan kegiatannya.

Beberapa jam kemudian Donghae menghela napas lega. Dan memperhatikan karyanya. Ia menengok ke arah jam dinding yang menggantung—pukul 4 pagi. Donghae tersenyum puas melihat karyanya, tinggal satu sentuhan terakhir dan tidak lain adalah kartu ucapan. Setelah selesai ia memasukkan karyanya ke sebuah kotak kado berwarna biru muda, dan diselipkan kartu ucapannya buatannya sendiri. Donghae beranjak dari duduknya dan meregangkan otot-ototnya yang menegang. Ia tersenyum ketika Hyorii tertidur dengan pulas di sofa tidak jauh darinya, dengan perlahan ia memasangkan selimut dan mengecup bibirnya kemudian berjalan menuju kamar Hyojin.

Ia membuka kamar Hyojin dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan derit yang dapat membangunkan gadis itu. Donghae tersenyum lembut ketika melihat Hyojin yang tertidur dengan sangat nyaman—seperti peri yang sedang tertidur. Dengan pelan-pelan ia menaruh kotak hadiah di samping ranjang gadis cilik itu, dan lalu beranjak menuju kamarnya dan tidak lain adalah untuk tidur.

***

Pagi harinya… —Hyojin’s Birthday…

Hyojin menyingkap selimutnya dan meloncat-loncat girang. Hari ini ulangtahunnya! Ketika ia akan beranjak dari ranjang, ia melihat sebuah kotak hadiah berwarna biru muda. Dengan gesit ia segera mengambilnya dan membukanya dengan gembira. Ketika dibuka ia mengambil sesuatu di dalamnya. Tidak lama lagi ia akan mengendarai sepeda impiannya. Berkeliling komplek rumah dengan sepeda indah yang diberikan kedua orangtuanya di tepat di hari ulangtahunnya.  Hyojin terhenyuk ketika benda dari dalam kotak tersebut kini dalam telapak tangannya.

Sebuah miniatur sepeda yang sangat cantik. Sepeda berwarna merah muda dengan pita dan keranjang di depan sepeda itu. dan di belakangnya terdapat sebuah papan bertuliskan namanya. Miniatur yang sangat bagus juga terlihat sangat detail dan terbuat dari clay.

Hyojin melihat miniatur sepeda tersebut dengan sangat kagum. Sepeda yang sangat cantik dalam ukuran mini! Ia memperhatikan setiap detil sepeda mini tersebut. Begitu sangat indah, detil, dan tentu saja rumit. Hyojin melihat secarik kertas yang terselip di dasar kotak tersebut. Ia pun mengambil dan lalu membacanya dengan terpatah-patah karena ia belum bisa membaca dengan terlalu lancar.

6 tahun yang lalu… Ayah diberi anugerah oleh Tuhan. Sebuah peri mungil lahir ke dunia, dan mewarnai hidup Ayah menjadi semakin indah. Melengkapi kebahagian Ayah, Ibu, dan Kakak. 6 tahun berlalu dan kini peri mungil ayah sudah besar.

Ayah bahagia. Peri ayah yang hari ini berulang tahun meminta sebuah sepeda baru sebagai hadiah ulangtahunnya. Tentu saja ayah pasti akan membelikannya, karena kesibukan ayah belum sempat membelikannya. Ayah berusaha mencari toko sepeda yang masih buka, tetapi nihil. Toko sepeda yang ayah ketahui tidak buka.

Jadi ayah membuatkanmu miniatur sepeda semalaman sebagai gantinya. Dan kau bisa menukarkan minatur ini dengan sepeda sungguhan. Selamat ulangtahun peri kecilku!

From: Dad

Meski membacanya dengan terpatah-patah Hyojin mengerti apa maksud sang ayah  dalam kartu ucapannya. Hyojin mengusap air mata yang mengalir dengan punggung tangannya dan tersenyum. Dan langsung saja ia beranjak dari ranjangnya dengan kasar dan terburu-buru, hingga saking tergesa-gesa ia sempat terjatuh menelungkup di depan pintu. Dan berlari menuju kamar ayahnya.

Ayah mencari toko sepeda yang masih buka untukku… Ah, mana ada toko yang buka di hari raya Chuseok seperti ini? Hingga akhirnya ayah membuat miniatur yang indah ini untukku, agar aku bisa menggantinya dengan sepeda sungguhan.

Hyojin membuka pintu kamar Donghae dan masuk dengan berjinjit. Ia mendengus sebal ketika Donghae-ayahnya, masih tertidur dengan pulas. Tubuhnya diselimuti, sedangkan wajahnya ditutupi bantal yang dipegang oleh tangan kanan Donghae. Hyojin menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke ranjang Donghae, dan mengguncangkan tubuh ayahnya supaya bangun.

“ Ayah!” rengek Hyojin. “ Banguuuuun…” pintanya berulang-ulang. Sebenarnya Donghae sudah bangun ketika Hyojin menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Dengan senyum jahil, Donghae tiba-tiba bangun dan mengagetkan Hyojin. Hyojin berteriak, dan langsung memeluk ayahnya dengan sangat erat.Donghae tertawa renyah, dan melepaskan pelukannya lalu mendudukan Hyojin dalam pangkuannya dan menatap Hyojin dengan lembut.

“ Ayah.. makasih hadiahnya. Aku sukaaaaaa banget!” kata Hyojin seraya melebarkan tangannya, dan lalu menunjuk minatur sepeda yang dibuat semalaman oleh Donghae. Donghae tersenyum puas, dan mengecup kening Hyojin dengan lembut.

“ Kau bisa menggantinya dengan sepeda yang sungguhan. Kita bisa membelinya lusa karena hari ini hingga dua hari mendatang toko-toko masih tutup.” Balas Donghae. Hyojin menggelengkan kepalanya dengan kencang.

“ Aniyo. Tidak usah, ayah. Aku senang dengan hadiah ayah. Bahkan sepeda ini lebih mahal dari yang ada di toko! Karena pasti engga bakal ada dimana pun di dunia ini, karena ayah yang membuatnya.” elak Hyojin. Ia memeluk ayahnya sekali lagi. “ Aku engga mau ngeganti atau menukar hadiah ayah.” Rengeknya.

Donghae mengelus rambut Hyojin dengan lembut dan menciumnya, “ Peri kecilku… karena ayah sudah berjanji akan membelikanmu sepeda baru. Jadi ayah akan tetap membelikannya untukmu, err-tanpa menukar miniature itu? Araa?” ujar Donghae. Menempelkan kedua tangannya di kedua sisi Hyojin. Hyojin tersenyum dan menampilkan gigi susunya yang rapih.

“ Gitu dong.. itu baru namanya peri kecil ayah!” ujar Donghae. Di saat yang bersamaan tiba-tiba Hyorii bersama dengan Dongjoon memasuki kamar seraya membawa kue ulang tahun dan menyanyikan lagu selamat ulangtahun. Dongjoon melompat senang sementara di tangan kanannya terdapat 6 balon biru berbentuk hati.

Hyojin melompat di atas ranjang Donghae. Dan Hyorii dan Dongjoon mendekatinya dan mendekatkannya dengan kue ulangtahun yang diatasnya terdapat lilin berjumlah 6. Secara bersamaan keempatnya meniup lilin tersebut secara bersamaan, dan berteriak.

“ Selamat ulangtahun, Jinnie-ya!”

___

END…

2 thoughts on “[FF] The Greatest Gift (Hadiah Terindah)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s