[FF] My All Is In You part 2

Title: My All Is in You 

Author: Kim Heecha
Rating : PG+15 / straight
Casts:
Tan Hangeng and OC
Other Casts:
Super Junior
Genre:
Romance, AU, Angst
Length :
Twoshoots / Chaptered
Part:
2 of 2

Disclaimer : The characters in this story is the character of their own with a little imagination of the author and this story is only a fiction. So don’t sue me.

A/N :
I just re-post this story with a fewnecessary updates to this story.
You can find other cast when you read this story.
– In this story Hangeng called Hankyung.
This story is based on the novels by Illana Tan.

READ THE ORIGINAL STORY HERE.

READ THE PREVIOUS CHAPTERED HERE.

***

“Siapa tadi yang menelponmu Sangsun?” tanya Youngwoon penasaran terhadap seseorang yang baru saja menelepon Sangsun. Sangsun tak menghiraukan pertanyaan Youngwoon. Dia sibuk menatap layar ponselnya. Sedang mengetik pesan untuk Heecha.

“Yaa! Sangsun-ah,” panggil Youngwoon yang menyadari ketika Sangsun tak menghiraukan pertanyaannya. Sangsun mendongakkan kepalanya, menatap Youngwoon kesal. “Apa sih?” ucap Sangsun sinis.

“Kau inikan sedang kencan denganku. Kalau aku bicara dijawab dong,” kata Youngwoon dengan nada arogannya. Sangsun mengerjapkan matanya tak percaya. Lalu gadis itu tersenyum sinis pada Youngwoon. “Mwo? Kencan katamu? Aku hanya menerima ajakanmu untuk makan siang bersama karena kau bilang ingin mentraktirku,” ucap Sangsun dengan nada tingginya.

“Sama saja,” kata Youngwoon bersikeras.

Sangsun terdiam. Dia merindukan saat-saat seperti ini bersama Youngwoon. Dulu dia dan Youngwoon seringkali berdebat tentang hal-hal kecil.  Kenangan demi kenangan yang terlintas dikepalanya sekejap buyar ketika dia mendengar suara seseorang yang dia kenal di televisi yang dipasang di cafe tempat dia sekarang berada. Sangsun menatap televise tersebut. Bisa dilihatnya Hankyung sedang diwawancara. Sangsun menyaksikan berita itu dengan seksama.

Jadi apakah benar gambar gambar yang tersebar ditabloid itu adalah gambarmu?” tanya seorang wartawan Iya itu memang aku, jawab Hankyung santai.

Bisakah kau jelaskan pada kami siapa wanita yang bersamamu difoto itu?” wartawan itu melanjutkan pertanyaannya.

Sangsun bisa melihat Hankyung terlihat sedikit ragu-ragu sebelum dia kembali menjawab pertanyaan waratawan tadi. Dia~ wanita yang spesial untukku, ucap Hankyung akhirnya menjawab pertanyaan tadi.

Mendengar pernyataan Hankyung jantung Sangsun berdetak lebih cepat. Dia tahu Hankyung hanya akting tapi Sangsun tak tau mengapa.

“Apakah dia pacarmu?”sambung wartawan itu. Nanti kalian juga tau” Hankyung tersenyum kecil lalu pergi dari kerumunan wartawan tersebut.

Sangsun masih menghadap kearah televisi sampai akhirnya waitress sudah membawakan makanan untuknya dan Youngwoon. Lalu mereka mulai makan.

___

Dia~ wanita yang spesial untukku”

Sangsun masih teringat perkataan Hankyung diinfotainment tadi. Dan sampai saat ini jantungnya masih berdebar. Sekarang dia sedang berada di taksi. Ingin pergi ke kantor management Hankyung, karena Hankyung memintanya untuk datang. Mungkin ada pekerjaan lagi untuknya. Sangsun juga tidak tahu.

Sangsun menatap jam tangannya. Baru jam 7 malam. Tapi dia tidak mau lama-lama berada dikantor Hankyung. Dia ingin istirahat.

Taksinya berhenti didepan gedung management Hankyung. Sangsun membayar tarif sesuai argo yang tertera lalu keluar dari taksi dan berjalan masuk ke kantor Hankyung.

___

Cklek

Pintu terbuka membuat Hankyung terkejut lalu ia menoleh ke arah pintu. Ternyata itu Sangsun. “Kenapa lama sekali?” keluh Hankyung yang menunggu kedatangan Sangsun.

Sangsun menghela nafas. ‘Dasar Hankyung tidak tau diuntung—gerutunya dalam hati. Masih untung Sangsun ingin menghampirinya kesini. “Dari tempat kerjaku kesini jauh, kau tahu. Tentu saja lama,” protes Sangsun tak mau kalah.

Hankyung tersenyum samar. Dia senang kalau Sangsun sedang kesal. Lalu dia ingat sesuatu, dia ingin memberi sesuatu untuk Sangsun. Hankyung merogoh ke dalam tasnya mencari sesuatu, lalu menemukan barang yang ia cari.

Sangsun sedang duduk melamun ketika dia melihat Hankyung melempar suatu barang kemukanya. Tapi tangan Sangsun kurang cepat sehingga barang itu tepat jatuh kemukanya. “YAA! HANKYUUNG!!” teriak Sangsun kesal lalu mengambil barang yang ada dimukanya. Dilihatnya barang itu. “Apa ini?” tanya Sangsun heran.

“Itu syal, jangan bilang kau tidak tau syal,” jawab Hankyung meledek. “Aku tau maksudku—untuk siapa?” tanya gadis itu lagi. “Untuk kau tentu saja,”  ucap Hankyung tersenyum.

Sangsun menatap syal itu berwarna merah burgundy, warna kesukaannya. “Kenapa kau memberikan ini untukku?” tanyanya heran. Hankyung mengangkat bahu. “Hadiah saja dariku. Bisa kau pakai kalau sedang bertugas malam denganku hahaha,” ucap Hankyung seraya tertawa.

Sangsun mengerucutkan bibirnya. Melihat itu Hankyung jadi tambah terbahak. “Yaa! kenapa kau menyuruhku kemari?” tanya Sangsun sambil memakai syal itu dilehernya. Melihat itu Hankyung jadi senang karena itu berarti Sangsun menerima hadiahnya.

“Eum, aku hanya ingin bertemu saja denganmu” jawab Hankyung santai. Sangsun membeku. Apa katanya tadi?—batin Sangsun.

Hankyung dapat melihat jika Sangsun terkejut, tapi dia tidak peduli. “Seharian ini aku lelah karena terus meladeni wartawan. Jadi kupikir kalau aku melihatmu rasa lelahku akan hilang” ucap Hankyung lalu pria itu tersenyum pada Sangsun.

Mendengar itu Sangsun tambah terkejut. Tapi dia mencoba untuk mengendalikan dirinya. “Kau—kau kira aku ini apa? Haaiish~” ucap Sangsun ketus. “Apakah aku boleh bertanya sesuatu padamu?” tanya Hankyung menatap gadis itu. “Apa?”

“Siapa yang sedang bersamamu saat aku menelpon tadi siang?” tanya Hankyung dengan hati-hati. Sangsun menatap Hankyung heran. Kenapa dia bertanya seperti itu. “Kenapa kau bertanya seperti itu?” ucap Sangsun kembali bertanya.

“Apakah dia orang yang sama dengan orang yang waktu itu terus menerus menelponmu? Sampai sampai kau mencabut batre ponselmu?” ucap Hankyung yang semakin penasaran. “itu—“ Sangsun bingung harus berkata apa.

“Jangan bilang lagi kalau dia hanya teman dan jangan coba coba mengalihkan pembicaraan,” lanjut Hankyung yang seakan-akan sudah tau kebiasaan Sangsun. Sangsun membuka mulut lalu menutupnya lagi. Hankyung tahu kalau gadis itu bimbang. “Dia—dia mantan pacarku,” ucap Sangsun yang akhirnya menjawab pertanyaan Hankyung.

Hankyung mengerutkan kening. “Kenapa dia tetap suka menelponmu?” tanya Hankyung heran. Sangsun ragu-ragu. “A—aku tidak tahu. Dia hanya sering mengajakku ngobrol, makan, ya hal-hal kecil seperti itu” jawab Sangsun.

Hankyung tidak menyadari kalau suaranya bertambah keras. “Lalu kenapa tadi siang kau bersamanya?” tanya Hankyung kesal. Sangsun sampai menatapnya heran. “Kurasa aku—aku—entahlah,” jawab Sangsun bingung.

“Sampai sekarang—kau masih menyukainya?” tanya Hankyng. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Hankyung tanpa bisa dicegah. Lalu tanpa disadarinya, tubuhnya menegang menunggu jawaban Sangsun. Sangsun terlihat ragu untuk menjawab pertanyaan yang satu ini. “Mungkin~”

“Apa?” ucap Hankyung terkejut dan setengah berteriak.

Sangsun menatap Hankyung bingung. “Mungkin” katanya sekali lagi. “Mungkin aku memang masih punya perasaan terhadapnya. Entahlah. Bagaimanapun aku pernah mencintainya selama 2 tahun” jelas Sangsun.

Mendadak Hankyung jadi sesak napas. Dia menatap kosong kearah meja didepannya. Pikirannya kosong. Dia tertawa masam. “Begitu?” tanya Hankyung seperti berbisik. Sangsun mengangguk. Ekspresi matanya lega karena sudah jujur kepada Hankyung.

“Ayo kuantar pulang” kata Hankyung dingin seraya bangkit dari duduknya dan mengambil kunci mobilnya. Sangsun menatap Hankyung yang berjalan kearah pintu heran. Kenapa dengannya?’—batin Sangsun.

___

Sangsun dan Hankyung sudah berada didepan gedung rumah tempat Sangsun tinggal. Sangsun melepaskan sabuk pengamannya lalu keluar dari mobil Hankyung. Hankyung pun ikut keluar.

“Aku masuk dulu ya,” kata Sangsun singkat. “Sangsun,” panggil Hankyung. Sangsun membalikkan tubuhnya. “Apakah mantan pacarmu itu menyakitimu?” tanya Hankyung ketika dia sudah berada dihadapan Sangsun. Sangsun terdiam menatap Hankyung. “Ti—tidak.”

“Kenapa kalian putus hubungan?” tanya Hankyung. Sangsun menggigit bibir bawahnya. Dia sudah lega tadi karena saat dimobil Hankyung tidak membahas lagi soal Youngwoon, tapi kenapa tiba tiba sekarang pria itu membahasnya lagi.

“Dia punya wanita lain,” jawab Sangsun singkat. Mengingat betapa kelamnya masa masa itu membuat Sangsun ingin menangis. Dan pandangannya mulai buram karena airmata. Hankyung maju selangkah lalu memeluk Sangsun. Sangsun tidak menghindar. “Lelaki itu brengsek sekali,” ucap Hankyung geram.

Sangsun tertawa lalu mengusap airmatanya. Bodoh sekali dia menangis karena masa lalu itu. “Tapi—tidak apa-apa. Aku sudah menonjoknya waktu itu,” ucap Sangsun. Hankyung melepaskan pelukannya lalu tersenyum melihat Sangsun sudah tidak menangis lagi. “Tidurlah. Sepertinya kau lelah.”

Sangsun tersenyum. “Ne~ Kau juga pasti lebih lelah daripada aku. Sana pulang,” Sangsun mendorong Hankyung pelan. “Besok bagaimana kalau aku mengajakmu makan siang bersama?” tanya Hankyung sebelum masuk kedalam mobilnya.

Sangsun menimbang-nimbang lalu akhirnya mengangguk sambil tersenyum. Hankyung ikut tersenyum lalu masuk kedalam mobilnya dan pergi.

___

Sangsun keluar dari kamar mandi dengan memakai piyamanya yang berwarna pink. Dia menghempaskan dirinya ke tempat tidur. Lalu dilihatnya syal yang diberi Hankyung untuknya. Sangsun tersenyum. Hari ini dia senang sekali. Entah hanya perasaannya saja atau apa tapi dia merasa hubungannya dengan Hankyung sudah jauh dari partner kerja.

Dia bisa merasa kalau dia mulai menyukai Hankyung. Sikapnya yang gentleman walaupun terkadang konyol dan menyebalkan. Apalagi ketika Hankyung memeluknya didepan rumahnya. Sangsun senang sekali. Sangsun tersenyum mengingat kejadian tadi. Dia merasa hari ini dia akan tidur nyenyak. Sangsun menarik selimut sambil tetap memeluk syal pemberian dari Hankyung. Lalu jatuh tertidur.

***

Jam dinding menunjukan waktu 11.24. Hankyung baru saja pulang dari mengantar Sangsun dan baru saja selesai mandi. Dia sekarang hanya memakai kaos putih polos dan celana training hitam. Dengan membawa handuk sambil mengusap-usap rambutnya yang basah.

Hankyung menatap ponselnya, entah mengapa ia ingin sekali menelpon Sangsun. Ia ingin mendengar suara Sangsun. Apakah sekarang sudah terlalu malam, yah tidak ada salahnya mencoba. Hankyung menghubungi Sangsun. Menunggu beberapa saat tapi ternyata suara operator yang menyambutnya. Ponsel Sangsun tidak aktif. Mungkin Sangsun sudah tidur. Besok pagi dia akan mencoba lagi. Hankyung berjalan keruang duduk lalu menyalakan televisi. Kemudian ia berjalan kedapur yang letaknya tidak jauh dari ruang duduk dan membuka kulkas.

Tidak ada makanan sama sekali hanya ada beberapa botol air mineral. Ia berbalik, memandang sekilas televisi, lalu membungkuk untuk mengambil buah dikulkas bagian bawah. Tiba-tiba gerakannya terhenti dan dengan sekali sentakan ia kembali menegakkan tubuh. Matanya terbelalak menatap layar televisi.

Layar televisi menampilkan reporter wanita yang melaporkan berita dilokasi kejadian. Dilatar belakangnya terlihat gedung yang dilalap api. Para petugas pemadam kebakaran berlalu lalang dan polisi seperti sedang menertibkan orang orang. Suasana sepertinya hiruk pikuk. Hankyung menyambar remote televisi dan mengeraskan volume untuk mendengar kata lata reporter.

“…sampai sekarang pemadam masih berusaha memdamkan api. Kami belum mendapat konfirmasi apakah gedung rumah ini sudah kosong atau belum. Kami harap semua penghuni sudah keluar…”

Mata Hankyung terpaku pada layar televisi. Tubuhnya menegang, jantungnya berdebar keras. Ini tidak mungkin. Mustahil ini gedung aparemen Sangsun. Baru beberapa jam lalu dia berada disana. Namun sang reporter menyebutkan nama dan lokasi gedung yang terbakar itu. Darah Hankyung langsung membeku.

Tanpa berpikir lagi Hankyung melemparkan handuk ke lantai, menyambar kunci mobil, lalu keluar dari rumah. Ia melajukan mobil dengan kecepatan penuh, tangannya mencengkram kemudi erat erat. Perasaannya kacau, gelisah dan takut. Jantungnya masih berdebar keras. Ia mencoba untuk menghubungi ponsel Sangsun tapi ponselnya tetap tidak aktif. Dia benar benar panik sekarang. Sepangjang perjalanan dia terus berdoa. Semoga Sangsun tidak apa apa. Semoga Sangsun sudah keluar dari partemennya. Bagaimana keadaan Sangsun sekarang?

Ketika ia hampir sampai ditempat kejadian , jalanan sudah ditutup sehingga mobil tidak bisa lewat. Hankyung langsung melompat keluar dari mobil dan berlari menerobos kerumunan orang. Suasana sangat kacau. Udara begitu panas karena banyaknya asap dari kobaran api.

Hankyung berlari kesana kemari mencari Sangsun. Ia berjalan cepat diantara orang orang sambil berteriak teriak nama Sangsun. Dimana Sangsun? Apakah dia belum keluar?—batin Hankyung.

Hankyung panik bukan main. Dia tidak bisa menemukan sosok Sangsun. Hankyung berbalik memutar kepala dan terus mencari. Tiba tiba matanaya terpaku pada sosok yang berdiri agak jauh dari kerumunan. Orang itu hanya mengenakan piyama, berdiri menatap kosong kearah gedung yang terlalap api.

“SANGSUUUUN!” Hankyung berteriak tapi Sangsun tidak bergerak. Rasa lega membajiri Hankyung. Hankyung langung berlari kearah Sangsun. “Sangsun~” sekarang Hankyung sudah berdiri disamping Sangsun dan menyentuh tangannya.

Sangsun menoleh dengan linglung, wajahnya kotor karena asap dan rambut panjangnya sangat berantakan. Hankyung bisa merasakan tangannya gemetar. “Kau baik baik saja? Ada yang terluka?” tanya Hankyung dengan nada khawatir sambil memandang Sangsun dari atas sampai bawah.

Sangsun mengangguk masih dengan wajah linglung. “Iya aku tidak apa apa,” jawab Sangsun dengan suara bergetar. Hankyung menghembuskan napas lega lalu ia segera memeluknya. “Syukurlah kau tidak apa apa,” ucap Hankyung. “Aku tidak sempat membawa apa-apa,” kata Sangsun hampir menangis.

Hankyung meregangkan pelukannya lalu menatap Sangsun. “Tidak apa-apa. Yang penting kau selamat. Sekarang ayo kita pergi dari sini,” ucap Hankyung sambil menggandeng Sangsun keluar dari kerumunan lalu masuk ke mobil.

___

Sesampai mereka dirumah Hankyung, Hankyung baru menyadari dia meninggalkan rumah dengan pintu depan terbuka dan semua lampu menyala. Dia terlalu panik tadi ketika pergi. Bahkan kulkas yang dia buka pun belum ditutup lagi.

“Duduklah disini dulu, aku ambilkan minum untukmu,” ucap Hankyung sambil menggiring Sangsun ke sofa.

Hankyung mengambilkan minum untuk Sangsun didapur. Begitu ia kembali ia melihat Sangsun menunduk menutupi wajahnya sambil menangis. Sepertinya Sangsun sudah mulai tersadar sepenuhnya. Hankyung mendekati Sangsun lalu duduk disebelahnya. “Ada apa? Ada yang sakit?” tanya Hankyung lembut.

Sangsun menggeleng sambil menghapus air matanya. “Aku sedang tidur saat terjadi kebakaran,” ucap Sangsun sambil terisak. “Orang-orang dirumah menggedor-gedor pintu kamarku. Aku panik sekali, aku bahkan tidak sempat membawa ponselku. Aku hanya memakai syal pemberianmu untuk melindungi rambutku dari api. Aku sungguh tidak tahu aku panik hanya bisa berlari,” lanjut Sangsun menceritakan kronologi.

Hankyung menyodorkan kotak tisu dan Sangsun menerimanya. “Ne~ aku mengerti. Sudah tidak apa-apa,” kata Hankyung menenangkan. Sangsun membersihkan air matanya dan hidungnya. “Sekarang bagaimana?” tanya Sangsun. Dia sudah terlihat tenang sekarang.

“Disini banyak kamar kosong. Kau bisa tinggal disini sementara. Masalah yang lain kita pikirkan besok saja, sekarang kau istirahat dulu. Aku ambilkan pakaian ganti untukmu,” ucap Hankyung.

___

Paginya Hankyung sedang sarapan ketika Sangsun turun dari lantai atas. Dia memakai pakaian tidur milik ibu Hankyung yang Hankyung ambil di lemari lama ibunya. Sekarang Ibunya tidak tinggal bersama Hankyung lagi semenjak Hankyung jadi artis. “Sudah bangun? Mau sarapan?” tanya Hankyung.

Sangsun menggeleng. Hankyung bisa melihat matanya bengkak, mungkin dia menangis semalaman. “Aku ingin menelpon temanku,” kata Sangsun. “Untuk apa?” tanya Hankyung. “Aku ingin meminjam bajunya. Sekalian aku ingin memintanya untuk membantuku mencari rumah baru,” jelas Sangsun.

Hankyung mengangguk. “Umm begitu. Pinjam saja telpon rumahku itu,” ucapnya seraya memberi telpon rumahnya pada Sangsun. Sangsun menerimanya lalu mulai menekan nomor ponsel Heecha yang dihapalnya. Menunggu sebentar sampai akhirnya Heecha mengangkat ponselnya.

Yobeseyyo?” jawab Heecha. “Yobesseyo Heecha-ya. ini aku Sangsun,” ucap Sangsun. Ah Sangsun akhirnya kau menelponku juga, bagaimana keadaanmu? Sekarang kau dimana?” tanya Heecha panik. Heecha jelas tahu soal kebakaran itu.

“Aku baik baik saja. Sekarang aku dirumah temanku. Eum, Heecha bisakah kau meminjamkan aku beberapa bajumu? Aku tidak membawa baju sama sekali—ya bisakah kau bawakan kerumah temanku?—alamatnya?—Eum didaerah Myeongdong bisakan?—ya baiklah gomawo Heecha—ya aku tunggu,” ucap Sangsun mengakhiri pembicarannya dengan Heecha. Lalu meletakkan telepon yang tadi digunakannya dimeja.

“Tidak apa-apa ‘kan dia kesini? Dia teman baikku. Dia pasti bisa mengerti dan akan menjaga rahasia” kata Sangsun meyakinkan. Hankyung mengangguk. “Ne~ tidak apa-apa,” ucap Hankyung,

___

Ting tong…ting tong

“Sepertinya itu temanmu,” kata Hankyung. “Iya sepertinya~” ucap Sangsun lalu berjalan menuju pintu dan membukanya. Terlihat Heecha membawa tas besar ditangannya sambil cemberut. Sangsun jadi heran. “Kenapa?” tanya Sangsun heran.

“Kau tidak bilang kalau rumah temanmu adalah rumah dari aktor Hankyung,” protes Heecha dengan nada diketus-ketuskan. “Darimana kau tahu?” tanya Sangsun heran. “Satpam didepan yang bilang padaku. Jadi itu benar?” tanya Heecha.

Belum Sangsun angkat bicara, sekarang Hankyung sudah berdiri disamping Sangsun. Sangsun segera melihat kearah Heecha. Heecha dengan mata terbelalak terkejut dan pandangannya lurus menatap Hankyung yang ada didepannya.

“Aku ada acara mendadak. Jongwoon hyung menyuruhku untuk segera ke gedung SBS. Kau jaga rumah ya,” kata Hankyung pada Sangsun. Sebelum pergi, Hankyung tersenyum pada Heecha. ‘Tidak, sebentar lagi Heecha bisa pingsan—pikir Sangsun.

Setelah Hankyung pergi, Heecha masih saja membatu. “Heecha kau baik baik saja?” tanya Sangsun.

­­­___

“Jadi begitu ceritanya aku bisa menjadi ‘pacar gadungan’ Hankyung” ucap Sangsun setelah menceritakan semuanya pada Heecha. Sangsun tidak perlu ragu untuk menceritakan itu pada Heecha. Dia yakin Heecha akan menjaga rahasia. Heecha juga terlihat serius mendengarkan cerita Sangsun.

“Apa kau tidak takut?” tanya Heecha tiba-tiba. “Apa yang harus aku takutkan?” ucap Sangsun tidak mengerti. “Kalau akhirnya nanti pers tahu bagaimana?” ucap Heecha menatap sahabatnya yang satu ini

“….” Sangsun terdiam. “Kalau penggemarnya tau? Kau tidak takut dibunuh?” tanya Heecha dengan nada yang dilebih-lebihkan. Sangsun menatap sahabatnya terjekut. Lalu gadis itu tertawa terbahak-bahak. “Aku serius Sangsun,” protes Heecha.

“Tentu saja tidak mungkin,” ucap Sangsun disela-sela tawanya. “Penggemarnya Hankyung itu sangat freak kau tahu,” ancam Heecha. “Hankyung pasti akan melindungiku,” kata Sangsun seraya tersenyum dan mengerling jahil.

___

Sangsun sangat lelah hari ini. Tadi siang dia bersama Heecha mencari rumah baru untuknya. Tapi untungnya dia sudah menemukannya tidak jauh dari rumah lamanya. Sekarang dia sudah sampai rumah. Jam menunjukan pukul 9 malam tapi rumah Hankyung masih sepi. Mungkin Hankyung belum selesai schedulenya. Jadi Sangsun memutuskan untuk beristirahat sebentar di ruang duduk Hankyung. Merebahkan dirinya di sofa lalu memejamkan mata.

Kriiiiiiing…kriiiiiiing…kriiiiiing…

Suara telpon rumah Hankyung mengagetkan Sangsun. Dia segera bangun lalu berlari kearah meja telpon untuk mengangkat telpon. Mungkin itu telpon dari Hankyung.

Yebosseyeo?” ucap Sangsun. “yebosseyo? Siapa ini?” tanya seorang wanita diseberang sana. “Saya Song Sangsun. Ini siapa?” tanya Sangsun hati-hati. “Bukankah ini rumah Hankyung?” tanya wanita itu. “Ne~ benar. Tapi Hankyung sedang keluar. Ada schedule,” jelas Sangsun agak gugup. “Eum—saya—saya—”

“Tidak apa-apa,” suara wanita itu berubah ramah. “Saya ibunya Hankyung,” ucap wanita itu lembut. Astaga! Ibunya? Ya tuhan bagaimana ini?—batin Sangsun.

“Ooh annyeonghaseyo bibi?” ucap Sangsun ramah berusaha mengontrol dirinya. “Ne~ anneyeonghaseyo. Apakah kau ini gadis yang bersama Hankyung difoto itu?” tanya ibu Hankyung antusias. Sangsun membeku. “Ne~ benar bibi,” ucap Sangsun yang tidak tau harus berkata apa lagi.

“Senang sekali bisa mendengar suaramu walaupun Hankyung belum memperkenalkan kita. Dasar anak itu. Tadi kau bilang namamu Song Sangsun kan? Kenapa bisa ada dirumah Hankyung?” tanya ibu Hankyung ramah. “Eum, semalam rumahku kebakaran bibi. Jadi aku tinggal sementara di rumah Hankyung” jelas Sangsun.

“Ya tuhan, kebakaran? Apakah kau baik baik saja?” tanya ibu Hankyung terdengar cemas. “Tidak apa-apa, bibi jangan khawatir. Hankyung yang menjemput aku semalam,” ucap Sangsun. “ Syukurlah kau tidak apa-apa. Sangsun-ssi, maaf yaa Hankyung pasti sering merepotkanmu. Dia memang anaknya seperti itu. Tapi sebenarnya dia anak yang manis dan baik. Bibi minta tolong jaga dia ya Sangsun-ssi” kata ibu Hankyung lembut.

Sangsun mengangguk sambil tersenyum. “Yaa saya mengerti—ya sampai jumpa bibi~” ucap Sangsun mengakhiri pembicaraannya.

___

Kenyataan bahwa ibu Hankyung terdengar begitu menyukainya membuat Sangsun tenang. Sejak tadi dia menutup telpon sampai sekarang Sangsun terus tersenyum.

“Kenapa kau tersenyum terus begitu?” ucap Hankyung heran menatap Sangsun yang terus tersenyum sampai tak menyadari kehadirannya. Sangsun terlonjak. Astaga ternyata Hankyung sudah pulang. Kenapa aku tidak menyadari kedatangannya’—batin Sangsun.

Sangsun menggelengkan kepalanya. “Tidak—tidak apa-apa,” jawan Sangsun salah tingkah. Hankyung terlihat tidak percaya tapi dia memilih untuk diam. “Apa yang kau lakukan seharian ini?” tanyanya.

“Mencari rumah baru bersama Heecha,” kata Sangsun sambil mengganti ganti channel televisi. “Sudah dapat?” tanya Hankyung. Sangsun mengangguk. “Iya sudah. Didekat rumahku yang lama,” jawab Sangsun.

“Ooh begitu,” ucap Hankyung singkat. “Hankyungie” panggil Sangsun. Hankyung menoleh menatap Sangsun. Menunggu Sangsun bicara. “Tadi ibumu menelpon kerumah, aku yang angkat,” ucap Sangsun pelan.

Hankyung terlihat terkejut. “Benarkah? Lalu?” tanya pria itu. “Tidak apa-apa,” kata Sangsun sambil tersenyum. “Ibumu ramah. Dia tinggal dimana?” sambung gadis itu. Hankyung jadi lebih rileks lalu menyandarkan kepalanya kesofa. “Dia tinggal dipusat kota. Biar lebih dekat dengan kantornya. Ibuku seorang penulis, kau tahu? Hanjin namanya,” jelas Hankyung.

“Seorang penulis? Aku tidak tahu. Tapi ibumu baik sekali padaku. Hehehe,” ucap Sangsun tersenyum.

“Ya pemirsa mari kita berjumpa sekarang dengan seorang penulis terkenal. Nyonya Hanjin. Annyonghasseyo nyonya hanjin. Bagaimana persaan anda tentang keberhasilan penjualan buku anda?”

Sangsun dan Hankyung sama-sama menoleh kearah televisi. Sangsun bisa melihat seorang wanita paruh baya sedang diwawancara disebuah toko buku. Acara ini live.

“Panjang umur sekali ibuku. Baru saja kita bicarakan, sekarang dia sudah ada dihadapan kita,” ucap Hankyung santai. Sangsun terus memandang televisi. Ibu Hankyung cantik. Sedikit mirip dengan Hankyung. Mukanya memang terlihat sangat ramah. Persis seperti bayangannya.

“…lalu bagaimana kabar putra anda Hanjin-ssi?” tanya salah seorang wartawan. “Ah dia? Kurasa kalian tahu. Dia sekarang sedang sibuk dengan album barunya yang sukses, sama seperti bukuku , jawab ibu Hankyung santai dengan sedikit gurauan.

Kabarnya dia punya kekasih sekarang. Benarkah itu?” tanya salah seorang wartawan. “Ah iya benar. Aku sudah kenal dengan gadis itu. Gadis yang ramah. Dia sekarang tinggal bersama Hankyung karena rumahnya baru saja kebakaran. Aku harap mereka bisa sampai menikah,” ucap ibu Hankyung.

“Bolehkah kami tahu siapa nama gadis itu?” ucap wartawan yang lain. Tentu saja. Namanya song Sangsun, jawab ibu Hankyung dengan raut wajah yang sangat bahagia.

Hankyung dan Sangsun memandang televisi dengan mata terbelalak. Keduanya terdiam. Membeku. Tadi apa yang dikatakan ibunya? Ibunya membocorkan nama Sangsun? Ibunya mengatakan pada wartawan kalau sekarang Sangsun dan Hankyung tinggal bersama?

“A—astaga,” lamunan Hankyung buyar karena suara panik Sangsun. “Astaga Hankyung bagaimana ini?” Sangsun bangkit dari duduknya. Hankyung ikut berdiri dan panik. “Itu acara live pasti semua orang langsung tahu dan wartawan wartawan semuanya tahu. Astaga—astaga—“ Sangsun semakin panic.

“Sangsun tolong tenang sebentar. Kau ceritakan pada ibuku soal kau tinggal bersamaku?” tanya Hankyung sambil memegang tangan Sangsun agar Sangsun tenang. “I—iya” kata Sangsun sambil mengangguk pelan. “Aissh ibuku untuk apa membocorkan ini semua ?” keluh Hankyung seraya memijit keningnya. “Sebentar lagi pasti wartawan datang kerumahku. Bagaimana ini?”

___

“Hankyung !! Sangsun !!”

Hankyung dan Sangsun sama sama menoleh. Jongwoon sudah sampai dirumah Hankyung. Bajunya berantakan, rambutnya kusut. Kelihatan sekali dia kesusahan melewati lautan wartawan dan penggemar diluar rumah Hankyung.

“Sepertinya semua wartawan dan seluruh penggemarmu dikorea sudah berkumpul diluar,” ucap Jongwoon. “Ah tolonglah hyung jangan seperti itu,” keluh Hankyung. “Apa yang kita lakukan sekarang?” tanya Sangsun suram.

“Kita tidak bisa keluar pada saat seperti ini. Kita bisa menjelaskan pada mereka ketika situasi sudah mereda. Apalagi penggemar Hankyung juga semuanya sudah berkumpul juga. Cepat sekali beritanya menyebar, diinternet sekarang profil Sangsun sudah tersebar, foto foto Sangsun juga” jelas Jongwoon.

Mendengar itu Sangsun menahan napas. Ya tuhan bagaimana ini?—batin Sangsun. Suara dering ponsel terdengar. Ponsel Hankyung. “Ibuku,” ucap Hankyung singkat ketika mengetahui siapa yang meneleponnya. Lalu dia berjalan menjauh.

“Halo ibu—ya ini aku—ya memang—ya semua wartawan sekarang berkumpul dirumahku—tidak, bukan salah ibu—tidak apa-apa pasti aku dan Jongwoon hyung akan bereskan—Sangsun? dia tidak apa apa hanya sedikit gugup—sekarang? Baiklah,” Hankyung berjalan menuju Sangsun lalu menyodorkan ponselnya pada Sangsun. “Ibuku ingin bicara padamu,”

Sangsun mengambil ponsel Hankyung lalu menempelkannya ketelinga. “Halo bibi—ya ini aku—tidak, aku tidak apa-apa—sungguh hahaha—ya semuanya akan baik-baik saja, bibi tidak usah cemas—ya selamat malam,” Sangsun memutuskan sambungan lalu memberikan ponsel itu kembali pada Hankyung.

Sangsun kembali menghela nafas dan menyenderkan badannya kesofa, mencoba menenangkan diri. Hankyung ikut duduk disamping Sangsun lalu menggenggam tangan Sangsun.

“Ikut aku sebentar” ajak Hankyung

___

Sekarang mereka ada dihalaman belakang rumah Hankyung, hanya berdua. “Aku ingin minta maaf Sangsun. Mianhe. Jeongmal mianheyo~” kata Hankyung menyesal. “Untuk apa kau minta maaf? Jelas ini bukan salahmu. Tidak ada yang salah saat ini,” ucap Sangsun tersenyum.

“Jelas ini salahku. Aku yang menjerumuskanmu dalam masalah ini. Aku tidak pernah mengira akan seperti ini sungguh,” Hankyung menunduk. Sangsun mendekati Hankyung lalu memegang tangannya lembut. “Ini juga salahku kenapa aku mau menerima tawaranmu, iya ‘kan?” ucap gadis itu serayal memandang Hankyung dalam.

Mendengar itu, Hankyung tersenyum. Lalu dia mengelus rambut Sangsun lembut. “Aku akan pastikan ini semua akan baik-baik saja Sangsun. Aku janji.”

***

1 bulan kemudian

Sangsun sedang berada dirumahnya, menggambar desain baju untuk bosnya, Heechul. Sudah 1 bulan berlalu sejak kejadian itu. Saat akhirnya publik mengetahui identitas Sangsun. Malam itu Sangsun, Hankyung dan Jongwoon hanya terus diam didalam rumah sampai 3 hari berikutnya. Jongwoon terpaksa membatalkan semua jadwal Hankyung selama seminggu dan itu jelas membuat Hankyung rugi. Sangsun sendiri baru keluar dari rumah Hankyung seminggu setelah kejadian itu. Wartawan sepertinya sudah mulai bosan terus menerus menunggu didepan rumah Hankyung.

Pada saat Sangsun keluar dari rumah itu, masih ada beberapa wartawan dan penggemar Hankyung didepan rumahnya. Alhasil, beredar lagi berita tentang Hankyung. Selama 1 minggu lebih Sangsun terus berada didalam rumah barunya ditemani Heecha sesekali. Untung bosnya mengerti keadaannya. Ibu Hankyung juga sekali pernah mengunjunginya. Ibunya benar-benar ramah pada Sangsun.

Setelah berita mulai mereda barulah Sangsun kembali bekerja. Walaupun terkadang banyak mata yang mengikutinya kemana-mana. Awalnya ia merasa risih, tapi sekarang sudah tidak apa-apa.

Sedangkan hubungannya dengan Hankyung, emtahlah ia juga tidak tau. Semenjak Sangsun meninggalkan rumah Hankyung, dia dan Hankyung sama sekali tidak pernah bertemu lagi. Tidak saling menghubungi juga. Hankyung dan Sangsun benar-benar tidak ada kontak lagi sama sekali.

Sudah sekitar 3 minggu dia tidak bertemu Hankyung dan itu membuatnya tidak bersemangat. Sangsun menatap layar ponselnya. Dia ingin sekali menelpon Hankyung. Ingin mendengar suaranya. Sangsun mencari nama Hankyung dikontaknya. Lalu dia memencet tombol ‘call’.

Sangsun sedikit gugup menunggu telponnya diangkat. ‘Semoga diangkat,semoga diangkat—batin Sangsun.

Sangsun?” ucap Hankyung. ‘Diangkat’—batinnya.

“Ha—Hankyungie,” ucap Sangsun. “Ya tuhan sudah lama sekali tidak mendengar suaramu Sangsun. Bagaimana kabarmu?” tanya Hankyung. “Aku? Baik,” jawab Sangsun.

Eum begitu? Aku tidak, ucap Hankyung lesu. “Ada apa? kau sakit?” tanya Sangsun khawatir. Bukan. Akubogoshipoyo Sangsunah” jawab Hankyung. Sangsun terdiam sejenak, gadis itu tersenyum dikulum. “Aku juga kyungie,” jawab Sangsun.

Hankyung terdiam sejenak. Oke aku akan ketempatmu sekarang. Kau sedang ada dirumah kan? Jangan kemana mana” ucap Hankyung. Sangsun tertawa. “Yaa! tidak perlu Hankyung. Hankyung? Halo? Halo? Astagaa. Dia serius?”

___

Tok tok tok tok

Itu Hankyung kah?—pikir Sangsun. Sangsun berjalan menuju pintu lalu membukanya. Benar saja, dihadapannya sekarang berdiri seorang lelaku memakai jaket kulit hitam dengan dalaman kaos putih polos dan memakai kacamata hitam.

“Kau—benar benar datang?” tanya Sangsun tak percaya. “Kau bilang ‘kan jika kau rindu padaku, makanya aku datang~” ucap Hankyung seraya tersenyum jail dang mengerlingkan matanya. Sangsun ikut tersenyum. “Ayo masuk!”

Hankyung dan Sangsun masuk kedalam lalu duduk disofa kecil milik Sangsun. “Aku ambilkan minum ya sebentar” ucap Sangsun berjalan menuju dapur rumahnya untuk membuatkan Hankyung minuman. Setelah membuat orange juise, gadis itu kembali menghampiri Hankyung yang sudah menunggunya dan minuman itu pada Hankyung. Hankyung meminumnya sedikit. “Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Sangsun memulai pembicaraan.

“Sibuk. Setiap hari aku harus show, shooting bahkan pergi keluar negeri. Karena itu aku tidak sempat bertemu bahkan menelponmu. Mianhae~” jelas Hankyung seraya meminta maaf pada Sangsun. Sangsun tersenyum manis. “Tidak apa-apa. Eum Hankyung, sebenarnya perjanjian kita sampai kapan?” tanya gadis itu ragu. “Apa maksudmu?” tanya Hankyung tak mengerti.

“Apa maksudku? Hankyung, aku tidak bisa terus menerus membantumu. Semenjak orang orang mengenalku sebagai ‘pacar Hankyung’ hidupku tidak sama lagi. Aku bukan artis dan tidak terbiasa akan hal itu” kata Sangsun menjelaskan.

“Begitu? Kupikir banyak orang yang ingin punya pacar artis terkenal,” ucap Hankyung tersenyum samar. Sangsun tersenyum. “Mungkin aku dulu juga berpikir begitu. Tapi sekarang tidak,” ucap Sangsun.

“Jadi kau tidak mau punya pacar artis?” tanya Hankyung hati-hati. Sangsun menggelengkan kepalanya. Gadis itu terlihat berpikir. “Ani~ Sebaiknya tidak” guman Sangsun.

Hankyung melepaskan kacamata hitamnya. “Berarti—aku harus berhenti menjadi artis,” ucapnya. Sontak Sangsun menatap kearahnya, terkejut dengan ucapan Hankyung tadi. “Apa katamu?” tanya Sangsun.

Hankyung menghadap Sangsun. “Apakah aku harus berhenti menjadi artis?” ucap pria itu. “Kenapa?” tanya Sangsun tidak mengerti. Hankyung menatap mata Sangsun. “Karena aku ingin kau menjadi pacarku Song Sangsun,” jawab Hankyung lembut. Sangsun mengerjapkan matanya.

‘Apa dia sedang bercanda ?’—batin Sangsun.  “Aku serius Sangsun. Aku ingin kau menjadi pacarku. Apakah aku harus mencari pekerjaan lain?” ucap Hankyung yang seakan-akan mengetahui isi pikiran Sangsun.

“Tidak—tentu tidak perlu. Kau cocok menjadi artis,” kata Sangsun seperti orang linglung. “Lalu?” tanya Hankyung menatap gadis itu. “Apanya?”

Hankyung mendesah. Lalu dia bangkit dan berjongkok didepan Sangsun. “Saranghae—jinca saranghaeyo,” ucap Hankyung menatap Sangsun dalam-dalam. Tiba-tiba gadis itu menangis. Hankyung heran yang kemudian disusul dengan tawanya. “Bodoh, kenapa menangis?” tanya Hankyung.

Sangsun tidak tahu harus menjawab apa. Dia diam seraya memandangi wajah pria yang ada didepannya ini. Yang dia tahu pipinya terasa panas, air matanya kembali mengalir. Hankyung mencondongkan tubuhnya lalu mendaratkan bibirnya dengan lembut ke bibir Sangsun.

***

END

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s