[FF] True Love

Title: True Love

Author: Carrie Cho
Rating : PG+15 / straight
Casts:
Lee Donghae and OC
Other Casts:
Super Junior, DBSK, 2PM, SNSD
Genre:
Romance, Friendship, AU, Angst
Length :
Oneshoot
Part: –

Disclaimer : The characters in this story is the character of their own with a little imagination of the author and this story is only a fiction. So don’t sue me.

A/N :

I just re-post this story with a fewnecessary updates to this story.

You can find other cast when you read this story.

This story is based on a true story. LOL ^^v

– Don’t forget to give your comments.

READ THE ORIGINAL STORY HERE.

Jatuh cinta itu wajar, apalagi untuk kita sebagai manusia yang baru saja akan menginjak satu tahap kehidupan lebih tinggi sebelum dewasa yaitu masa-masa remaja. Dimana gejolak hormon testoteron dan juga progestron yang dikendalikan hipotalamus berpacu lebih aktif dibandingkan ketika saat anak-anak maupun juga dewasa.

Patah hati juga hal yang wajar. Konsekuensi yang harus dijalani jika kita sudah berkomitmen untuk menjalani sesuatu yang dinamakan jatuh cinta. Meski kita tidak pernah mengatakan menyetujui hal yang bernama patah hati. Setiap orang pasti tidak ingin mengalami patah hati bagaimanapun caranya.

Ayahku pernah bilang, Cinta itu sesuatu yang aneh, misterius, tetapi akan begitu menyenangkan jika kita sudah mengenalnya—meskipun ada kalanya kita merasa benci pada cinta.

“ Cinta itu anugerah. Kita tidak akan pernah tahu kapan cinta itu akan datang dalam kehidupan kita. Tuhan mengirimkan kita cinta dengan berbagai tujuan yang sudah dikendaki-Nya. Dan kitalah yang harus menemukan tujuan itu—tujuan yang akan menuju… kebahagian kita.”

***

 Angin sore kota London memang paling terbaik dimana pun, khususnya di akhir musim dingin pertengahan bulan Februari ini. Suasana memang masih di musim dingin, dengan suhu di bawah minus hanya saja untuk hari ini rupanya sang matahari berbaik hati menyinarkan sinarnya lebih banyak di bandingkan hari-hari musim dingin seperti biasa.

Sore itu suasana St. James Park seperti biasa, ramai, riuh dan dipenuhi oleh keluarga yang hanya sekedar bersantai atau menikmati jogging track di sekitar area taman yang terkenal akan pohon-pohon rimbunnya.

“ Sudah kuduga kau akan kemari.” ujar seorang lelaki berusia sekitar 18 tahun yang langsung duduk di bangku seorang gadis yang (mungkin) dicarinya. “ sedang apa kau disini?”

“ Hanya menikmati angin sore, dan tawa anak-anak kecil itu yang seolah-olah sedang mentertawakanku.” Sahut gadis di sampingnya dengan nada sarkastis. Lelaki itu mendengus tidak percaya apa yang baru saja gadis itu katakan.

“ Kau gila, huuh? Mana mungkin bocah-bocah itu mentertawakan kau yang jelas hanya duduk disini tanpa melakukan kegiatan atau atraksi apapun yang menarik perhatian. Atau mungkin pikiranmu saja yang sudah gila, membayangkan bocah-bocah itu mentertawakanmu.”

“ Aku memang gila, dan jangan kau tanyakan lagi.” Jawab gadis itu masih dengan nada yang sama. Sedikit membuat lelaki di sampingnya kesal, tentu saja. Seolah gadis itu mengabaikannya dengan jawaban-jawaban yang meluncur begitu saja dari bibirnya.

“ Liora, kau baik-baik saja?” Hanya ada satu kemungkinan jika gadis itu seperti ini. Lelaki itu merapatkan diri mendekat ke sisi gadis itu, dan merangkulnya.

“ Aku baik-baik saja, seperti yang kau lihat.” Tidak. Ia tidak baik-baik saja, menurutnya. Gadis itu berbicara dengan nada sumbang, dan lirih seperti sedang atau baru saja habis menangis. Dengan kasar ia mengangkat dagu gadis itu agar menatap kedua matanya.

“ Kau tidak baik-baik saja, Liora. Matamu memerah, bengkak, dan ada bekas aliran air mata dipipimu.” ujarnya seraya menyusuri lipatan bawah mata hingga menyusuri pipi gadis itu. “ kau menangis. Jadi katakan padaku apa yang terjadi, sebelum aku menginterogasimu lebih jauh.” desaknya.

Gadis itu perlahan mengangkat wajahnya yang sedari tadi berusaha ia sembunyikan. Aiden, memang bukan orang asing baginya. Hanya saja terlihat sangat memalukan jika ia harus menunjukkan sisi dirinya yang terlihat ‘rapuh’ di depannya. Sudah terlalu sering Aiden melihatnya dalam keadaan seperti ini.

“ Kau tahu rasanya patah hati seperti apa?” Liora mulai berbicara. Gadis itu menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya dengan kasar. Sementara Aiden sudah daritadi menatapnya dengan intens, menunggu kalimat selanjutnya.

“ Aku tahu. Dan dalam urusan patah hati aku mungkin lebih berpengalaman daripadamu.” Liora tersenyum getir. Hingga pada akhirnya ia tidak sanggup lagi menahan segala luapan emosinya. Gadis itu menutupi seluruh wajahnya dengan telapak tangannya.

“ Aku kira, Bryan memang benar-benar menyukaiku. Aku sempat mengiranya, ketika kata teman-temanku ia sering memperhatikanku di saat latihan basket. Tapi… itu semuanya salah, Aiden. Aku salah.” lirihnya.

Aiden menghela napas, sebelum ia memeluk gadis ke dalam pelukannya sebelum pada akhirnya tangisan gadis itu semakin membesar.

“ Lanjutkan.”

“ Menurut Hara, aku… aku sangat mirip dengan kekasihnya yang berada di Dublin. Aku salah, harusnya dari awal aku tidak menaruh ekspetasi terlalu tinggi kepadanya kalau pada pada akhirnya seperti ini. Sakit, Aiden. Ketika kamu menyukai seseorang, dan kau mengira ia akan membalas perasaanmu-tapi pada nyatanya kau justru dibandingkan dengan orang lain yang merupakan cintanya.”

“ Aku mengerti, dan aku ingin sekarang hentikan tangis sia-siamu itu.” ujar Aiden. Ia melepaskan pelukannya dan tersenyum. “ menangis hanya akan membuat luka di hatimu semakin terbuka. Tersenyum seperti Liora yang kukenal. Liora ku tidak akan menangis hanya karena seorang lelaki.” ucapnya.

Aiden mencubit kedua pipi Liora dan menariknya pelan membentuk sebuah senyuman yang terlihat terpaksa. Gadis itu menepak tangan Aiden, dan tersenyum. Dan kini senyuman itu senyum tulus.

“ Tidak usah mencubit pipiku, Aiden.”

“ Kalau aku tidak mencubitmu, apakah kau akan tersenyum? Senyum yang hanya untukku?” ujar Aiden seraya terkekeh. Liora tersenyum dan memukul bahu lelaki tersebut dengan gemas.

“ Baiklah, terimakasih.” ucap Liora. Gadis itu mengusap sisa-sisa air mata dengan telapak tangannya, dan menarik napas dalam. “ masih banyak lelaki yang lebih baik dari Bryan untukku, ‘kan?”

Aiden mengangguk pelan, seraya mengacak-acak rambut gadis itu dengan gemas.

“ Pulang yuk? Sudah sore, aku harus tiba di rumah sebelum jam tujuh. Aku harus lihat pertandingan Badminton.” kata Aiden seraya beranjak dari kursi taman.

Liora menganggukkan kepala, setuju dan akhirnya ia menyambut uluran tangan Aiden mengajaknya meninggalkan St. James Park menuju rumah.

***

Liora menutup pintu rumahnya dengan pelan, dan kemudian melepaskan All Star merah miliknya dan menggantinya dengan sandal Hello Kitty seraya melenggang masuk ke dalam rumahnya. Seperti biasa selalu dalam keadaan sepi, tentu saja hanya 3 orang yang menghuni rumah ini—dia, adiknya, dan juga ayahnya setelah ibu mereka meninggalkan mereka sepuluh tahun yang lalu.

“ Sudah pulang? Kukira kau akan berlama-lama di taman, sampai ayah benar-benar memanggilmu dan memarahimu.” ujar suara cempreng dari balik sofa ruang tengah yang ia lewati. Ia hanya mendesis kesal.

“ Kau kira aku serapuh itu apa? Liora bukan orang yang menangis meraung-raung hanya karena seorang makhluk yang memiliki susunan kromosom XY itu.” balasnya. Ia membuka lemari es dan kemudian mengambil botol juice jeruk yang bersisa lalu menuangkannya ke gelas.

“ Aiden tadi mencarimu.”

“ Aku tahu. Di taman aku bertemu dengannya.” jawab Liora seraya meneguk habis juice jeruk dan menaruh gelas yang baru saja dipakainya ke dalam tumpukan gelas kotor.

Ia hanya menghela napas kesal, dan melirik ke ruang tengah—tepatnya ke arah sosok gadis yang sedang menonton televisi sementara di pangkuannya terdapat notebook yang tersambung dengan jaringan sosial yang bernama Twitter.

Liora bergidik sendiri melihat lima tumpukan piring kotor, dan juga gelas kotor di dalam wastafel. Gadis itu melipat kedua lengan bajunya, dan mencuci tumpukan kotor tersebut. Setelah selesai ia pun segera menghampiri gadis yang tidak lain adik kembarannya itu di ruang tengah.

“ Ayah, belum pulang?” tanyanya.

Gadis itu menggelengkan kepalanya. Dan mengambil potatos dari dalam kaleng dan mengunyahnya.

“ Mungkin tidak lama lagi, ayah juga pulang.” sahutnya.

“ Carrie, menurutmu aku cantik tidak?”

Carrie—nama gadis itu langsung menoleh dengan bingung, kening gadis itu berkerut dalam. Dan tidak lama kemudian gelak tawalah yang keluar dari mulutnya.

“ Liora, kau bercanda? Atau kau memang sangat benar-benar putus asa?”

“ Aku serius. Kalau kau menjawabnya seolah hanya bualan saja, kupatahkan lenganmu itu, Carrie.” Ancam Liora. Carrie hanya membulatkan bibirnya, dan tertawa kembali.

” Jangan merendah, Liora bodoh. Kau itu cantik—menurutku, kau tidak ingat yah kata ibu setiap wanita diciptakan dalam keadaan yang cantik, hanya tergantung diri wanita tersebut itulah yang bisa memoles kecantikannya menjadi lebih sangat cantik. Aku tahu kau sedang merendah, tapi jangan terlalu merendahkan diri.” sahut Carrie.

Liora hanya tersenyum. Apa yang dikatakan Carrie memang benar, setiap wanita dilahirkan dengan kecantikan alami—itu yang dikatakan almarhumah ibu mereka. Tiba-tiba Carrie beranjak dari sofa, dan meletakkan notebook miliknya di atas meja kemudian berjalan menuju pintu masuk. Liora menoleh.

“ Mau kemana?”

“ Ayah sudah pulang.” jawabnya singkat.

Liora hanya mengangguk mengerti. Dengan santai ia mengambil majalah fashion terbaru yang terletak di atas meja, hanya sekedar membukanya saja tidak dibaca. Hingga tidak lama kemudian Carrie kembali dengan seorang pria di sampingnya.

“ Hai, bagaimana kabarmu hari ini?” ujar pria itu dengan lembut, lesung pipit yang indah ketika pria itu tersenyum. Liora tersenyum cerah ketika pria itu menghampirinya. Ia segera berlari menghampirinya, dan memeluk pria tersebut dengan erat. “ kau sangat merindukanku?”

“ Ah, ayah tentu saja aku merindukanmu. Tahukah hidup di rumah hanya berdua saja?” balasnya seraya melepaskan pelukannya.

“ Liora, ayah membelikan kita banyak sekali baju!” pekik Carrie girang sembari menunjuk sekitar 10 kantung tas belanja di kedua tanganya. Liora memekik senang dan mendekati Carrie mengambil 5 kantung tas di tangan kanan Carrie, dan sekilas membukanya yang ternyata berisi baju dan sebuah tas.

“ Ini untuk kami ayah?” tanya keduanya bersamaan. Pria itu mengangguk pelan, hingga kedua anak gadisnya berhamburan memeluknya dengan erat.

“ Terimakasih, ayah!”

_

“ Carrie, kenapa Bryan menjadi kepikiran seperti ini yah?” tanya Liora pelan. Carrie yang sedang sibuk membaca komik sejenak menghentikan kegiatannya, dan menoleh ke samping. “ aku ingin melupakannya, tapi kayaknya susah.”

“ Jangan terlalu dipikirkan, sekarang pikirkan bagaimana caranya kau bisa tidur secepat mungkin. Aku sudah membaca lima komik, hanya untuk menemanimu hingga kau tidur.”

Liora menoleh dan tersenyum lebar. Carrie pun melanjutkan kembali bacaannya, sementara Liora mengalihkan perhatiannya dengan menatap langit-langit kamarnya. Sungguh membosankan.

“ Kenapa ngga sms Aiden aja? Atau lempar jendelanya dengan gumpalan kertas hingga ia bangun, dan dalam keadaan setengah sadar ia mendengarkanmu merocos tidak jelas.” Tiba-tiba Carrie membicarakan saran yang cukup aneh menurutnya, gadis itu melirik ke adik kembarnya dengan aneh sementara Carrie sendiri sibuk dengan komiknya.

“ Kau masih waras? Itu bisa menganggunya, bodoh.”

“ Siapa yang bodoh? Bukannya kau sering melakukannya kalau sedang galau? Tidak perduli ia sedang tidur atau apa pun, kau sering melakukan seperti itu.” sahut Carrie.

Liora mendengus kesal, dan menarik bagian selimutnya lebih banyak

Tiba-tiba Carrie menutup komiknya dan meletakkannya dengan asal di atas meja samping tempat tidur dan melepaskan ikatan rambutnya, kemudian menarik selimutnya menutup seluruh tubuhnya dan tidak lupa mematikan lampu tidur.

Meski belum mengerti apa yang Carrie lakukan, Liora hanya mengikutinya saja. Carrie berpura-pura memejamkan kedua matanya seolah dirinya sedang benar-benar tidur. Liora menepuk-nepuk lengan adiknya, yang ia tahu sendiri adiknya itu belum tidur benar-benar.

“ Ada apa sih?” bisiknya pelan.

Tanpa disangka Carrie membungkam mulut Liora, dan menaruh telunjuknya di atas bibirnya. Memberi instruksi agar lekas tidur, dan diam.

“ Ayah datang.”

Liora memikik pelan, dan mulutnya dibungkan kembali oleh Carrie. Hingga keduanya berpose seolah-olah benar-benar sedang tertidur dengan lelap. Benar saja beberapa detik kemudian, ayah mereka masuk ke dalam kamar keduanya. Carrie menutup kedua matanya, begitu juga dengan Liora.

Mereka tahu dan bisa merasakan, ayah mereka duduk di pinggir tempat tidur keduanya. Dan tentu saja sedang melihat ke arah keduanya.

Klik.

Ruangan kembali terang ketika Dennis menekan stop kontak kamar kedua putrinya yang terlihat sudah tertidur dengan nyenyak, meski ia tahu itu bukan benar-benar pose yang sedang tidur nyenyak sesungguhnya. Ketika ruangan kembali nyala terang, Liora dan Carrie berusaha menutup kedua mata mereka rapat-rapat meski sebenarnya ia sekali membuka kedua mata yang ‘silau’ dengan lampu kamar.

“ Aku tahu kalian belum tidur, jadi bangunlah jangan memaksakan diri.” ujar Dennis seraya menahan tawa ketika melihat kedua mata putrinya yang berkedut-kedut pelan ketika lampu kamar dinyalakan.

Carrie menepuk lengan Liora di balik selimut.

“ Baiklah, kalau kalian memang ingin tidur apa boleh buat.” Dennis beranjak dari tempat tidur dan bergegas keluar. Namun ketika baru saja ia akan menutup pintu kamar, secara bersamaan Liora dan juga Carrie menyibak selimutnya masing-masing dan keduanya pun terbangun.

“ Aku ngga bisa tidur, ayah.” ujar Liora pelan yang disetujui oleh Carrie. Dennis tertawa keras, hingga akhirnya ia kembali masuk ke dalam kamar putrinya dan duduk di pinggir tempat tidur seperti tadi.

“ Apa yang membuat kalian tidak bisa tidur?” tanyanya. Carrie mengubah posisinya menjadi duduk di atas tempat tidur, ia mengerling ke arah Liora.

“ Aku tidak bisa tidur karena dia terus-terus mengoceh ngga jelas, ayah.” keluh Carrie. Liora pun langsung terbangun dan menjitak kepala adik kembarannya dengan kesal, seraya menatap Carrie dengan tajam. Bisa-bisanya ia mengkambing hitamkan atas nama dirinya.

“ Apa yang kau pikirkan, Liora?” tanya Dennis dengan lembut. Gadis itu mengigit bibir bawahnya, dan menatap tajam Carrie yang seolah-olah tidak turut ambil bagian. “ ceritakan padaku. Kau tidak percaya kepada ayahmu sendiri, huh?” ujar Dennis.

“ Bukan begitu maksudku, aku hanya malu. Bagaimana jika kau mentertawakanku?”

“ Aku janji tidak akan tertawa bagaimana pun itu, sekarang kau mau menceritakannya padaku?” Liora menarik napas dalam-dalam, sekilas ia menoleh ke arah Carrie yang ternyata dari tatapan matanya mengisyaratkan tidak ada salahnya bercerita masalah percintaan remaja kepada ayah mereka.

“ Sudahlah ceritakan saja, daripada besok uang sakumu dipotong sama ayah.” Celetuk Carrie dengan santai. Dennis tertawa seraya mengacak-acak rambut gadis itu dengan gemas.

***

            Keesokan harinya…

 “ Carrie mana? Dia belum turun juga?” tanya Dennis sembari menaruh piring pancake buatannya di hadapan Liora yang baru saja hadir di meja makan. Aktivitas pagi yang rutin mereka lakukan. Liora dan juga Carrie sibuk menyiapkan perlengkapan sekolah mereka, sementara itu meski Dennis yang notabene merupakan pekerja kantoran yang sangat sibuk masih menyempatkan waktu untuk membuat sarapan untuk keduanya.

“ Ngga tahu, tadi sih waktu aku habis mandi dia masih tidur.” Sahut Liora santai, seraya memasukkan potongan pancake ke dalam mulutnya. Dennis menoleh, dan menggelengkan kepalanya kemudian melepaskan apron yang dikenakannya dan menyampirkannya di salah satu bangku meja makan dan segera bergegas menuju lantai dua.

“ Carrie, ayo sekolah nanti kau bisa terlambat!” bentak Dennis ketika begitu sampai di kamar, salah satu putrinya yang sudah berpakaian seragam bahkan sudah menggendong tasnya masih saja menidurkan badannya di atas kasur.

“ Malasss~~ aku bolos saja yah, ayah.” Elaknya. Dennis mendesah, dan menarik lengan Carrie dengan paksa. “ harusnya malam aku ngga begadang.” Ujarnya dalam keadaan setengah sadar.

Di lantai bawah Liora sudah menghabiskan sarapannya, dan duduk santai menunggu Carrie seraya memaikan ponsel miliknya. Carrie menguap dan menepuk-nepuk mulutnya dengan telapak tangannya, dan duduk di sofa ruang tamu.

Tidak lama kemudian, Dennis sudah siap dengan pakaian kantornya dan mereka pun berangkat bersama-sama menuju sekolah. Liora memalingkan perhatiannya sepanjang jalan ke arah jalanan yang secara cepat mereka lewati, hingga tidak terasa mereka sudah tiba di depan pintu gerbang Hampton Hills College.

“ Jangan lupa bekalmu di makan, Carrie. Kau tidak sarapan tadi.” kata Dennis. Carrie menganggukkan kepalanya dengan pelan, ia tidak akan berani membantah sepatah kata pun. Sementara ia menatap malas kotak bekal yang berada di tangannya, ia memang sangat tidak begitu suka makan bekal di sekolah.

“ Liora, jaga adikmu baik-baik ya.” Liora mengangguk malas. Ia melirik sekilas ke arah Carrie. Mereka selalu beranggapan, ‘ Kami hanya terpaut tiga puluh menit kok, Liora lahir terlebih dahulu/Carrie terlambat keluar dari rahim tiga puluh menit setelah Liora. Liora dan Carrie sama-sama berstatus Kakak-Adik. Tidak ada yang berperan sebagai kakak, maupun adik’

Hingga akhirnya Mercedes S Class milik Dennis mulai menjauh dari gerbang sekolah, keduanya pun berjalan bersama-sama menuju kelas. Secara kebetulan saja mereka ditempatkan ke dalam kelas yang sama.

“ Hey, Lica!” teriak seseorang di belakang mereka. Pada awalnya mereka mengabaikan teriakan tersebut, karena mungkin saja itu sapaan untuk orang lain hingga akhirnya Aiden dengan terengah-engah menghampiri mereka.

“ Kalian kok dipanggil ngga nyahut sih?” keluhnya seraya mengusap keringat. Liora cengengesan kecil, sementara Carrie terfokus dengan sosok lelaki yang berada di samping Aiden.

“ Habis kau memanggil Lica! Kami ‘kan ngga kenal.” kilah Liora. Sesaat kemudian Aiden tertawa sembari menjitak kepala gadis itu dengan gemas.

“ Itu ‘kan singkatan nama kalian, Liora dan Carrie. Bagus, ‘kan?” Liora mengangguk-angguk pelan saja. Meski sebenarnya ia sangat bingung untuk apa Aiden memberikan nama itu untuk dia dan juga Carrie. Liora menyenggol lengan Carrie dengan pelan.

“ Sudah yuk ke kelas, bye Aiden!

Sekali lagi Carrie menoleh ke belakang, dimana Aiden dan juga temannya masih di tempat terakhir mereka dan keduanya terlibat perbincangan sesuatu. Gadis itu menyipitkan kedua matanya, rasanya ia lebih ingin melihat lagi wajah teman Aiden itu.

“ Li, kau tahu ngga yang tadi di samping Aiden itu siapa?” tanya Carrie ketika mereka duduk di bangku mereka masing-masing. Liora tersenyum jahil.

“ Kenapa? Kau suka? Masa sih ngga tahu?”

Carrie menggelengkan kepala pelan. Mana mungkin ia bertanya kepadanya kalau ia sendiri sudah tahu identitasnya. Carrie mengakui ia memang berbeda dengan Liora. Meski mereka sama-sama berasal dari benih yang sama, dikandung dalam buaian ibu yang sama, dan juga hidup bersama-sama selama 9 bulan dalam rahim yang sama. Pada kenyataannya mereka berbeda—mereka bukanlah kembar identik.

Liora lebih sering aktif di luar kelas karena aktivitasnya sebagai anggota tim basket, sementara dirinya… ia memang cenderung agak malas dengan kegiatan outdoor seperti basket. Juga kedua sifat mereka pun berbeda. Liora lebih dominan ke arah tomboy, namun tidak terlalu tomboy juga. Sedangkan ia? Mungkin lebih dominan ke sisi feminisme.

“ Serius, Li. Siapa namanya?”

“ Namanya Marcus. Dia teman dekat Aiden, pindahan dari Skotland. Kalau tidak salah ia mengambil kelas yang sama denganmu di kelas Biologi. Hanya  mungkin kau tidak satu jurusan dengannya.” Jelas Liora seraya membolak-balik buku catatan Sastra Perancisnya.

“ Benarkah?”

“ Hmm… ah, Carrie kau benar-benar menyukainya? Eum, cinta pada pandangan pertama?” tebak Liora asal namun seperti tepat pada sasaran. Tanpa dijawab pun ia sudah tahu jawabannya dengan melihat wajah Carrie yang sudah bersipu memerah.

“ Ah, sudahlah. Aku duluan, sebentar lagi kelas Trigono. Bye!” ujar Carrie. Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan salah tingkah, dan beranjak berdiri menuju loker yang terletak di belakang kelas, dan tidak lama kemudian seraya membawa dua buah buku di pelukannya meninggalkan kelas.

Liora mengulum bibirnya hingga akhirnya ia beranjak dari kursinya karena sekedar bosan. Ia baru ada kelas sekitar dua jam lagi yaitu kelas Geografi. Dan tidak ada salahnya jika ia ke kantin, sebelum itu ia mungkin akan mengunjungi temannya yang kebetulan saja satu kelas Geografi dengannya.

“ Liora, er… itu Bryan kurasa.” kata Angela—sahabat Liora juga Carrie, ketika Liora baru saja menemuinya di koridor. Dan keduanya bersama-sama menuju kantin menunggu kelas Geografi.

Liora menarik napas dalam-dalam. Dan berbalik arah menarik lengan Angela bersamanya menuju arah yang berlawanan dengan kantin.

“ Ra, kita ‘kan mau ke kantin. Arah kantin tadi sudah benar.” Gerutu Angela. Liora mengindahkan ucapannya, dan baru melepaskan cengkeraman tangannya ketika mereka sudah berada di depan perpustakaan.

“ Aku malas dan sama sekali ngga berminat untuk bertemu ataupun sekedar melihat wajah Bryan.” ucap Liora. Angela menarik napas kesal, dan mengedikkan bahu pelan.

“ Baiklah. Kau mengajakku ke perpustakaan? Kau gila? Tipe mu bukan gadis yang akan meluangkan waktu berjam-jam menunggu kelas dengan membaca buku di antara himpitan rak-rak buku super besar itu.”

“ Aku tahu, tapi tempat ini yang langsung terpikirkan olehku.”

“ Ikut aku. Mungkin akan lebih baik kalau kita ke gymnasium? Sekedar melihat kelas lain bermain di tribun tidak buruk juga mengisi waktu selama dua jam?” usul Angela. Liora mengetukkan telunjuknya di dagu, dan sesaat kemudian menganggukkan kepalanya setuju dengan ide Angela.

_

Liora menyenderkan punggunya dengan santai ke dinding tribun, sementara kedua tangannya melipat di dada seraya memperhatikan sekumpulan lelaki yang sedang bermain basket di arena bawah. Decit suara sepatu dengan lantai kayu begitu terasa bahkan hingga bangku mereka yang memilih tribun bagian paling atas.

Dan Liora bisa melihat Aiden bagian dari salah satu pemain basket.

“ Sedang menunggu kelas?” Suara berat yang begitu sangat dikenalinya. Liora menolehkan kepalanya dengan malas ke samping, dan benar saja ia menemukan sosok Aiden yang sudah duduk di sampingnya dengan peluh yang mengucur deras sehabis bermain basket.

Liora hanya membalas dengan anggukan kecil, serta senyuman tipis.

“ Ke kantin yuk?” ajak Aiden seraya menyeka peluh di bagian lehernya dengan telapak tangan, dan mencipratkannya ke lantai. Liora menggeleng, bisa-bisa ia bertemu dengan Bryan disana. “ ah ayolah, aku lapar sekali. Masih banyak waktu kok.” Desaknya seraya menarik lengan Liora bersamanya.

“ Angela, kau mau ikut?” Angela membalas dengan gelengan kepala pelan, dan kembali asyik dengan tablet PC-nya. Ketika Liora menoleh sebentar saja ke belakang, tepatnya ke arah lapangan. Ia melihat Bryan disana, yang entah sejak kapan sudah berada di kumpulan anak basket putra walaupun ia tidak berpakaian olahraga.

“ Aku membawamu ke kantin, tidak lain karena aku tahu kau pasti tidak ingin bertemu dengannya. Jadi diamlah, dan ikuti saja perkataanku.” ucap Aiden yang Liora rasa agak sedikit berbeda dengan Aiden yang selama ini ia kenal.

_

Liora dan Aiden duduk di salah satu bangku yang ada di kantin. Gadis itu menyesap orange juice pesanannya. “ Hai Ra!” sapa Sooyoung—salah satu teman Liora ketika melewati bangku tempat Liora dan Aiden duduk. “Mana Wooyoung? Ko sama Aiden?” ejek Sooyoung. Namun Liora mengindahkan ucapan Sooyoung. Ia tak ingin ambil pusing ucapan ratu gosip sekolahnya itu.

“ Liora~ ada Wooyoung~” teriak Sooyoung tiba-tiba ketika Wooyoung—pemuda keturunan Korea-Eropa itu memasuki kantin. Sontak seluruh penghuni kantin menatap ke arahnya dan meledeknya. Memang hampir satu sekolah menganggap jika Liora dan Wooyoung mempunyai hubungan khusus hanya karena beberapa waktu yang lalu Sooyoung mendapati keduanya yang sedang berbincang dengan begitu akrabnya.

Liora menundukan kepalanya. Wajahnya memerah. “ Biarkan saja~” ucap Aiden santai seraya menyantap makanan yang dipesannya tadi. “ Tapi aku malu Aiden!” ucap Liora.

“Eng—tapi kau itu memang berpacaran atau tidak sama Wooyoung?” tanya Aiden meledek. Liora menatap Aiden sinis. “Kau percaya aku atau gosip itu huh?”

“Tentu saja aku percaya kau,” ucap Aiden seraya mengacak-acak rambut Liora gemas.

***

 “ Kau latihan hari ini?” tanya Carrie setelah jam sekolah berakhir. Liora hanya membalas dengan gumaman sementara gadis itu sibuk entahlah yang dilakukannya seperti mengacak-acak isi lokernya. Carrie menyenderkan punggungnya di deretan loker, sesekali meniup poninya. “ hari ini… tepatnya di perpus aku berkenalan dengan Marcus. Senang sih, hehehe… apalagi ternyata dia lebih dulu tahu namaku.”

“ Benarkah?” ujar Liora yang mengambil tas plastik transparan yang berisi sepatu basket dan juga baju basket, dan menyampirkan dengan santai di bahu. Carrie mengangguk pelan, hingga kemudian keduanya berjalan bersama-sama menyusuri koridor yang lumayan padat.

“ Aku ngga naruh banyak harapan sih, hanya kenalan juga sudah cukup.” Tukas Carrie pelan. Liora tersenyum dan menepuk pundak gadis itu dengan pelan.

“ Keik yang semalam di bawa ayah jangan dihabiskan loh!”

“ Hah? Yang mana?”

“ Itu yang di lemari es, ayah ‘kan masukin keik yang malam itu ke freezer. Aku belum sempet coba soalnya. Pokoknya kalau beneran dihabisin aku marah, Carrie!” Ancam Liora. Carrie hanya memincingkan bibirnya sebal, dan mengangguk-angguk acuh. “ sudahlah, aku harus berangkat ke stadion, bye!”

_

 “ Mau berangkat ke stadion, Ra?” tanya Aiden yang secara kebetulan melewati halte tempat Liora menunggu bus menuju Stanford Bridge. Aiden tersenyum manis, seraya melepaskan helm dan menumpunya di paha.

“ Iya, biasanya sih aku numpang sama anak-anak yang lain tapi aku ditinggal duluan Soalnya tadi kelas Sastra Inggris pulang telat.” Jelas Liora. Meski sebenarnya ia berharap Aiden akan mengajaknya untuk bersama-sama dengannya ke stadion dengannya, hemat pengeluaran.

“ Kalau begitu aku antarkan saja. Ayo naik!” ajak Aiden seraya menunjuk jok belakang motornya yang masih bersisa. Dalam hati Liora bersorak-sorak sorai, Aiden tahu banget pemikirannya. Liora mengangguk setuju, dan kemudian menerima helm yang disodorkan Aiden kepadanya.

Thanks a lot, Aiden.” Gumamnya seraya melingkarkan kedua lengannya di pinggang Aiden. Aiden tertawa dan menganggukkan kepalanya. Rasanya nyaman sekali seperti ini.

It’s my pleasure, young lady. Hahaha….”

***

“ Aiden, tolong dong jemput Liora ke stadion. Ponselnya ngga aktif, ini sudah larut malam.” Pinta Carrie dari balkon kamarnya yang kebetulan adalah balkon kamar mereka dengan balkon kamar Aiden saling berhadapan begitu dekat.

“ Ayo, tadi ‘kan sudah anterin Liora berarti jemput juga dong.” Tambah Angela yang kebetulan sedang menginap dari rumah Liora dan juga Carrie. Angela merupakan anak kedua dari adik kandung Dennis dan rumahnya pun hanya terpaut sekitar dua blok, sehingga tidak heran Angela terkadang selalu menginap di rumah ‘si kembar’

“ Ah, nanti juga dia pasti sms kalau minta dijemput atau… sms Paman Dennis menjemputnya.” Balas Aiden yang sedang membersihkan bola sepak kesayangannya yang sedikit kotor.

“ Terserah, hanya saja menurut perasaanku kau akan menyesal!” kata Carrie sebal.

Aiden tertawa mengejek, seolah-olah mengabaikan pemikiran Carrie.

“ Jangan ketawa-tawa deh, kalau nantinya bakal mendayu-dayu meraung-raung!”

Tidak lama kemudian, sebuah motor sport berwarna putih tiba di depan pintu rumah Carrie. Refleks Aiden, Carrie, juga Angela menolehkan kepalanya bersamaan dan melihat ke bawah dimana Liora baru saja turun dari motor si pria berhelm.

Who’s the guy?” gumam Carrie.

Di bawah sana Liora terlibat perbincangan sesuatu dengan ‘sosok berhelm’ itu, dan beberapa menit kemudian sosok itu membuka helm di kepalanya. Angela memekik kencang, sebelum mulutnya dibungkan oleh Carrie. Carrie menoleh ke balkon seberang dimana Aiden menatap tajam pemandangan di bawah sana, dan langsung berbalik masuk ke kamarnya menutup jendela balkon dengan kencang.

“ Itu Yunho bukan sih, Car? Yunho anak Korea itu?” ujar Angela berspekulasi.

Carrie bergumam pelan, dan mengiyakan pendapat Angela. Dan lalu menarik lengan Angela masuk ke dalam dan duduk di tepian ranjang, bersikap biasa saja jika tidak lama lagi Liora akan datang ke kamar.

Dari lantai bawah keduanya bisa mendengar ocehan Dennis yang menggerutu mempermasalahkan kepulangan Liora yang cukup larut, ditambah ponselnya yang tidak aktif ditambah dengan balasan alibi-alibi Liora.

Tidak beberapa lama kemudian, keduanya bisa mendengar deru anak tangga yang di naiki secara cepat dan… bruk! Liora membuka pintu kamar dengan kesal, dan langsung saja melempar tas dengan asal kemudian membanting badannya ke ranjang membuat ranjang sedikit berderit.

“ Liora nanti kasurnya rusak!” gerutu Carrie yang nyaris tertimpa badan Liora.

“ Ada apa sih? Lagipula wajarlah kalau Paman marah, salah siapa ngga aktifin ponsel. Buat apa mahal-mahal beli Iphone kalau ngga dipakai untuk komunikasi?” sindir Angela. Liora menolehkan kepalanya, dan mengerucutkan bibirnya.

“ Tadi diantar siapa?” tanya Carrie.

Sesaat kemudian raut wajah Liora langsung berubah menjadi cerah, gadis itu langsung mengubah posisi menjadi duduk di atas tempat tidur dan tersenyum-senyum sendiri.

“ Tadi itu, Yunho. Jangan bilang kalian ngga kenal dia?”

“ Bagaimana bisa kau diantar pulang oleh Yunho—pindahan anak Korea itu?” tanya Angela.

“  Entahlah aku tidak terlalu paham sendiri kenapa aku bisa menjadi begitu dekat dengannya begitu cepat, tapi Yunho itu memang pribadi yang menyenangkan. Dia baik, menghargai orang sangat berbeda menurutku dengan Bryan.” Jelas Liora.

“ Kalau menurutku, Ra. Secepat mungin kau harus minta maaf sama Aiden.” ujar Carrie yang beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu. Sebelum gadis itu membuka pintu dan meninggalkan kamar.” entahlah aku rasa kau harus secepatnya meminta maaf.”

“ Kenapa aku harus minta maaf, Car? Aku—aku rasa, aku tidak melakukan kesalahan kepadanya terus kenapa aku harus minta maaf?” tanya Liora bingung. Gadis itu menatap Angela berharap menemukan jawabannya, sementara yang didapatnya hanya bahu Angela yang mengangkat pelan dan turut menyusul Carrie ke bawah.

“ Carrie benar. Kau harus meminta maaf kepada Aiden. Cepat atau lambat.”

Sepeninggal saudara kembar beserta sepupunya, Liora hanya bisa mendesah kesal dengan apa yang sebenarnya menjadi permasalahan antara dirinya dan juga Aiden. Dan dimana letak permasalahan yang hingga saat ia tidak pahami?

Tiba-tiba Liora mendengar ponselnya bergetar dan berbunyi pesan singka baru. Ia pun menghela napas dan mengambil tas yang secara tidak sengaja ia buang ke sembarang arah dan kini berada di sudut kamar. Dan merogoh ponsel yang terletak di bagian dasar tas.

1 new messages.

            From: 020 8xxxxxx

            Hello, how are you? And… sleep well, Liora. You must take a rest for a while, I think u’re really tired after rehearsal. Thanks for today.

            Sorry, If my English really bad. I can’t speak in English fluently ^^

            -Yunho

Seperti mimpi! Yunho mengirimnya pesan singkat. Ketika ia baru saja akan mengetik pesan balasan untuk Yunho, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan ayahnya sudah berdiri di depan pintu. Dengan panik (sebenarnya ini hal yang tidak perlu dipanikkan) Liora segera menyembunyikan ponselnya.

“ Makan malam sudah siap, ayo ke bawah. Carrie dan Angel sudah makan terlebih dahulu.” ujar Dennis.

Liora menganggukkan kepalanya.

“ Tapi aku mau ganti baju dulu, Ayah.”

“ Baiklah, kutunggu saja di bawah.”

***

Liora tidak menyangka ternyata perkataan Carrie dan juga Angela tentang ia harus meminta maaf kepada Aiden ada benarnya juga. Kurang lebih hampir satu setengah bulan dan memasuki bulan kedua, Aiden mendiamkannya bahkan menjauhinya. Baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dan entahlah, tapi ia merasa itu diawali dengan ketika malam itu ia diantar pulang oleh Yunho—anggota putra basket dari Korea Selatan itu. Hubungan mereka memang ada kemajuan yang pesat. Liora sempat mengira, ia memang benar-benar menyukai Yunho pada akhirnya, tapi… bagaimana ia bisa tenang jika Aiden menjauhinya di sisi lain ia sangat ingin sekali bercerita tentang Yunho kepada Aiden.

Untuk menemuinya saja sangat sulit padahal rumah mereka bersebelahan. Tapi anehnya adalah jika misalkan mereka ada janji (termasuk Carrie dan juga Angela) dan Carrie mengajak Aiden, jika mengetahui kalau Liora ikut serta secara terang-terangan lelaki itu akan menolak.

Masalahnya apa?

Memikirkan ini memang hanya membuang tenaga pikirannya. Gadis itu menoleh ke arah sekitar, dan ternyata tidak jauh berbeda ketika ia datang ke tempat ini sejam yang lalu. St. James Park memang tempat pertapaannya meski ramai dikunjungi oleh masyarakat.

Tiba-tiba seorang lelaki yang memakai hoodie putih yang menutupi seluruh kepalanya, berjalan menunduk melewatinya. Sementara kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantung hoodie. Liora seperti mengenali penampilan seperti itu… itu mirip sekali dengan…

“ Aiden! Tunggu!” teriak Liora berlari menghampiri sosok tadi dan menahan lengan sosok tersebut dengan kencang agar tidak lari darinya. “ Aiden, aku minta maaf kalau yah, aku punya salah padamu.”

Dengan lembut sosok itu melepaskan tangan Liora dan berbalik menghadapnya sembari membuka tutup hoodienya. Aiden menatap Liora dengan dalam, sementara Liora sudah gugup dan tidak berani mengangkat wajahnya.

“ Aku minta maaf. Aku pikir mungkin kau marah padaku, meski aku tidak tahu apa salahku tapi aku minta maaf.”

Aiden, kumohon jangan diam seperti ini.

            “ Kumaafkan.”

Hanya satu kata. Kau yakin?  

“ Terimakasih. Bisakah kita duduk di bangku sana?” Perlahan Liora mengangkat wajahnya, meski Aiden sudah mengucapkan kata ‘kumaafkan’ tadi tapi mengapa rahangnya masih mengeras seperti menahan sesuatu? Dengan canggung keduanya berjalan menuju bangku taman yang berada di bawah pohon yang harusnya rindang jika di musim semi.

“ Aiden, aku ingin memberimu ini.” Liora meraih tangan Aiden dan membuka telapak tangannya menaruh sepasang sarung tangan rajut berwarna biru muda dengan gambar Nemo di bagian atasnya. Aiden menerima benda tersebut dengan canggung. “ waktu ke Manchester kemarin, aku mampir ke toko rajut dekat rumah nenekku. Dan aku menemukannya, kukira mungkin kau akan menyukainya warna laut seperti kau menyukai laut dan isinya.”

Aiden mencengkeram pemberian itu dengan erat. Tidak lama kemudian senyum indah mengembang di bibir Aiden, senyum tulus yang selama ini selalu ia tunjukkan.

“ Terimakasih, Ra. Hangat .” ujarnya.

Seperti beban yang selama ini menumpu di pundaknya, terangkat dengan mudah begitu saja ketika Aiden tersenyum terlebih ketika ia langsung mengenakan sarung tangan pemberiannya.

“ Bagaimana hubunganmu dengan Yunho? Ku—kudengar kalian akhir-akhir ini dekat?” tanya Aiden. Liora cukup terkejut, ternyata Aiden sudah mengetahuinya. Liora hanya mengangguk pelan, meski

“ Iya, kami cukup dekat. Tapi hanya sebatas teman saja. Aku berharap, kami akan lebih dari sekedar sahabat. Tapi tampaknya tidak.” ujar Liora lirih.

“ Kenapa? Kurasa kalian cocok.”

“ Dia masih menyukai mantan kekasihnya itu,  kalau tidak salah namanya Sangmi. Gadis Korea juga, ia meninggalkannya di Seoul sebelum ia berangkat ke London. Yunho masih mencintai Sangmi, dan akan sulit bagiku untuk masuk sedikit ke dalam celah hatinya.”

“ Tapi itu ‘kan masa lalu. Kau sendiri yang bilang, Yunho yang meninggalkannya.”

“ Tidak. Sekali waktu aku pernah bertanya kepadanya, ‘ apa yang akan kau lakukan jika ada seorang gadis yang menyukaimu?’ dan kau tahu apa jawabannya? Ia menjawab,’ tidak. Dia tetap akan menerima perasaan gadis itu, hanya untuk sekedar menghargainya. Ia tidak menjauh dari gadis itu ataupun menghindar juga jaga jarak. Dan ia akan mengatakan ada seorang gadis yang ia cintai, dan… yah kau bisa tebak sendiri, Aiden.”

Aiden tersenyum. Senyum yang menguatkan.

“ Untuk saat ini mungkin jadilah teman dan sahabatnya dia. Meski kau harus menelan pil pahit.” kata Aiden. Tidak disangka ia akan merangkul Liora dengan lembut, dan menariknya ke dalam dadanya. Liora menarik napas, ia tidak ingin menangis sekarang,

Meski dalam hati ia ingin sekali menangis pada nyatanya ia tidak bisa itu—disebabkan karena ada Aiden sekarang. Liora mengakui memang Aiden-lah yang selama ini menopangnya. Parfum Bvlgari kesukaan Aiden memenuhi penuh ruang-ruang indera penciumannya menjadikan aroma paling menenangkan yang pernah Liora cium, selain ayahnya.

“ Aku ingin sekali menjenguknya sekarang, tapi… aku rasa tidak bisa.” ucap Liora.

“ Kenapa?” tanya Aiden yang masih mempertahankan posisi seperti ini.

“ Yunho sedang dirawat inap karena Hepatitis A, aku ingin sekali menjenguknya tapi malu juga aku siapanya dia?”

“ Menjenguk seseorang tidak harus dengan titel Who You Are, menjenguk itu perbuatan terpuji dan tidak memikirkan kau siapanya dia, jika itu niat baik lakukan saja. Atau aku yang menemanimu?” ujar Aiden sembari melepaskan pelukannya. Liora mengerjapkan-japkan kedua matanya.

“ Sekarang?”

Aiden mengangkat bahu pelan.

“ Kalau kau mau sekarang, tidak apa-apa. Aku siap kapan pun, semakin cepat lebih baik. Orang sakit jika dijenguk akan merasa senang, Ra.”

Liora terlihat ragu.

“ Baiklah, sekarang saja.” katanya. Aiden tersenyum dan mengacak-acak rambut Liora dengan gemas—hal yang selalu dan sering dilakukannya—meski membuat rambutnya berantakan Liora senang diperlakukan seperti itu, itu menandakan Aiden sayang kepadanya.

***

@St. Marry London Hospital.

“ Terimakasih, Ra sudah menjengukku. Dan juga Aiden, terimakasih.” ujar Yunho pelan. Liora tersenyum sementara Aiden mengangkat jempol tangan kanannya. Tidak lama Aiden menepuk pundak Liora pelan, dan berjalan keluar ruang inap seolah ingin memberikan privasi bagi Liora dan juga Yunho.

Sungguh mengenaskan bagi Liora. Yunho dalam keadaan terbaring lemah seperti ini, karena penyakit ini hampir seluruh tubuh Yunho menguning dan selang-selang yang Liora tidak tahu fungsinya itu terpasang dengan tegas di beberapa bagian tubuhnya. Berbeda sekali dengan Yunho yang selama ini ia kenal sebagai sosok yang tangguh dan jarang sakit.

“ Kau pasti jijik melihatku seperti ini.” ujar Yunho.

“ Tentu saja tidak, untuk apa aku harus seperti itu?”

“ Tidak, mungkin selebihnya aku berpikir yang menjengukku pasti berpikiran yang sama. Kasihan, jijik, dan sebagainya.”

“ Sempit sekali pemikiranmu. Kau baik-baik saja?”

Yunho mengangguk pelan, dan tersenyum.

“ Ra, Sangmi sedang dalam perjalanan menuju London. Ibuku yang memberitahunya, ibu memang belum tahu tentang hubunganku terakhir dengan Sangmi. Dan yah tentu saja itu membuat Sangmi ketakutan dan langsung memesan penerbangan menuju London. Aku takut, Ra.”

“ Takut kenapa? Apa yang kau takutkan? Harusnya kau senang, Yunho. Dengan itu sudah terbukti jelas Sangmi mengkhawatirkanmu, itu tandanya ia masih menyayangimu. Kau harusnya senang, Sangmi tidak lama lagi akan kemari dan mensupport kesembuhanmu.”

Yunho menggeleng pelan. Andai saja Yunho tahu, pernyataannya membuat perasaan Liora sakit. Dan setengah mati ia menahan agar nadanya biasanya saja, dan menawan air matanya agar tidak jatuh. Andai ia tahu.

“ Itu membuatku akan terlihat lemah dimatanya, aku tidak ingin terlihat seperti itu. Aku senang memang, hanya… yah banyak hal yang sangat sulit kukatakan padamu.  Maaf.”

“ Tidak apa-apa, tidak semuanya kau bisa mengatakannya padaku kau masih memiliki privasi yang seharusnya tidak aku ketahui.”

Tiba-tiba pintu kamar Yunho terbuka dan seorang gadis mungil dengan penampilan khas orang Asia memasuki kamar dengan tergesa-gesa dan tentu dengan raut wajah yang khawatir dan cemas meski gurat-gurat kelelahan yang tidak dapat disembunyikan. Liora tahu siapa gadis itu… Sangmi.

Neo gwaencahanyo?” ujar gadis itu berbicara dalam bahasa Korea yang tidak dimengerti Liora. Yunho tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan pelan sekali.

Gwaenchana. Dangsineun maeu pigonhaeyahabnida. Nameojineun neomu jasin-eul hogsahamyeon an dwaeyo. Nan gwaenchanh-eulgeoya. (1)

Baboya! Nan babo geokjeong haejuneungeoya! Geoui michyeossdago!(2)” Gadis itu menangis seraya memukul pelan bahu Yunho, “ Babo! Yunho ya, neo sarami baboya!” Liora tersenyum getir. Tanpa sempat pamit ia lebih baik meninggalkan ruangan ini segera mungkin.

Diluar Aiden sudah menunggunya dan langsung beranjak dari bangku. Liora menutup mulutnya erat-erat meredam tangisannya. 2 kali sudah ia patah hati. Aiden terhenyak, dan langsung memeluk gadis itu.

***

April, 29th 2011.

Hari ini adalah hari yang bersejarah bagi Kerajaan Inggris, dimana sang calon pewaris tahta Pangeran William akan mengikat janji dengan seorang gadis sipil, Catherine Middleton di Westminster Abbey. Seolah ingin menjadi bagian dari sejarah Inggris di kemudian hari, Angela, Carrie, dan juga Liora sudah bersiap-siap untuk berangkat menuju Hall, di sepanjang jalan menuju Gereja Anglikan tersebut.

Mereka ingin melihat langsung prosesi perkawinan calon raja dan ratu Inggris di masa mendatang. Hari ini dijadikan hari libur nasional, oleh sebab itu mereka menjadi lebih leluasa. Sejak pagi hari mereka semua sudah bergegas menuju Hall, hanya Aiden mungkin lelaki di antara ketiganya.

Suasana semakin riuh ketika sang mempelai pria sudah datang didampingi oleh adik lelakinya—Pangeran Harry. Carrie melonjak-lonjak girang, dan berusaha untuk berjinjit berharap bisa melihat lebih jelas pangeran single yang ia harap bisa ia ‘gaet’ di kemudian hari.

Aiden hanya mengangguk-angguk mengerti dan melipat kedua lengannya di dada dengan tingkah ketiga gadis freak kerajaan. Terkadang sesekali ia berteriak kencang ketika rombongan anggota kerajaan yang lain berdatangan. Puncaknya ketika Pangeran William mengucapkan janji setianya di depan Uskup Canterbury, ketika pangeran menatap sang mempelai dan keduanya saling bertautan membuat jeritan ketiganya semakin kencang.

“ Ih, Aiden… romantis sekali!” puji Liora.

“ Ah, Kate… you’re a lucky girl!

“ Harry, akan kubuat kau jatuh cinta padaku!” Aiden langsung tertawa kencang ketika mendengar ucapan Carrie dan langsung menjitak kepalanya dengan gemas.

“ Jangan. Ada yang cemburu nanti.”

“ Siapa?”

“ Temanku.”

Carrie mengerucutkan bibirnya, dan langsung kembali dengan euforia pernikahan yang dijuluki terbesar abad 21.

Hingga akhirnya acara prosesi pernikahan sudah selesai, dan keempatnya pulang ke rumah masing-masing yang pada akhirnya mereka terpaksa berjalan kaki karena nyaris seluruh jalanan kota London di tutup untuk kendaraan umum, hingga jalanan yang biasanya disesaki oleh mobil-mobil berganti dengan jutaan manusia.

Carrie dan Angela—keduanya berjalan terlebih dahulu di depan. Sementara Aiden dan juga Liora keduanya berjalan bersamaan menuju rumah. Diam. Itulah yang mengisi perjalanan mereka.

“ Suatu saat nanti aku pasti akan menemukan pangeranku, pangeran yang mencintaiku. Yang menjadikanku putrinya, pangeran yang hanya tercipta untukku.” Gumam Liora seraya menerawang ke arah langit malam yang hanya dipenuhi beberapa buah bintang.

“ Dan aku berharap aku lah pangeran itu.” balas Aiden. Kontan saja Liora menolehkan wajahnya dengan kaget, dan meminta Aiden menjelaskannya lebih jauh.

Jawaban yang diterimanya hanyalah gelak tawa Aiden yang cukup keras, sebelum akhirnya ia menjadi serius kembali.

“ Aku serius.”

“ Maksudmu?”

“ Kalau aku jujur, apa kau akan menerimanya?”

“ Jujur? Aiden, maksudmu ini apa?”

“… Aku menyukaimu.. ah, bukan mungkin lebih tepatnya aku mencintaimu.”

Liora terdiam.

“ Ba—“

“ Terdengar cukup aneh, dan… hanya kaulah orang terakhir yang mengetahui perasaanku. Carrie dan Angela sudah mengetahuinya cukup lama, hanya aku baru cukup berani mengatakannya.”

“ Aiden—“

Belum sempet Liora melanjutkan kalimatnya, Aiden sudah terlebih dahulu membungkamnya dengan ciuman singkat. Singkat namun… itulah first kissnya yang kini sudah diambil oleh Aiden. Liora terpaku, seolah kedua kakinya begitu kuat tertancap oleh gravitasi bumi di bawahnya.

Aiden tertawa.

“ Maafkan aku, untuk merebut first kissmu. Tapi aku hanya ingin, kau tahu perasaanku daripada aku harus menyimpannya terlalu lama.”

Liora tersenyum. Selama ini memang Aiden lah yang selalu menemaninya, selalu menguatkannya, dan dialah obat rasa sakit hati Liora selama ini. Ternyata mungkin ia sudah mengabaikan seseorang yang selama ini menyayanginya.

“ Aiden~~~” ujar Liora yang langsung berlari memeluk Aiden seerat  mungkin. Rangkulan Aiden memang menenangkan, dan itulah yang ia inginkan. Ketenangan. Dan Aidenlah yang memberikannya.

So, bagaimana kalian menemukan cinta sejati kalian?

            –END-

6 thoughts on “[FF] True Love”

  1. agak ga adil, liora nyariin aiden cuman mau cerita..
    kesannya, dia cuman nyari klu lgi btuh..

    oiya, sering banget deh baca ff yg nulis parfum hae itu bvlgari, emang iya ya? #oot

    1. iya hehe kan ceritanya Lioranya ga ngeh kalo Aiden ternyata suka sama dia dari dulu hehe
      eum, ga juga sih itu emang authornya yang suka sama wangi parfumnya hehe ^^
      makasih udah baca dan udah komen juga🙂

    1. gomawo kay hehe
      iya Aiden sama Liora dan Marcus sama Carrie kekeke~
      eum harusnya sih ada tapi berhubung authornya lagi sibuk jadi mungkin ga ada sequelnya hehe ^^v
      tapi mungkin bisa jadi sequelnya dibuat ko hehehe
      gomowo udah baca dan komen hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s