[FF] Life part 3 -END-

Title: Life 

Author: Liora Lee and Carrie Cho.
Rating : PG+16 / straight.
Casts  : Lee Donghae, Cho Kyuhyun (Super Junior) and OC.
Genre  : Romance, Friendship, Family, AU, Angst, PG.
Length : Chaptered.
Part: 3 of 3

Disclaimer : The characters in this story is the character of their own with a bit of my imagination and this story is only a fiction. So don’t sue me. Do not copy paste this fics without any permission from author.

A/N :
– I created this story with my chairmate and this story was publishen on her blog too.
– You can find other cast when you read this story.
– This part will be as the longer part. We really supposed to be this chapter must be finish. Sorry if you will tired when you read this chapter.
– Don’t forget to give your comments.

READ THE PREVIOUS CHAPTERED HERE.

**

**

Mencintaimu itu adalah salah satu kebodohan dan kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan. Tapi anehnya aku tidak menyesali kesalahanku, bukankah itu kesalahan yang indah, karena aku… mencintaimu?

Aiden Lee

Previously…

“ Jangan memaksakan diri, Ra. Aku minta maaf, jika aku punya kesalahan tanpa aku sadari.” ucap Aiden menatap Liora lekat. “ apa kau membenciku juga, karena aku dekat dengan salah satu musuhmu—Carrie?”

“Kau harus tahu Aiden, itu urusanmu mau dekat dengan siapapun. Biarkan aku hidup dengan caraku sendiri karena aku bukan Liora Kim. Aku berbeda dengan Liora Kim jadi kau tidak perlu mengurusi urusanku lagi karena sekarang kita berbeda.”

Aiden diam menatap gadis itu. Kenapa kau Liora?—batin Aiden. Ia sungguh ingin merengkuh gadis ini dalam pelukannya. Ia ingin melihat Liora-nya yang dulu. Yang selalu tersenyum tulus, tidak angkuh dan penyayang. Liora-nya yang sekarang dan Liora-nya yang dulu benar-benar berbeda.

“Urusan kita sudah selesai. Permisi.” ucap Liora datar lalu meninggalkan Aiden yang menatap kepergian gadis itu.

“ Plester itu diusahakan jangan dibuka, hingga kau benar-benar merasa sembuh.” ucapnya sesaat sebelum ia benar-benar meninggalkan Aiden.

Kini, ia benar-benar kesepian. Sendiri. Betapa malangnya, bukan?

**

“ Auuw, bisa ngga sih pelan-pelan? Sangat perih!” gerutu Carrie seraya menepak lengan Marcus yang sedang sibuk membersihkan lukanya. Marcus mengangkat wajahnya dan berdesis.

“ Tahan, oke? Jangan manja, tahan, sementara toh sakitnya juga ngga selamanya.” sahut Marcus santai. Carrie menggigit bibir bawahnya berusaha menahan kesal. “ inilah akibatnya kalau berlaga sok pahlawan, melerai orang berkelahi pada kenyataannya malah jadi korban. Sungguh ironis.” sindir Marcus.

Carrie menggerutu kesal, sementara kedua tangannya mengepal dengan keras. Kalau saja pria itu bukanlah orang yang sedang membantunya membersihkan luka, mungkin sudah ia habisi semenjak tadi. Marcus berjalan dengan santai menuju sebuah lemari di pojok ruang kesehatan, mengambil alkohol serta beberapa kapas, juga plester.

Gadis itu mengangkat lengan kanannya yang terluka cukup parah karena ia sempat terantuk batu besar dengan pinggiran yang cukup tajam, dan ia merasa seperti ada tulangnya yang bergeser dari tempatnya. Sungguh sangat sakit.

“ Kemarikan lenganmu.” ujar Marcus ketus.

“ Untuk apa? Kau mau menyiksaku lebih lama? Anni, aku ngga mau.” Gadis itu memeluk lengannya, menutupinya dari Marcus. Ia berusaha menahan perih ketika kulitnya yang terluka bergesekkan dengan serat nilon bajunya.

Marcus tersenyum sinis. Carrie tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih meski agak kurang rapih itu.  Pria itu mendesis kesal, dan dengan paksa menarik lengan gadis itu. Carrie nyaris saja menggigit lengan pria itu kalau saja Marcus tidak menahannya.

“ Tuh, ‘kan! Kau itu nyaris seperti pembunuh—pembunuh berdarah dingin, sakit sekali… kalau mau menolong pelan-pelan doong!” gerutu Carrie kesal. Marcus tersenyum sinis, dan kemudian menoyor kepala gadis itu dengan gemas.

“ Jangan banyak bicara pahlawan kesiangan!”

“ Siapa sih yang pahlawan kesiangan! Maksudmu, aku? Aku hanya mau menolong sahabatku kok tadi, Aiden—dia butuh bantuan, well sebenarnya salah dia sendiri mencari masalah dengan Andrew, tapi tetap bagaimanapun aku harus menolongnya. Jangan-jangan kau itu tidak mengenal kata menolong ya?” sindir Carrie. Marcus mengangkat wajahnya dan berdesis kasar.

“ Aiden itu orangnya baik, dan juga perhatian, beda banget ya sama—“

Tiba-tiba dengan kasar Marcus membanting mangkuk berisi air hangat bekas membersihkan luka dengan kasar. Dan membuka bungkus plester dengan kasar, kemudian menarik lengan Carrie kemudian menempelkan plester dengan kasar.

Carrie hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dengan kesal, sementara pria itu membereskan peralatan yang tidak Carrie kenal itu ke dalam kotak kaca yang menggantung di dinding. Gadis itu hanya bisa melipat kedua lengannya di dada, dan kemudian Marcus menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam.

“ Kau liat aku kayak ketemu mafia, seram sekali tatapanmu. Aku ini gadis baik-baik, dan rasanya aku tidak pantas kalau kau tatap seperti itu. Seperti penghinaan, kau tahu itu.” ujar Carrie. Marcus hanya mendengus, dan mendekati ranjang kemudian duduk di pinggirnya. “ apa? Kenapa kau tidak memukulku?”

“ Kenapa kau begitu menyebalkan, huh?” ujar Marcus. Alis gadis itu bertaut satu sama lain, dan menunjuk dirinya sendiri.

“ Sebenarnya yang menyebalkan itu siapa? Aku atau kau? “ Carrie berbalik tanya dengan kesal. Marcus mendesis kesal, dan menatap gadis tersebut dengan tajam. Menghadapi Carrie memang harus disertai dengan kesabaran.

“ TERSERAH!” bentak Marcus kesal seraya melempar serbet yang ia pegang ke arah Carrie. Gadis itu hanya mendesis kesal. Sungguh benar-benar…. Sangat menyebalkan!

==

“ Carrie! Kau tidak apa-apa, ‘kan?!”

Tiba-tiba saja Aiden membuka pintu UKS dengan tergesa-gesa dan bergegas menghampiri Carrie. Aiden menundukkan kepalanya, sementara kedua tangannya menumpu juga napasnya yang tersengal-sengal seperti sehabis berlari.

“ Aku baik-baik saja, kok. Hanya luka kecil disini dan disini, bukan masalah besar.” ujar Carrie sembari tersenyum menunjuk plester di lengan kanannya, dan juga di pelipisnya. Gadis itu berusaha bangkit dari tempat tidur, dan duduk bersila di atasnya

“ Tapi tetap saja semuanya ini karena aku, secara tidak langsung aku yang menyebabkannya. Tanpa sadar tadi aku mendorong kau bukan?” ucap Aiden, ia meraih tangan Carrie dan menggenggamnya dengan erat. “ maafin aku, ya.”

Carrie tersenyum. Tangannya terangkat dengan pelan dan mengelus-elus pipi Aiden dengan lembut, kemudian menelungkupkan tangannya di atas tangan Aiden.

“ Kau belum bilang minta maaf ke aku pun, aku sudah memaafkannya kok.”

Marcus menggigit bibir bawahnya sementara kedua tangannya sudah terkepal dengan sangat keras. Ia segera menyambar tasnya dengan tidak sabar, dan berdehem dengan sangat kencang membuat Carrie dan Aiden sontan menoleh ke belakang. Carrie menatap Marcus dengan malas, membuat pria itu sangat ingin menyumpal mulutnya saat itu juga.

“ Hey, Marcus, tunggu!” ujar Aiden tertahan, dengan enggan Marcus membalikkan badannya dan mendongak.

“ Ada apa?”

Thanks, sudah ngebantu Carrie tadi dan juga ngobatin lukanya.”

Marcus mengangguk pelan meski terlihat dengan sangat jelas dari raut mukanya yang keliatan kesal atau apalah semacam mood buruk.

“ Ada yang lain lagi?”

Aiden menggeleng pelan sembari mengangkat bahunya.

“ Kurasa tidak.”

Pria itu mengangguk pelan, dan kemudian berbalik untuk meninggalkan keduanya. Aiden menoleh ke belakang—tepatnya Carrie yang sedang mengusap plesternya dengan pelan dan kemudian berganti menatap Marcus yang sudah menutup pintu ruang kesehatan.

Hingga akhirnya terbesit sesuatu dalam benaknya hingga ia berlari mengejar Marcus meninggalkan Carri yang berteriak memanggilnya di belakang.

“ Marcus! Tunggu!” Aiden berteriak sekencang mungkin dan berlari sekuat yang ia bisa untuk mengejar Marcus (yang ternyata) jalannya sangat cepat juga. Ia menahan lengan kanan Marcus dengan kencang. “ tunggu!” ucapnya tersengal-sengal.

Marcus menoleh dan menghembuskan napas kesal dengan kasar ia melepaskan cengkeraman Aiden dan melipat kedua lengannya di dada.

“ Apa lagi? Kau sendiri yang bilang sudah tidak ada urusan lagi denganku.” gerutu Marcus.

Aiden tersenyum dan menepuk pundak Marcus dengan pelan.

“ Awalnya sih iya, aku ngga ada urusan lagi tapi setelah kupikir rasanya aku masih punya urusan denganmu. Mengapa tidak sekalian saja kau antar Carrie ke rumahnya, huh?”

Marcus merubah posisi berdirinya menjadi lebih rileks, kedua matanya menyipit menatap Aiden dengan tatapan seolah berkata, ‘apa-kau-ini-sudah-gila?’ sementara Aiden hanya menggeleng pelan dan kemudian tertawa kencang.

“ Jangan bodoh, aku ini juga pria dan aku juga bisa merasakan hal yang sama sepertimu, Marcus. Ok, sekarang kau temui Carrie di ruang kesehatan dan jaga dia sampai rumahnya ya. Aku percaya kok, meski yah… aku baru mengenalmu.” ujar Aiden yang menyampirkan tasnya di bahu sembari menepuk pundak Marcus kemudian berjalan santai meninggalkan Marcus di koridor kampus.

Marcus menoleh dan menyipitkan kedua matanya menatap Aiden yang semakin menjauh. Apa yang sudah Aiden lakukan? Dan bagaimana bisa?

“ Aiden mana?! Bukannya tadi Aiden mengejar kau?”

Tiba-tiba suara cempreng milik Carrie bergaung di telinganya. Ia membalikkan badannya dan dilihatnya gadis itu berjalan pelan menghampirinya seraya menahan lengan yang dibebat sementara tasnya di kalungkan di lehernya.

“ Jangan bilang… dia pulang duluan?”

Marcus tersenyum seraya mengangguk pelan.

“ Ish, anak itu!” desis Carrie sebal.

Dengan satu tangannya yang bebas yang berusaha membuka risleting tas yang dikalungkannya untuk mengambil ponsel, dan kemudian menekan beberapa nomor yang kini sudah ia hapal.

“ Sia-sia saja kau telepon dia.” kata Marcus yang mengambil paksa ponsel Carrie bahkan melepaskan baterai ponselnya. Sangat enak sekali melepaskan penutup belakang ponsel dan melepas baterainya.

Carrie melototkannya matanya ketika pria itu merusakannya ponselnya terang-terangan, dan kemudian membuka telapak tangannya menaruh ponsel yang sudah terlepas baterainya.

“ K—kau! Kenapa dilepas baterainya! Ini ponselku, jangan seenaknya lepas-lepas baterai ponsel orang dong! Kalau nanti rusah gimana? Harus ganti kalau saja nanti rusak!” gerutu Carrie yang bersusah payah memasukkan baterai ponselnya dengan satu tangan.

Gadis itu berjongkok berusaha memasukkan kembali baterai ponselnya yang gagal terus karena tentu saja ia hanya memakai tangan kiri—ia punya kelemahan menggunakan tangan kiri. Marcus hanya mengigigit bibir bawahnya tidak tahu harus berkata atau melakukan sesuatu dengan gadis di depannya ini.

Hingga kesabarannya habis, Marcus pun membalikkan badannya berjalan melenggang menyusuri koridor kampus meninggalkan Carrie di belakangnya.  Setelah bersusah payah memasukkan baterai dan kemudian menyalakan ponselnya lagi, gadis itu pun kembali bangkit berdiri dan yang diliihatnya hanyalah punggung Marcus yang semakin menjauh darinya.

Sekilas Carrie melirik ke arah jam digital ponselnya, sudah terlalu sore. Gadis itu meghentakkan kakinya dengan kesal, sebelum akhirnya pasrah dengan mengejar Marcus yang sudah sangat jauh.

“ Marcuuus, tunggu!” pekiknya kencang.

Carrie yang awalnya berlari kencang menyusul Marcus begitu sudah di dekat pria itu justru tidak dapat mengontrol keseimbangan tubuhnya. Niatnya berhenti tepat di belakang Marcus dan menahan lengannya justru meleset hingga akhirnya ia memeluk Marcus dari belakang. Sesaat Marcus terdiam ketika kedua lengan kecil yang memeluk pinggangnya dengan erat dan merasakan napas tersengal-sengal di belakang punggungnya.

Ia melirik ke kedua tangan yang memeluknya dan melepaskannya dengan kesal. Meski pada detik kemudian sedikit ia sesali. Marcus menatap Carrie tajam, sementara gadis itu sudah bersimpuh di depannya seraya memegang ulu hatinya.

“ Kau… jal-jalannya cepat sekali!” ujar Carrie tersengal-sengal. Gadis itu mendongakkan wajahnya menatap pria di depannya dengan sebal. “ kau tidak bisa dengar kalau aku berteriak sebegitu kencangnya di belakangmu, huh?”

Marcus tertawa sinis dan menundukkan badannya menatap gadis itu lebih dekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Refleks Carrie mengangkat kedua tangannya menutupi kedua pipinya yang tiba-tiba memanas, melupakan rasa sakit akibat luka tadi.

“ Ada urusan apa, nona?” kata Marcus pelan sekali; seperti berbisik.

Begitu pelan hingga hanya gadis itu saja yang dapat mendengarnya. Carrie menggelengkan kepalanya dengan pelan ketika dalam penglihatannya wajah Marcus menjadi berbayang-bayang dan begitu banyak dalam kepalanya.

Ya! Kau baik-baik saja?” ujar Marcus panik ketika gadis itu tidak meresponnya. Sesaat kemudian saat gadis itu kembali dalam kesadarannya, ia pun menarik napas lega.

“ Kau sangat menyeramkan.”

“ Hah? Aku? Menyeramkan?” ujar Marcus tidak percaya seraya menunjuk dirinya sendiri.

“ Kau mau kemana habis dari kampus?” tanya Carrie seperti berusaha mengganti topik.

Marcus mengangkat badannya; berdiri tegak di depan Carrie yang masih nyaman dengan posisi bersimpuhnya seraya memasukkaan kedua tangannya di saku celana jeansnya.

“ Aku mau pulang. Kenapa?”

Gadis itu tersenyum lebar dan dengan semangat bangkit berdiri, “ Kalau begitu antarkan aku ke rumah yah? Aiden ‘kan sudah pulang aku agak malas juga naik kendaraan umum. Mau ‘kan?” pinta Carrie dengan nada sedikit memohon.

“ Kalau aku ngga mau?”

“ Ya harus mau!”

Gadis itu mengusap-ngusap kedua telapak tangannya seperti orang memohon pertolongan. Marcus mengerucutkan bibirnya dan mengangguk pelan.

” Serius? Ahh~ makasih!” ujar Carrie kegirangan dan hingga tanpa sadar ia memeluk Marcus dengan erat seraya tertawa bahagia.

Marcus memejamkan kedua matanya berusaha untuk mengontrol perasaannya yang sudah tidak beraturan lagi. Tadi Carrie memeluknya dari belakang dan sekarang gadis itu memeluknya terang-terangan hanya karena ia menyetujui untuk mengantarkannya pulang. Meski sebenarnya memang itu yang akan ia lakukan sebelum gadis itu meminta bahkan memohon kepadanya.

“ Aish, jangan berlebihan, Carrie! Ini masih di kampus!” gerutu Marcus kesal yang dengan kasar melepaskan dan menjauhkan Carrie darinya. Gadis itu hanya menutup mulutnya berusaha menahan tawa.

“ Ups, sorry. Aku—aku ngga maksud, kok.” ucap Carrie pelan.

Marcus mengangguk kepalanya pelan dan kemudian menarik lengan Carrie bersamanya.

“ Sudah, ayo pulang. Aku ada jadwal tanding game bentar lagi!” jelas Marcus.

Carrie hanya mengangguk pelan meski ia tahu pria itu tidak akan menoleh ke belakang hanya untuk sekedar melihat anggukan kepalanya. Gadis itu tersenyum lembut. Bahagia lebih tepatnya.

Berada di dekat Marcus memang lebih banyak menyebalkan karena sifat pria itu yang menyebalkan, cuek, dan semaunya. Tapi di sisi lain di luar sifat menyebalkan Marcus, berada di dekat Marcus membuatnya begitu nyaman; sangat nyaman.

==

Aiden menarik napas panjang seraya mencari tempat yang bisa didudukinya di halte bus tidak jauh dari kampus. Sekali lagi ia menarik napas panjang, bus hijau itu sudah tiba di halte ketika ia baru saja duduk di bangku halte namun untuk kali ini ia membiarkannya. Ia ingin mengulur waktu selama mungkin.

Apakah waktu itu benar-benar dapat mengubah pribadi seseorang?

Jika memang benar, kalau begitu waktu begitu kejam. Karenanyalah sahabatnya—sosok yang sangat ia sayangi menjadi begitu sangat berubah. Begitu berbeda dengan sosok yang sangat ia kenal, bahkan ia mengenal gadis itu jauh lebih lama dibandingkan dengan waktu yang memisahkannya dengan gadis itu.

“ Ra, aku kira setelah datang ke Seoul dan bertemu denganmu kita bisa bersama seperti dulu. Menghabiskan waktu bersama, bercerita tentang waktu yang selama ini kita lewatkan bersama-sama. Aku kira segalanya akan berjalan sesuai dengan harapanku—harapan yang membawaku kemari.” desah Aiden panjang.

Pria itu memejamkan kedua matanya untuk sekedar menikmati angin sore yang menggelitik lehernya ketika angin menyibakkan rambutnya menjadi sedikit berantakan. Ketika ia membuka matanya daun-daun yang berwarna kecoklatan bertebaran ketika angin membawa mereka membuat jalanan Seoul menjadi kotor karena daun-daun yang lepas dari dahannya seiiring dengan bergulirnya musim dingin yang tidak lama lagi.

Mengisi waktu kosongnya sejenak ia membuka tasnya dan merogoh ponselnya. Aiden tersenyum geli ketika melihat kontak Carrie memenuhi panggilan tidak terjawab. Ia mengedikkan bahu dan kemudian memencet tombol hijau bergambar telepon itu dan kemudian menaruh ponselnya di pinggir telinganya. Tidak lama sambungan pun tersambung.

Yeboseyo, ah, Aiden!” Suara Carrie memekik dari seberang telepon membuatnya sedikit menjauhkan ponselnya dan kemudian mendekatkannya lagi. “ Aiden, a—“

TUUUUUUT….

Belum sempat Aiden menjawab telepon Carrie, tiba-tiba saja sambungan terputus dan ketika ia menelepon gadis itu sekali lagi hasilnya nihil. Tidak aktif. Apa yang terjadi?

“ Carrie bersama Marcus, ‘kan?” gumamnya pelan.

“ Oh, baiklah mungkin kalau sudah sampai di flat akan ketelepon lagi. Huh, dasar pria pengecut kalau suka ya kenapa ngga bilang secara langsung saja.”

Aiden pun memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas seraya menghembuskan napas kasar. Ia bosan. Namun tiba-tiba ia teringat sesuatu, meski itu hanya sebuah plester tapi baginya nilainya sebuah plester itu tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan… seseorang yang memberikannya plester. Ia tersenyum kecut.

“Kau harus tahu Aiden, itu urusanmu mau dekat dengan siapapun. Biarkan aku hidup dengan caraku karena aku bukan Liora Kim. Aku berbeda dengan Liora Kim jadi kau tidak perlu mengurusi urusan ku lagi karena sekarang kita berbeda.”

Aiden memejamkan kedua matanya. Rasanya perih. Ada sesuatu yang menghujam dadanya begitu tajam, meninggalkan sebuah luka yang begitu besar tapi anehnya luka sebesar itu tidak terlihat—kasat mata.

“ Ra, kau memang benar. Kita sudah memiliki kehidupan masing-masing sekarang. Aku dan Kau sekarang sudah bukan anak kecil yang memiliki pemikiran konservatif, kita sudah dewasa dapat menentukan pilihan kita sendiri—menilai pilihan yang baik dan juga salah. Pilihan yang buruk dan benar.”

Sekali lagi Aiden menarik napas dan menghembuskannya dengan kasar. Dari kejauhan ia melihat bus hijau sedang melaju menuju halte yang ia duduki—dan ini sudah bus yang ke tujuh yang melewati halte ini. Sudah waktunya pulang sebelum malam. Ia pun beranjak dari kursi dengan enggan berjalan beberapa langkah ke depan halte menunggu bus hijau tersebut.

“ Baiklah, mulai saat ini dan ke depan, aku… aku… akan memperlakukanmu sebagai Liora Park, bukan lagi Liora Kim—sahabat masa kecilku.”

==

Marcus mendengus kesal sesekali ia melirik ke sosok yang duduk di bangku samping kemudi.  Sepanjang perjalanan menuju rumah gadis itu hanya diisi dengan kekosongan tanpa pembicaraan. Hingga akhirnya ia sudah tidak sabar, dan menggertak gadis itu dengan kesal.

“ Kau kenapa? Sakit? Ada masalah, huh?”

Carrie yang sejak tadi hanya menyenderkan kepalanya dengan malas ke kaca jendela seraya memerosotkan tubuhnya di kursi dengan kedua tangan melipat di dada. Gadis itu menoleh kesal dan berusaha bangkit dengan susah payah karena ia benar-benar nyaman posisi tadi meski punggungnya sedikit pegal karenanya. Carrie memincingkan bibirnya dengan kesal.

“ Ada masalah? Kau bilang ‘ada masalah’, ngga sadar? Marcus, Kau ngga sadar tadi  berbuat apa?! … mematikan teleponku sama Aiden, dan lagi, merusak ponselku tahu ngga!” bentak Carrie kesal.

Marcus menoleh dengan malas dan tertawa sinis membuat Carrie semakin kesal. Sungguh menyesal ia meminta bantuan pria di sampingnya ini  untuk menumpang mobil.

“ Semauku dong, ini mobilku dan jadi aku bebas melakukan apapun. Dan termasuk aku ngga suka kau telepon berlebihan dengan pria itu.”

Carrie hanya melongo mendengar jawaban singkat sekaligus menyebalkan itu, dan dengan kesal ia memukul bahu Marcus dengan kesal membuat Marcus yang sedang mengemudi menjadi kehilangan arah hingga akhirnya ia pun menepikan mobilnya di pinggir jalan.

Ya! Kau mau kita mati, hah?! Aku sedang menyetir, bodoh!” teriak Marcus dengan kencang dan menoyor kepala Carrie dengan kesal.

Dengan lagak sombongnya Marcus menepuk pundaknya dan kemudian menyalakan mobilnya lagi melanjutkan perjalanan.

Carrie nyaris menangis. Sungguh baru kali ini menemukan pria se-menyebalkan seperti Marcus. Dengan kesal ia memutar-mutar kenop pintu mobil berusaha ingin keluar, Marcus menoleh dengan tangan kirinya ia menarik lengan Carrie dan mencengkeramnya dengan erat. Carrie berusaha melepaskan cengkeraman Marcus dan menggigitnya dengan kencang.

“ Sakit!”

“ Aku mau keluar! Turunkan aku disini! Pokoknya aku mau turun dari mobilmu, aku ngga mau lagi satu mobil denganmu! Turun! Biar aku minta Aiden yang menjemputku!” teriak Carrie frustrasi. Sementara Marcus hanya tertawa licik dan kemudian menaikan kecepatan mobilnya.

“ Ngga! Ngga! Ngga!” ujar Marcus santai dan lalu menyalakan tape mobilnya dengan volume yang besar supaya ocehan gadis itu tidak terdengar olehnya.

Setelah melihat Carrie yang (terpaksa berpasrah diri) dengan memalingkan badannya menyamping ke arah kaca mobil di sampingnya—menghindarinya, ia hanya tersenyum kecil dan perlahan mengecilkan volume musik. Bagaimanapun juga ia tidak akan membiarkan Aiden—ah,  sebenarnya ia benar-benar malas kalau harus mengkorelasikan pria itu dengan Carrie—menjemput gadis itu.

“ Kau itu orang tersombong yang pernah aku kenal.” ucap Carrie pelan masih dengan memalingkan wajahnya menghindari tatapan Marcus.

Ia terdiam. Ia memang sombong—Marcus tahu hal itu sejak dulu. Tapi entah mengapa saat gadis itu yang mengatakannya itu terasa begitu menyakitkan.

“ Kau bukan siapapun—bahkan kita, aku dan kau baru mengenal. Tapi, kau selalu mencampuri urusanku dan bahkan seperti mengatur-ngaturnya. Hidupku.”

Marcus terdiam sesaat untuk kedua kalinya. Ia berusaha fokus menyetir namun perkataan Carrie barusan begitu sangat mengusiknya. Kau bukan siapapun—itu benar. Dirinya bukan siapa-siapa baginya. Marcus menghela napas dan menggelengkan kepalanya berusaha menghapus pemikirannya namun sesekali ia melirik ke arah samping.

“ Aku bukan siapa-pun, yang memiliki arti dalam hidupmu—tapi aku benar-benar berusaha untuk menjadi sosok yang memiliki arti dalam hidupmu, Carrie. Setiap masalah yang kau hadapi bukan karena aku ingin menjadi sosok yang sok ikut campur dalam masalah dan urusan orang lain, tapi karena aku…peduli padamu.

“ …Aku ingin menjadi sosok yang bisa kau jadikan sandaran dalam setiap masalahmu. Masalahmu itu seperti menjadi masalahku juga. Kau merubahku, Carrie hanya dalam waktu pertemuan singkat kita. Kau yang melakukannya, jadi… jangan salahkan aku.”

….

Hening. Diam. Marcus sejenak memejamkan kedua matanya seraya mengepalkan kedua tangannya dengan keras. Ia sangat tidak suka dengan suasana sunyi, tanpa pembicaraan seperti ini. Ia menoleh ke arah gadis itu yang masih memalingkan wajah darinya.

“ Sudah berapa lama kau berteman dengan Liora?” ujar Carrie yang (akhirnya) menolehkan wajahnya untuk menatapnya. Hingga tanpa ia sadari, Marcus menarik napas lega ketika gadis itu akhirnya membuka pembicaraan.

Marcus tersenyum dan perlahan ia mulai menurunkan kecepatan mobilnya untuk memperlambat waktu.

“ Kurang lebih 3 tahun, aku bertemu dengannya waktu awal-awal kuliah, dan ya, kau tahu sendiri ia satu jurusan denganku di kedokteran.”

Carrie mengulum bibirnya seraya mengangguk pelan, dan kemudian memalingkan wajahnya lagi. Harus ada pembicaraan lagi setelah ini—gumam Marcus.

“ Kau… er, sudah berapa lama… eum, bersaudara dengan Liora?” tanya Marcus hati-hati. Gadis itu menoleh ke arahnya dengan tatapan terkejut, ah tentu saja ia sudah mengangkat topik paling sensitif baginya. Carrie tersenyum, meski itu terlihat dipaksakan.

“ Delapan tahun. Tidak terasa juga sebenarnya kalau aku dan dia bersaudara nyaris hampir satu dasawarsa. Awalnya pun aku sepertinya, sama sekali tidak menyetujui ayahku menikah lagi terlebih ayahku menikah dengan seorang wanita yang sama-sama memiliki anak. Aku ingat pertama kali ayahku mengatakan ia ingin menikah saat itu… aku berteriak keras padanya dan bilang ayah pengkhianat, ia mengkhianati ibu.”

Marcus tertegun. Ia tidak percaya bahwa gadis itu akan bercerita lebih jauh kepadanya. Ia menoleh ke arah Carrie, menatap gadis itu dengan dalam saat itu ia sedang bercerita. Ia sangat suka gurat-gurat ekspresi wajah gadis itu yang berubah-ubah ketika sedang bercerita.

“ Dan akhirnya, kau menyetujuinya bukan?”

“ Hmm, butuh waktu er yah sebulan mungkin ayah memberiku waktu untuk berpikir. Setelah kusadari aku memang sedikit egois padanya. Meski ayah memilikiku sebagai putrinya, bagaimana pun juga beliau tetaplah pria yang butuh seseorang yang bisa ia cintai menggantikan ibu, dan yang mencintainya sebagaimana ibu mencintainya. Ketika ayah memperkenalkanku sama Taeyeon ahjumma yang sekarang menjadi ibuku, aku tahu pilihannya benar. Ayah mencintainya seperti ia mencintaiku dan almarhumah ibuku.”

“ Carrie…er, aku tahu mungkin aku sudah terlalu jauh untuk mencampuri urusan pribadimu terlebih ini adalah masalahmu dan juga Liora, kurasa. Apakah kau membenci Liora—sebagaimana ia membencimu?”

Carrie tertawa lirih. Tertawa di saat yang salah. Gadis itu menelan ludah dan berusaha mengendalikan emosinya.

“ Aku tidak membencinya, sama sekali tidak. Tapi… delapan tahun tampaknya belum cukup untuk membuatku mendapat pengakuan sebagai adiknya. Aku mengerti. Bahkan hingga saat ini pun ia masih enggan memperkenalkanku sebagai adik di depan teman-temannya yang lain—meski itu berstatus adik tiri. Namun sekarang aku sudah berubah pikiran, tidak akan menjadi Carrie yang dulu. Jika ia tidak menganggapku sebagai adiknya, makanya aku pun juga tidak akan menganggapnya sebagai kakakku. Aku tetap anak ayahku—putri satu-satunya.  Bukankah itu yang Liora inginkan, hmm?”

Marcus mengangguk pelan. Sekilas ia menoleh ke arah Carrie sekali lagi, sesaat ia terhenyak. Gadis itu memang kekanak-kanakan, tapi di sisi lain ia memiliki sisi dewasa yang baru kali ini ia tahu.

Marcus terdiam ketika memikirkan perkataan Carrie barusan, berusaha menganggap Liora bukan saudaranya—gadis itu memang mengatakannya, tapi ia sangsi Carrie benar-benar melakukannya. Hingga tanpa ia sadari, Marcus merengkuh tangan kanan Carrie yang bebas dan menggenggamnya dengan begitu erat.

Menyadari tangannya di sambut oleh tangan hangat yang menggenggamnya, Carrie menoleh pelan dan terkejut ketika tangan Marcus menggenggam tangannya. Dengan pelan ia berusaha melepaskan genggaman itu, namun genggaman itu semakin kencang alih-alih mencengkeram. Carrie terdiam hingga akhirnya ia mengurungkan niatnya dan beralih mengeratkan tangannya.

“ Jangan berusaha tegar, ketika kau rasa itu bukan saatnya untuk bersikap tegar.”

**

Andrew membuka pintu mobilnya untuk Liora ketika mereka tiba dirumah gadis itu. Liora mendongakkan wajahnya dan membulatkan bibirnya dengan pelan, tidak terasa bahwa mereka sekarang sudah tepat di depan rumahnya.

“Terimakasih.” ucap Liora.

Andrew tersenyum ke arah Liora. Pria itu hanya menghela napas kasar menyadari jika gadisnya sedang merasa tidak nyaman. Liora hendak berbalik dan meninggalkan Andrew namun pria itu meraih tangan Liora dan akhirnya gadis itu menghentikan langkahnya; membalikan tubuhnya.

“Apa dia mengganggumu?” tanya Andrew

Pria itu menatap Liora dengan intens, ia yakin betul jika gadis itu mengerti apa yang dimaksudnya. Liora tersenyum perlahan tangan kanannya terangkat dan menyentuh pipi Andrew.

Ani. Dia tidak menggangguku hanya saja—ada sesuatu yang mungkin tak seharusnya terjadi. Kau tidak perlu mencemaskan hal yang memang tidak perlu dicemaskan.” ucap Liora pelan namun terdengar jelas oleh Andrew.

“Ra, aku tidak akan membiarkan dia mengganggumu.” ucap Andrew lembut.

“Sudah kubilang, dia tidak menggangguku. Percayalah. Kau percaya padaku ‘kan, Andrew?” ucap Liora.

Andrew tersenyum dan menganggukkan kepalanya walaupun ia sebenarnya tidak yakin atas apa yang baru saja dikatakan oleh Liora. Ia mengenal gadis itu sudah cukup lama, waktu yang dimana ia bisa mengenali perubahan suasana gadis itu.

“Lebih baik kau pulang, istirahatlah. Aku tidak ingin lukamu semakin parah,” ucap Liora menatap Andrew.

“ Kau juga perlu istirahat, Ra. Kau lebih parah dariku,”

“ Ah, ayolah, Andrew. Aku pasti akan baik-baik saja. Pulanglah~” ucapnya pelan seraya mencium pipi Andrew lembut lalu tersenyum.

“ Baiklah, tapi kau harus berjanji padaku jika ada apa-apa segera hubungi aku.” ucap Andrew sedikit posesif. Kemudian mengecup puncak kepala Liora sebelum benar-benar meninggalkan gadis itu.

==

Taeyeon mengetuk-ngetuk kakinya dengan kesal di atas lantai sesekali menilik ke arah jam tangannya. Ia mendesah kesal. Namun tidak lama kemudian pintu masuk yang beberapa jam terakhir ia awasi akhirnya terbuka, dan Liora masuk melenggang dengan santai tanpa memperdulikan sedikit pun kehadirannya.

“ Tidak sedikit pun kau ingin menyapa ibumu, Liora?” ujar Taeyeon dingin seraya melipatkan kedua lengannya di dada. Gadis itu menoleh ke belakang dengan malas, dan mengangkat bahunya pelan.

“ Oh, ya. Selamat malam, bu.” jawabnya malas dan kembali berbalik meninggalkan Taeyeon segera menuju kamarnya. Taeyeon memejamkan kedua matanya sejenak, dan membuka kembali.

“ Apa yang telah kau lakukan pada Carrie, Liora?” tanya Taeyeon dingin.

Gadis itu menghentikan langkahnya di tengah-tengah tangga menuju lantai dua. Kedua tangannya mengepal dengan keras.

“ Maksud ibu apa? Ap—apa yang telah kulakukan padanya? Hah, jangan bercanda!”

“ Baiklah, kuulangi… apa yang kau lakukan sampai Carrie terluka?”

Oh my gosh, jadi ibu hanya… memanggilku, menahanku disini sementara aku lelah baru saja pulang kuliah hanya untuk menanyakan apa yang telah kulakukan pada gadis sialan itu?!”

“ Liora, jaga ucapanmu!” bentak Taeyeon dengan kencang sementara gadis itu hanya mendecak kesal.

Sementara itu dengan santai Carrie turun menuruni tangga, ia berniat untuk mengambil minuman ringan dari dalam kulkas seraya sesekali mengecek ponselnya. Ketika ia sedang melangkahkan kaki di tangga terakhir, dengan sangat jelas ia bisa mendengar suara teriakan Taeyeon dan juga Liora dari ruang tengah. Ia menutup mulutnya dan segera berlari menuju tempat kejadian.

“ Ibu tidak berhak mengatur apapun yang kuinginkan, kulakukan, termasuk aku bebas mengatakan apapun yang menurutku benar!” teriak Liora kencang.

“ Aku tidak melarangmu melakukan hal yang ingin kau lakukan. Silahkan lakukan sesuka hatimu! Kau tidak mendengar pertanyaanku di awal? Aku hanya bertanya padamu, apa yang sudah kau lakukan kepada Carrie!”

“ Ibu sudah kubilang itu bukan salah Liora, bu!” ujar Carrie berusaha menengahi perdebatan ibu dan anak itu. Ia menahan lengan Taeyeon dan menatapnya dengan penuh pengharapan –kumohon-hentikan-pertengkaran.

“ Tidak perlulah kau menjadi sok pahlawan, Carrie!” jawab Liora datar lalu berjalan meninggalkan Taeyeon dan juga Carrie.

Taeyeon semakin kesal karena putrinya yang satu ini benar-benar bersikap tak peduli. Liora terus berjalan walaupun ia dapat mendengar dengan jelas teriakan Taeyeon yang memanggil namanya.

Liora menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur ketika ia memasuki kamarnya. Dilihatnya langit-langit kamarnya berwarna putih. Gadis itu menolehkan kepalanya, menatap sebuah foto pria berpostur tubuh tegap yang sedang merangkulnya, yang terletak di meja kecil sebelah tempat tidurnya. Liora bangkit dari tidurnya lalu meraih foto tersebut.

Dengan lembut gadis itu mengusap foto pria tersebut. Jordan.

“Ayah, apa yang harus aku lakukan? Mengapa hidupku terasa begitu sulit untuk dijalani? Terlebih ketika kau sudah meninggalkanku, yah. Hidupku—takdir sungguh kejam padaku. ” ucapnya lirih. Tanpa disadarinya air matanya keluar begitu saja dari pelupuk matanya.

Liora menghela napas. Gadis itu merogoh tasnya untuk mengambil ponsel berlambangkan apel tergigitnya itu lalu ia membuka daftar kontak yang ada di ponselnya.

‘Call Marcus’

“Kau dimana?” tanya Liora begitu Marcus mengangkat panggilan telepon darinya.

Tentu saja aku sedang di rumah. Ada apa?” ujar Marcus dengan nada sedikit kesal.

“ Kau sedang apa? Tidak sibuk bukan? Kalau begitu kita ketemuan di klub biasa dan hubungi yang lain. Aku sedang pusing dan butuh sedikit penyegaran.”

“ Hah! Kau gila, Liora! Aku sedang sibuk sekarang, kau benar-benar setan pengganggu! Akan kuhubungi yang lain, tapi aku tidak akan pergi kesana. Aku sedang sibuk! Pertandingan gameku jauh lebih berharga dibandingkan menghabiskan waktu di klub.”

“ Kau yang gila, bodoh! Diajak bersenang-senang malah menolak. Aku tidak mau tahu kau harus ada disana jam setengah delapan! Malam ini akan kutraktir!”

“ Ah, baiklah. Awas kalau kau sampai melanggar janjimu. Perkataanmu sudah ku rekam, antisipasi kau mengingkari janji.”

“ Cih, kau pikir aku ini orang yang suka melanggar janji? Sudah berapa lama kau mengenalku, Marcus? Baiklah, tunggu disana aku segera berangkat!” ucapnya seraya mengakhiri pembicaraannya dengan Marcus.

Liora bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju lemari pakaiannya dan tak lama kemudian gadis sudah berganti pakaian dan mengambil jaketnya yang tergantung di dekat pintu. Gadis itu berjalan keluar rumahnya dan menyetop taksi yang akan melintas didepannya.

**

“ Aiden, kau masih temanku bukan?”

“ Ah, Carrie, kau tahulah ini sudah malam, lagipula kalau kau pergi ke toko buku sekarang pun mungkin sudah tutup atau begitu kau sampai disana para pegawainya sudah nyaris akan mengunci pintu masuknya.”

Please, Aiden. Antarkan aku, kau itu ngga mengerti temannya sedang kesusahan yah? Aku benar-benar sangat membutuhkan modul fisdas itu, kau tahu sendiri dosen fisdas itu seperti apa.”

Akan kupinjamkan modulku untukmu, kau ngga harus membelinya.”

“ Aiden~ aku janji akan membelikanmu komik baru kalau kau mau menemaniku ke toko buku. Bagaimana? Oke, karena kau diam saja itu berarti tanda persetujuan! Kutunggu kau jam tujuh di depan toko buku depan Starbucks di Myeongdong.”

Carrie menutup ponselnya seraya bangkit dari tidunya dan bergegas segera berganti baju untuk pergi ke toko buku. Modul fisika dasarnya tiba-tiba saja menghilang. Entahlah menghilang karena ia lupa menaruhnya, atau secara tidak sengaja terbawa oleh orang lain yang jelas buku berharganya itu tidak ada dalam rak buku, tas, ataupun map miliknya. Berharga bukan karena ia menyukai mata kuliah tersebut, tetapi tanpa modul tersebut ia tidak bisa mengikuti pembelajaran mata kuliah tersebut.

Ketika ia baru saja akan mengambil tas kesayangannya di atas meja, sekilas ia bisa melihat seseorang baru saja keluar dari dalam rumah. Begitu ia menyibak tirainya, ternyata itu adalah Liora. Masih dengan pakaian yang sama ketika ia melihatnya saat pulang kuliah tadi.

“ Mau pergi kemana, anak itu.” gumamnya.

==

@ Club Eden.

Marcus mengedarkan pandangannya mencari sosok Liora. Ia mendengus kesal karena sedari tadi ia belum menemukan sosok gadis itu. Bagaimana tidak kesal? Gadis itu tiba-tiba meneleponnya saat sedang asyik tanding dengan game dengan teman virtualnya di dunia maya, dan Liora menyuruhnya untuk segera datang ke klub ini. Tempat dimana mereka selalu menghabiskan malam.

“ Kemana gerangan gadis itu? Bukankah dia yang menyuruh kita kemari?” tanya Angela dengan berteriak kencang agar di dengar oleh teman-temannya.

Sedari tadi ia hanya asik mendengarkan dentuman musik yang dibuat oleh rekan kerjanya yang dengan lihai memainkan peralatan disc jokey di atas panggung sana. Ia tersenyum seraya melambaikan tangannya kemudian mengacungkan jempolnya memberikan pujian kepada sang disc jockey yang terkenal se-antero Seoul itu.

“ Jangan tanya aku. Kau telepon saja dia, aku malas mengambil ponsel di saku.” jawab Marcus acuh seraya meneguk wine favoritnya dalam sekali teguk.

Wine paling mahal di klub tersebut yang dibuat secara khusus oleh ahli pembuat wine di Bordeaux, Perancis. Angela mendengus sebal dan menoleh ke arah jam tangannya.

“ Hah, pokoknya dia harus membayar semua tagihan kita!” desis Angela sembari mengangkat tangannya dan meminta tambahan cocktail kepada bartender.

“ Hey, semuanya! Maaf aku terlambat, er aku belum melewatkan bagian terserunya, ‘kan?” ujar Liora yang tiba-tiba datang dan menepuk pundak Angela dengan kencang membuat gadis sedikit terkejut. Angela menepis tangan Liora dari pundaknya dan meneguk cocktail ke dalam mulutnya.

“ Kemana saja kau?” desis Angela kesal.

“ Ah, macet kau tahu. Kota metropolitan seperti Seoul mana bisa lepas dari kemacetan.” Kilahnya.

“ Kau naik taksi, Ra?” tanya Marcus.

Liora menolehkan kepalanya menatap Marcus kemudian menganggukkan kepalanya seraya berdehem menjawab pertanyaan Marcus. Marcus mengangkat wajahnya dan menaruh PSP miliknya di samping sofanya, menatap gadis itu dengan kesal. Ia sudah tahu apa yang terjadi dalam beberapa jam ke depan. Gadis itu akan minum hingga mabuk berat,  ia tidak membawa mobil itu artinya dia pasti mengantar gadis itu hingga rumah. Mencarikannya taksi atau membiarkan mobilnya penuh dengan bau alkohol. Spencer tentu saja akan menolaknya mentah-mentah.

“ Tampaknya kita terlalu banyak menghabiskan waktu yang tidak berguna. C’mon guys, kita nikmati malam ini dengan sepuasnya!” pekik Liora yang langsung saja disorakki oleh seluruh pengunjung klub.

Angela tersenyum lebar dan beranjak dari kursinya berlari menuju lantai dansa yang dipadati pengunjung klub. Dengan lihainya ia meliuk-liukkan tubuh S-linenya, dan tertawa terkikik bersama dengan Liora. Setelah puas berdansa, Liora kembali menghampiri tempat duduk dan memesan tiga botol wine sekaligus dengan kadar alkohol tertinggi. Marcus hanya melongo melihat sahabatnya bertingkah nyaris seperti sudah gila.

“ Liora, cukup! Kau bisa mabuk, itu saja sudah membuatmu kelimpungan!” teriak Marcus kesal seraya merebut gelas yang sudah siap diteguk. Liora menepak lengan Marcus dan kembali merebut gelasnya dan meneguknya dengan sekali tarikan napas.

“ Jangan munafik, Marcus! Kau ingin bersenang-senang, lakukanlah jangan terlalu dikekang oleh perasaan bodohmu!”

“ Kau sudah mabuk! Liora, hentikan! Kau tidak kuat minum banyak!”

“ Tidak perlu kau cemaskan aku, Marcus Jo. Toh tidak ada yang memperdulikanku, karena semuanya hanya peduli dengan gadis sialan itu!”

Dari lantai dansa, Angela hanya menggelengkan kepalnya ketika melihat Liora dan Marcus yang berebut gelas berisi vodka itu. Ia memilih diam ketimbang ikut campur urusan kedua manusia keras kepala itu.

Percuma saja berdebat dengan gadis susah diatur seperti Liora! Marcus mendesah kesal dan beranjak dari sofa meninggalkan Liora yang sedang sibuk dengan botol-botol vodkanya. Sekilas ia menoleh ke belakang—gadis itu, dan kemudian mengeluarkan ponselnya mengirim pesan kepada seseorang. Seseorang yang bahkan tidak harap ia akan berurusan kembali dengannya.

**

drrt… Drrt…

Aiden meraih ponselnya yang bergetar. Dilihatnya pesan baru dari nomor yang tidak dikenal. Entah sejak kapan mereka mulai berkomunikasi. Dan bagaimana, pria itu bisa mengetahui nomor ponselnya? Dengan ragu Aiden membuka slide ponselnya untuk membuka pesan baru.

From : +85-675-899-xx

Dimana kau sekarang? Aku butuh bantuanmu saat ini juga.

.Marcus

Marcus? Tidak salah bukan ia melihat nama pria yang bahkan terlihat begitu sangat membencinya tiba-tiba saja mengiriminya pesan? Ia tersenyum hambar.

Aku sedang di jalan mau menjemput Carrie. Kau perlu bantuan apa? Mungkin aku bisa membantumu setelah mengantarkan gadis itu ke rumahnya.

Tidak lama kemudian ponselnya bergetar kembali. Balasan dari Marcus dengan nomor yang sama. Ia mendecak bahunya dan membuka slide ponselnya.

Dia mabuk, dan seperti orang gila. Er, entahlah mungkin kau bisa membantunya lebih tenang? Carrie sekarang ada dimana, biar tugasmu menjemputnya biar kulakukan. Kau cukup ke pub bernama Club Eden di daerah Gangnam, tidak jauh dari Ritz-Carlton Hotel.

Aiden menghela napas dan memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. Liora mabuk? Ia tertawa sinis ketika memikirkan berbagai spekulasi liar yang berbayang dalam benaknya. Mabuk, pub, dan alkohol tentu saja menjadi barang yang biasa untuk gadis itu. Dan mengapa Marcus mempercayakannya? Kenapa tidak dengan Andrew saja? Bukankah pria itu kekasihnya?

Baiklah. Aku akan memutar arah ke Gangnam. Kau jemput Carrie di depan toko buku kawasan Myeongdong. Kurasa dia sudah menunggu terlalu lama.

Er, thanks sudah percaya padaku.

Sedikit ucapan terimakasih kepada pria itu tidak ada salahnya. Aiden tersenyum dan kemudian kembali memakai helm miliknya dan memutar balik ke arah  Gangnam. Jika saja takdir sedang berpihak kepadanya, ia ingin sekali bisa ‘merubah’ sifat gadis itu seperti dulu. Mungkin.

**

From: Aiden.

Baiklah. Aku akan memutar arah ke Gangnam. Kau jemput Carrie di depan toko buku kawasan Myeongdong. Kurasa dia sudah menunggu terlalu lama.

Er, thanks sudah percaya padaku.

Marcus menghela napas dan kemudian memasukkan ponsel ke dalam sakunya. Ia tidak mengerti mengapa dirinya justru menghubungi seseorang yang begitu ia sebali. Dengan langkah santai ia kembali menghampiri meja Liora yang sudah berantakan dengan botol-botol vodka kosong yang berserakan. Ia menghela napas dan menepuk pundak gadis pelan. Liora menaruh gelasnya dengan malas dan menoleh ke belakang, pandangan matanya sudah tidak fokus. Ia benar-benar mabuk.

“ Hey, aku harus pergi sekarang. Kau tidak apa-apa, ‘kan?” ujar Marcus.

Gadis itu mengangguk pelan seraya melambaikan tangannya dengan pelan, dan kembali meraih gelasnya dan berjalan menuju meja bartender.

“ Samp—sampai jumpa, sayang.” ucap Liora seraya tertawa kencang membuat Marcus bergidik dan segera keluar dari klub.

Dari tempat Marcus berdiri—di pelataran klub ia bisa melihat ketika motor Aiden mulai memasuki pintu gerbang. Ia tersenyum dan mengangkat bahu pelan, dan mengeluarkan kunci mobilnya bergegas menjemput gadis yang sedang menunggunya. Marcus tersenyum sendiri memikirkan reaksi Carrie ketika dirinyalah yang datang bukanlah si pria yang selalu ia banggakan itu.

**

Aiden melepaskan helm dan menaruh di pangkuannya. Gedung yang sangat mewah untuk ukuran klub malam, entah berapa harga yang dipatok untuk setiap menu di tempat ini. Ia menghela napas, ah tentu saja sangat mahal. Mungkin saja cukup untuk membayar uang sewa flatnya sebulan. Ia mengedikkan bahu dan turun dari motor bergegas untuk segera memasuki bagian dalam gedung ini.

Begitu masuk ke dalam gedung, Aiden langsung menutup mulutnya erat-erat. Begitu bising, ramai, dan tentu saja berpolusi. Hentakan musik keras di setiap dinding klub yang begitu kencang, suara cekikkan para tamu yang kencang, denting gelas dan botol-botol yang terlihat mahal itu, dan terutama adalah asap rokok yang bertebaran dimana-mana. Aiden pun bergegas untuk segera mencari sosok gadis itu di tengah keramaian itu. Sial, ponsel Marcus sama sekali tidak aktif, seharusnya pria itu memberikan lokasi tempat duduk Liora agar ia lebih mudah mencarinya.

“ Huh, bagaimana bisa gadis itu begitu nyaman dengan tempat sekotor ini?” decaknya kesal.

Aiden terbatuk pelan saat secara tidak sengaja ia menghirup asap rokok yang tiba-tiba berhembus ke arahnya.

Setelah bersusah payah mengelilingi klub mewah dan luas ini, akhirnya ia bisa menemukan sosok Liora. Gadis itu berada di sebuah bilik dekat meja bartender dan tidak jauh darinya merupakan tempat disc jockey. Ia menghela napas dan berlari menghampiri bilik itu meski harus berdesakkan dengan orang-orang yang sedang asyik berdansa.

“Ayo pulang!” ucap Aiden kesal seraya menarik lengan gadis itu.

Gadis itu meneguk satu gelas minuman keras di tangannya, dan berdeham. Ia mendongakkan wajahnya untuk menatap sosok yang dengan sok menarik lengannya dan berteriak kepadanya.

“ Ka—kau? Apa yang kau lakukan?” ujarnya tidak percaya begitu melihat sosok Aiden tepat di hadapannya dengan sorot mata tajam.

“ Justru aku yang harus bertanya, apa yang sedang kau lakukan disini? Ingin mati cepat dengan meneguk minuman keras itu sebanyak-banyaknya? Atau menghabiskan uang ayah tirimu dengan sia-sia?”

Liora tertawa sinis. Ia bangkit dari duduknya dan tersenyum sinis.

“ Bukan urusanmu!”

Ia menyambar botol minumannya dan meneguknya langsung namun dengan paksa Aiden merebutnya dan kemudian memecahkannya hingga membuat keributaan meski hanya sesaat. Liora menatap Aiden dengan marah.

“ Sudah kubilang, urusi saja urusanmu sendiri! Jangan pernah memperdulikan aku!”

“ Kau sudah mabuk. Ayo, kita pulang!” geram Aiden yang dengan paksa dan semakin mengeratkan cengkeramannya di saat gadis itu memberontak.

Liora mendengus kesal hingga akhirnya ia berhenti berontak dan membiarkan lengan Aiden menuntunnya keluar dari dalam klub.

Begitu berada di dalam luar gedung, Aiden memunggunginya. Kedua bahu pria itu menengang seperti menahan sesuatu yang begitu bercokol dalam perasaannya. Ia mendesis dan kemudian menarik napas dalam-dalam. Ternyata udara di luar jauh lebih menyegarkan.

“Apa yang kau lakukan disana, huh?” ujar Aiden. Bersuara dengan nada interupsi.

Liora mendongakkan kepalanya. Menatap pria yang ada dihadapannya ini.

“Melepaskan segalanya,” ucap Liora datar sembari memegang kepalanya yang mulai terasa berdenyut.

“ Kau pikir mabuk bisa melepaskan masalahmu? Lalu apakah setelah kau mabuk, masalah itu akan pergi darimu?” ujar Aiden seraya membalikkan badannya.

Liora hanya tertawa mengejek.

“ Apa pedulimu terhadap masalah yang kuhadapi, huh?”

“ Kau harus istirahat. Kuantar kau pulang.” ucap Aiden yang berlalu terlebih dahulu di depan gadis itu.

“Aku tak ingin pulang,” ucap Liora pelan.

“ Seorang gadis tidak baik untuk keluar di malam hari kalau tidak ingin mendapat ekspetasi negatif dari masyarakat. Kau tak seharusnya ada disini!“

“ Justru kau yang seharusnya tak berada disini Aiden!”

“Apa maksudmu?”

“ Semuanya masih terasa sulit. Tinggal bersama orang yang tak kau kenal dan ibumu sendiri lebih memilih orang itu,” ucap Liora tercekat menahan tangis. “ mungkin aku memang keras kepala, egois—tapi kedatanganmu membuatku semakin sulit,” ucap gadis itu.

Liora memejamkan kedua matanya sejenak, dan menahan napas. Begitu ia membuka kembali kedua matanya ia menghembuskan napasnya dengan kasar bersamaan dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.

“Kenapa?” tanya Aiden pelan.

“Kau bodoh! Aku tak ingin merasakan kehilangan lagi, Aiden! Bodoh! Bodoh! Bodoh!” gusar Liora seraya memukul dada bidang Aiden.

“Aku sudah kehilangan ayahku, hidupku, ibuku dan aku—kali ini aku tak ingin kehilangan kau!”

Aiden sontak terkejut mendengar ucapan Liora. Ia tahu gadis ini sedang mabuk tapi, entah apa yang membuatnya yakin jika ucapan Liora bukanlah pengaruh dari keadaannya. Kedua mata gadis itulah yang seolah membicaran kebenarannya.

Aiden merengkuh tubuh gadis itu, memeluk Liora erat. Sehinga gadis itu menangis sejadinya dalam pelukan Aiden.

“Aku tak ingin itu Aiden,” isak Liora.

“Kau tak akan kehilanganku Liora. Tidak akan pernah.” ucap Aiden seraya mengecup puncak kepala Liora.

“ Tolong, tolong jangan pernah tinggalkan aku.”

**

“ Aish, anak itu minta kutendang kakinya! Sudah dua jam aku menunggu dia belum juga datang, dan terlebih ponselnya ngga aktif lagi!” gerutu Carrie kesal.

Gadis itu menendang angin dengan kesal dan memeluk plastik belanjanya dengan erat. Membeli modul fisika dasar saja sudah sangat berat. Ia menghembuskan napas kasar dan akhirnya duduk di tepi  trotoar jalan, mengindahkan tatapan orang-orang yang menatapnya dengan aneh.

“ Aiden, kau ada dimana? Ponselmu diapakan, huh, cepatlah datang. Dingin sekali, dan aku ingin cepat-cepat pulang.”

Carrie menundukkan kepalanya dengan lesu. Kalau saja Aiden mengirimkannya pesan kalau dia tidak datang, bisa saja sudah daritadi ia akan naik kereta bawah tanah supaya cepat sampai di rumah. Jikalau hingga tiga puluh menit ke depan, pria itu belum juga menampakkan batang hidungnya, ia sungguh akan meninggalkan tempat ini.

“ Hingga kapan kau akan terus duduk di tepi jalan layaknya gelandangan, huh?”

Suara itu?! Kontan gadis itu mendongakkan kepalanya dengan terkejut. Tak pelak ia sungguh tidak percaya ketika Marcus berada di depannya seraya menyender di pintu mobilnya. Ia menunjuk Marcus dengan gugup, sementara pria itu tertawa kencang dan menghampirinya dengan kedua tangan dalam saku.

“ Kenapa kau bisa berada disini? Apa yang kau lakukan?” ujar Carrie bertubi-tubi.

Tanpa menjawab pertanyaan Carrie, pria itu hanya duduk santai di samping gadis itu sembari melipat kedua lututnya. Marcus menghela napas dan menoleh pelan ke arah Carrie.

“ Apa yang kulakukan? Tentu saja menjemputmu.”

“ Ha? Me—menjemputku?! Lalu Aiden mana? Aiden…—ah, aku tidak habis pikir. Apa yang telah kau lakukan padanya!”

“ Mana kutahu! Sudahlah, kau mau kuantar pulang atau tidak!”

Carrie mengerucutkan bibirnya dengan kesal dan ia pun beranjak. Berdiri di depan Marcus. Bagaimana bisa Marcus yang menjemputnya? Bukan masalah bahkan jika memang ternyata Marcus yang menemuinya, tapi yang menjadi titik perdebatannya adalah mengapa Aiden menyuruh Marcus tanpa sepengetahuannya?

“ Aku tidak ingin menumpang mobilmu lagi! Sudahlah lebik baik aku naik kereta saja.” ujarnya kesal. Ia pun memasukkan bungkusan plastik lain yang ia sembunyikan sejak tadi ke dalam tasnya dengan paksa.

Marcus memincingkan kedua matanya melihat plastik putih yang dimasukkan dengan paksa ke dalam tasnya. Tak lama ia tersenyum pelan dan bangkit dari duduknya, seraya merebut plastik dari tangan gadis itu dan membukanya.

Ya! Kemarikan! Ini bukan untukmu!” gerutu Carrie berusaha merebut plastik itu, namun Marcus mengangkatnya lebih tinggi darinya.

Ternyata isi plastik putih tersebut tidak lain adalah makanan ringan berbentuk ikan dengan berbagai isi di dalamnya seperti daging cincang, gula, ataupun keju. Carrie menghentakkan kakinya dengan  kesal sementara Marcus mengambil salah satu kue itu dan menggigit bagian ekor kuenya.

“ Kemarikan, Marcus. Ini bukan untukmu, aku membelikannya untuk Aiden.”

Marcus menoleh pelan ke arah gadis itu dengan tajam.

“ Kalau begitu ini untukku. Karena pria itu tidak datang, dan tentu saja seharusnya ini memang untukku. Ah, kue ini sangat enak!”

“ Kau harus menggantinya. Kue ini harganya dua ribu won, kemarikan uangmu.” ujar Carrie seraya menengadahkan kedua tangannya. Marcus mendesis dan menepak tangan gadis itu dengan pelan.

“ Aku akan membayarnya jauh lebih besar daripada hanya sekedar dua ribu won.”

“ Benarkah? Kalau begitu kapan kau—“

Marcus yang tiba-tiba saja menarik lengannya dan mencengkeramnya begitu kuat. Carrie merutuk-rutuk perbuatan Marcus sementara pria itu menuntunnya menyebrang dan berjalan menuju amusement park yang terletak di seberang jalan toko buku.

“ Belum pernah makan kue ini sebelumnya?” tanya Carrie dengan pandangan aneh ketika melihat Marcus melahap kue-kuenya dengan semangat. Pria itu mengangguk.

“ Hmm, aku baru tahu kalau di Korea ada kue seenak ini.”

“ Hah, kau ini orang Korea, atau bukan sih? Kue ini saja tidak tahu, ah aku tahu kau tidak terbiasa dengan jajanan jalanan macam itu,”

“ Mungkin. Dari kecil setiap yang kumakan selalu diawasi ketat oleh pengasuhku.”

“ Orang kaya sepertimu tentu saja, selalu berbeda. Aku tahu itu,” decak Carrie.

Marcus mendengus dan menoleh ke arahnya, pria itu hanya tersenyum kecil melihat Carrie merutuk-rutuk kesal karenanya. Namun di menit kemudian, keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing. Carrie menyenderkan punggungnya di kursi sementara menerawang melihat pemandangan langit hitam di atasnya, sementara Marcus memakan kue ikan dengan lahap sesekali menoleh ke arah gadis itu.

Pria itu berdehem pelan membuat Carrie sontak menoleh ke arahnya dengan pelan.

“ Apa? Kau tersedak? Makanya makanlah pelan-pelan, jangan seperti orang yang kelaparan. Anak konglomerat kelaparan, sungguh konyol.” gerutu Carrie.

Marcus tertawa dan meminggirkan posisi duduknya menghadap Carrie dan menatapnya dengan lembut.

“ Aku ingin bertanya padamu. Apakah kau pernah merasakan jatuh cinta?” ujar Marcus.

“ Eh? Untuk apa menanyakan hal itu? Urusanmu?”

“ Sudahlah, cukup jawab sudah atau nggga, apa sulitnya?!” gerutu Marcus.

Carrie tertawa pelan. Gadis itu menepuk pundak Marcus pelan dan merubah posisi duduknya menjadi tegak. Kedua matanya yang membentuk eye smile saat ia tersenyum, membuat Marcus kontan tersenyum. Ia baru menyadari bahwa gadis itu memiliki eye smile yang indah yang jarang dimiliki oleh orang lain.

“ Aku belum pernah merasakan jatuh cinta, apalagi berpacaran dengan seseorang. Hidupku datar sekali ya? Namun itulah, rasanya aku ini seperti sulit untuk menerima seseorang.”

Marcus tertegun, ‘sulit untuk menerima seseorang’?

“ Tap—tapi kau masih normal, ‘kan?!”

Carrie melirik tajam ke arah Marcus dan memukul bahunya dengan kencang,” tentu saja! Aku ini masih normal! Kau kira aku ini penyuka sesama jenis!”

“ Kukira, syukurlah kalau begitu.”

Carrie memutar kedua matanya acuh tak acuh sembari mengulum bibirnya.

“ Tapi aku rasa sedikit demi sedikit seperti aku sedang jatuh cinta. Hahahaha, konyol sih. Namun sebelumnya aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini, begitu menggebu-gebu.”

“ Iya?” jawab Marcus pelan. Gadis itu sedang jatuh cinta.

“ Hmm, orang yang sangat menyebalkan dan merepotkan. Rasanya ia begitu senang untuk menyiksaku, atau menjahiliku, dan sejenisnya. Selalu membuatku kesal. Padahal kami baru saja bertemu, namun anehnya terkadang aku suka memimpikannya di tengah malam ataupun bayang wajahnya selalu muncul tiba-tiba dan membuat hatiku berdebar-debar juga jantungku serasa seperti mau lepas.”

Marcus terdiam. Deskripsi itu…begitu sama persis dengan yang selama ini ia alami khususnya terhadap gadis itu. Lalu siapakah pria beruntung itu? Marcus menghela napas sedikit kecewa. Ia harus segera menghentikan topik pembicaraan ini. Ia benar belum siap jikalau selanjutnya gadis itu akan menyebut nama pria itu.

“ Aku hanya ingin pria yang menginginkanku, mencintaiku, dan memperlakukanku sebagai putrinya. Putri yang harus dilindungi dan juga di jaga.” ujar Carrie pelan.

………….

Diam.

Marcus sendiri tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang dan begitu juga Carrie. Tidak tahu apa yang harus dilakukan namun keduanya sama-sama enggan untuk beranjak dari bangku.

“ Ah, aku haus! Belikan aku minuman, sana!” ujar Marcus berusaha untuk mengisi kekosongan yang terjadi di antara mereka.

Carrie menoleh dan mendengus kesal.

“ Beli saja sendiri. Kau memiliki dua kaki yang normal.”

Marcus mengerucutkan bibirnya dan mengeluarkan dompetnya serta selembar uang sebesar seribu won dan memaksa tangan Carrie membuka dan menaruh uang tersebut di atasnya. Carrie menggerutu kesal, dan menolak menerima uang tersebut.

“ Uh, aku malas membelinya. Dekat ini kok, tinggal menyeberang jalan.”

“ Karena dekat belilah sendiri jangan berlagak seperti tuan muda di rumah, Marcus ssi.

“ Ayolah~”

Carrie mendengus sebal dengan hentakan keras ia bangkit dari bangkunya dan mengambil uang dari tangan Marcus lalu berbalik meninggalkan Marcus dengan langkah besar. Sementara Marcus hanya tersenyum pelan seraya menatap punggung gadis itu. Carrie benar-benar tidak tahan jika harus melihat aeygyo Marcus yang menurutnya sangat tidak pantas untuknya.

“ Sisa uang ini tidak akan kuanggap sebagai bayaran kue Aiden itu!” gerutu Carrie kesal.

Sekilas ia menoleh ke belakang dimana Marcus duduk dan pria itu sedang melihat ke arahnya seraya tersenyum lebar dan melambaikan tangannya dengan pelan. Carrie mendesis dan membalikkan badannya memunggungi Marcus.

Ia mengulum bibirnya dan melirik ke arah kanan serta kiri pandangannya, tidak ada rambu lalu lintas karena ini bukanlah jalan raya besar sehingga hanya mengandalkan kewaspadaan penyebrang jalan. Ia mengangkat bahunya pelan begitu suasana jalan agak lengang dan kemudian menyebrang jalan menuju mesin minuman otomatis yang terletak persis di seberang jalan.

Marcus menghela napas panjang tidak lama ketika gadis itu sudah menjauh dari pandangannya. Tiba-tiba ia menelusuri pandangan matanya dan menangkupkan kedua tangannya di dada. Mengapa terasa begitu nyeri? Perasaannya begitu kacau dan sungguh tidak tenang. Tidak lama kemudian ia segera beranjak dari bangkunya dan berlari untuk mengejar Carrie. Perasaannya semakin tidak terkendali, rasa cemas, khawatir, dan terutama… perasaan takut kehilangan. Ia tidak tahu mengapa bisa seperti ini.

Marcus terdiam.

Kedua kakinya seperti tertancap begitu kuat di atas bumi yang  ia pijak. Gadis itu terlihat sedang menyeberang namun sial, dari arah kanan sebuah mobil melaju dengan begitu kencang sementara si pengendara mobil berkali-kali membunyikan klakson untuk memberi tahu agar gadis itu segera menyingkir. Jantung Marcus terasa lepas.

Ya! Carrie bodoh!” teriaknya kencang.

Gadis itu sama sekali tidak bergeming dan tetap melenggang menyeberangi jalan.

Ia mendesah dan segera berlari secepatnya menghampiri Carrie, menarik lengannya dengan kuat dan menghempaskan tubuhnya dan juga Carrie ke trotoar dengan kencang.

BRUG!

Marcus meringis ketika kepalanya seperti membentur tiang listrik yang tidak jauh darinya. Begitu nyeri. Ia memeluk Carrie dengan erat sementara napasnya sudah tidak beraturan. Sejenak ia memejamkan kedua matanya. Bagian terpenting adalah… ia berhasil menyelamatkan gadis itu.

“ Dasar Si Bodoh….” gumamnya pelan.

==

Carrie menoleh ke belakang dengan begitu cepat ketika sebuah tangan menariknya dengan begitu cepat dan kuat, dan kemudian menarik serta menghempasnya begitu keras ke pinggir trotoar. Bokongnya terasa begitu sakit ketika terhempas menyentuh aspal dengan kuat. Ia meringis pelan dan berulang kali mengejapkan kedua matanya. Berusaha untuk memahami apa yang baru saja terjadi padanya.

Ketika ia akan bangkit saat berhasil memastikan diri bahwa dirinya baik-baik saja, namun ternyata ia baru menyadari ketika sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya dengan erat. Ia menoleh dan tanpa ia sadari kedua air  matanya sudah mengalir. Marcus…

Dengan paksa ia melepaskan kedua tangan Marcus dan menarik tubuhnya yang tergeletak lemah. Darah. Kepala Marcus berdarah. Ia berteriak histeris seraya mengguncangkan tubuh Marcus yang setengah sadar hingga akhirnya pria itu membuka kelopak matanya dengan sangat pelan.

“ Bodoh, kalau jalan lihatlah baik-baik.” ucap Marcus pelan. Pria itu tersenyum lemah seraya menyibak sedikit rambut Carrie yang menutupi wajahnya, “ kau baik-baik saja, ‘kan?”

“ Marcus, bodoh! Bodoh! Kau harus bertahan, bertahanlah.”

Gadis itu segera beranjak dari sisi Marcus berharap ada seseorang yang menolong mereka namun dengan cepat pria itu menahan lengan gadis itu dengan kuat membuat Carrie tertahan. Pria itu menggeleng pelan, sementara darah semakin banyak mengucur dari kepalanya yang membentur tiang. Gadis itu menggeleng lemah sementara ia berusaha untuk tidak menangis.

“ Aku akan menelpon ambulans!”

“ Jangan pergi, tetap disisiku.”

“ Tidak, Marcus! Tidak—“

Aggashi, bertahanlah! Kami sudah menelepon ambulans tidak lama lagi akan segera datang.” Carrie menoleh pelan dan dilihatnya seorang wanita yang ia tahu sebagai penjaga toko buku yang tadi ia datangi. Ia tersenyum pelan.

“ Jangan tinggalkan aku—“

“ Maafkan aku. Maafkan….” Tiba-tiba gadis itu bersimpuh seraya menangis di depan Marcus. Gadis itu mengusap air matanya dan mendongakkan wajahnya untuk menatap pria itu. “ maafkan aku, jika saja aku berhati-hati seharusnya tidak terjadi hal seperti ini.”

“ Jangan meminta maaf padaku, bodoh. Itu terdengar seperti menyedihkan.”

“ Maafkan aku…”

Marcus menghela napas panjang, meski kepalanya terasa begitu pening ia berusaha untuk bangkit dan menarik gadis itu ke dalam dekapannya. Memeluknya dengan erat. Bagaimana mungkin ia akan membiarkan gadis ini yang terluka? Ia tersenyum. Melindungi seseorang yang kita sayangi terasa begitu indah. Tiba-tiba saja pandangan Marcus semakin lama terlihat seperti berbayang dan tidak jelas. Ia menggelengkan kepalanya namun kepalanya begitu terasa sakit dan seperti mau pecah.

“ Kau harus baik-baik saja, Carrie.” ucapnya pelan sebelum akhirnya ketidaksadaran menguasai dirinya.

**

Aiden menghentikan motornya tepat di depan pagar rumah megah itu. Ia melepaskan helmnya dan kemudian Liora turun dari jok motornya seraya menyerahkan helm milik Aiden. Kepalanya masih sedikit agak pusing akibat efek alkohol yang berlebihan. Aiden menghela napas dan menatap gadis itu dengan lembut.

“ Masuklah ke dalam, jangan lupa untuk meminum susu untuk menetralisir alkohol ataupun lekaslah tidur agar kepalamu sedikit membaik.” ujar Aiden yang seolah seperti membaca pikiran gadis itu.

Liora mengangkat kepalanya. Mengapa Aiden masih sama seperti dulu? Delapan tahun berlalu mengapa tidak sedikit pun ia berubah? Masih tetap menjadi orang yang selalu ada di sampingnya, menghibur, memahaminya, dan orang yang tetap ia butuhkan untuk menopangnya.

“ Baiklah, aku mengerti. Terimakasih sudah mengantarku pulang.”

Begitu ketika gadis itu membalikkan badannya untuk segera masuk ke dalam rumahnya. Meski agak sedikit ragu. Ia menahan napas. Liora masih segan masuk ke dalam rumahnya—rumah milik Dennis, ayah tirinya itu terlebih ia sempat berselisih paham dengan ibunya.

“ Ngga apa-apa, Ra. Ibumu pasti akan memaafkanmu, mungkin saja ia sedang mengkhawatirkanmu sekarang.” ucap Aiden pelan.

Apakah Aiden memiliki indera ke-enam?

“ Tapi—bagaimana jika aku diusir?” Liora membalikkan badannya pelan dengan wajah cemas. Aiden turun dari motornya dan menumpu kedua tangannya di bahu gadis itu sementara kedua matanya menatap intens gadis itu.

“ Tidak mungkin. Aku tahu benar Taeyeon ahjumma, sekesal apapun kelakukanmu ia tidak akan mengusir anaknya sendiri. Kau tahu itu?”

“ Semoga saja.”

drrt….. drrt…

“ Tunggu sebentar.” kata Liora seraya merogoh ponselnya yang bergetar begitu keras di dalam tasnya. Sekilas ia mengerutkan keningnya ketika melihat id caller. Ia mengedikkan bahunya seraya menekan tombol accept.

“ Halo, ada apa, Angela?” ujarnya malas.

Dari seberang telepon ia bisa mendengar suara bising dan juga suara Spencer. Mungkin gadis itu sedang berada di suatu tempat dengan Spencer di sampingnya.

Kau ada dimana sekarang?”

“ Aku? Tentu saja di rumah, apa lagi? Aku sudah menyerahkan kartu debitku padamu, apakah tidak bisa dipakai?”

Aish, bukan. Bukan itu. Marcus kecelakaan! Sekarang dia sedang ada di Rumah Sakit Pusat Seoul ah Carrie dengannya juga. Sekarang aku dan Spencer sedang menuju kesana, kau juga kesana, ne?”

MWO?! Marcus kecelakaan? Carrie—bagaimana bisa?!”

“ Aku juga tidak tahu. Sudahlah kututup teleponnya, di rumah sakit kita bisa mendengar penjelasan yang sebenarnya. Bye.”

Liora mematikan ponselnya. Gadis itu terlihat masih syok sekaligus tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Marcus kecelakaan? Juga mengapa Carrie bisa bersama dengan Marcus? Gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya erat dan menggelengkan kepalanya sementara matanya sudah terasa memanas.

Marcus meninggalkannya di bar untuk menemui gadis itu?

“ Ada apa, Ra? Tolong jelaskan padaku, kau bilang… Marcus kecelakaan?”

Gadis itu mengangguk pelan.

“ Iya, aku harus ke rumah sakit sekarang mungkin kau bisa langsung pul—“

“ Tidak, aku antar. Aku juga akan pergi ke rumah sakit.” ujar Aiden memotong kalimat gadis itu yang belum selesai. Pria itu pun naik ke atas motornya dan memakai helmnya dengan gugup dan lalu menyalakan motornya kembali. Liora menghela napas dan menerima helm dari Aiden.

Jika Marcus kecelakaan lalu bagaimana nasib Carrie? Apakah gadis itu baik-baik saja? Aiden menggelengkan kepalanya pelan berusaha menepis bayangan buruk yang sekelibat melintas dalam benaknya. Ia pun segera menstarter motornya dan melaju menuju rumah sakit.

==

@ Rumah Sakit Pusat Seoul.

“ Aku duluan!” gusar Liora begitu Aiden menghentikan motornya di pintu masuk utama rumah sakit. Ia segera bergegas masuk sementara Aiden memakirkan motornya terlebih dahulu.

Atas informasi Angela yang sudah tiba di rumah sakit terlebih dahulu, ia pun segera bergegas menuju ruang instalasi darurat. Kedua tangannya sudah dingin, ia benar-benar gugup. Meskipun Marcus menyebalkan, bagaimanapun juga pria itu tetaplah sahabatnya. Sahabat yang mengerti dirinya dengan cara yang lain.

Di ujung koridor ia bisa melihat Angela dan Spencer, kakak Marcus, dan… Dennis serta ibu? Ia pun mencepatkan jalannya dan kemudian berlari menghampiri Angela. Ketika Liora menghampirinya, gadis itu segera beranjak dari bangkunya.

“ Bagaimana keadaan Marcus?” tanya Liora dengan cemas.

Angela menggelengkan kepalanya dan kembali duduk di bangkunya dengan tidak bersemangat. Seolah bisa membaca maksud Angela, Liora menyenderkan tubuhnya di dinding rumah sakit dengan lemas. Mengapa bisa terjadi? Beberapa jam yang lalu Marcus masih dalam keadaan baik-baik saja.

“ Ka—kau datang, Ra.” ucap Carrie seraya menghampiri Liora dengan ragu.

Gadis itu mengangkat wajahnya dengan dingin, kedua tangannya terlipat di dada. Liora tertawa mengejek. Carrie menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan wajahnya yang tampak sangat berantakan. Kedua matanya sudah sangat sembab. Liora merubah posisinya menjadi tegak dan memutar kedua bola matanya lalu mendecak.

“ Maaf, Ra—“

PLAK!

Carrie menggigit bibirnya dengan kuat sementara kedua matanya sudah memanas. Liora tertawa mengejek dan menampar gadis itu sekali lagi membuat semua yang hadir disitu terkejut tidak terkecuali Taeyeon. Aiden yang baru saja datang langsung terdiam ketika gadis itu menampar adiknya sendiri—temannya.

“ Maaf, Ra. Ini semua karena aku, aku mengaku salah.” ucap Carrie lirih seraya memegang pipinya yang memanas.

“ Bagus kalau kau sudah menyadarinya! Tidakkah kau tahu betapa menjijikkannya dirimu di mataku?! Kalau saja Marcus tidak menemuimu dia seharusnya tidak berada di tempat ini! Semua salahmu!”

“ Maaf… Mianhae, nan jeongmal mianheyo.”

“ Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Nona Pencuri.” Desis Liora yang langsung meninggalkan rumah sakit. Carrie menutup mulutnya dengan kedua tangannya, air matanya mengalir dan berulang kali ia berusaha menyekanya.

Mianhe.” lirihnya. Hingga Taeyeon memeluknya dengan lembut dan membiarkannya menangis dalam dekapannya. Liora begitu sangat membencinya.

“ Biar aku yang akan mengejar, Liora.” ucap Aiden kepada Dennis yang dari raut wajahnya tergurat rasa kecewa, marah, sekaligus cemas. Dennis hanya mengangguk pelan, ia sendiri tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk… sekarang.

==

Aiden berusaha mengejar gadis itu secepat mungkin. Ia berlari di sepanjang koridor rumah sakit dan mengindahkan cercaan orang-orang yang ia tabrak secara tidak sengaja. Hingga akhirnya ia berada di lobby rumah sakit. Ia sama sekali tidak menemukan sosoknya. Kemudian ia mengeluarkan ponselnya dan memencet beberapa nomor yang ia hapal, panggilan tersambung namun hingga beberapa saat kemudian panggilan terputus. Dan begitu nomor ponsel Liora dihubungi sama sekali tidak aktif.

Dengan kesal ia mengacak-acak rambutnya hingga berantakan. Ia mendesis kesal. Gadis itu. Sungguh sangat keras kepala.

**

Keesokan harinya…

Liora membuka kedua matanya dengan pelan dan sesaat ia menghela napas panjang. Ia menoleh ke samping dimana jam digitalnya menunjuk pukul 8 pagi. Sekilas ulasan kejadian semalam serasa berputar kembali dalam kepalanya membuat segalanya menjadi begitu berat. Ia mendesah dan bangun dari baringannya lalu duduk di atas tempat tidurnya.

“ Apa yang sudah kulakukan padanya?” tanyanya pelan dan membolak-balikkan kedua tangannya. Ia menahan napas. Dengan tangan inilah ia menampar Carrie semalam di rumah sakit.

“ Huh, apa yang kupikirkan? Mengapa aku menyesal, eh? Aish, Liora kau benar-benar…” rutuknya dan kemudian beranjak dari tempat tidurnya bergegas untuk segera mandi.

Ia harus segera keluar dari rumah secepat mungkin. Berada di rumah tidak membuatnya merasa lebih baik.

Satu jam kemudian ia sudah siap-siap bergegas untuk menuju kampus. Ia mematut dirinya sekilas di kaca merapihkan tatanan rambutnya dan polesan bedaknya lalu menyambar tas serta kunci mobil di atas tempat tidur. Ketika ia menuruni tangga, dilihatnya sang ibu sedang duduk di sofa ruang tamu dan langsung saja menoleh ke arahnya begitu mendengar suara tangga dari lantai atas.

Taeyeon bangkit dari sofa dan berjalan perlahan menghampiri Liora. Kedua matanya menatap gadis itu dengan tajam membuat Liora agak sedikit mundur karena segan. Ia tahu apa yang akan dikatakan oleh ibunya sesaat lagi.

“ Semalam kau sungguh sangat keterlaluan. Apa salahnya, Ra? Itu murni kecelakaan tidak sengaja dan lalu kenapa kau mengkambing hitamkan Carrie?”

Liora mendesis dan melipat kedua lengannya di dada menatap wajah ibunya dengan tajam. Mengapa ibunya selalu membela Carrie? Apa karena dia itu anak pria itu?

“ Jikapun Marcus tidak pergi dengannya, dia seharusnya masih sehat sekarang. Ah, sudahlah aku bosan! Ibu selalu saja membelanya, mengapa aku selalu salah di mata ibu?! Pada kenyataannya dia memang pencuri! Dia mencuri perhatian ibuku, kemudian ia mengambil perhatian Aiden, dan sekarang dia mengambil Marcus? Apa dia bukan pencuri?! Dia sungguh menjijikkan dengan harta kekayaan ayahnya seolah ia bisa melakukan segalanya!”

Taeyeon melongo. Ia sungguh tidak percaya. Inikah gadis manisnya? Liora. Kedua matanya sudah memanas dan ia berusaha untuk menahan tangis. Gadisnya sudah benar-benar berubah. Apa yang merubahnya? Dirinyakah? Atau waktu?

“ Liora, jaga ucapanmu! Aku tidak pernah mengajarkanmu berbicara sekasar itu! Tapi semalam kau sungguh membuatku malu di hadapan Dennis! Tidakkah kau punya rasa malu meski itu hanya secuil?! Menampar Carrie di depan ayahnya sendiri! Dimana rasa sopan santunmu, Liora!”

“ Kapan ibu akan berpihak padaku!” teriak Liora begitu kencang. Taeyeon melongo dan mengepalkan kedua tangannya dengan kencang, “ apa ibu lupa, kalau aku ini anak kandungmu?!”

Plak!

“ Jaga ucapanmu.”

“ Bahkan ibu saja berani menamparku! Aku benci ibu!” Liora berlari keluar rumah seraya menghapus air matanya. Sementara Taeyeon hanya berdiri terpaku dan menatap telapak tangannya dengan lirih.

“ Ap—apa yang sudah kulakukan terhadap putriku sendiri.” Lirihnya. Ia mengangkat wajahnya dan berusaha mengejar Liora namun sayang gadis itu baru saja mengeluarkan mobilnya dari garasi dan langsung melaju mobil Lotusnya dengan kencang.

Taeyeon memejamkan kedua matanya. Ia tidak bermaksud untuk menampar Liora, sungguh sangat tidak bermaksud. Ia menggigit bibirnya dan mengepalkan tangannya dengan kuat. Apa yang sudah ia lakukan.

==

Liora menginjak pedal gasnya semakin dalam hingga perlahan jarum speedometer bergerak perlahan semakin ke atas yang menunjukkan kecepatan yang semakin bertambah. Gadis itu menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Sesekali menyeka air matanya. Untuk pertama kali ibunya sendiri menamparnya.

“ Bagaimana bisa ibu menamparku…” lirihnya.

Ia membelokkan kemudi dan menurunkan kecepatan begitu memasuki pelataran parkir kampus. Sejenak ia terdiam di bangku kemudi dan menyenderkan punggungnya di jok mobil. Mengapa takdir begitu menyakitkan baginya? Liora menghela napas panjang dan melirik ke arah jam tangannya, ia mematut diri di kaca spion merapihkan tatanan rambut serta make up-nya yang agak sedikit berantakan akibat ia menangis.

Gadis itu tersenyum pelan dan kemudian menyambar tasnya di bangku samping kemudi dan keluar dari mobilnya dan  berjalan memasuki area kampusnya. Ditatapnya jam tangan yang melingkar ditangan kirinya. Sepuluh menit lagi ia harus mengikuti kelas anatomi—mata kuliah favoritnya, namun rasanya ia sedang tak ingin mengikuti kelas yang diajarkan oleh dosen yang bernama Sooman Lee itu. Masalahnya saat ini membuat semangat belajarnya sedikit menurun. Ia menghela napas lalu memutuskan untuk terus berjalan menuju taman di area kampus.

Liora duduk disalah satu bangku yang ada disana, menatap mahasiswa lain yang sedang asik beristirahat ataupun berdiskusi disana. Ini memang tempat favoritnya. Ia memegangi kepalanya yang sedikit bedenyut. Menutup matanya sesaat dan merasakan hembusan angin yang tertiup ke arahnya.

“Sudah kuduga kau ada disini,” ucap seorang pria yang entah sejak kapan sudah berada di belakangnya.

Liora menolehkan kepalanya, menatap pria yang berbicara tadi. Ia tersenyum pelan ketika mendapati Andrew yang sudah berada dibelakangnya dengan senyuman yang mengembang sempurna diwajahnya. Lalu pria itu menghampirinya dan duduk tepat disebelahnya.

“Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau ada kelas sekarang?” tanya Andrew.

Liora tersenyum mendengar pertanyaan Andrew. “Aku sedang tidak ingin masuk kelas,” ucap Liora pelan seraya menundukkan kepalanya lalu menatap sekelilingnya.

“Kenapa?  Dia mengganggumu lagi?”

Liora tersenyum pahit. Ia menatap Andrew yang ada disampingnya.

“Kau cemburu, huh?” goda Liora.

“Tentu saja! Kau ini milikku Liora!” ucap Andrew melipat kedua tangannya didada seraya mengerling ke arah gadisnya itu.

Liora tertawa mendengar ucapan Andrew tadi. Entah mengapa ia merasa nyaman ketika bersama pria ini, terutama ketika Andrew membuatnya tertawa—rasanya semua beban yang ada dipundaknya hilang begitu saja walaupun ada sedikit yang membuatnya terasa kosong.

“Aku rindu ketika kau tertawa seperti ini,” ucap Andrew merubah posisi duduknya menjadi sedikit menyamping dan memusatkan pandangannya terhadap Liora.

Liora menghentikan tawanya.

Gomawo.“

“Eng… kudengar Marcus tidak masuk hari ini,” ucap Andrew.

Seketika Liora teringat kejadian waktu itu. Tubuhnya membatu. Andrew menatap gadis itu heran. Menunggu Liora menjelaskan apa yang terjadi.

“Marcus—dia kecelakaan,” ucap Liora tercekat.

Andrew membelalakkan matanya. Bagaimana bisa seorang Marcus mengalami kecelakaan? Ia tau betul jika Marcus bukan tipe orang yang mudah mengalami sebuah kecelakaan. Pria itu sungguh perfeksionis, seseorang yang bahkan memiliki pantangan untuk melanggar rambu lalu lintas.

“Bagaimana bisa?”

“Kemarin aku menemuinya di klub, lalu dia pamit padaku untuk pergi. Dan ternyata—dia menamui gadis itu, lalu gara-gara dia Marcus kecelakaan.” ucap Liora tercekat, dadanya terasa perih.

“Kau kemarin ke klub?”

Seketika Liora terdiam, ia lupa—Andrew pasti marah jika tau kejadian kemarin. Lalu Liora menganggukkan kepalanya pelan.

“Kau bertengkar dengan ibumu lagi? Lalu kau pulang dengan siapa?” tanya Andrew lembut seraya mengusap rambut gadis itu.

Ne, aku pulang naik taksi. Angela yang mencarikan taksinya.”

Andrew mengangguk mengerti. Liora menatap Andrew. Mianhae, sungguh aku tidak kuasa menceritakan yang sesungguhnya. Aiden yang mengantarku semalam. Lalu jika aku mengatakannya, apakah kau akan memaafkanku?

Tiba-tiba Andrew bangkit dari duduknya lalu meraih tangan Liora lembut.

“Ayo!”

“Kemana?”

“Kita jalan-jalan. Sudah lama aku tak jalan-jalan berdua denganmu,” ucap Andrew lembut seraya tersenyum pada Liora.

Liora membalas senyuman Andrew lalu ia bangkit dari duduknya dan mengikuti Andrew yang menuntunnya. Gadis itu tersenyum menatap punggung pria yang menggenggam tangannya dengan lembut.

**

Carrie menutup pintu di belakang dan berjalan perlahan memasuki ruang rawat Marcus. Ia menghela napas ketika pria itu belum juga sadarkan diri semenjak semalam. Gadis itu menaruh ranjang buah di atas meja dan kemudian mengisi vas bunga dengan bunga mawar warna peach segar kesukaannya dan menaruhnya di atas meja kaca dekat jendela supaya mendapatkan sinar matahari.

Gadis itu termenung sesaat seraya menatap jalanan raya di bawah sana. Pikirannya melayang pada saat kejadian semalam. Ia mengangkat tangannya dengan pelan. Kedua matanya lagi-lagi berair. Ah, semua ini akibat keteledorannya.

Carrie berbalik menghadap ranjang Marcus dan sebersit rasa kecewa. Ia berharap pria itu sudah sadar ketika ia membalikkan badannya ataupun ketika ia datang barusan. Carrie berjalan pelan mendekati ranjang Marcus dan menarik kursi di dekatnya. Gadis itu menghela napas.

“ Kukira ketika aku datang kau sudah sadar, ternyata… kau masih betah di alam mimpi? Seberapa cantik bidadari yang kau temui disana?”

Carrie tertawa pelan sembari menghapus air matanya, dengan ragu gadis itu meraih tangan Marcus dan mentautkannya dengan erat. Ia menghela napas dan menundukkan wajahnya membiarkan air matanya mengalir dengan bebas.

“ Maafkan, aku. Tapi… kau harus bertahan, Marcus. Kau harus hidup, aku meminta padamu. Meski kita baru saja bertemu tapi rasanya aku begitu nyaman sekali berada di dekatmu. Kau begitu menyebalkan. Sangat menyebalkan hingga aku ingin menampar wajahmu itu, tapi mengapa aku selalu nyaman jika kau mengerjaiku atau kau dengan sifat menyebalkanmu itu?” ujar Carrie pelan. Gadis itu semakin mencengkeram erat tangan Marcus dalam tangannya.

“ Kalau kau meninggalkanku, siapa yang akan menjagaku seperti kau menjagaku? Siapa yang menjahiliku seperti kau mengerjaiku? Marcus, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta dan itu hanya kepadamu. Lalu setelah kau mengambil perasaanku, kau membuangku begitu saja dan meninggalkanku? Bisakah kau mendengarku dari alam mimpimu? Meninggalkan bidadari yang jauh lebih cantik dariku. Bisakah kau kembali padaku?”

Carrie menyeka air matanya sekali lagi.

“ Kenapa kau menyelamatku malam itu, seharusnya lebih baik kau membiarkan tubuhku menabrak mobil itu, bukankah itu lebih baik dibanding kau yang seperti ini? Ini sangat menyakitkan, Marc. Apa yang harus aku lakukan?”

Gadis itu menangkupkan wajahnya di atas kedua tangannya dan menangis kencang. Membuat ruangan yang sepi menjadi sedikit ‘bersuara’ akibat tangisannya. Ia belum pernah seperti ini sebelumnya, menangis hanya karena cinta. Gadis itu mengigit bibir bawahnya, terasa sangat begitu menyakitkan.

“ Mana mungkin aku membiarkanmu meninggalkanku, bodoh.”

Suara Marcus? Carrie pun mengangkat wajahnya dan menyeka air matanya. Marcus tersenyum lembut ke arahnya, dan berusaha menggapai tangannya dan mengenggamnya dengan erat.

“ Jangan pernah berkata kalau aku akan membiarkanmu terluka, Carrie. Aku tidak akan pernah mau melakukannya,” ujar Marcus.

“ Ka—kau sudah sadar?”

“ Tentu saja, gadis bodoh! Aku hanya terbentur dan bukanlah masalah besar.” ujar Marcus tertawa seraya mengacak-acak rambut Carrie, “ aku sudah bangun sejak kau datang tadi.”

Sontan Carrie membelalakkan kedua matanya, melepaskan tangan Marcus, dan memundurkan langkahnya dari ranjang Marcus. Dengan pelan Marcus berusaha bangkit dari baringannya dan duduk di atas ranjang dan sesekali memegang kepalanya yang ditutupi perban itu.

“ Ka—kau mendengarnya?”

“ Semuanya.”

“ AAAAAAAA!! Andwae!” pekik Carrie kencang seraya menutup kedua telinganya dan berlari keluar dari ruangan Marcus dengan kencang.

Marcus mengerutkan keningnya dengan bingung namun sesaat kemudian beranjak dari tempat tidurnya seraya mencabut paksa jarum infus dan bergegas mengejar gadis itu. Apa yang salah dengannya? Salahkah jika ia mendengarnya? Marcus hanya tersenyum sendiri dan bergegas berlari mengejar gadis itu.

“ Carrie, larimu cepat banget sih! Baru kali ini aku mengejarmu hingga sesulit ini!” gerutunya kesal.

==

Carrie memukul-mukul kepalanya dengan gemas dan menghentakkan kakinya dengan kesal. Berulang kali ia berjalan bolak-balik mengecek bahwa Marcus tidak akan menemukannya. Gadis itu menggigit bibirnya ketika membayangkan di saat ia menangis mengakui perasaannya, pria itu justru tersenyum-senyum menyebalkan.

“ Aih, bodoh! Seharusnya jangan berkata itu. Memalukan!” rutuknya.

“ Mana boleh! Sesuatu yang sudah dikatakan itu tidak boleh ditarik kembali. Bisakah aku mendengarnya sekali lagi?” ujar Marcus di belakangnya. Gadis itu terdiam dan membalikkan badannya ketika dilihatnya pria itu berdiri di belakangnya seraya tersenyum lebar.

Ani. Ani!” ujarnya berjalan cepat bergegas menjauhi Marcus. Namun dengan gesit pria itu menahan tangannya dan mengcengkeramnya dengan kuat alih-alih menguncinya agar gadis itu bisa lagi berlari darinya.

“ Aku mencintaimu, Carrie.”

Gadis itu terdiam membisu. Marcus hanya menatap punggung gadis itu dengan lirih.

“ Itulah alasan yang membuatku ingin selalu mengerjaimu, selalu dekat denganmu, dan tidak ingin kehilanganmu. Alasan yang ingin membuatmu tetap bertahan hidup seberat apapun cara yang harus aku jalani. Mengertikah sekarang? Jangan pernah berlari menjauhiku lagi, araso? Karena seberusaha apapun kau menghindariku, menjauhiku, aku berjanji padamu bahwa aku akan selalu menemukanmu.”

“Maaf karena membuatmu menunggu lama dan membuat menyatakan perasaanmu duluan.”

Carrie membalikkan badannya perlahan, dan menatap Marcus dengan lembut. Sesaat kemudian ia tersenyum dan langsung memeluk pria itu. Marcus terdiam. Namun tidak lama kemudian, ia tersenyum bahagia dan memeluk kembali gadis itu dengan erat lalu mencium puncak kepala Carrie dengan lembut.

“ Terimakasih, Marcus. Terimakasih, kau membuat perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan.” ucap Carrie pelan dalam dekapan Marcus.

Marcus tertawa pelan dan memeluk gadis itu semakin erat.

“ Tentu saja, Carrie Cho.” Bisiknya pelan tepat di depan telinga Carrie. Sontak gadis itu melepaskan pelukannya dan memandang Marcus dengan bingung. Marcus tertawa dan mengecup bibir Carrie dengan lembut, dan memeluknya sekali lagi. “ margamu akan berubah tidak lama lagi, setelah aku menikahimu.”

Carrie tertawa dan memukul pundak Marcus dengan gemas. Sementara pipinya sudah memanas dan ia yakin wajahnya sudah semerah tomat matang.

“ Carrie Cho. Eum, nama yang bagus.” ujarnya sembari terkikik.

**

Spencer menatap sepasang sejoli itu dengan tatapan khawatir. Bagaimana tidak, mereka berdua—Liora dan Andrew—sudah seperti orang gila. Mabuk berat. Sudah nyaris sepuluh botol alkohol kadar tinggi mereka teguk. Ia menghela napas dan menggelengkan kepalanya dengan pelan. Dan masalahnya saat ini tidak ada Marcus yang dapat mencegah mereka berdua. Jika dia mencegah, sudah pasti kedua orang itu tak akan mendengarkannya.

“Apa tidak apa-apa membiarkan mereka seperti itu?” tanya Angela yang sama khawatirnya dengan Spencer.

Namun Spencer tak menjawab Angela, ia sendiri bingung harus berbuat apa. Tadi saja Liora menolak mentah-mentah untuk diantar pulang. Angela menatap kedua orang itu yang sedang sibuk dilantai dansa. Kedua orang itu sudah seperti tak sadarkan diri

“ Mereka tidak bisa dibiarkan terus seperti itu. Apa yang harus kita lakukan?”

“ Tidak ada yang bisa kita lakukan,” desah Spencer.

Tiba-tiba Andrew dan Liora menghampiri Spencer dan Angela yang tengah terduduk di bilik dekat meja bartender.

“Kami pergi duluan,” ucap Andrew seraya merangkul Liora yang sudah mabuk pada Spencer dan Angela. Liora tersenyum lebar sementara pandangan matanya sudah tidak fokus.

MWO? Kalian mau kemana?” ucap Spencer bangkit dari duduknya.

Pria itu terlihat kesal, kedua orang itu sudah mabuk dan sekarang mereka mau pergi. Apa mereka mau mati? Andrew mengindahkan perkataan Spencer dan tertawa kencang lalu berbalik meninggalkan Spencer dan Angela.

“ Andrew menyetir dalam keadaan seperti itu?!” gusar Angela cemas.

==

Atas permintaan Liora, Andrew memilih membawanya ke dalam apartemen mewahnya. Gadis itu memilih untuk tidak pulang ke rumah karena teringat dengan segala masalah yang ditimbulkan di dalam rumah yang nyaris seperti neraka olehnya. Andrew melepaskan kemejanya dengan asal kemudian melemparnya ke sembarang arah. Dengan langkah sempoyongan pria itu berjalan menuju konter dan mengambil gelas yang diisinya dengan air putih.

Liora mengerjapkan kedua matanya, dan melihat kekasihnya sedang berada di dapur dan meneguk air putih. Gadis itu membuka kamar Andrew—kamar satu-satunya yang ada di apartemen ini. Ia melempar tasnya ke sembarang arah di kamar sembari melepaskan vest miliknya dan kemudian menarik selimut. Tidur akan membuatnya lebih baik.

Sementara Andrew yang masih dalam keadaan setengah mabuk, dengan langkah sempoyongan ia membuka kamarnya. Ia tersenyum manis ketika dilihatnya Liora sudah tertidur nyenyak. Ia pun melangkah pelan dan duduk di pinggir tempat tidurnya, menatap wajah gadis itu dalam tidur. Andrew tersenyum. Dengan pelan ia menyusuri lekuk wajah Liora yang tertidur itu dengan lembut.

Tiba-tiba saja, Andrew menundukkan wajahnya semakin mendekat wajah gadis itu dan lalu menciumnya. Pada awalnya gadis itu belum menyadari bahwa pria itu sedang menciumnya, namun ketika ciuman Andrew semakin memanas dan ia mengangkat tubuh Liora supaya sejajar dengannya. Dalam sekejap Liora sontak terbangun dan terkejut. Andrew menciumnya semakin dalam, dan membuat kissmark di lehernya. Liora menjerit.

Ia bangkit dari tempat tidur Andrew berusaha menjauhinya. Andrew memejamkan kedua matanya dan mendekati Liora yang ketakutan. Andrew…. Mengapa Andrew seperti ini?! Sungguh sangat menakutkan. Andrew mendekati Liora dan kemudian mencium gadis itu lagi, dengan susah payah gadis itu berusaha melepaskan diri.

Andrew memojokkan Liora ke dinding, kedua tangan kekarnya memegang kedua bahu gadis itu dan ia terus mencium gadisnya itu. Liora berusaha melepaskan dirinya dari pria yang ada dihadapannya kini.

“An—Andrew…” lirihnya.

Wae?”jawab Andrew sedikit marah. Alkohol masih menguasai dirinya.

“Ini sa—“ ucap Liora terpotong karena pria itu kembali mendaratkan bibirnya pada gadis itu.

Seketika Liora mendorong Andrew sehingga pria itu mundur beberapa langkah darinya. Tiba-tiba gadis itu mendaratkan tamparan yang cukup keras pada pipi Andrew yang mulus. Keduanya terdiam.

“Ma—maaf… tapi—tapi ini salah…”

“Liora, maafkan aku—aku—sungguh,“ ucap Andrew merasa sungguh menyesal. Apa yang sudah dilakukannya pada gadisnya ini?

“Andrew—aku tidak bisa… ini sudah salah. Maaf kupikir. Ini harus sudah berakhir,” ucap Liora tercekat. Gadis itu juga bingung dengan apa yang dialaminya sekarang dan apa yang baru saja dikatakannya.

“Apa maksudmu?”

“Kupikir—kita… sampai disini saja,” ucap Liora pelan namun sangat terdengar jelas oleh Andrew.

Andrew terkejut, apakah berarti hubungannya akan berakhir begitu saja? Ia tak ingin.

“Ra, maaf aku—“

“Maafkan aku,” ucap Liora yang langsung mengambil tasnya serta memakai vestnya dengan terburu-buru  dan meninggalkan Andrew yang terdiam membatu.

Gadis itu berlari meninggalkan tempat itu—ia menangis. Air matanya mengalir begitu saja dari pelupuk matanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Ia merogoh tasnya dan mengambil ponselnya dan sial ponselnya mati. Tangisnya pecah, memecah keheningan malam kota Seoul.

Ia segera berjalan menuju telepon umum yang terdekat bisa ia jangkau. Ia mengangkat gagang telepon dan menekan tombol angka, nomor seseorang, nomor yang sudah di hapalnya di luar kepala. Dengan tangan gemetar ia memegang gagang telepon, sementara digigit bibirnya dengan kuat mengharapkan sambungan teleponnya diangkat. Teleponnya tersambung tapi tiba-tiba ia memutuskan teleponnya sebelum orang itu mengangkat telepon darinya. Lalu ia kembali menekan nomor yang di hapalnya diluar kepala—nomor yang berbeda.

“ Kumohon angkat teleponku.”

**

Ya! Kemari habiskan makan malamku!” ujar Marcus sedikit memaksa dan menarik gadis itu mendekatinya dan dengan paksa menyodorkan sesendok makanan penuh ke dalam mulutnya. Carrie menggerutu kesal dengan mulut penuh makanan.

“ Ini makananmu! Habiskan!” gerutunya kesal dan merebut sendok dari tangan Marcus dan dengan kesal menyodokkan sendok makanan itu ke dalam mulut pria itu.

“ Untuk apa makanan hambar ini! Ngga enak! Lagipula, besok pun aku sudah boleh pulang.”

Carrie mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Marcus tertawa dan mengambil Nintendo DS miliknya lalu menyalakannya. Tiba-tiba saja ponsel Carrie berdering dengan begitu keras, Marcus mendelik dan mengambil tas milik Carrie yang berada di atas meja dekatnya lalu merogoh ponsel Carrie. Pria itu mengerutkan keningnya begitu nomor tidak dikenal sebagai id callernya.

“ Ini… bukankah nomor telepon umum?” gumam Marcus.

“ Siapa?”

Marcus mengangkat bahunya dan menyerahkan ponsel Carrie kepada gadis itu. Dengan ragu Carrie menekan tombol hijau di screen ponselnya.

Yeobosseyo.”

Orang itu tak berkata apa-apa, hanya terdengar suara tangisan.

“Carrie.”

Seketika Carrie terkejut. Ia menoleh ke arah Marcus dengan bingung. Marcus mengangguk pelan.

“Liora?”

“Carrie, tolong. Tolong aku kumohon.

“Ra, kau kenapa? Kau ada dimana sekarang? Tunggu disana yah, aku akan menelepon ayah,” ucap Carrie panik. Carrie tak ingin sesuatu terjadi pada Liora—saudarinya.

“Jangan—jangan beritau ayah ataupun ibu. Kumohon, hanya kau dan aku.

Carrie terdiam. Mengapa ayah dan ibu tidak boleh tahu?

“Carrie kumohon.”

“Ba—baiklah, tapi kau dimana sekarang?”

Aku di bilik telepon umum di seberang Sungai Han, tepat di pinggir jalan. Kumohon, Car. Cepatlah datang.”

“ Ba—baiklah. Kau tunggu disana, ne? Aku akan segera kesana!”

Carrie menutup teleponnya dan bergantian ia menatap Marcus dengan bingung. Marcus menghela napas dan kemudian beranjak dari tempat tidurnya lalu menyambar jaket miliknya dan memakainya dengan segera sembari mengambil kunci mobil yang ditinggalkan kakaknya di dalam laci.

“ Aku antar, ayo!” ujar Marcus dingin.

“ Tap—mana mungkin, kau menyetir! Kau belum sembuh.”

“ Aku baik-baik saja. Ayo, jangan membuang waktu!”

Carrie menghela napas dan mengambil tasnya mengikuti Marcus yang sudah keluar dari ruang rawatnya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, dengan terburu-buru ia mencari sebuah kontak di ponselnya dan ia tersenyum lega lalu menekan tombol panggil.

“ Ada apa, Car?”

“ Tunggu sebentar, aku harus memanggil Aiden juga.”

“ Kenapa harus Aiden!”

“ Karena dia yang lebih mengerti Liora di saat seperti ini!” bentak Carrie. Marcus mendengus kesal. Dengan kesal ia melipat kedua tangannya di dada dan menyenderkan punggungnya di dinding rumah sakit.

“ Aiden! Sekarang kau ada dimana?!” pekik Carrie kencang. Marcus mengangkat jari telunjuknya di bibir, memberi isyarat agar gadis itu memelankan suaranya. Carrie tersenyum, dan mengangguk mengerti.

Aku ada di rumah. Ada apa?”

“ Kalau begitu kau harus bersiap-siap sekarang juga, jadi begitu aku dan Marcus tiba di rumahmu kau sudah langsung bergegas. Mengerti?”

“ Eh? Untuk apa kau ke rumahku—dan Marcus?! Ya! Dia belum sembuh benar, untuk apa kau ke rumahku!”

“ Aish, akan kujelaskan begitu aku sudah bertemu dengan kau! Kututup teleponnya!”

Carrie mematikan teleponnya dan memasukkannya ke dalam tas. Marcus mengangguk pelan, dan menarik lengan Carrie bersama dengannya menuju tempat parkir untuk ke menjemput Aiden. Para suster yang melewatinya mereka terkadang berbisik pelan, atau menggelengkan kepalanya. Tentu saja kepala Marcus yang masih di perban sudah keluar malam-malam seperti ini?

**

Tiga puluh menit kemudian, akhirnya Carrie dan Marcus tiba di depan flat milik Aiden. Aiden yang sudah hampir menunggu selama sejam langsung merubah posisi berdirinya yang menyender di pagar menjadi tegak. Dengan malas, Marcus membuka kaca jendela mobilnya hingga keduanya saling bertatapan dengan ekspresi malas.

” Aiden, ayo cepat masuk!” teriak Carrie yang membuka jendela mobil belakang dengan kencang.

” Ngga perlu teriak kencang bisa, ‘kan?” gusar Marcus sedikit kesal.

Carrie mengerucutkan bibirnya dengan kesal seraya menutup kaca jendela dan menyenderkan punggungnya di jok mobil menatap pria di bangku depannya dengan kesal. Aiden mengangkat bahu pelan dan berjalan menuju samping kemudi yang kosong.

” Jelaskan padaku apa yang terjadi dengan Liora?” ujar Aiden yang langsung menginterupsi begitu duduk di samping Marcus.

Marcus mendelik kesal ke arah Aiden seraya menarik tuas dan memutar kemudi segera melaju menuju tempat Liora.

” Car, jelasin,”

” Tunggu sebentarlah, baru saja masuk sudah main interupsi!” gerutu Marcus kesal karena Aiden begitu berisik di sampingnya. Aiden menoleh dan mendecak kesal.

” Aku ngga tahu persis, Aiden. Liora tiba-tiba meneleponku dengan cepat tanpa sempat menjelaskannya. Tapi dia seperti ketakutan, dan dia juga melarangku untuk memberitahu ayah dan ibu.” jelas Carrie.

Aiden terdiam. Dengan lesu ia menyanderkan diri di jok mobil seraya menghela napas panjang. Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk pada gadis itu.

” Bisa ngga sih menyetir lebih cepat, huh?!” gertak Aiden kesal. Marcus menoleh dan mendesis kesal.

” Kau saja yang menyetir! Turun dari mobilku, naik saja taksi yang bisa kau suruh-suruh.”

Aiden menipiskan bibirnya dengan kesal. Sementara Carrie di belakang mereka hanya bisa menghela napas mendengar pertengkaran yang terjadi anatara Aiden dan Marcus.

**

Liora terdiam ditempat yang tak jauh dari telepon umum tadi. Tubuhnya terasa membeku. Kedua pipinya sudah basah dibanjiri oleh air matanya. Entah mengapa ingatannya memutar memori indah yang dulu pernah dialaminya. Memori indah yang dialaminya dengan orang yang begitu berharga dalam hidupnya—Aiden.

“Liora~”

Liora mendongakkan kepalanya, melihat orang yang baru saja menyebut namanya. Dilihatnya Carrie yang sudah ada didekatnya. Lalu tak lama datang seorang pria dari balik tubuh Carrie. Sosok pria yang sangat dikenalnya. Pria itu menghentikan langkahnya. Menatap Liora dengan tatapan khawatir. Tiba-tiba Liora menghambur kedalam pelukannya. Ia terkejut dengan apa yang dilakukan gadis itu, lalu ia tersenyum dan memeluk Liora erat. Gadis itu benar-benar merasa lega, seketika masalahnya hilang begitu saja dan ia suka ketika Aiden memeluknya–menghilangkan beban yang begitu berat dipundaknya.

Carrie melongo menatap adegan itu. Menatap Aiden yang sungguh erat memeluk Liora. Aiden menatap Carrie dan tersenyum bahagia padanya. Sekarang Carrie mengerti kenapa pemuda itu datang ke Seoul dan kenapa Liora begitu marah ketika mengetahui Aiden dekat dengan dirinya.

Aiden melepaskan pelukannya, menatap Liora lekat. Lalu pria itu melepaskan jaket yang dikenakannya.

“Apa kau bodoh, huh? Tengah malam seperti ini hanya menggunakan pakaian seperti ini dan tak menggunakan jaket,” ucap Aiden yang lalu memakaikan jaketnya pada gadis yang ada dihadapannya itu.

“Kau yang bodoh! Kenapa melepaskan jaketmu, huh?” ucap Liora kesal seraya melepaskan jaket milik Aiden yang dipakaikan kepadanya.

“Jangan keras kepala!” ucap Aiden mendengus kesal namun tak lama ia menatap gadis itu lembut dan kembali memakaikan jaketnya pada Liora.

Gadis itu terdiam. Membiarkan  Aiden kembali memakaikan jaket itu padanya. Ia menatap pria yang ada dihadapannya itu.

“Eng… ayo pulang,” ucap Carrie—memecah kebisuan sesaat yang terjadi antara Aiden dan Liora.

Lalu gadis itu berjalan terlebih dahulu menuju mobil Marcus yang tak begitu jauh dari tempat mereka berdiri sekarang. Sedangkan Aiden langsung meraih lengan Liora dan menuntun gadis itu bersamanya. Liora menatap punggung Aiden. Kenapa? Kenapa pria ini selalu memberikan kenyamanan dan ketenangan untuknya? Mengapa pria ini selalu membuatnya tak ingin jauh darinya?

Tak lama, mereka tiba di dekat mobil Marcus. Liora membelalakkan matanya ketika mendapati Marcus yang bersandar di mobilnya lengkap dengan perban yang masih terpasang rapi di kepalanya.

Ya! Kenapa kau disini?!” ucap Liora kesal.

Marcus menatap Liora denga tatapan mengejek.

“Kau ini bodoh? Aku disini karena kau! Merepotkan!”

Lalu perhatian Marcus berpusat pada tangan Aiden dan Liora yang masih bertautan. Pria itu menatap Liora dan Aiden bergantian. Liora menyadari tatapan aneh Marcus lalu ia berusaha melepaskan genggaman tangan Aiden, namun pria itu tak membiarkan tangan Liora lepas dari genggamannya. Liora menatap Aiden  tapi Aiden hanya tersenyum manis padanya.

Marcus menggelengkan kepalanya.

“ Ayo masuk ke mobil! Kau mau kedinginan disini, huh? Aku mau kembali ke rumah sakit!” ujar pria itu lalu berjalan menuju pintu kemudi sedangkan Carrie hanya menatap mereka bertiga dengan bingung.

” Carrie Cho, bisa ngga sih jalanmu cepat?!” bentak Marcus kesal dan sontan Liora dan Aiden menoleh ke arah Marcus dengan bingung.

” Nama margaku Park!” rutuk Carrie kesal.

Marcus mendengus kesal namun tidak lama kemudian tersenyum manis.

” Tinggal menunggu waktu saja,” ujar Marcus yang menarik lengan gadis itu dengan kasar. Aiden hanya tersenyum geli dan masuk ke jok mobil belakang bersama Liora yang sudah masuk terlebih dahulu.

” Menunggu apa sih?!”

” Ah, kelamaan mikir!” ujar Marcus segera mendorong gadis itu dengan paksa ke jok samping kemudi.

==

Mereka kini berada didalam mobil Marcus. Carrie duduk di depan, samping jok kemudi. Sedangkan Liora dan Aiden duduk di belakang. Liora menatap keluar jendela dalam diam, ia masih bingung dengan semua yang terjadi. Ia menghela nafas. Tiba-tiba Aiden kembali menggenggam tangannya. Liora menolehkan kepalanya menatap Aiden. Pria tersenyum ke arahnya.

“Semuanya akan baik-baik saja, percayalah.”

Liora menundukkan kepalanya pelan. Semoga saja apa yang dikatakan Aiden benar. Semuanya akan baik-baik saja.

Marcus melihat Liora dan Aiden dari kaca spionnya. Menyadari sedang diperhatikan, Aiden menatap Marcus.

“Kita kerumah sakit aja, biar Liora aku yang antar.”

“Kau yakin?” tanya Marcus.

Aiden menganggukkan kepalanya yakin. Lalu ia menolehkan kepalanya menatap gadis yang ada disampingnya, gadis itu masih bergelut dengan pikirannya.

Semuanya akan baik-baik saja.

**

Keesokan harinya…

Liora merasakan ada seseorang yang duduk di pinggir tempat tidurnya dan mengusap kepalanya dengan lembut. Gadis itu membuka matanya. Dilihatnya sosok pria yang selama ini dibencinya.

Dennis—pria itu tersenyum ketika Liora terbangun dari tidurnya.

“Kau sudah bangun.”

Liora bangkit dari tidurnya, kenapa dia ada disini?

“Kau pasti bertanya untuk apa aku berada disini,” ucap Dennis tersenyum.

Eh? Kenapa dia tahu?

“Liora, sebenci apapun kau padaku kau tetaplah putri ku walaupun mungkin kau tak pernah menganggapku sebagai ayahmu itu tak jadi masalah untukku dan kau tetaplah putriku. Aku bersyukur dapat menikah dengan ibumu dan menjadi ayahmu, aku senang kau menjadi putriku. Tapi jangan karena aku kau membenci ibumu. Dia sangat menyayangimu bahkan dia sangat mengkhawatirkanmu, setiap hari dia memikirkanmu. Dia ingin kau tetaplah menjadi seorang Liora—Liora putrinya dan bukanlah seorang Liora yang tak dikenalnya. Kau mengerti?”

Liora terdiam mendegar perkataan Dennis tadi. Apa yang baru saja dikatakan oleh ayah tirinya itu memang benar. Sebenarnya apa yang membuat dirinya begitu membenci Carrie dan juga ayahnya? Liora sendiri bingung mengapa ia bisa menjadi seperti sekarang ini.

Dennis bangkit dari duduknya, “lebih baik kau istirahat dulu.”

Liora menatap Dennis yang berbalik dan berjalan menjauhi dirinya. Ia membuka mulutnya, mengatakan sesuatu sebelum pria itu benar-benar hilang di balik pintu kamarnya.

“A-ayah.”

Dennis menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Liora, menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari bibir putrinya yang satu ini.

“Ayah, maukah kau… mengantarku ke kampus?”

Dennis tersenyum—senyum bahagia. Betapa bahagianya Dennis ketika Liora memanggilnya dengan sebutan ayah. Lalu Dennis menganggukkan kepalanya.

“Baiklah, lebih baik kau siap-siap sekarang.”

Perlahan senyuman terukir indah diwajah Liora. Ditatapnya Dennis yang kembali berjalan keluar kamarnya. Ayah, sudah lama sekali ia tidak memanggil seseorang dengan sebutan… Ayah.

==

Carrie duduk di sofa ruang tengah seraya menunggu ayahnya. Dia mangerucutkan bibirnya karena sudah hampir setengah jam ia menunggu ayahnya yang masih bersiap-siap. Carrie langsung bangkit dari duduknya ketika mendapati Dennis yang sudah siap dengan jasnya dan ibunya yang membawakan tas kerjanya.

“Ayah, ayooo cepat!” ucap Carrie menarik tangan Dennis.

Pria itu tersenyum melihat tingkah Carrie. Tiba-tiba Carrie terdiam ketika mendapati Liora yang menuruni tangga dari lantai dua rumahnya.

“Ayah tunggu di mobil,” ucap Dennis yang kemudian berjalan meninggalkan Carrie, Liora dan Taeyeon.

Seketika suasana menjadi kaku. Carrie menatap Liora dengan canggung. Tiba-tiba Liora tersenyum padanya, menghampiri Carrie dan meraih tangan Carrie.

“Ayo berangkat,” ucap Liora.

Carrie melongo mendengar perkataan Liora. Apakah baru saja Liora mengajaknya untuk pergi ke kampus bersama? Carrie menganggukkan kepalanya.

Liora terhenti lalu menolehkan kepalanya, menatap ibunya. Gadis itu tersenyum.

“Kami berangkat,” ucap Liora yang kemudian mengecup pipi ibunya.

Lalu Liora menarik tangan Carrie bersamanya. Carrie tersenyum lalu mensejajarkan langkahnya dengan Liora.

” Liora bagaimana jika pulang kuliah nanti kita jalan-jalan?”

“Eum… baiklah.”

Taeyeon tersenyum. Liora, putrinya sudah kembali.

**

Marcus bersandar di mobilnya menunggu kedatangan Carrie seraya sibuk dengan PSP kesayangannya sedangkan Aiden terduduk di bangku yang terdapat di sekat mobil Marcus dengan earphone yang terpasang di telinganya. Aiden melepas earphonenya ketika mendapati mobil Mercedes hitam milik Dennis memasuki lingkungan kampus.

” Carrie datang.”

Marcus menghentikan kegiatannya dan menatap mobil yang ditunjuk Aiden. Mobil itu berhenti tidak jauh dari tempat mereka berada. Seketika kedua pria itu membelalakkan matanya ketika mendapati Carrie dan Liora turun dari mobil yang sama dengan bersamaan.

“Apa perlu kujemput?”

Carrie menggelengkan kepalanya.

Anni, aku dan Liora akan ke Hyundai pulang kuliah nanti,” ucap Carrie menatap ayahnya seraya melingkarkan tangannya ke tangan Liora.

“Baiklah kalau begitu, tapi jangan pulang larut malam. Arassoyo?”

Carrie menganggukkan kepalanya semangat. Liora melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.

” Sebaiknya ayah pergi sekarang, bukankah ayah ada meeting sebentar lagi?” ucap Liora menatap Dennis.

Dennis tersenyum, ” Ne, baiklah.”

“Ayah…” ucap Liora sebelum Dennis benar-benar meninggalkan keduanya.

“Hati-hati dijalan.”

==

Liora dan Carrie berjalan berdampingan. Carrie tak henti-hentinya bercerita dan membuat Liora terkikik ketika mendengar cerita konyol Carrie.

Tiba-tiba Carrie menghentikan langkahnya.

“Liora, apakah kau menyukai Aiden?”

Liora terbatuk ketika mendengar pertanyaan Carrie.

“Kenapa… kau bertanya seperti itu, huh?”

Carrie menggelengkan kepalanya, “Anni, kupikir Aiden—“

Ya! Kalian lama sekali, dasar wanita!” ucap Marcus menghampiri Liora dan Carrie, membuat Carrie menghentikan perkataannya.

Liora menoleh ke arah Marcus dan Aiden yang sudah berada di dekatnya.

” Kau! Awas saja sampai berani menyakiti Carrie. Kalau sampai kau menyakitinya lagi, aku akan—“

” Kau mau apa, huh?” ucap Liora.

Gadis itu mendengus kesal.

“Asal kau tau saja ya Marcus Jo, aku menampar Carrie itu gara-gara kau!”

Marcus membelalakkan matanya, apa yang baru saja dikatakan Liora? Gadis itu menampar gadisnya gara-gara dirinya?

Marcus menatap Carrie tajam. Carrie menggelengkan kepalanya. Sedangkan Liora tersenyum puas ketika melihat ekspresi Marcus. Tiba-tiba Liora berjalan meninggalkan mereka, lalu Aiden berjalan menyusul gadis itu. Marcus menatap heran pada Liora dan Aiden.

Mau kemana mereka?

==

Liora berjalan lebih cepat, mungkin sekarang ia bisa dibilang berlari. Ia mengejar pria itu, pria yang selama ini mengisi hidupnya. Nafasnya mulai tersengal-sengal.

“Andrew tunggu!”

Pria itu—Andrew menghentikan langkahnya. Membalikan tubuhnya dan menatap Liora yang kini berjalan ke arahnya. Ia tersenyum, tepatnya senyum yang terpaksa dan senyum yang penuh penyesalan.

“Hai Ra,” ucap Andrew lembut.

“Andrew.. aku—aku minta maaf… mungkin—“

“Kau tak seharusnya minta maaf padaku, justru akulah yang salah. Maafkan aku, aku justru tak bisa menjagamu… aku terlalu egois Ra,” ucap Andrew memotong perkataan Liora.

Liora menatap pria yang ada dihadapannya ini nanar. Bagaimanapun pria inilah yang selama ini selalu ada disisinya, dan membuat dirinya merasa tak sendirian. Entah mengapa matanya mulai terasa panas dan buliran air mata jatuh membasahi kedua pipnya. Liora menundukkan kepalanya, berusaha agar Andrew tak melihatnya menangis. Ia sungguh merasa rapuh. Namun ternyata Andrew terlebih dahulu melihat buliran air mata gadis itu.

“Hey, kenapa menangis?” ucap Andrew lembut seraya mengangkat wajah Liora dan menghapus air mata gadis itu.

Andrew tersenyum manis.

“Kau tak seharusnya menangis Liora, gadisku tak akan pernah mudah menangis…” hibur Andrew, entah mengapa hatinya begitu perih ketika melihat gadis itu menangis.

“Terima kasih,” ucap gadis itu tercekat, menahan tangisnya.

Andrew mengangguk pelan lalu ia menatap sosok pria yang berdiri tak jauh dari mereka, tepatnya dibelakang Liora.

“Sudah, kau jangan menangis lagi. Aku tak ingin dia salah paham dan menghajarku lagi,” goda Andrew menunjuk Aiden yang berdiri didekat mereka.

Sontak Liora menolehkan kepalanya mentap Aiden. Pria itu berdiri dengan kedua tangannya yang dimasukkan kedalam saku celananya. Tiba-tiba Andrew mencium pipinya kilat membuat Liora menatap Andrew terkejut dan membuat Aiden membelalakkan matanya.

“Kau—“
“Maaf, itu untuk terakhir kalinya. Aku harus pergi, bye…” ucap Andrew yang kemudian meninggalkan Liora.

Liora tersenyum menatap kepergian Andrew. Pria itu sungguh baik bahkan sangat baik.

“Apa yang dia katakan?” tanya Aiden yang kini sudah berdiri disamping gadis itu.

Liora menolehkan kepalanya lalu merubah posisinya sedikit menghadap Aiden. Gadis itu tersenyum.

“Rahasia.”

Aiden mendengus kesal.

“Ayo!” ucapnya meraih tangan Liora lalu menuntun gadis itu bersamanya.

“Eh? Kemana?”

“Taman.”

Aiden masih menggenggam tangan Liora lalu pria itu duduk disalah satu bangku taman ketika keduanya tiba di taman kampus. Lalu Liora mengikuti Aiden dan duduk disampingnya. Gadis itu tiba-tiba saja tersenyum. Perlahan gadis itu menyandarkan kepalanya ke pundak Aiden. Aiden tesenyum seraya menatap gadis itu.

“Aiden.”

“Hmm?”

“Aku ingin ke Mokpo,” ujar gadis itu.

Aiden menatap Liora heran. Tak lama kemudian pria itu tersenyum. “Baiklah, aku akan mengajakmu ke Mokpo dan menemui orang tua ku,” ujar Aiden.

Liora mengangkat wajahnya, menatap Aiden heran.

“Untuk apa?”

Aiden menghela nafas, “ aku ingin mereka tau jika kau adalah gadis yang sangat berarti dalam hidupku, gadis yang selama ini ada dihatiku, membuatku tak henti-hentinya tersenyum sendiri ketika mengingat saat kita bersama, membuatku seperti orang gila… membuatku selalu ingin bersamanya, menjaganya, selalu ada disisinya dan menjadi orang pertama yang dicarinya ketika ia sedang membutuhkan seseorang untuk menjadi pelindungnya,” ucap Aiden seraya menatap Liora lembut, pria itu menarik nafas dan menghembuskannya sesaat sebelum kembali melanjutkan kata-katanya.

“ Aku bahkan hampir putus asa, telebih ketika aku datang kesini dan melihatmu sudah bersama Andrew. Aku bahkan berniat untuk melupakanmu tapi ternyata itu sangatlah sulit. Walaupun kau sempat berbeda denga Liora yang dulu, tapi bagiku kau tetaplah Liora.”

“Tapi—kenapa?”

Aiden terkikik.

“Karena aku mencintaimu Liora. Aku ingin kau menjadi milikku, menjadi Liora-ku,” ucap Aiden menatap Liora lekat.

Liora mengalihkan pandangannya, menatap sekelilingnya. Entahlah jantungnya kini berdegup lebih kencang apalagi ketika mendengar Aiden menyebut degan ‘Liora-ku’.

“Tapi Aiden, aku—“

“Aku tak peduli apakah nama margamu Kim atau Park, yang kulihat bukanlh itu melainkan sosok Liora yang selalu tersenyum—tersenyum untukku, sosok Liora yang selalu menangis dipelukanku, sosok Liora yang bisa mengalahkanku di permainan basket, sosok Liora yang selalu memaksaku untuk mengartarnya ke pelabuhan jika paman pulang, sosok Liora yang selalu mengajakku ke kedai es krim setiap pulang sekolah, aku mencintai mu Liora…”

Liora terdiam, entahlah perasaannya bercampur aduk. Pria ini—pria yang selalu mengerti dirinya mengatakan jika ia mencintainya. Kuharap ini bukanlah sekedar mimpi~

“Kenapa? Apa kau—tidak mencintai ku?”

“Bukan begitu Aiden, aku hanya—“

“Aku tahu, kau pasti mencintaiku.” ucap Aiden memotong perkataan Liora seraya mengerling pada pada gadis itu.

Liora menatap Aiden tak percaya, sejak kapan pria ini menjadi begitu percaya diri?

Ya! Kau ini sedang menyatakan cinta atau—“ ucap Liora terpotong karena kini bibir Aiden mendarat di bibirnya. Jantungnya berdegup semakin kencang. Perlahan Aiden menjauhkan wajahnya dari wajah Liora. Aiden tersenyum.

“Berarti kau mencintaiku,” ujar Aiden tersenyum pada Liora.

“Aiden! Kau—aish…” ucap Liora mendengus kesal namu pria yang ada disampingnya ini hanya tertawa melihat ekspresinya.

Liora perlahan tersenyum. Iya, dia juga mencintai Aiden bahkan sangat mencitai pria itu. Ia tak ingin Aiden pergi jauh darinya, ia ingin Aiden selalu bersamanya, disisinya dan juga menjaganya.

“Gomawo.”

“Untuk?” tanya Aiden.

“Mencintaiku,” jawab Liora yang kembali menyandarkan kepalanya ke pundak Aiden.

“Tak masalah selama itu kau.”

**

EPILOG

Marcus dan Aiden memakirkan mobilnya di tempat parkir yang ada di sana. Akhirnya mereka tiba di Mokpo, tempat kelahiran Aiden dan Liora.

Lirora menatap hamparan lautan yang ada dihadapannya, sungguh indah.

“Aaa indah sekali!” pekik Carrie girang. Gadis itu melebarkan kedua tangannya seraya menghirup udara pantai dan angin pantai yang berhembus begitu kencang.

Marcus melepaskan kacamata yang bertengger di batang hidungnya seraya membanting pintu mobil di belakangnya seraya menyender di sana melihat tingkah Carrie yang menurutnya norak itu sambil melipat kedua lengannya. Carrie membalikkan badannya dan tersenyum lebar ke arah Marcus, tidak lama gadis itu pun berlari menghampiri Marcus.

“ Hey, ayo kita jalan-jalan di pinggir pantai itu! Asyik!” ujar gadis itu antusias seraya melompat girang menunjuk hamparan pasir putih yang berjarak beberapa meter dari mereka.

“ Aku malas. Kau saja, aku tunggu disini. Lagian, acara Liora Aiden, kau pakai acara ikut-ikutan segala ke Mokpo.”

Carrie mengerucutkan bibirnya dengan kesal.

“ Ih, kapan lagi kita ke pantai?! Ayo!” gerutu gadis itu seraya menarik lengan Marcus bersamanya. Marcus menggelengkan kepalanya dan mengikuti langkah gadis itu sementara membiarkan lengannya dituntun oleh Carrie.

Begitu tiba di tepi pantai dengan sendirinya, Carrie melepaskan tangannya dari Marcus dan berlari girang menghampiri ombak dan sesekali melompat menghindari datangnya ombak. Dari kejauhan Marcus hanya tersenyum sekaligus ingin tertawa melihat tingkah gadis itu. Ia pun berjalan pelan di pinggir pantai seraya mengikuti gadis itu yang berlari-lari kecil mengikuti garis pantai di depannya.

Ya! Kau belum pernah ke pantai ya?!” teriak Marcus kencang. Carrie menoleh dan tersenyum lalu mengangguk girang.

“ Nanti ajak aku lagi ke pantai lain kali, yah, Marcus! Hehehe…”

Marcus mendesis dan sesaat kemudian tertawa pelan. Tiba-tiba di depannya Carrie tertunduk seperti terjatuh atau terantuk sesuatu. Ia pun segera berlari kencang menghampiri gadis itu. Begitu menghampirinya ia menjongkokkan diri di samping Carrie.

“ Ah, haknya lepas! Bagaimana ini~” kesah Carrie seraya menunjuk hak sepatunya yang lepas. Marcus tertawa dan mengulurkan tangannya membantu gadis itu berdiri.

“ Pakai sebelah saja, lebih lucu kok.”

“ Ish! Pergi, percuma kau nggga bisa membantu!” gerutunya kesal seraya mendorong Marcus menjauh darinya. Pria itu tertawa dan menggelengkan kepalanya lalu berjalan terlebih dahulu meninggalkan gadis itu di belakangnya.

“ Marcus, tunggu aku!” pekik Carrie di belakangnya seraya menenteng kedua sepatunya di tangan. Marcus menghela napas dan lalu merebut sepatu tersebut dari tangan Carrie kemudian melemparnya jauh-jauh ke lautan.

Carrie melongo ketika melihat sepatu mahal hadiah ayahnya dari Paris itu dibuang begitu saja ke tengah lautan. Marcus menepuk-nepuk tangannya dengan santai. Gadis itu melirik ke arahnya dengan kesal, sebelum akhirnya mendorong Marcus ke arah ombak dengan sembari memukul dada Marcus dengan kesal.

“ Ah, itu sepatu mahalku! Ayah bisa marah kalau sepatu itu hilang dan terlebih itu dibuang begitu saja olehmu! Ish, Marcus nyebeliin~”

“ Kalau sepatu mahal ternyata ngga menjamin kualitas haknya, percuma saja!”

“ Lalu, nanti aku pulang pakai apa?!” teriak gadis itu kesal sementara kedua matanya sudah memerah dan siap-siap mengeluarkan air matanya. Marcus tertawa dan lalu mendekatkan diri ke arah Carrie dan mencium bibir gadis itu dengan lembut namun tak lama dengan kesal gadis itu mendorong tubuhnya menjauh darinya.

“ Jangan sembarang menciumku, pria menyebalkan!”

“ Oh, baiklah.”

Marcus menghela napas dan kemudian melepaskan kedua sepatunya. Carrie mengulum bibirnya dan melihat pria itu dengan aneh. Marcus menatap gadis itu dengan tajam, dan memaksa Carrie memegang kedua sepatunya di tangannya, kemudian menunduk di depan gadis itu.

“ Naiklah! Jangan banyak bicara!” ujar Marcus seraya menepuk punggungnya.

“ Tidak mau! Bisa saja, kau tiba-tiba melemparku ke lautan!”

Marcus berbalik dan membuka mulutnya, seperti ingin membentak namun tidak jadi. Ia memejamkan kedua matanya sejenak, dan lalu menunduk kembali.

“ Naik! Kalau tidak naik sekarang juga, aku akan benar-benar membuangmu ke lautan!”

“ Aish, ancaman apa itu! Oke, kalau kau membuangku ke lautan, demi lautan Mokpo yang menjadi saksi, aku akan menghantuimu sepanjang hidupmu!” ancam Carrie yang kontan membuat Marcus tertawa terbahak-bahak.

“ Baiklah, hantui saja aku. Aku tidak takut dengan setan bodoh sepertimu!”

“ Cish, diam! Aku akan naik.” Gerutu Carrie kesal dan lalu naik ke atas punggung pria itu. Marcus bangkit seraya menggendong gadis itu dalam punggungnya, Carrie melingkarkan kedua lengannya di leher Marcus dan menumpukan dagunya di pundak pria itu.

“ Marc, janji yah jangan pernah meninggalkan aku.” ucap Carrie pelan dalam pundak Marcus. Marcus menoleh sekilas dan tersenyum.

“ Baiklah, kau boleh pegang janjiku tidak akan pernah meninggalkanmu. “

“ Bagus. Eum, aku lapar. Boleh ke kita pergi makan sekarang, hmm kita harus mencoba makanan laut khas Mokpo.”

“ Kalau kau ingin makan, maka cium aku dulu.”

Ya!

“ Tidak mau? Baiklah, tidak ada jatah makan malam, sehabis ini kita langsung pulang.”

“ Ish, ancaman ngga bermutu.” Gerutu Carrie. Carrie mengerucutkan bibirnya dengan kesal dan kemudian mencium pipi Marcus dengan kilat, sebelum kedua pipinya menjadi semakin memanas. Marcus tertawa.

“ Kenapa hanya di pipi?”

Dengan kesal gadis itu mengetuk kepala Marcus.

“ BERI AKU MAKAN MALAM!”

“ Oke, tuan putri!”

**

Liora merentangkan tangannya ketika ia sudah berada di tempat favoritnya; pantai. Ia memejamkan matanya, merasakan angin pantai yang berhembus ke arahnya. Pantai memang tempat yang sangat indah. Ia kembali teringat ketika ayahnya—Jordan membawanya ke pantai. Sungguh memori yang sangat indah.

“Rasanya baru kemarin aku kesini dengan ayah,” ucap Liora pelan namun terdengar begitu jelas di telinga Aiden.

Aiden tersenyum lembut.

“Apa kau merindukannya?”

Liora menggelengkan kepalanya seraya menoleh ke arah Aiden yang ada disampingnya. Aiden menatap Liora heran.

Anni, aku tidak merindukannya. Karena ayahku, Jordan Kim selalu ada untukku, menjagaku, melindungiku dan dia akan selalu ada dihatiku selamanya. Walaupun…” ucap Liora tercekat, dadanya kembali terasa sesak jika mengingat ayahnya.

Aiden menyadari perubahan suasana yang terjadi pada gadisnya itu. Perlahan ia menarik Liora dan merengkuh ke dalam pelukannya.

“Aku tahu, kau tak perlu melanjutkannya lagi. Ayahmu pasti bangga padamu sekarang,” ujar Aiden lembut seraya mengusap kepala Liora lembut.

“Apa menurutmu begitu?”

Aiden menganggukkan kepalanya.

Ne,” ucap Aiden seraya mengecup puncak kepala Liora dan memeluk gadis itu semakin erat.

“Bahkan aku mungkin lebih bangga padamu ketimbang paman yang ada di surga,” ucap pria itu lembut.

Liora tersenyum lalu gadis itu mendongakkan kepalanya, “Aiden…”

“Hmm?”

“Ayo kita beli es krim.”

Aiden teresenyum menatap Liora dan melepaskan pelukannya.

Kkaja!” ujar pria itu menuntun Liora, gadis yang kini menjadi miliknya—menjadi Liora-nya.

Tiba-tiba Aiden menghentikan langkahnya, dan membuat Liora menoleh ke arahnya. Namun pria itu menyapukan bibirnya di bibir Liora. Gadis itu terdiam, rasanya kakinya tertancap begitu dalam ke tanah.

Pria itu menjauhkan wajahnya beberapa senti dari Liora lalu tersenyum pada gadis itu lalu berjalan terlebih dahulu seraya tertawa. Liora menatap Aiden kesal. Pria ini, selalu saja membuat jantungnya berdebar.

“Aiden!” pekik gadis itu berlari menyusul pria yang berjalan didepannya.

Aiden membalikkan tubuhnya, merangkul gadis  yang ia cintai ini.

“Kau berdebar, huh?”

END

4 thoughts on “[FF] Life part 3 -END-”

  1. Wahahaha😀
    Annyeong eonn! Orang gila balik lagi (?)
    Fin! Fin!! *Sorak-sorai*:D Suka banget sama Finishing-nyaa🙂
    Pas yang di pantai, Carrie sma Marc lucu bangettt😀 wahaha
    Liora sma Aiden juga romantiss❤
    Andrew single kan? sama saya juga boleh #abaikan
    Btw, eon, kalo aku pake nama inggris SJ di tulisan ak gpp kan? hehehe ^^ soalnya keren sih nama2nya..🙂

    1. annyeong kay ^^v
      aaaaa gomawo kalau sukaa hehehehe
      iya aku juga suka banget yang bagian di pantai, rasanya gimanaaa gitu (?) wkwkwkwk
      YES, Andrew is single now wkwkwkwkwkwk silahkan mau diambil (EH?)
      gapapa ko, itu free hehehe dipake aja namanya hehehehe😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s