[FF] Life (The Biggest Mistake) part 3

Title: Life 

Author: Liora Lee and Carrie Cho.
Rating : PG+15 / straight.
Casts  : Lee Donghae, Cho Kyuhyun (Super Junior) and OC.
Genre  : Romance, Friendship, Family, AU, Angst.
Length : Chaptered.
Part: 3 of 4

Disclaimer : The characters in this story is the character of their own with a bit of my imagination and this story is only a fiction. So don’t sue me. Do not copy paste this fics without any permission from author.

A/N :
– I created this story with my chairmate and this story was publishen on her blog too.
– You can find other cast when you read this story.
– At first I planned that this section is the last part but it turned out to be too long if used as one part so I decided to split into two parts.
– Don’t forget to give your comments.

You can read this passage in one section here.

READ THE PREVIOUS CHAPTERED HERE.

**

**

Mencintaimu itu adalah salah satu kebodohan dan kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan. Tapi anehnya aku tidak menyesali kesalahanku, bukankah itu kesalahan yang indah, karena aku… mencintaimu?

Aiden Lee

**

Previously…

“ Jangan memaksakan diri, Ra. Aku minta maaf, jika aku punya kesalahan tanpa aku sadari.” ucap Aiden menatap Liora lekat. “ apa kau membenciku juga, karena aku dekat dengan salah satu musuhmu—Carrie?”

“Kau harus tahu Aiden, itu urusanmu mau dekat dengan siapapun. Biarkan aku hidup dengan caraku sendiri karena aku bukan Liora Kim. Aku berbeda dengan Liora Kim jadi kau tidak perlu mengurusi urusanku lagi karena sekarang kita berbeda.”

Aiden diam menatap gadis itu. Kenapa kau Liora?—batin Aiden. Ia sungguh ingin merengkuh gadis ini dalam pelukannya. Ia ingin melihat Liora-nya yang dulu. Yang selalu tersenyum tulus, tidak angkuh dan penyayang. Liora-nya yang sekarang dan Liora-nya yang dulu benar-benar berbeda.

“Urusan kita sudah selesai. Permisi.” ucap Liora datar lalu meninggalkan Aiden yang menatap kepergian gadis itu.

“ Plester itu diusahakan jangan dibuka, hingga kau benar-benar merasa sembuh.” ucapnya sesaat sebelum ia benar-benar meninggalkan Aiden.

Kini, ia benar-benar kesepian. Sendiri. Betapa malangnya, bukan?

**

“ Auuw, bisa ngga sih pelan-pelan? Sangat perih!” gerutu Carrie seraya menepak lengan Marcus yang sedang sibuk membersihkan lukanya. Marcus mengangkat wajahnya dan berdesis.

“ Tahan, oke? Jangan manja, tahan, sementara toh sakitnya juga ngga selamanya.” sahut Marcus santai. Carrie menggigit bibir bawahnya berusaha menahan kesal. “ inilah akibatnya kalau berlaga sok pahlawan, melerai orang berkelahi pada kenyataannya malah jadi korban. Sungguh ironis.” sindir Marcus.

Carrie menggerutu kesal, sementara kedua tangannya mengepal dengan keras. Kalau saja pria itu bukanlah orang yang sedang membantunya membersihkan luka, mungkin sudah ia habisi semenjak tadi. Marcus berjalan dengan santai menuju sebuah lemari di pojok ruang kesehatan, mengambil alkohol serta beberapa kapas, juga plester.

Gadis itu mengangkat lengan kanannya yang terluka cukup parah karena ia sempat terantuk batu besar dengan pinggiran yang cukup tajam, dan ia merasa seperti ada tulangnya yang bergeser dari tempatnya. Sungguh sangat sakit.

“ Kemarikan lenganmu.” ujar Marcus ketus.

“ Untuk apa? Kau mau menyiksaku lebih lama? Anni, aku ngga mau.” Gadis itu memeluk lengannya, menutupinya dari Marcus. Ia berusaha menahan perih ketika kulitnya yang terluka bergesekkan dengan serat nilon bajunya.

Marcus tersenyum sinis. Carrie tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih meski agak kurang rapih itu.  Pria itu mendesis kesal, dan dengan paksa menarik lengan gadis itu. Carrie nyaris saja menggigit lengan pria itu kalau saja Marcus tidak menahannya.

“ Tuh, ‘kan! Kau itu nyaris seperti pembunuh—pembunuh berdarah dingin, sakit sekali… kalau mau menolong pelan-pelan doong!” gerutu Carrie kesal. Marcus tersenyum sinis, dan kemudian menoyor kepala gadis itu dengan gemas.

“ Jangan banyak bicara pahlawan kesiangan!”

“ Siapa sih yang pahlawan kesiangan! Maksudmu, aku? Aku hanya mau menolong sahabatku kok tadi, Aiden—dia butuh bantuan, well sebenarnya salah dia sendiri mencari masalah dengan Andrew, tapi tetap bagaimanapun aku harus menolongnya. Jangan-jangan kau itu tidak mengenal kata menolong ya?” sindir Carrie. Marcus mengangkat wajahnya dan berdesis kasar.

“ Aiden itu orangnya baik, dan juga perhatian, beda banget ya sama—“

Tiba-tiba dengan kasar Marcus membanting mangkuk berisi air hangat bekas membersihkan luka dengan kasar. Dan membuka bungkus plester dengan kasar, kemudian menarik lengan Carrie kemudian menempelkan plester dengan kasar.

Carrie hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dengan kesal, sementara pria itu membereskan peralatan yang tidak Carrie kenal itu ke dalam kotak kaca yang menggantung di dinding. Gadis itu hanya bisa melipat kedua lengannya di dada, dan kemudian Marcus menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam.

“ Kau liat aku kayak ketemu mafia, seram sekali tatapanmu. Aku ini gadis baik-baik, dan rasanya aku tidak pantas kalau kau tatap seperti itu. Seperti penghinaan, kau tahu itu.” ujar Carrie. Marcus hanya mendengus, dan mendekati ranjang kemudian duduk di pinggirnya. “ apa? Kenapa kau tidak memukulku?”

“ Kenapa kau begitu menyebalkan, huh?” ujar Marcus. Alis gadis itu bertaut satu sama lain, dan menunjuk dirinya sendiri.

“ Sebenarnya yang menyebalkan itu siapa? Aku atau kau? “ Carrie berbalik tanya dengan kesal. Marcus mendesis kesal, dan menatap gadis tersebut dengan tajam. Menghadapi Carrie memang harus disertai dengan kesabaran.

“ TERSERAH!” bentak Marcus kesal seraya melempar serbet yang ia pegang ke arah Carrie. Gadis itu hanya mendesis kesal. Sungguh benar-benar…. Sangat menyebalkan!

==

“ Carrie! Kau tidak apa-apa, ‘kan?!”

Tiba-tiba saja Aiden membuka pintu UKS dengan tergesa-gesa dan bergegas menghampiri Carrie. Aiden menundukkan kepalanya, sementara kedua tangannya menumpu juga napasnya yang tersengal-sengal seperti sehabis berlari.

“ Aku baik-baik saja, kok. Hanya luka kecil disini dan disini, bukan masalah besar.” ujar Carrie sembari tersenyum menunjuk plester di lengan kanannya, dan juga di pelipisnya. Gadis itu berusaha bangkit dari tempat tidur, dan duduk bersila di atasnya

“ Tapi tetap saja semuanya ini karena aku, secara tidak langsung aku yang menyebabkannya. Tanpa sadar tadi aku mendorong kau bukan?” ucap Aiden, ia meraih tangan Carrie dan menggenggamnya dengan erat. “ maafin aku, ya.”

Carrie tersenyum. Tangannya terangkat dengan pelan dan mengelus-elus pipi Aiden dengan lembut, kemudian menelungkupkan tangannya di atas tangan Aiden.

“ Kau belum bilang minta maaf ke aku pun, aku sudah memaafkannya kok.”

Marcus menggigit bibir bawahnya sementara kedua tangannya sudah terkepal dengan sangat keras. Ia segera menyambar tasnya dengan tidak sabar, dan berdehem dengan sangat kencang membuat Carrie dan Aiden sontan menoleh ke belakang. Carrie menatap Marcus dengan malas, membuat pria itu sangat ingin menyumpal mulutnya saat itu juga.

“ Hey, Marcus, tunggu!” ujar Aiden tertahan, dengan enggan Marcus membalikkan badannya dan mendongak.

“ Ada apa?”

Thanks, sudah ngebantu Carrie tadi dan juga ngobatin lukanya.”

Marcus mengangguk pelan meski terlihat dengan sangat jelas dari raut mukanya yang keliatan kesal atau apalah semacam mood buruk.

“ Ada yang lain lagi?”

Aiden menggeleng pelan sembari mengangkat bahunya.

“ Kurasa tidak.”

Pria itu mengangguk pelan, dan kemudian berbalik untuk meninggalkan keduanya. Aiden menoleh ke belakang—tepatnya Carrie yang sedang mengusap plesternya dengan pelan dan kemudian berganti menatap Marcus yang sudah menutup pintu ruang kesehatan.

Hingga akhirnya terbesit sesuatu dalam benaknya hingga ia berlari mengejar Marcus meninggalkan Carri yang berteriak memanggilnya di belakang.

“ Marcus! Tunggu!” Aiden berteriak sekencang mungkin dan berlari sekuat yang ia bisa untuk mengejar Marcus (yang ternyata) jalannya sangat cepat juga. Ia menahan lengan kanan Marcus dengan kencang. “ tunggu!” ucapnya tersengal-sengal.

Marcus menoleh dan menghembuskan napas kesal dengan kasar ia melepaskan cengkeraman Aiden dan melipat kedua lengannya di dada.

“ Apa lagi? Kau sendiri yang bilang sudah tidak ada urusan lagi denganku.” gerutu Marcus.

Aiden tersenyum dan menepuk pundak Marcus dengan pelan.

“ Awalnya sih iya, aku ngga ada urusan lagi tapi setelah kupikir rasanya aku masih punya urusan denganmu. Mengapa tidak sekalian saja kau antar Carrie ke rumahnya, huh?”

Marcus merubah posisi berdirinya menjadi lebih rileks, kedua matanya menyipit menatap Aiden dengan tatapan seolah berkata, ‘apa-kau-ini-sudah-gila?’ sementara Aiden hanya menggeleng pelan dan kemudian tertawa kencang.

“ Jangan bodoh, aku ini juga pria dan aku juga bisa merasakan hal yang sama sepertimu, Marcus. Ok, sekarang kau temui Carrie di ruang kesehatan dan jaga dia sampai rumahnya ya. Aku percaya kok, meski yah… aku baru mengenalmu.” ujar Aiden yang menyampirkan tasnya di bahu sembari menepuk pundak Marcus kemudian berjalan santai meninggalkan Marcus di koridor kampus.

Marcus menoleh dan menyipitkan kedua matanya menatap Aiden yang semakin menjauh. Apa yang sudah Aiden lakukan? Dan bagaimana bisa?

“ Aiden mana?! Bukannya tadi Aiden mengejar kau?”

Tiba-tiba suara cempreng milik Carrie bergaung di telinganya. Ia membalikkan badannya dan dilihatnya gadis itu berjalan pelan menghampirinya seraya menahan lengan yang dibebat sementara tasnya di kalungkan di lehernya.

“ Jangan bilang… dia pulang duluan?”

Marcus tersenyum seraya mengangguk pelan.

“ Ish, anak itu!” desis Carrie sebal.

Dengan satu tangannya yang bebas yang berusaha membuka risleting tas yang dikalungkannya untuk mengambil ponsel, dan kemudian menekan beberapa nomor yang kini sudah ia hapal.

“ Sia-sia saja kau telepon dia.” kata Marcus yang mengambil paksa ponsel Carrie bahkan melepaskan baterai ponselnya. Sangat enak sekali melepaskan penutup belakang ponsel dan melepas baterainya.

Carrie melototkannya matanya ketika pria itu merusakannya ponselnya terang-terangan, dan kemudian membuka telapak tangannya menaruh ponsel yang sudah terlepas baterainya.

“ K—kau! Kenapa dilepas baterainya! Ini ponselku, jangan seenaknya lepas-lepas baterai ponsel orang dong! Kalau nanti rusah gimana? Harus ganti kalau saja nanti rusak!” gerutu Carrie yang bersusah payah memasukkan baterai ponselnya dengan satu tangan.

Gadis itu berjongkok berusaha memasukkan kembali baterai ponselnya yang gagal terus karena tentu saja ia hanya memakai tangan kiri—ia punya kelemahan menggunakan tangan kiri. Marcus hanya mengigigit bibir bawahnya tidak tahu harus berkata atau melakukan sesuatu dengan gadis di depannya ini.

Hingga kesabarannya habis, Marcus pun membalikkan badannya berjalan melenggang menyusuri koridor kampus meninggalkan Carrie di belakangnya.  Setelah bersusah payah memasukkan baterai dan kemudian menyalakan ponselnya lagi, gadis itu pun kembali bangkit berdiri dan yang diliihatnya hanyalah punggung Marcus yang semakin menjauh darinya.

Sekilas Carrie melirik ke arah jam digital ponselnya, sudah terlalu sore. Gadis itu meghentakkan kakinya dengan kesal, sebelum akhirnya pasrah dengan mengejar Marcus yang sudah sangat jauh.

“ Marcuuus, tunggu!” pekiknya kencang.

Carrie yang awalnya berlari kencang menyusul Marcus begitu sudah di dekat pria itu justru tidak dapat mengontrol keseimbangan tubuhnya. Niatnya berhenti tepat di belakang Marcus dan menahan lengannya justru meleset hingga akhirnya ia memeluk Marcus dari belakang. Sesaat Marcus terdiam ketika kedua lengan kecil yang memeluk pinggangnya dengan erat dan merasakan napas tersengal-sengal di belakang punggungnya.

Ia melirik ke kedua tangan yang memeluknya dan melepaskannya dengan kesal. Meski pada detik kemudian sedikit ia sesali. Marcus menatap Carrie tajam, sementara gadis itu sudah bersimpuh di depannya seraya memegang ulu hatinya.

“ Kau… jal-jalannya cepat sekali!” ujar Carrie tersengal-sengal. Gadis itu mendongakkan wajahnya menatap pria di depannya dengan sebal. “ kau tidak bisa dengar kalau aku berteriak sebegitu kencangnya di belakangmu, huh?”

Marcus tertawa sinis dan menundukkan badannya menatap gadis itu lebih dekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Refleks Carrie mengangkat kedua tangannya menutupi kedua pipinya yang tiba-tiba memanas, melupakan rasa sakit akibat luka tadi.

“ Ada urusan apa, nona?” kata Marcus pelan sekali; seperti berbisik.

Begitu pelan hingga hanya gadis itu saja yang dapat mendengarnya. Carrie menggelengkan kepalanya dengan pelan ketika dalam penglihatannya wajah Marcus menjadi berbayang-bayang dan begitu banyak dalam kepalanya.

Ya! Kau baik-baik saja?” ujar Marcus panik ketika gadis itu tidak meresponnya. Sesaat kemudian saat gadis itu kembali dalam kesadarannya, ia pun menarik napas lega.

“ Kau sangat menyeramkan.”

“ Hah? Aku? Menyeramkan?” ujar Marcus tidak percaya seraya menunjuk dirinya sendiri.

“ Kau mau kemana habis dari kampus?” tanya Carrie seperti berusaha mengganti topik.

Marcus mengangkat badannya; berdiri tegak di depan Carrie yang masih nyaman dengan posisi bersimpuhnya seraya memasukkaan kedua tangannya di saku celana jeansnya.

“ Aku mau pulang. Kenapa?”

Gadis itu tersenyum lebar dan dengan semangat bangkit berdiri, “ Kalau begitu antarkan aku ke rumah yah? Aiden ‘kan sudah pulang aku agak malas juga naik kendaraan umum. Mau ‘kan?” pinta Carrie dengan nada sedikit memohon.

“ Kalau aku ngga mau?”

“ Ya harus mau!”

Gadis itu mengusap-ngusap kedua telapak tangannya seperti orang memohon pertolongan. Marcus mengerucutkan bibirnya dan mengangguk pelan.

” Serius? Ahh~ makasih!” ujar Carrie kegirangan dan hingga tanpa sadar ia memeluk Marcus dengan erat seraya tertawa bahagia.

Marcus memejamkan kedua matanya berusaha untuk mengontrol perasaannya yang sudah tidak beraturan lagi. Tadi Carrie memeluknya dari belakang dan sekarang gadis itu memeluknya terang-terangan hanya karena ia menyetujui untuk mengantarkannya pulang. Meski sebenarnya memang itu yang akan ia lakukan sebelum gadis itu meminta bahkan memohon kepadanya.

“ Aish, jangan berlebihan, Carrie! Ini masih di kampus!” gerutu Marcus kesal yang dengan kasar melepaskan dan menjauhkan Carrie darinya. Gadis itu hanya menutup mulutnya berusaha menahan tawa.

“ Ups, sorry. Aku—aku ngga maksud, kok.” ucap Carrie pelan.

Marcus mengangguk kepalanya pelan dan kemudian menarik lengan Carrie bersamanya.

“ Sudah, ayo pulang. Aku ada jadwal tanding game bentar lagi!” jelas Marcus.

Carrie hanya mengangguk pelan meski ia tahu pria itu tidak akan menoleh ke belakang hanya untuk sekedar melihat anggukan kepalanya. Gadis itu tersenyum lembut. Bahagia lebih tepatnya.

Berada di dekat Marcus memang lebih banyak menyebalkan karena sifat pria itu yang menyebalkan, cuek, dan semaunya. Tapi di sisi lain di luar sifat menyebalkan Marcus, berada di dekat Marcus membuatnya begitu nyaman; sangat nyaman.

==

Aiden menarik napas panjang seraya mencari tempat yang bisa didudukinya di halte bus tidak jauh dari kampus. Sekali lagi ia menarik napas panjang, bus hijau itu sudah tiba di halte ketika ia baru saja duduk di bangku halte namun untuk kali ini ia membiarkannya. Ia ingin mengulur waktu selama mungkin.

Apakah waktu itu benar-benar dapat mengubah pribadi seseorang?

Jika memang benar, kalau begitu waktu begitu kejam. Karenanyalah sahabatnya—sosok yang sangat ia sayangi menjadi begitu sangat berubah. Begitu berbeda dengan sosok yang sangat ia kenal, bahkan ia mengenal gadis itu jauh lebih lama dibandingkan dengan waktu yang memisahkannya dengan gadis itu.

“ Ra, aku kira setelah datang ke Seoul dan bertemu denganmu kita bisa bersama seperti dulu. Menghabiskan waktu bersama, bercerita tentang waktu yang selama ini kita lewatkan bersama-sama. Aku kira segalanya akan berjalan sesuai dengan harapanku—harapan yang membawaku kemari.” desah Aiden panjang.

Pria itu memejamkan kedua matanya untuk sekedar menikmati angin sore yang menggelitik lehernya ketika angin menyibakkan rambutnya menjadi sedikit berantakan. Ketika ia membuka matanya daun-daun yang berwarna kecoklatan bertebaran ketika angin membawa mereka membuat jalanan Seoul menjadi kotor karena daun-daun yang lepas dari dahannya seiiring dengan bergulirnya musim dingin yang tidak lama lagi.

Mengisi waktu kosongnya sejenak ia membuka tasnya dan merogoh ponselnya. Aiden tersenyum geli ketika melihat kontak Carrie memenuhi panggilan tidak terjawab. Ia mengedikkan bahu dan kemudian memencet tombol hijau bergambar telepon itu dan kemudian menaruh ponselnya di pinggir telinganya. Tidak lama sambungan pun tersambung.

Yeboseyo, ah, Aiden!” Suara Carrie memekik dari seberang telepon membuatnya sedikit menjauhkan ponselnya dan kemudian mendekatkannya lagi. “ Aiden, a—“

TUUUUUUT….

Belum sempat Aiden menjawab telepon Carrie, tiba-tiba saja sambungan terputus dan ketika ia menelepon gadis itu sekali lagi hasilnya nihil. Tidak aktif. Apa yang terjadi?

“ Carrie bersama Marcus, ‘kan?” gumamnya pelan.

“ Oh, baiklah mungkin kalau sudah sampai di flat akan ketelepon lagi. Huh, dasar pria pengecut kalau suka ya kenapa ngga bilang secara langsung saja.”

Aiden pun memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas seraya menghembuskan napas kasar. Ia bosan. Namun tiba-tiba ia teringat sesuatu, meski itu hanya sebuah plester tapi baginya nilainya sebuah plester itu tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan… seseorang yang memberikannya plester. Ia tersenyum kecut.

“Kau harus tahu Aiden, itu urusanmu mau dekat dengan siapapun. Biarkan aku hidup dengan caraku karena aku bukan Liora Kim. Aku berbeda dengan Liora Kim jadi kau tidak perlu mengurusi urusan ku lagi karena sekarang kita berbeda.”

Aiden memejamkan kedua matanya. Rasanya perih. Ada sesuatu yang menghujam dadanya begitu tajam, meninggalkan sebuah luka yang begitu besar tapi anehnya luka sebesar itu tidak terlihat—kasat mata.

“ Ra, kau memang benar. Kita sudah memiliki kehidupan masing-masing sekarang. Aku dan Kau sekarang sudah bukan anak kecil yang memiliki pemikiran konservatif, kita sudah dewasa dapat menentukan pilihan kita sendiri—menilai pilihan yang baik dan juga salah. Pilihan yang buruk dan benar.”

Sekali lagi Aiden menarik napas dan menghembuskannya dengan kasar. Dari kejauhan ia melihat bus hijau sedang melaju menuju halte yang ia duduki—dan ini sudah bus yang ke tujuh yang melewati halte ini. Sudah waktunya pulang sebelum malam. Ia pun beranjak dari kursi dengan enggan berjalan beberapa langkah ke depan halte menunggu bus hijau tersebut.

“ Baiklah, mulai saat ini dan ke depan, aku… aku… akan memperlakukanmu sebagai Liora Park, bukan lagi Liora Kim—sahabat masa kecilku.”

==

Marcus mendengus kesal sesekali ia melirik ke sosok yang duduk di bangku samping kemudi.  Sepanjang perjalanan menuju rumah gadis itu hanya diisi dengan kekosongan tanpa pembicaraan. Hingga akhirnya ia sudah tidak sabar, dan menggertak gadis itu dengan kesal.

“ Kau kenapa? Sakit? Ada masalah, huh?”

Carrie yang sejak tadi hanya menyenderkan kepalanya dengan malas ke kaca jendela seraya memerosotkan tubuhnya di kursi dengan kedua tangan melipat di dada. Gadis itu menoleh kesal dan berusaha bangkit dengan susah payah karena ia benar-benar nyaman posisi tadi meski punggungnya sedikit pegal karenanya. Carrie memincingkan bibirnya dengan kesal.

“ Ada masalah? Kau bilang ‘ada masalah’, ngga sadar? Marcus, Kau ngga sadar tadi  berbuat apa?! … mematikan teleponku sama Aiden, dan lagi, merusak ponselku tahu ngga!” bentak Carrie kesal.

Marcus menoleh dengan malas dan tertawa sinis membuat Carrie semakin kesal. Sungguh menyesal ia meminta bantuan pria di sampingnya ini  untuk menumpang mobil.

“ Semauku dong, ini mobilku dan jadi aku bebas melakukan apapun. Dan termasuk aku ngga suka kau telepon berlebihan dengan pria itu.”

Carrie hanya melongo mendengar jawaban singkat sekaligus menyebalkan itu, dan dengan kesal ia memukul bahu Marcus dengan kesal membuat Marcus yang sedang mengemudi menjadi kehilangan arah hingga akhirnya ia pun menepikan mobilnya di pinggir jalan.

Ya! Kau mau kita mati, hah?! Aku sedang menyetir, bodoh!” teriak Marcus dengan kencang dan menoyor kepala Carrie dengan kesal.

Dengan lagak sombongnya Marcus menepuk pundaknya dan kemudian menyalakan mobilnya lagi melanjutkan perjalanan.

Carrie nyaris menangis. Sungguh baru kali ini menemukan pria se-menyebalkan seperti Marcus. Dengan kesal ia memutar-mutar kenop pintu mobil berusaha ingin keluar, Marcus menoleh dengan tangan kirinya ia menarik lengan Carrie dan mencengkeramnya dengan erat. Carrie berusaha melepaskan cengkeraman Marcus dan menggigitnya dengan kencang.

“ Sakit!”

“ Aku mau keluar! Turunkan aku disini! Pokoknya aku mau turun dari mobilmu, aku ngga mau lagi satu mobil denganmu! Turun! Biar aku minta Aiden yang menjemputku!” teriak Carrie frustrasi. Sementara Marcus hanya tertawa licik dan kemudian menaikan kecepatan mobilnya.

“ Ngga! Ngga! Ngga!” ujar Marcus santai dan lalu menyalakan tape mobilnya dengan volume yang besar supaya ocehan gadis itu tidak terdengar olehnya.

Setelah melihat Carrie yang (terpaksa berpasrah diri) dengan memalingkan badannya menyamping ke arah kaca mobil di sampingnya—menghindarinya, ia hanya tersenyum kecil dan perlahan mengecilkan volume musik. Bagaimanapun juga ia tidak akan membiarkan Aiden—ah,  sebenarnya ia benar-benar malas kalau harus mengkorelasikan pria itu dengan Carrie—menjemput gadis itu.

“ Kau itu orang tersombong yang pernah aku kenal.” ucap Carrie pelan masih dengan memalingkan wajahnya menghindari tatapan Marcus.

Ia terdiam. Ia memang sombong—Marcus tahu hal itu sejak dulu. Tapi entah mengapa saat gadis itu yang mengatakannya itu terasa begitu menyakitkan.

“ Kau bukan siapapun—bahkan kita, aku dan kau baru mengenal. Tapi, kau selalu mencampuri urusanku dan bahkan seperti mengatur-ngaturnya. Hidupku.”

Marcus terdiam sesaat untuk kedua kalinya. Ia berusaha fokus menyetir namun perkataan Carrie barusan begitu sangat mengusiknya. Kau bukan siapapun—itu benar. Dirinya bukan siapa-siapa baginya. Marcus menghela napas dan menggelengkan kepalanya berusaha menghapus pemikirannya namun sesekali ia melirik ke arah samping.

“ Aku bukan siapa-pun, yang memiliki arti dalam hidupmu—tapi aku benar-benar berusaha untuk menjadi sosok yang memiliki arti dalam hidupmu, Carrie. Setiap masalah yang kau hadapi bukan karena aku ingin menjadi sosok yang sok ikut campur dalam masalah dan urusan orang lain, tapi karena aku…peduli padamu.

“ …Aku ingin menjadi sosok yang bisa kau jadikan sandaran dalam setiap masalahmu. Masalahmu itu seperti menjadi masalahku juga. Kau merubahku, Carrie hanya dalam waktu pertemuan singkat kita. Kau yang melakukannya, jadi… jangan salahkan aku.”

….

Hening. Diam. Marcus sejenak memejamkan kedua matanya seraya mengepalkan kedua tangannya dengan keras. Ia sangat tidak suka dengan suasana sunyi, tanpa pembicaraan seperti ini. Ia menoleh ke arah gadis itu yang masih memalingkan wajah darinya.

“ Sudah berapa lama kau berteman dengan Liora?” ujar Carrie yang (akhirnya) menolehkan wajahnya untuk menatapnya. Hingga tanpa ia sadari, Marcus menarik napas lega ketika gadis itu akhirnya membuka pembicaraan.

Marcus tersenyum dan perlahan ia mulai menurunkan kecepatan mobilnya untuk memperlambat waktu.

“ Kurang lebih 3 tahun, aku bertemu dengannya waktu awal-awal kuliah, dan ya, kau tahu sendiri ia satu jurusan denganku di kedokteran.”

Carrie mengulum bibirnya seraya mengangguk pelan, dan kemudian memalingkan wajahnya lagi. Harus ada pembicaraan lagi setelah ini—gumam Marcus.

“ Kau… er, sudah berapa lama… eum, bersaudara dengan Liora?” tanya Marcus hati-hati. Gadis itu menoleh ke arahnya dengan tatapan terkejut, ah tentu saja ia sudah mengangkat topik paling sensitif baginya. Carrie tersenyum, meski itu terlihat dipaksakan.

“ Delapan tahun. Tidak terasa juga sebenarnya kalau aku dan dia bersaudara nyaris hampir satu dasawarsa. Awalnya pun aku sepertinya, sama sekali tidak menyetujui ayahku menikah lagi terlebih ayahku menikah dengan seorang wanita yang sama-sama memiliki anak. Aku ingat pertama kali ayahku mengatakan ia ingin menikah saat itu… aku berteriak keras padanya dan bilang ayah pengkhianat, ia mengkhianati ibu.”

Marcus tertegun. Ia tidak percaya bahwa gadis itu akan bercerita lebih jauh kepadanya. Ia menoleh ke arah Carrie, menatap gadis itu dengan dalam saat itu ia sedang bercerita. Ia sangat suka gurat-gurat ekspresi wajah gadis itu yang berubah-ubah ketika sedang bercerita.

“ Dan akhirnya, kau menyetujuinya bukan?”

“ Hmm, butuh waktu er yah sebulan mungkin ayah memberiku waktu untuk berpikir. Setelah kusadari aku memang sedikit egois padanya. Meski ayah memilikiku sebagai putrinya, bagaimana pun juga beliau tetaplah pria yang butuh seseorang yang bisa ia cintai menggantikan ibu, dan yang mencintainya sebagaimana ibu mencintainya. Ketika ayah memperkenalkanku sama Taeyeon ahjumma yang sekarang menjadi ibuku, aku tahu pilihannya benar. Ayah mencintainya seperti ia mencintaiku dan almarhumah ibuku.”

“ Carrie…er, aku tahu mungkin aku sudah terlalu jauh untuk mencampuri urusan pribadimu terlebih ini adalah masalahmu dan juga Liora, kurasa. Apakah kau membenci Liora—sebagaimana ia membencimu?”

Carrie tertawa lirih. Tertawa di saat yang salah. Gadis itu menelan ludah dan berusaha mengendalikan emosinya.

“ Aku tidak membencinya, sama sekali tidak. Tapi… delapan tahun tampaknya belum cukup untuk membuatku mendapat pengakuan sebagai adiknya. Aku mengerti. Bahkan hingga saat ini pun ia masih enggan memperkenalkanku sebagai adik di depan teman-temannya yang lain—meski itu berstatus adik tiri. Namun sekarang aku sudah berubah pikiran, tidak akan menjadi Carrie yang dulu. Jika ia tidak menganggapku sebagai adiknya, makanya aku pun juga tidak akan menganggapnya sebagai kakakku. Aku tetap anak ayahku—putri satu-satunya.  Bukankah itu yang Liora inginkan, hmm?”

Marcus mengangguk pelan. Sekilas ia menoleh ke arah Carrie sekali lagi, sesaat ia terhenyak. Gadis itu memang kekanak-kanakan, tapi di sisi lain ia memiliki sisi dewasa yang baru kali ini ia tahu.

Marcus terdiam ketika memikirkan perkataan Carrie barusan, berusaha menganggap Liora bukan saudaranya—gadis itu memang mengatakannya, tapi ia sangsi Carrie benar-benar melakukannya. Hingga tanpa ia sadari, Marcus merengkuh tangan kanan Carrie yang bebas dan menggenggamnya dengan begitu erat.

Menyadari tangannya di sambut oleh tangan hangat yang menggenggamnya, Carrie menoleh pelan dan terkejut ketika tangan Marcus menggenggam tangannya. Dengan pelan ia berusaha melepaskan genggaman itu, namun genggaman itu semakin kencang alih-alih mencengkeram. Carrie terdiam hingga akhirnya ia mengurungkan niatnya dan beralih mengeratkan tangannya.

“ Jangan berusaha tegar, ketika kau rasa itu bukan saatnya untuk bersikap tegar.”

**

Andrew membuka pintu mobilnya untuk Liora ketika mereka tiba dirumah gadis itu. Liora mendongakkan wajahnya dan membulatkan bibirnya dengan pelan, tidak terasa bahwa mereka sekarang sudah tepat di depan rumahnya.

“Terimakasih.” ucap Liora.

Andrew tersenyum ke arah Liora. Pria itu hanya menghela napas kasar menyadari jika gadisnya sedang merasa tidak nyaman. Liora hendak berbalik dan meninggalkan Andrew namun pria itu meraih tangan Liora dan akhirnya gadis itu menghentikan langkahnya; membalikan tubuhnya.

“Apa dia mengganggumu?” tanya Andrew

Pria itu menatap Liora dengan intens, ia yakin betul jika gadis itu mengerti apa yang dimaksudnya. Liora tersenyum perlahan tangan kanannya terangkat dan menyentuh pipi Andrew.

Ani. Dia tidak menggangguku hanya saja—ada sesuatu yang mungkin tak seharusnya terjadi. Kau tidak perlu mencemaskan hal yang memang tidak perlu dicemaskan.” ucap Liora pelan namun terdengar jelas oleh Andrew.

“Ra, aku tidak akan membiarkan dia mengganggumu.” ucap Andrew lembut.

“Sudah kubilang, dia tidak menggangguku. Percayalah. Kau percaya padaku ‘kan, Andrew?” ucap Liora.

Andrew tersenyum dan menganggukkan kepalanya walaupun ia sebenarnya tidak yakin atas apa yang baru saja dikatakan oleh Liora. Ia mengenal gadis itu sudah cukup lama, waktu yang dimana ia bisa mengenali perubahan suasana gadis itu.

“Lebih baik kau pulang, istirahatlah. Aku tidak ingin lukamu semakin parah,” ucap Liora menatap Andrew.

“ Kau juga perlu istirahat, Ra. Kau lebih parah dariku,”

“ Ah, ayolah, Andrew. Aku pasti akan baik-baik saja. Pulanglah~” ucapnya pelan seraya mencium pipi Andrew lembut lalu tersenyum.

“ Baiklah, tapi kau harus berjanji padaku jika ada apa-apa segera hubungi aku.” ucap Andrew sedikit posesif. Kemudian mengecup puncak kepala Liora sebelum benar-benar meninggalkan gadis itu.

==

Taeyeon mengetuk-ngetuk kakinya dengan kesal di atas lantai sesekali menilik ke arah jam tangannya. Ia mendesah kesal. Namun tidak lama kemudian pintu masuk yang beberapa jam terakhir ia awasi akhirnya terbuka, dan Liora masuk melenggang dengan santai tanpa memperdulikan sedikit pun kehadirannya.

“ Tidak sedikit pun kau ingin menyapa ibumu, Liora?” ujar Taeyeon dingin seraya melipatkan kedua lengannya di dada. Gadis itu menoleh ke belakang dengan malas, dan mengangkat bahunya pelan.

“ Oh, ya. Selamat malam, bu.” jawabnya malas dan kembali berbalik meninggalkan Taeyeon segera menuju kamarnya. Taeyeon memejamkan kedua matanya sejenak, dan membuka kembali.

“ Apa yang telah kau lakukan pada Carrie, Liora?” tanya Taeyeon dingin.

Gadis itu menghentikan langkahnya di tengah-tengah tangga menuju lantai dua. Kedua tangannya mengepal dengan keras.

“ Maksud ibu apa? Ap—apa yang telah kulakukan padanya? Hah, jangan bercanda!”

“ Baiklah, kuulangi… apa yang kau lakukan sampai Carrie terluka?”

Oh my gosh, jadi ibu hanya… memanggilku, menahanku disini sementara aku lelah baru saja pulang kuliah hanya untuk menanyakan apa yang telah kulakukan pada gadis sialan itu?!”

“ Liora, jaga ucapanmu!” bentak Taeyeon dengan kencang sementara gadis itu hanya mendecak kesal.

Sementara itu dengan santai Carrie turun menuruni tangga, ia berniat untuk mengambil minuman ringan dari dalam kulkas seraya sesekali mengecek ponselnya. Ketika ia sedang melangkahkan kaki di tangga terakhir, dengan sangat jelas ia bisa mendengar suara teriakan Taeyeon dan juga Liora dari ruang tengah. Ia menutup mulutnya dan segera berlari menuju tempat kejadian.

“ Ibu tidak berhak mengatur apapun yang kuinginkan, kulakukan, termasuk aku bebas mengatakan apapun yang menurutku benar!” teriak Liora kencang.

“ Aku tidak melarangmu melakukan hal yang ingin kau lakukan. Silahkan lakukan sesuka hatimu! Kau tidak mendengar pertanyaanku di awal? Aku hanya bertanya padamu, apa yang sudah kau lakukan kepada Carrie!”

“ Ibu sudah kubilang itu bukan salah Liora, bu!” ujar Carrie berusaha menengahi perdebatan ibu dan anak itu. Ia menahan lengan Taeyeon dan menatapnya dengan penuh pengharapan –kumohon-hentikan-pertengkaran.

“ Tidak perlulah kau menjadi sok pahlawan, Carrie!” jawab Liora datar lalu berjalan meninggalkan Taeyeon dan juga Carrie.

Taeyeon semakin kesal karena putrinya yang satu ini benar-benar bersikap tak peduli. Liora terus berjalan walaupun ia dapat mendengar dengan jelas teriakan Taeyeon yang memanggil namanya.

Liora menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur ketika ia memasuki kamarnya. Dilihatnya langit-langit kamarnya berwarna putih. Gadis itu menolehkan kepalanya, menatap sebuah foto pria berpostur tubuh tegap yang sedang merangkulnya, yang terletak di meja kecil sebelah tempat tidurnya. Liora bangkit dari tidurnya lalu meraih foto tersebut.

Dengan lembut gadis itu mengusap foto pria tersebut. Jordan.

“Ayah, apa yang harus aku lakukan? Mengapa hidupku terasa begitu sulit untuk dijalani? Terlebih ketika kau sudah meninggalkanku, yah. Hidupku—takdir sungguh kejam padaku. ” ucapnya lirih. Tanpa disadarinya air matanya keluar begitu saja dari pelupuk matanya.

Liora menghela napas. Gadis itu merogoh tasnya untuk mengambil ponsel berlambangkan apel tergigitnya itu lalu ia membuka daftar kontak yang ada di ponselnya.

‘Call Marcus’

“Kau dimana?” tanya Liora begitu Marcus mengangkat panggilan telepon darinya.

Tentu saja aku sedang di rumah. Ada apa?” ujar Marcus dengan nada sedikit kesal.

“ Kau sedang apa? Tidak sibuk bukan? Kalau begitu kita ketemuan di klub biasa dan hubungi yang lain. Aku sedang pusing dan butuh sedikit penyegaran.”

“ Hah! Kau gila, Liora! Aku sedang sibuk sekarang, kau benar-benar setan pengganggu! Akan kuhubungi yang lain, tapi aku tidak akan pergi kesana. Aku sedang sibuk! Pertandingan gameku jauh lebih berharga dibandingkan menghabiskan waktu di klub.”

“ Kau yang gila, bodoh! Diajak bersenang-senang malah menolak. Aku tidak mau tahu kau harus ada disana jam setengah delapan! Malam ini akan kutraktir!”

“ Ah, baiklah. Awas kalau kau sampai melanggar janjimu. Perkataanmu sudah ku rekam, antisipasi kau mengingkari janji.”

“ Cih, kau pikir aku ini orang yang suka melanggar janji? Sudah berapa lama kau mengenalku, Marcus? Baiklah, tunggu disana aku segera berangkat!” ucapnya seraya mengakhiri pembicaraannya dengan Marcus.

Liora bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju lemari pakaiannya dan tak lama kemudian gadis sudah berganti pakaian dan mengambil jaketnya yang tergantung di dekat pintu. Gadis itu berjalan keluar rumahnya dan menyetop taksi yang akan melintas didepannya.

**

“ Aiden, kau masih temanku bukan?”

“ Ah, Carrie, kau tahulah ini sudah malam, lagipula kalau kau pergi ke toko buku sekarang pun mungkin sudah tutup atau begitu kau sampai disana para pegawainya sudah nyaris akan mengunci pintu masuknya.”

Please, Aiden. Antarkan aku, kau itu ngga mengerti temannya sedang kesusahan yah? Aku benar-benar sangat membutuhkan modul fisdas itu, kau tahu sendiri dosen fisdas itu seperti apa.”

Akan kupinjamkan modulku untukmu, kau ngga harus membelinya.”

“ Aiden~ aku janji akan membelikanmu komik baru kalau kau mau menemaniku ke toko buku. Bagaimana? Oke, karena kau diam saja itu berarti tanda persetujuan! Kutunggu kau jam tujuh di depan toko buku depan Starbucks di Myeongdong.”

Carrie menutup ponselnya seraya bangkit dari tidunya dan bergegas segera berganti baju untuk pergi ke toko buku. Modul fisika dasarnya tiba-tiba saja menghilang. Entahlah menghilang karena ia lupa menaruhnya, atau secara tidak sengaja terbawa oleh orang lain yang jelas buku berharganya itu tidak ada dalam rak buku, tas, ataupun map miliknya. Berharga bukan karena ia menyukai mata kuliah tersebut, tetapi tanpa modul tersebut ia tidak bisa mengikuti pembelajaran mata kuliah tersebut.

Ketika ia baru saja akan mengambil tas kesayangannya di atas meja, sekilas ia bisa melihat seseorang baru saja keluar dari dalam rumah. Begitu ia menyibak tirainya, ternyata itu adalah Liora. Masih dengan pakaian yang sama ketika ia melihatnya saat pulang kuliah tadi.

“ Mau pergi kemana, anak itu.” gumamnya.

==

@ Club Eden.

Marcus mengedarkan pandangannya mencari sosok Liora. Ia mendengus kesal karena sedari tadi ia belum menemukan sosok gadis itu. Bagaimana tidak kesal? Gadis itu tiba-tiba meneleponnya saat sedang asyik tanding dengan game dengan teman virtualnya di dunia maya, dan Liora menyuruhnya untuk segera datang ke klub ini. Tempat dimana mereka selalu menghabiskan malam.

“ Kemana gerangan gadis itu? Bukankah dia yang menyuruh kita kemari?” tanya Angela dengan berteriak kencang agar di dengar oleh teman-temannya.

Sedari tadi ia hanya asik mendengarkan dentuman musik yang dibuat oleh rekan kerjanya yang dengan lihai memainkan peralatan disc jokey di atas panggung sana. Ia tersenyum seraya melambaikan tangannya kemudian mengacungkan jempolnya memberikan pujian kepada sang disc jockey yang terkenal se-antero Seoul itu.

“ Jangan tanya aku. Kau telepon saja dia, aku malas mengambil ponsel di saku.” jawab Marcus acuh seraya meneguk wine favoritnya dalam sekali teguk.

Wine paling mahal di klub tersebut yang dibuat secara khusus oleh ahli pembuat wine di Bordeaux, Perancis. Angela mendengus sebal dan menoleh ke arah jam tangannya.

“ Hah, pokoknya dia harus membayar semua tagihan kita!” desis Angela sembari mengangkat tangannya dan meminta tambahan cocktail kepada bartender.

“ Hey, semuanya! Maaf aku terlambat, er aku belum melewatkan bagian terserunya, ‘kan?” ujar Liora yang tiba-tiba datang dan menepuk pundak Angela dengan kencang membuat gadis sedikit terkejut. Angela menepis tangan Liora dari pundaknya dan meneguk cocktail ke dalam mulutnya.

“ Kemana saja kau?” desis Angela kesal.

“ Ah, macet kau tahu. Kota metropolitan seperti Seoul mana bisa lepas dari kemacetan.” Kilahnya.

“ Kau naik taksi, Ra?” tanya Marcus.

Liora menolehkan kepalanya menatap Marcus kemudian menganggukkan kepalanya seraya berdehem menjawab pertanyaan Marcus. Marcus mengangkat wajahnya dan menaruh PSP miliknya di samping sofanya, menatap gadis itu dengan kesal. Ia sudah tahu apa yang terjadi dalam beberapa jam ke depan. Gadis itu akan minum hingga mabuk berat,  ia tidak membawa mobil itu artinya dia pasti mengantar gadis itu hingga rumah. Mencarikannya taksi atau membiarkan mobilnya penuh dengan bau alkohol. Spencer tentu saja akan menolaknya mentah-mentah.

“ Tampaknya kita terlalu banyak menghabiskan waktu yang tidak berguna. C’mon guys, kita nikmati malam ini dengan sepuasnya!” pekik Liora yang langsung saja disorakki oleh seluruh pengunjung klub.

Angela tersenyum lebar dan beranjak dari kursinya berlari menuju lantai dansa yang dipadati pengunjung klub. Dengan lihainya ia meliuk-liukkan tubuh S-linenya, dan tertawa terkikik bersama dengan Liora. Setelah puas berdansa, Liora kembali menghampiri tempat duduk dan memesan tiga botol wine sekaligus dengan kadar alkohol tertinggi. Marcus hanya melongo melihat sahabatnya bertingkah nyaris seperti sudah gila.

“ Liora, cukup! Kau bisa mabuk, itu saja sudah membuatmu kelimpungan!” teriak Marcus kesal seraya merebut gelas yang sudah siap diteguk. Liora menepak lengan Marcus dan kembali merebut gelasnya dan meneguknya dengan sekali tarikan napas.

“ Jangan munafik, Marcus! Kau ingin bersenang-senang, lakukanlah jangan terlalu dikekang oleh perasaan bodohmu!”

“ Kau sudah mabuk! Liora, hentikan! Kau tidak kuat minum banyak!”

“ Tidak perlu kau cemaskan aku, Marcus Jo. Toh tidak ada yang memperdulikanku, karena semuanya hanya peduli dengan gadis sialan itu!”

Dari lantai dansa, Angela hanya menggelengkan kepalnya ketika melihat Liora dan Marcus yang berebut gelas berisi vodka itu. Ia memilih diam ketimbang ikut campur urusan kedua manusia keras kepala itu.

Percuma saja berdebat dengan gadis susah diatur seperti Liora! Marcus mendesah kesal dan beranjak dari sofa meninggalkan Liora yang sedang sibuk dengan botol-botol vodkanya. Sekilas ia menoleh ke belakang—gadis itu, dan kemudian mengeluarkan ponselnya mengirim pesan kepada seseorang. Seseorang yang bahkan tidak harap ia akan berurusan kembali dengannya.

**

drrt… Drrt…

Aiden meraih ponselnya yang bergetar. Dilihatnya pesan baru dari nomor yang tidak dikenal. Entah sejak kapan mereka mulai berkomunikasi. Dan bagaimana, pria itu bisa mengetahui nomor ponselnya? Dengan ragu Aiden membuka slide ponselnya untuk membuka pesan baru.

From : +85-675-899-xx

Dimana kau sekarang? Aku butuh bantuanmu saat ini juga.

.Marcus

Marcus? Tidak salah bukan ia melihat nama pria yang bahkan terlihat begitu sangat membencinya tiba-tiba saja mengiriminya pesan? Ia tersenyum hambar.

Aku sedang di jalan mau menjemput Carrie. Kau perlu bantuan apa? Mungkin aku bisa membantumu setelah mengantarkan gadis itu ke rumahnya.

Tidak lama kemudian ponselnya bergetar kembali. Balasan dari Marcus dengan nomor yang sama. Ia mendecak bahunya dan membuka slide ponselnya.

Dia mabuk, dan seperti orang gila. Er, entahlah mungkin kau bisa membantunya lebih tenang? Carrie sekarang ada dimana, biar tugasmu menjemputnya biar kulakukan. Kau cukup ke pub bernama Club Eden di daerah Gangnam, tidak jauh dari Ritz-Carlton Hotel.

Aiden menghela napas dan memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. Liora mabuk? Ia tertawa sinis ketika memikirkan berbagai spekulasi liar yang berbayang dalam benaknya. Mabuk, pub, dan alkohol tentu saja menjadi barang yang biasa untuk gadis itu. Dan mengapa Marcus mempercayakannya? Kenapa tidak dengan Andrew saja? Bukankah pria itu kekasihnya?

Baiklah. Aku akan memutar arah ke Gangnam. Kau jemput Carrie di depan toko buku kawasan Myeongdong. Kurasa dia sudah menunggu terlalu lama.

Er, thanks sudah percaya padaku.

Sedikit ucapan terimakasih kepada pria itu tidak ada salahnya. Aiden tersenyum dan kemudian kembali memakai helm miliknya dan memutar balik ke arah  Gangnam. Jika saja takdir sedang berpihak kepadanya, ia ingin sekali bisa ‘merubah’ sifat gadis itu seperti dulu. Mungkin.

**

From: Aiden.

Baiklah. Aku akan memutar arah ke Gangnam. Kau jemput Carrie di depan toko buku kawasan Myeongdong. Kurasa dia sudah menunggu terlalu lama.

Er, thanks sudah percaya padaku.

Marcus menghela napas dan kemudian memasukkan ponsel ke dalam sakunya. Ia tidak mengerti mengapa dirinya justru menghubungi seseorang yang begitu ia sebali. Dengan langkah santai ia kembali menghampiri meja Liora yang sudah berantakan dengan botol-botol vodka kosong yang berserakan. Ia menghela napas dan menepuk pundak gadis pelan. Liora menaruh gelasnya dengan malas dan menoleh ke belakang, pandangan matanya sudah tidak fokus. Ia benar-benar mabuk.

“ Hey, aku harus pergi sekarang. Kau tidak apa-apa, ‘kan?” ujar Marcus.

Gadis itu mengangguk pelan seraya melambaikan tangannya dengan pelan, dan kembali meraih gelasnya dan berjalan menuju meja bartender.

“ Samp—sampai jumpa, sayang.” ucap Liora seraya tertawa kencang membuat Marcus bergidik dan segera keluar dari klub.

Dari tempat Marcus berdiri—di pelataran klub ia bisa melihat ketika motor Aiden mulai memasuki pintu gerbang. Ia tersenyum dan mengangkat bahu pelan, dan mengeluarkan kunci mobilnya bergegas menjemput gadis yang sedang menunggunya. Marcus tersenyum sendiri memikirkan reaksi Carrie ketika dirinyalah yang datang bukanlah si pria yang selalu ia banggakan itu.

**

Aiden melepaskan helm dan menaruh di pangkuannya. Gedung yang sangat mewah untuk ukuran klub malam, entah berapa harga yang dipatok untuk setiap menu di tempat ini. Ia menghela napas, ah tentu saja sangat mahal. Mungkin saja cukup untuk membayar uang sewa flatnya sebulan. Ia mengedikkan bahu dan turun dari motor bergegas untuk segera memasuki bagian dalam gedung ini.

Begitu masuk ke dalam gedung, Aiden langsung menutup mulutnya erat-erat. Begitu bising, ramai, dan tentu saja berpolusi. Hentakan musik keras di setiap dinding klub yang begitu kencang, suara cekikkan para tamu yang kencang, denting gelas dan botol-botol yang terlihat mahal itu, dan terutama adalah asap rokok yang bertebaran dimana-mana. Aiden pun bergegas untuk segera mencari sosok gadis itu di tengah keramaian itu. Sial, ponsel Marcus sama sekali tidak aktif, seharusnya pria itu memberikan lokasi tempat duduk Liora agar ia lebih mudah mencarinya.

“ Huh, bagaimana bisa gadis itu begitu nyaman dengan tempat sekotor ini?” decaknya kesal.

Aiden terbatuk pelan saat secara tidak sengaja ia menghirup asap rokok yang tiba-tiba berhembus ke arahnya.

Setelah bersusah payah mengelilingi klub mewah dan luas ini, akhirnya ia bisa menemukan sosok Liora. Gadis itu berada di sebuah bilik dekat meja bartender dan tidak jauh darinya merupakan tempat disc jockey. Ia menghela napas dan berlari menghampiri bilik itu meski harus berdesakkan dengan orang-orang yang sedang asyik berdansa.

“Ayo pulang!” ucap Aiden kesal seraya menarik lengan gadis itu.

Gadis itu meneguk satu gelas minuman keras di tangannya, dan berdeham. Ia mendongakkan wajahnya untuk menatap sosok yang dengan sok menarik lengannya dan berteriak kepadanya.

“ Ka—kau? Apa yang kau lakukan?” ujarnya tidak percaya begitu melihat sosok Aiden tepat di hadapannya dengan sorot mata tajam.

“ Justru aku yang harus bertanya, apa yang sedang kau lakukan disini? Ingin mati cepat dengan meneguk minuman keras itu sebanyak-banyaknya? Atau menghabiskan uang ayah tirimu dengan sia-sia?”

Liora tertawa sinis. Ia bangkit dari duduknya dan tersenyum sinis.

“ Bukan urusanmu!”

Ia menyambar botol minumannya dan meneguknya langsung namun dengan paksa Aiden merebutnya dan kemudian memecahkannya hingga membuat keributaan meski hanya sesaat. Liora menatap Aiden dengan marah.

“ Sudah kubilang, urusi saja urusanmu sendiri! Jangan pernah memperdulikan aku!”

“ Kau sudah mabuk. Ayo, kita pulang!” geram Aiden yang dengan paksa dan semakin mengeratkan cengkeramannya di saat gadis itu memberontak.

Liora mendengus kesal hingga akhirnya ia berhenti berontak dan membiarkan lengan Aiden menuntunnya keluar dari dalam klub.

Begitu berada di dalam luar gedung, Aiden memunggunginya. Kedua bahu pria itu menengang seperti menahan sesuatu yang begitu bercokol dalam perasaannya. Ia mendesis dan kemudian menarik napas dalam-dalam. Ternyata udara di luar jauh lebih menyegarkan.

“Apa yang kau lakukan disana, huh?” ujar Aiden. Bersuara dengan nada interupsi.

Liora mendongakkan kepalanya. Menatap pria yang ada dihadapannya ini.

“Melepaskan segalanya,” ucap Liora datar sembari memegang kepalanya yang mulai terasa berdenyut.

“ Kau pikir mabuk bisa melepaskan masalahmu? Lalu apakah setelah kau mabuk, masalah itu akan pergi darimu?” ujar Aiden seraya membalikkan badannya.

Liora hanya tertawa mengejek.

“ Apa pedulimu terhadap masalah yang kuhadapi, huh?”

“ Kau harus istirahat. Kuantar kau pulang.” ucap Aiden yang berlalu terlebih dahulu di depan gadis itu.

“Aku tak ingin pulang,” ucap Liora pelan.

“ Seorang gadis tidak baik untuk keluar di malam hari kalau tidak ingin mendapat ekspetasi negatif dari masyarakat. Kau tak seharusnya ada disini!“

“ Justru kau yang seharusnya tak berada disini Aiden!”

“Apa maksudmu?”

“ Semuanya masih terasa sulit. Tinggal bersama orang yang tak kau kenal dan ibumu sendiri lebih memilih orang itu,” ucap Liora tercekat menahan tangis. “ mungkin aku memang keras kepala, egois—tapi kedatanganmu membuatku semakin sulit,” ucap gadis itu.

Liora memejamkan kedua matanya sejenak, dan menahan napas. Begitu ia membuka kembali kedua matanya ia menghembuskan napasnya dengan kasar bersamaan dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.

“Kenapa?” tanya Aiden pelan.

“Kau bodoh! Aku tak ingin merasakan kehilangan lagi, Aiden! Bodoh! Bodoh! Bodoh!” gusar Liora seraya memukul dada bidang Aiden.

“Aku sudah kehilangan ayahku, hidupku, ibuku dan aku—kali ini aku tak ingin kehilangan kau!”

Aiden sontak terkejut mendengar ucapan Liora. Ia tahu gadis ini sedang mabuk tapi, entah apa yang membuatnya yakin jika ucapan Liora bukanlah pengaruh dari keadaannya. Kedua mata gadis itulah yang seolah membicaran kebenarannya.

Aiden merengkuh tubuh gadis itu, memeluk Liora erat. Sehinga gadis itu menangis sejadinya dalam pelukan Aiden.

“Aku tak ingin itu Aiden,” isak Liora.

“Kau tak akan kehilanganku Liora. Tidak akan pernah.” ucap Aiden seraya mengecup puncak kepala Liora.

“ Tolong, tolong jangan pernah tinggalkan aku.”

**

“ Aish, anak itu minta kutendang kakinya! Sudah dua jam aku menunggu dia belum juga datang, dan terlebih ponselnya ngga aktif lagi!” gerutu Carrie kesal.

Gadis itu menendang angin dengan kesal dan memeluk plastik belanjanya dengan erat. Membeli modul fisika dasar saja sudah sangat berat. Ia menghembuskan napas kasar dan akhirnya duduk di tepi  trotoar jalan, mengindahkan tatapan orang-orang yang menatapnya dengan aneh.

“ Aiden, kau ada dimana? Ponselmu diapakan, huh, cepatlah datang. Dingin sekali, dan aku ingin cepat-cepat pulang.”

Carrie menundukkan kepalanya dengan lesu. Kalau saja Aiden mengirimkannya pesan kalau dia tidak datang, bisa saja sudah daritadi ia akan naik kereta bawah tanah supaya cepat sampai di rumah. Jikalau hingga tiga puluh menit ke depan, pria itu belum juga menampakkan batang hidungnya, ia sungguh akan meninggalkan tempat ini.

“ Hingga kapan kau akan terus duduk di tepi jalan layaknya gelandangan, huh?”

Suara itu?! Kontan gadis itu mendongakkan kepalanya dengan terkejut. Tak pelak ia sungguh tidak percaya ketika Marcus berada di depannya seraya menyender di pintu mobilnya. Ia menunjuk Marcus dengan gugup, sementara pria itu tertawa kencang dan menghampirinya dengan kedua tangan dalam saku.

“ Kenapa kau bisa berada disini? Apa yang kau lakukan?” ujar Carrie bertubi-tubi.

Tanpa menjawab pertanyaan Carrie, pria itu hanya duduk santai di samping gadis itu sembari melipat kedua lututnya. Marcus menghela napas dan menoleh pelan ke arah Carrie.

“ Apa yang kulakukan? Tentu saja menjemputmu.”

“ Ha? Me—menjemputku?! Lalu Aiden mana? Aiden…—ah, aku tidak habis pikir. Apa yang telah kau lakukan padanya!”

“ Mana kutahu! Sudahlah, kau mau kuantar pulang atau tidak!”

Carrie mengerucutkan bibirnya dengan kesal dan ia pun beranjak. Berdiri di depan Marcus. Bagaimana bisa Marcus yang menjemputnya? Bukan masalah bahkan jika memang ternyata Marcus yang menemuinya, tapi yang menjadi titik perdebatannya adalah mengapa Aiden menyuruh Marcus tanpa sepengetahuannya?

“ Aku tidak ingin menumpang mobilmu lagi! Sudahlah lebik baik aku naik kereta saja.” ujarnya kesal. Ia pun memasukkan bungkusan plastik lain yang ia sembunyikan sejak tadi ke dalam tasnya dengan paksa.

Marcus memincingkan kedua matanya melihat plastik putih yang dimasukkan dengan paksa ke dalam tasnya. Tak lama ia tersenyum pelan dan bangkit dari duduknya, seraya merebut plastik dari tangan gadis itu dan membukanya.

Ya! Kemarikan! Ini bukan untukmu!” gerutu Carrie berusaha merebut plastik itu, namun Marcus mengangkatnya lebih tinggi darinya.

Ternyata isi plastik putih tersebut tidak lain adalah makanan ringan berbentuk ikan dengan berbagai isi di dalamnya seperti daging cincang, gula, ataupun keju. Carrie menghentakkan kakinya dengan  kesal sementara Marcus mengambil salah satu kue itu dan menggigit bagian ekor kuenya.

“ Kemarikan, Marcus. Ini bukan untukmu, aku membelikannya untuk Aiden.”

Marcus menoleh pelan ke arah gadis itu dengan tajam.

“ Kalau begitu ini untukku. Karena pria itu tidak datang, dan tentu saja seharusnya ini memang untukku. Ah, kue ini sangat enak!”

“ Kau harus menggantinya. Kue ini harganya dua ribu won, kemarikan uangmu.” ujar Carrie seraya menengadahkan kedua tangannya. Marcus mendesis dan menepak tangan gadis itu dengan pelan.

“ Aku akan membayarnya jauh lebih besar daripada hanya sekedar dua ribu won.”

“ Benarkah? Kalau begitu kapan kau—“

Marcus yang tiba-tiba saja menarik lengannya dan mencengkeramnya begitu kuat. Carrie merutuk-rutuk perbuatan Marcus sementara pria itu menuntunnya menyebrang dan berjalan menuju amusement park yang terletak di seberang jalan toko buku.

“ Belum pernah makan kue ini sebelumnya?” tanya Carrie dengan pandangan aneh ketika melihat Marcus melahap kue-kuenya dengan semangat. Pria itu mengangguk.

“ Hmm, aku baru tahu kalau di Korea ada kue seenak ini.”

“ Hah, kau ini orang Korea, atau bukan sih? Kue ini saja tidak tahu, ah aku tahu kau tidak terbiasa dengan jajanan jalanan macam itu,”

“ Mungkin. Dari kecil setiap yang kumakan selalu diawasi ketat oleh pengasuhku.”

“ Orang kaya sepertimu tentu saja, selalu berbeda. Aku tahu itu,” decak Carrie.

Marcus mendengus dan menoleh ke arahnya, pria itu hanya tersenyum kecil melihat Carrie merutuk-rutuk kesal karenanya. Namun di menit kemudian, keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing. Carrie menyenderkan punggungnya di kursi sementara menerawang melihat pemandangan langit hitam di atasnya, sementara Marcus memakan kue ikan dengan lahap sesekali menoleh ke arah gadis itu.

Pria itu berdehem pelan membuat Carrie sontak menoleh ke arahnya dengan pelan.

“ Apa? Kau tersedak? Makanya makanlah pelan-pelan, jangan seperti orang yang kelaparan. Anak konglomerat kelaparan, sungguh konyol.” gerutu Carrie.

Marcus tertawa dan meminggirkan posisi duduknya menghadap Carrie dan menatapnya dengan lembut.

“ Aku ingin bertanya padamu. Apakah kau pernah merasakan jatuh cinta?” ujar Marcus.

“ Eh? Untuk apa menanyakan hal itu? Urusanmu?”

“ Sudahlah, cukup jawab sudah atau nggga, apa sulitnya?!” gerutu Marcus.

Carrie tertawa pelan. Gadis itu menepuk pundak Marcus pelan dan merubah posisi duduknya menjadi tegak. Kedua matanya yang membentuk eye smile saat ia tersenyum, membuat Marcus kontan tersenyum. Ia baru menyadari bahwa gadis itu memiliki eye smile yang indah yang jarang dimiliki oleh orang lain.

“ Aku belum pernah merasakan jatuh cinta, apalagi berpacaran dengan seseorang. Hidupku datar sekali ya? Namun itulah, rasanya aku ini seperti sulit untuk menerima seseorang.”

Marcus tertegun, ‘sulit untuk menerima seseorang’?

“ Tap—tapi kau masih normal, ‘kan?!”

Carrie melirik tajam ke arah Marcus dan memukul bahunya dengan kencang,” tentu saja! Aku ini masih normal! Kau kira aku ini penyuka sesama jenis!”

“ Kukira, syukurlah kalau begitu.”

Carrie memutar kedua matanya acuh tak acuh sembari mengulum bibirnya.

“ Tapi aku rasa sedikit demi sedikit seperti aku sedang jatuh cinta. Hahahaha, konyol sih. Namun sebelumnya aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini, begitu menggebu-gebu.”

“ Iya?” jawab Marcus pelan. Gadis itu sedang jatuh cinta.

“ Hmm, orang yang sangat menyebalkan dan merepotkan. Rasanya ia begitu senang untuk menyiksaku, atau menjahiliku, dan sejenisnya. Selalu membuatku kesal. Padahal kami baru saja bertemu, namun anehnya terkadang aku suka memimpikannya di tengah malam ataupun bayang wajahnya selalu muncul tiba-tiba dan membuat hatiku berdebar-debar juga jantungku serasa seperti mau lepas.”

Marcus terdiam. Deskripsi itu…begitu sama persis dengan yang selama ini ia alami khususnya terhadap gadis itu. Lalu siapakah pria beruntung itu? Marcus menghela napas sedikit kecewa. Ia harus segera menghentikan topik pembicaraan ini. Ia benar belum siap jikalau selanjutnya gadis itu akan menyebut nama pria itu.

“ Aku hanya ingin pria yang menginginkanku, mencintaiku, dan memperlakukanku sebagai putrinya. Putri yang harus dilindungi dan juga di jaga.” ujar Carrie pelan.

………….

Diam.

Marcus sendiri tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang dan begitu juga Carrie. Tidak tahu apa yang harus dilakukan namun keduanya sama-sama enggan untuk beranjak dari bangku.

“ Ah, aku haus! Belikan aku minuman, sana!” ujar Marcus berusaha untuk mengisi kekosongan yang terjadi di antara mereka.

Carrie menoleh dan mendengus kesal.

“ Beli saja sendiri. Kau memiliki dua kaki yang normal.”

Marcus mengerucutkan bibirnya dan mengeluarkan dompetnya serta selembar uang sebesar seribu won dan memaksa tangan Carrie membuka dan menaruh uang tersebut di atasnya. Carrie menggerutu kesal, dan menolak menerima uang tersebut.

“ Uh, aku malas membelinya. Dekat ini kok, tinggal menyeberang jalan.”

“ Karena dekat belilah sendiri jangan berlagak seperti tuan muda di rumah, Marcus ssi.

“ Ayolah~”

Carrie mendengus sebal dengan hentakan keras ia bangkit dari bangkunya dan mengambil uang dari tangan Marcus lalu berbalik meninggalkan Marcus dengan langkah besar. Sementara Marcus hanya tersenyum pelan seraya menatap punggung gadis itu. Carrie benar-benar tidak tahan jika harus melihat aeygyo Marcus yang menurutnya sangat tidak pantas untuknya.

“ Sisa uang ini tidak akan kuanggap sebagai bayaran kue Aiden itu!” gerutu Carrie kesal.

Sekilas ia menoleh ke belakang dimana Marcus duduk dan pria itu sedang melihat ke arahnya seraya tersenyum lebar dan melambaikan tangannya dengan pelan. Carrie mendesis dan membalikkan badannya memunggungi Marcus.

Ia mengulum bibirnya dan melirik ke arah kanan serta kiri pandangannya, tidak ada rambu lalu lintas karena ini bukanlah jalan raya besar sehingga hanya mengandalkan kewaspadaan penyebrang jalan. Ia mengangkat bahunya pelan begitu suasana jalan agak lengang dan kemudian menyebrang jalan menuju mesin minuman otomatis yang terletak persis di seberang jalan.

Marcus menghela napas panjang tidak lama ketika gadis itu sudah menjauh dari pandangannya. Tiba-tiba ia menelusuri pandangan matanya dan menangkupkan kedua tangannya di dada. Mengapa terasa begitu nyeri? Perasaannya begitu kacau dan sungguh tidak tenang. Tidak lama kemudian ia segera beranjak dari bangkunya dan berlari untuk mengejar Carrie. Perasaannya semakin tidak terkendali, rasa cemas, khawatir, dan terutama… perasaan takut kehilangan. Ia tidak tahu mengapa bisa seperti ini.

Marcus terdiam.

Kedua kakinya seperti tertancap begitu kuat di atas bumi yang  ia pijak. Gadis itu terlihat sedang menyeberang namun sial, dari arah kanan sebuah mobil melaju dengan begitu kencang sementara si pengendara mobil berkali-kali membunyikan klakson untuk memberi tahu agar gadis itu segera menyingkir. Jantung Marcus terasa lepas.

Ya! Carrie bodoh!” teriaknya kencang.

Gadis itu sama sekali tidak bergeming dan tetap melenggang menyeberangi jalan.

Ia mendesah dan segera berlari secepatnya menghampiri Carrie, menarik lengannya dengan kuat dan menghempaskan tubuhnya dan juga Carrie ke trotoar dengan kencang.

BRUG!

Marcus meringis ketika kepalanya seperti membentur tiang listrik yang tidak jauh darinya. Begitu nyeri. Ia memeluk Carrie dengan erat sementara napasnya sudah tidak beraturan. Sejenak ia memejamkan kedua matanya. Bagian terpenting adalah… ia berhasil menyelamatkan gadis itu.

“ Dasar Si Bodoh….” gumamnya pelan.

==

Carrie menoleh ke belakang dengan begitu cepat ketika sebuah tangan menariknya dengan begitu cepat dan kuat, dan kemudian menarik serta menghempasnya begitu keras ke pinggir trotoar. Bokongnya terasa begitu sakit ketika terhempas menyentuh aspal dengan kuat. Ia meringis pelan dan berulang kali mengejapkan kedua matanya. Berusaha untuk memahami apa yang baru saja terjadi padanya.

Ketika ia akan bangkit saat berhasil memastikan diri bahwa dirinya baik-baik saja, namun ternyata ia baru menyadari ketika sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya dengan erat. Ia menoleh dan tanpa ia sadari kedua air  matanya sudah mengalir. Marcus…

Dengan paksa ia melepaskan kedua tangan Marcus dan menarik tubuhnya yang tergeletak lemah. Darah. Kepala Marcus berdarah. Ia berteriak histeris seraya mengguncangkan tubuh Marcus yang setengah sadar hingga akhirnya pria itu membuka kelopak matanya dengan sangat pelan.

“ Bodoh, kalau jalan lihatlah baik-baik.” ucap Marcus pelan. Pria itu tersenyum lemah seraya menyibak sedikit rambut Carrie yang menutupi wajahnya, “ kau baik-baik saja, ‘kan?”

“ Marcus, bodoh! Bodoh! Kau harus bertahan, bertahanlah.”

Gadis itu segera beranjak dari sisi Marcus berharap ada seseorang yang menolong mereka namun dengan cepat pria itu menahan lengan gadis itu dengan kuat membuat Carrie tertahan. Pria itu menggeleng pelan, sementara darah semakin banyak mengucur dari kepalanya yang membentur tiang. Gadis itu menggeleng lemah sementara ia berusaha untuk tidak menangis.

“ Aku akan menelpon ambulans!”

“ Jangan pergi, tetap disisiku.”

“ Tidak, Marcus! Tidak—“

Aggashi, bertahanlah! Kami sudah menelepon ambulans tidak lama lagi akan segera datang.” Carrie menoleh pelan dan dilihatnya seorang wanita yang ia tahu sebagai penjaga toko buku yang tadi ia datangi. Ia tersenyum pelan.

“ Jangan tinggalkan aku—“

“ Maafkan aku. Maafkan….” Tiba-tiba gadis itu bersimpuh seraya menangis di depan Marcus. Gadis itu mengusap air matanya dan mendongakkan wajahnya untuk menatap pria itu. “ maafkan aku, jika saja aku berhati-hati seharusnya tidak terjadi hal seperti ini.”

“ Jangan meminta maaf padaku, bodoh. Itu terdengar seperti menyedihkan.”

“ Maafkan aku…”

Marcus menghela napas panjang, meski kepalanya terasa begitu pening ia berusaha untuk bangkit dan menarik gadis itu ke dalam dekapannya. Memeluknya dengan erat. Bagaimana mungkin ia akan membiarkan gadis ini yang terluka? Ia tersenyum. Melindungi seseorang yang kita sayangi terasa begitu indah. Tiba-tiba saja pandangan Marcus semakin lama terlihat seperti berbayang dan tidak jelas. Ia menggelengkan kepalanya namun kepalanya begitu terasa sakit dan seperti mau pecah.

“ Kau harus baik-baik saja, Carrie.” ucapnya pelan sebelum akhirnya ketidaksadaran menguasai dirinya.

To be continued…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s