[FF] Life (Disclosure) part 4

Title: Life 

Author: Liora Lee and Carrie Cho.
Rating : PG+15 / straight.
Casts  : Lee Donghae, Cho Kyuhyun (Super Junior) and OC.
Genre  : Romance, Friendship, Family, AU, Angst.
Length : Chaptered.
Part: 4 of 4

Disclaimer : The characters in this story is the character of their own with a bit of my imagination and this story is only a fiction. So don’t sue me. Do not copy paste this fics without any permission from author.

A/N :
– I created this story with my chairmate and this story was publishen on her blog too.
– You can find other cast when you read this story.
– At first I planned that this section is the last part but it turned out to be too long if used as one part so I decided to split into two parts.
– Don’t forget to give your comments.

You can read this passage in one section here.

READ THE PREVIOUS CHAPTERED HERE.

**

Mencintaimu itu adalah salah satu kebodohan dan kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan. Tapi anehnya aku tidak menyesali kesalahanku, bukankah itu kesalahan yang indah, karena aku… mencintaimu?

Aiden Lee

__

Kenapa? Kenapa kau masih sama seperti kau yang dulu? Kau tau…aku merasa menjadi orang yang jahat ketika kau masih menatapku dengan tatapanmu itu. Kau membuatku semakin tak bisa lepas darimu. Kau terlalu berarti dalam hidupku.

–Liora Park

__

Gadis bodoh, kenapa aku bisa mencintai seorang gadis bodoh sepertimu? Atau aku yang bodoh karena mencintai gadis bodoh sepertimu? Aku tak peduli, karena aku mencintaimu.

–Marcus Cho

__

Pria itu sungguh menyebalkan! Selalu membuatku kesal! Tapi… kenapa aku merasa senang jika dia menjahiliku? Apakah aku mulai tak waras karena aku senang dijahili oleh dirinya? Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Apa yang mebuatku seperti ini? Apakah cinta yang membuatku menjadi seperti sekarang ini?

–Carrie Park

**

Aiden menghentikan motornya tepat di depan pagar rumah megah itu. Ia melepaskan helmnya dan kemudian Liora turun dari jok motornya seraya menyerahkan helm milik Aiden. Kepalanya masih sedikit agak pusing akibat efek alkohol yang berlebihan. Aiden menghela napas dan menatap gadis itu dengan lembut.

“ Masuklah ke dalam, jangan lupa untuk meminum susu untuk menetralisir alkohol ataupun lekaslah tidur agar kepalamu sedikit membaik.” ujar Aiden yang seolah seperti membaca pikiran gadis itu.

Liora mengangkat kepalanya. Mengapa Aiden masih sama seperti dulu? Delapan tahun berlalu mengapa tidak sedikit pun ia berubah? Masih tetap menjadi orang yang selalu ada di sampingnya, menghibur, memahaminya, dan orang yang tetap ia butuhkan untuk menopangnya.

“ Baiklah, aku mengerti. Terimakasih sudah mengantarku pulang.”

Begitu ketika gadis itu membalikkan badannya untuk segera masuk ke dalam rumahnya. Meski agak sedikit ragu. Ia menahan napas. Liora masih segan masuk ke dalam rumahnya—rumah milik Dennis, ayah tirinya itu terlebih ia sempat berselisih paham dengan ibunya.

“ Ngga apa-apa, Ra. Ibumu pasti akan memaafkanmu, mungkin saja ia sedang mengkhawatirkanmu sekarang.” ucap Aiden pelan.

Apakah Aiden memiliki indera ke-enam?

“ Tapi—bagaimana jika aku diusir?” Liora membalikkan badannya pelan dengan wajah cemas. Aiden turun dari motornya dan menumpu kedua tangannya di bahu gadis itu sementara kedua matanya menatap intens gadis itu.

“ Tidak mungkin. Aku tahu benar Taeyeon ahjumma, sekesal apapun kelakukanmu ia tidak akan mengusir anaknya sendiri. Kau tahu itu?”

“ Semoga saja.”

drrt….. drrt…

“ Tunggu sebentar.” kata Liora seraya merogoh ponselnya yang bergetar begitu keras di dalam tasnya. Sekilas ia mengerutkan keningnya ketika melihat id caller. Ia mengedikkan bahunya seraya menekan tombol accept.

“ Halo, ada apa, Angela?” ujarnya malas.

Dari seberang telepon ia bisa mendengar suara bising dan juga suara Spencer. Mungkin gadis itu sedang berada di suatu tempat dengan Spencer di sampingnya.

Kau ada dimana sekarang?”

“ Aku? Tentu saja di rumah, apa lagi? Aku sudah menyerahkan kartu debitku padamu, apakah tidak bisa dipakai?”

Aish, bukan. Bukan itu. Marcus kecelakaan! Sekarang dia sedang ada di Rumah Sakit Pusat Seoul ah Carrie dengannya juga. Sekarang aku dan Spencer sedang menuju kesana, kau juga kesana, ne?”

MWO?! Marcus kecelakaan? Carrie—bagaimana bisa?!”

“ Aku juga tidak tahu. Sudahlah kututup teleponnya, di rumah sakit kita bisa mendengar penjelasan yang sebenarnya. Bye.”

Liora mematikan ponselnya. Gadis itu terlihat masih syok sekaligus tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Marcus kecelakaan? Juga mengapa Carrie bisa bersama dengan Marcus? Gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya erat dan menggelengkan kepalanya sementara matanya sudah terasa memanas.

Marcus meninggalkannya di bar untuk menemui gadis itu?

“ Ada apa, Ra? Tolong jelaskan padaku, kau bilang… Marcus kecelakaan?”

Gadis itu mengangguk pelan.

“ Iya, aku harus ke rumah sakit sekarang mungkin kau bisa langsung pul—“

“ Tidak, aku antar. Aku juga akan pergi ke rumah sakit.” ujar Aiden memotong kalimat gadis itu yang belum selesai. Pria itu pun naik ke atas motornya dan memakai helmnya dengan gugup dan lalu menyalakan motornya kembali. Liora menghela napas dan menerima helm dari Aiden.

Jika Marcus kecelakaan lalu bagaimana nasib Carrie? Apakah gadis itu baik-baik saja? Aiden menggelengkan kepalanya pelan berusaha menepis bayangan buruk yang sekelibat melintas dalam benaknya. Ia pun segera menstarter motornya dan melaju menuju rumah sakit.

==

@ Rumah Sakit Pusat Seoul.

“ Aku duluan!” gusar Liora begitu Aiden menghentikan motornya di pintu masuk utama rumah sakit. Ia segera bergegas masuk sementara Aiden memakirkan motornya terlebih dahulu.

Atas informasi Angela yang sudah tiba di rumah sakit terlebih dahulu, ia pun segera bergegas menuju ruang instalasi darurat. Kedua tangannya sudah dingin, ia benar-benar gugup. Meskipun Marcus menyebalkan, bagaimanapun juga pria itu tetaplah sahabatnya. Sahabat yang mengerti dirinya dengan cara yang lain.

Di ujung koridor ia bisa melihat Angela dan Spencer, kakak Marcus, dan… Dennis serta ibu? Ia pun mencepatkan jalannya dan kemudian berlari menghampiri Angela. Ketika Liora menghampirinya, gadis itu segera beranjak dari bangkunya.

“ Bagaimana keadaan Marcus?” tanya Liora dengan cemas.

Angela menggelengkan kepalanya dan kembali duduk di bangkunya dengan tidak bersemangat. Seolah bisa membaca maksud Angela, Liora menyenderkan tubuhnya di dinding rumah sakit dengan lemas. Mengapa bisa terjadi? Beberapa jam yang lalu Marcus masih dalam keadaan baik-baik saja.

“ Ka—kau datang, Ra.” ucap Carrie seraya menghampiri Liora dengan ragu.

Gadis itu mengangkat wajahnya dengan dingin, kedua tangannya terlipat di dada. Liora tertawa mengejek. Carrie menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan wajahnya yang tampak sangat berantakan. Kedua matanya sudah sangat sembab. Liora merubah posisinya menjadi tegak dan memutar kedua bola matanya lalu mendecak.

“ Maaf, Ra—“

PLAK!

Carrie menggigit bibirnya dengan kuat sementara kedua matanya sudah memanas. Liora tertawa mengejek dan menampar gadis itu sekali lagi membuat semua yang hadir disitu terkejut tidak terkecuali Taeyeon. Aiden yang baru saja datang langsung terdiam ketika gadis itu menampar adiknya sendiri—temannya.

“ Maaf, Ra. Ini semua karena aku, aku mengaku salah.” ucap Carrie lirih seraya memegang pipinya yang memanas.

“ Bagus kalau kau sudah menyadarinya! Tidakkah kau tahu betapa menjijikkannya dirimu di mataku?! Kalau saja Marcus tidak menemuimu dia seharusnya tidak berada di tempat ini! Semua salahmu!”

“ Maaf… Mianhae, nan jeongmal mianheyo.”

“ Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Nona Pencuri.” Desis Liora yang langsung meninggalkan rumah sakit. Carrie menutup mulutnya dengan kedua tangannya, air matanya mengalir dan berulang kali ia berusaha menyekanya.

Mianhe.” lirihnya. Hingga Taeyeon memeluknya dengan lembut dan membiarkannya menangis dalam dekapannya. Liora begitu sangat membencinya.

“ Biar aku yang akan mengejar, Liora.” ucap Aiden kepada Dennis yang dari raut wajahnya tergurat rasa kecewa, marah, sekaligus cemas. Dennis hanya mengangguk pelan, ia sendiri tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk… sekarang.

==

Aiden berusaha mengejar gadis itu secepat mungkin. Ia berlari di sepanjang koridor rumah sakit dan mengindahkan cercaan orang-orang yang ia tabrak secara tidak sengaja. Hingga akhirnya ia berada di lobby rumah sakit. Ia sama sekali tidak menemukan sosoknya. Kemudian ia mengeluarkan ponselnya dan memencet beberapa nomor yang ia hapal, panggilan tersambung namun hingga beberapa saat kemudian panggilan terputus. Dan begitu nomor ponsel Liora dihubungi sama sekali tidak aktif.

Dengan kesal ia mengacak-acak rambutnya hingga berantakan. Ia mendesis kesal. Gadis itu. Sungguh sangat keras kepala.

**

Keesokan harinya…

Liora membuka kedua matanya dengan pelan dan sesaat ia menghela napas panjang. Ia menoleh ke samping dimana jam digitalnya menunjuk pukul 8 pagi. Sekilas ulasan kejadian semalam serasa berputar kembali dalam kepalanya membuat segalanya menjadi begitu berat. Ia mendesah dan bangun dari baringannya lalu duduk di atas tempat tidurnya.

“ Apa yang sudah kulakukan padanya?” tanyanya pelan dan membolak-balikkan kedua tangannya. Ia menahan napas. Dengan tangan inilah ia menampar Carrie semalam di rumah sakit.

“ Huh, apa yang kupikirkan? Mengapa aku menyesal, eh? Aish, Liora kau benar-benar…” rutuknya dan kemudian beranjak dari tempat tidurnya bergegas untuk segera mandi.

Ia harus segera keluar dari rumah secepat mungkin. Berada di rumah tidak membuatnya merasa lebih baik.

Satu jam kemudian ia sudah siap-siap bergegas untuk menuju kampus. Ia mematut dirinya sekilas di kaca merapihkan tatanan rambutnya dan polesan bedaknya lalu menyambar tas serta kunci mobil di atas tempat tidur. Ketika ia menuruni tangga, dilihatnya sang ibu sedang duduk di sofa ruang tamu dan langsung saja menoleh ke arahnya begitu mendengar suara tangga dari lantai atas.

Taeyeon bangkit dari sofa dan berjalan perlahan menghampiri Liora. Kedua matanya menatap gadis itu dengan tajam membuat Liora agak sedikit mundur karena segan. Ia tahu apa yang akan dikatakan oleh ibunya sesaat lagi.

“ Semalam kau sungguh sangat keterlaluan. Apa salahnya, Ra? Itu murni kecelakaan tidak sengaja dan lalu kenapa kau mengkambing hitamkan Carrie?”

Liora mendesis dan melipat kedua lengannya di dada menatap wajah ibunya dengan tajam. Mengapa ibunya selalu membela Carrie? Apa karena dia itu anak pria itu?

“ Jikapun Marcus tidak pergi dengannya, dia seharusnya masih sehat sekarang. Ah, sudahlah aku bosan! Ibu selalu saja membelanya, mengapa aku selalu salah di mata ibu?! Pada kenyataannya dia memang pencuri! Dia mencuri perhatian ibuku, kemudian ia mengambil perhatian Aiden, dan sekarang dia mengambil Marcus? Apa dia bukan pencuri?! Dia sungguh menjijikkan dengan harta kekayaan ayahnya seolah ia bisa melakukan segalanya!”

Taeyeon melongo. Ia sungguh tidak percaya. Inikah gadis manisnya? Liora. Kedua matanya sudah memanas dan ia berusaha untuk menahan tangis. Gadisnya sudah benar-benar berubah. Apa yang merubahnya? Dirinyakah? Atau waktu?

“ Liora, jaga ucapanmu! Aku tidak pernah mengajarkanmu berbicara sekasar itu! Tapi semalam kau sungguh membuatku malu di hadapan Dennis! Tidakkah kau punya rasa malu meski itu hanya secuil?! Menampar Carrie di depan ayahnya sendiri! Dimana rasa sopan santunmu, Liora!”

“ Kapan ibu akan berpihak padaku!” teriak Liora begitu kencang. Taeyeon melongo dan mengepalkan kedua tangannya dengan kencang, “ apa ibu lupa, kalau aku ini anak kandungmu?!”

Plak!

“ Jaga ucapanmu.”

“ Bahkan ibu saja berani menamparku! Aku benci ibu!” Liora berlari keluar rumah seraya menghapus air matanya. Sementara Taeyeon hanya berdiri terpaku dan menatap telapak tangannya dengan lirih.

“ Ap—apa yang sudah kulakukan terhadap putriku sendiri.” Lirihnya. Ia mengangkat wajahnya dan berusaha mengejar Liora namun sayang gadis itu baru saja mengeluarkan mobilnya dari garasi dan langsung melaju mobil Lotusnya dengan kencang.

Taeyeon memejamkan kedua matanya. Ia tidak bermaksud untuk menampar Liora, sungguh sangat tidak bermaksud. Ia menggigit bibirnya dan mengepalkan tangannya dengan kuat. Apa yang sudah ia lakukan.

==

Liora menginjak pedal gasnya semakin dalam hingga perlahan jarum speedometer bergerak perlahan semakin ke atas yang menunjukkan kecepatan yang semakin bertambah. Gadis itu menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Sesekali menyeka air matanya. Untuk pertama kali ibunya sendiri menamparnya.

“ Bagaimana bisa ibu menamparku…” lirihnya.

Ia membelokkan kemudi dan menurunkan kecepatan begitu memasuki pelataran parkir kampus. Sejenak ia terdiam di bangku kemudi dan menyenderkan punggungnya di jok mobil. Mengapa takdir begitu menyakitkan baginya? Liora menghela napas panjang dan melirik ke arah jam tangannya, ia mematut diri di kaca spion merapihkan tatanan rambut serta make up-nya yang agak sedikit berantakan akibat ia menangis.

Gadis itu tersenyum pelan dan kemudian menyambar tasnya di bangku samping kemudi dan keluar dari mobilnya dan  berjalan memasuki area kampusnya. Ditatapnya jam tangan yang melingkar ditangan kirinya. Sepuluh menit lagi ia harus mengikuti kelas anatomi—mata kuliah favoritnya, namun rasanya ia sedang tak ingin mengikuti kelas yang diajarkan oleh dosen yang bernama Sooman Lee itu. Masalahnya saat ini membuat semangat belajarnya sedikit menurun. Ia menghela napas lalu memutuskan untuk terus berjalan menuju taman di area kampus.

Liora duduk disalah satu bangku yang ada disana, menatap mahasiswa lain yang sedang asik beristirahat ataupun berdiskusi disana. Ini memang tempat favoritnya. Ia memegangi kepalanya yang sedikit bedenyut. Menutup matanya sesaat dan merasakan hembusan angin yang tertiup ke arahnya.

“Sudah kuduga kau ada disini,” ucap seorang pria yang entah sejak kapan sudah berada di belakangnya.

Liora menolehkan kepalanya, menatap pria yang berbicara tadi. Ia tersenyum pelan ketika mendapati Andrew yang sudah berada dibelakangnya dengan senyuman yang mengembang sempurna diwajahnya. Lalu pria itu menghampirinya dan duduk tepat disebelahnya.

“Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau ada kelas sekarang?” tanya Andrew.

Liora tersenyum mendengar pertanyaan Andrew. “Aku sedang tidak ingin masuk kelas,” ucap Liora pelan seraya menundukkan kepalanya lalu menatap sekelilingnya.

“Kenapa?  Dia mengganggumu lagi?”

Liora tersenyum pahit. Ia menatap Andrew yang ada disampingnya.

“Kau cemburu, huh?” goda Liora.

“Tentu saja! Kau ini milikku Liora!” ucap Andrew melipat kedua tangannya didada seraya mengerling ke arah gadisnya itu.

Liora tertawa mendengar ucapan Andrew tadi. Entah mengapa ia merasa nyaman ketika bersama pria ini, terutama ketika Andrew membuatnya tertawa—rasanya semua beban yang ada dipundaknya hilang begitu saja walaupun ada sedikit yang membuatnya terasa kosong.

“Aku rindu ketika kau tertawa seperti ini,” ucap Andrew merubah posisi duduknya menjadi sedikit menyamping dan memusatkan pandangannya terhadap Liora.

Liora menghentikan tawanya.

Gomawo.“

“Eng… kudengar Marcus tidak masuk hari ini,” ucap Andrew.

Seketika Liora teringat kejadian waktu itu. Tubuhnya membatu. Andrew menatap gadis itu heran. Menunggu Liora menjelaskan apa yang terjadi.

“Marcus—dia kecelakaan,” ucap Liora tercekat.

Andrew membelalakkan matanya. Bagaimana bisa seorang Marcus mengalami kecelakaan? Ia tau betul jika Marcus bukan tipe orang yang mudah mengalami sebuah kecelakaan. Pria itu sungguh perfeksionis, seseorang yang bahkan memiliki pantangan untuk melanggar rambu lalu lintas.

“Bagaimana bisa?”

“Kemarin aku menemuinya di klub, lalu dia pamit padaku untuk pergi. Dan ternyata—dia menamui gadis itu, lalu gara-gara dia Marcus kecelakaan.” ucap Liora tercekat, dadanya terasa perih.

“Kau kemarin ke klub?”

Seketika Liora terdiam, ia lupa—Andrew pasti marah jika tau kejadian kemarin. Lalu Liora menganggukkan kepalanya pelan.

“Kau bertengkar dengan ibumu lagi? Lalu kau pulang dengan siapa?” tanya Andrew lembut seraya mengusap rambut gadis itu.

Ne, aku pulang naik taksi. Angela yang mencarikan taksinya.”

Andrew mengangguk mengerti. Liora menatap Andrew. Mianhae, sungguh aku tidak kuasa menceritakan yang sesungguhnya. Aiden yang mengantarku semalam. Lalu jika aku mengatakannya, apakah kau akan memaafkanku?

Tiba-tiba Andrew bangkit dari duduknya lalu meraih tangan Liora lembut.

“Ayo!”

“Kemana?”

“Kita jalan-jalan. Sudah lama aku tak jalan-jalan berdua denganmu,” ucap Andrew lembut seraya tersenyum pada Liora.

Liora membalas senyuman Andrew lalu ia bangkit dari duduknya dan mengikuti Andrew yang menuntunnya. Gadis itu tersenyum menatap punggung pria yang menggenggam tangannya dengan lembut.

**

Carrie menutup pintu di belakang dan berjalan perlahan memasuki ruang rawat Marcus. Ia menghela napas ketika pria itu belum juga sadarkan diri semenjak semalam. Gadis itu menaruh ranjang buah di atas meja dan kemudian mengisi vas bunga dengan bunga mawar warna peach segar kesukaannya dan menaruhnya di atas meja kaca dekat jendela supaya mendapatkan sinar matahari.

Gadis itu termenung sesaat seraya menatap jalanan raya di bawah sana. Pikirannya melayang pada saat kejadian semalam. Ia mengangkat tangannya dengan pelan. Kedua matanya lagi-lagi berair. Ah, semua ini akibat keteledorannya.

Carrie berbalik menghadap ranjang Marcus dan sebersit rasa kecewa. Ia berharap pria itu sudah sadar ketika ia membalikkan badannya ataupun ketika ia datang barusan. Carrie berjalan pelan mendekati ranjang Marcus dan menarik kursi di dekatnya. Gadis itu menghela napas.

“ Kukira ketika aku datang kau sudah sadar, ternyata… kau masih betah di alam mimpi? Seberapa cantik bidadari yang kau temui disana?”

Carrie tertawa pelan sembari menghapus air matanya, dengan ragu gadis itu meraih tangan Marcus dan mentautkannya dengan erat. Ia menghela napas dan menundukkan wajahnya membiarkan air matanya mengalir dengan bebas.

“ Maafkan, aku. Tapi… kau harus bertahan, Marcus. Kau harus hidup, aku meminta padamu. Meski kita baru saja bertemu tapi rasanya aku begitu nyaman sekali berada di dekatmu. Kau begitu menyebalkan. Sangat menyebalkan hingga aku ingin menampar wajahmu itu, tapi mengapa aku selalu nyaman jika kau mengerjaiku atau kau dengan sifat menyebalkanmu itu?” ujar Carrie pelan. Gadis itu semakin mencengkeram erat tangan Marcus dalam tangannya.

“ Kalau kau meninggalkanku, siapa yang akan menjagaku seperti kau menjagaku? Siapa yang menjahiliku seperti kau mengerjaiku? Marcus, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta dan itu hanya kepadamu. Lalu setelah kau mengambil perasaanku, kau membuangku begitu saja dan meninggalkanku? Bisakah kau mendengarku dari alam mimpimu? Meninggalkan bidadari yang jauh lebih cantik dariku. Bisakah kau kembali padaku?”

Carrie menyeka air matanya sekali lagi.

“ Kenapa kau menyelamatku malam itu, seharusnya lebih baik kau membiarkan tubuhku menabrak mobil itu, bukankah itu lebih baik dibanding kau yang seperti ini? Ini sangat menyakitkan, Marc. Apa yang harus aku lakukan?”

Gadis itu menangkupkan wajahnya di atas kedua tangannya dan menangis kencang. Membuat ruangan yang sepi menjadi sedikit ‘bersuara’ akibat tangisannya. Ia belum pernah seperti ini sebelumnya, menangis hanya karena cinta. Gadis itu mengigit bibir bawahnya, terasa sangat begitu menyakitkan.

“ Mana mungkin aku membiarkanmu meninggalkanku, bodoh.”

Suara Marcus? Carrie pun mengangkat wajahnya dan menyeka air matanya. Marcus tersenyum lembut ke arahnya, dan berusaha menggapai tangannya dan mengenggamnya dengan erat.

“ Jangan pernah berkata kalau aku akan membiarkanmu terluka, Carrie. Aku tidak akan pernah mau melakukannya,” ujar Marcus.

“ Ka—kau sudah sadar?”

“ Tentu saja, gadis bodoh! Aku hanya terbentur dan bukanlah masalah besar.” ujar Marcus tertawa seraya mengacak-acak rambut Carrie, “ aku sudah bangun sejak kau datang tadi.”

Sontan Carrie membelalakkan kedua matanya, melepaskan tangan Marcus, dan memundurkan langkahnya dari ranjang Marcus. Dengan pelan Marcus berusaha bangkit dari baringannya dan duduk di atas ranjang dan sesekali memegang kepalanya yang ditutupi perban itu.

“ Ka—kau mendengarnya?”

“ Semuanya.”

“ AAAAAAAA!! Andwae!” pekik Carrie kencang seraya menutup kedua telinganya dan berlari keluar dari ruangan Marcus dengan kencang.

Marcus mengerutkan keningnya dengan bingung namun sesaat kemudian beranjak dari tempat tidurnya seraya mencabut paksa jarum infus dan bergegas mengejar gadis itu. Apa yang salah dengannya? Salahkah jika ia mendengarnya? Marcus hanya tersenyum sendiri dan bergegas berlari mengejar gadis itu.

“ Carrie, larimu cepat banget sih! Baru kali ini aku mengejarmu hingga sesulit ini!” gerutunya kesal.

==

Carrie memukul-mukul kepalanya dengan gemas dan menghentakkan kakinya dengan kesal. Berulang kali ia berjalan bolak-balik mengecek bahwa Marcus tidak akan menemukannya. Gadis itu menggigit bibirnya ketika membayangkan di saat ia menangis mengakui perasaannya, pria itu justru tersenyum-senyum menyebalkan.

“ Aih, bodoh! Seharusnya jangan berkata itu. Memalukan!” rutuknya.

“ Mana boleh! Sesuatu yang sudah dikatakan itu tidak boleh ditarik kembali. Bisakah aku mendengarnya sekali lagi?” ujar Marcus di belakangnya. Gadis itu terdiam dan membalikkan badannya ketika dilihatnya pria itu berdiri di belakangnya seraya tersenyum lebar.

Ani. Ani!” ujarnya berjalan cepat bergegas menjauhi Marcus. Namun dengan gesit pria itu menahan tangannya dan mengcengkeramnya dengan kuat alih-alih menguncinya agar gadis itu bisa lagi berlari darinya.

“ Aku mencintaimu, Carrie.”

Gadis itu terdiam membisu. Marcus hanya menatap punggung gadis itu dengan lirih.

“ Itulah alasan yang membuatku ingin selalu mengerjaimu, selalu dekat denganmu, dan tidak ingin kehilanganmu. Alasan yang ingin membuatmu tetap bertahan hidup seberat apapun cara yang harus aku jalani. Mengertikah sekarang? Jangan pernah berlari menjauhiku lagi, araso? Karena seberusaha apapun kau menghindariku, menjauhiku, aku berjanji padamu bahwa aku akan selalu menemukanmu.”

“Maaf karena membuatmu menunggu lama dan membuat menyatakan perasaanmu duluan.”

Carrie membalikkan badannya perlahan, dan menatap Marcus dengan lembut. Sesaat kemudian ia tersenyum dan langsung memeluk pria itu. Marcus terdiam. Namun tidak lama kemudian, ia tersenyum bahagia dan memeluk kembali gadis itu dengan erat lalu mencium puncak kepala Carrie dengan lembut.

“ Terimakasih, Marcus. Terimakasih, kau membuat perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan.” ucap Carrie pelan dalam dekapan Marcus.

Marcus tertawa pelan dan memeluk gadis itu semakin erat.

“ Tentu saja, Carrie Cho.” Bisiknya pelan tepat di depan telinga Carrie. Sontak gadis itu melepaskan pelukannya dan memandang Marcus dengan bingung. Marcus tertawa dan mengecup bibir Carrie dengan lembut, dan memeluknya sekali lagi. “ margamu akan berubah tidak lama lagi, setelah aku menikahimu.”

Carrie tertawa dan memukul pundak Marcus dengan gemas. Sementara pipinya sudah memanas dan ia yakin wajahnya sudah semerah tomat matang.

“ Carrie Cho. Eum, nama yang bagus.” ujarnya sembari terkikik.

**

Spencer menatap sepasang sejoli itu dengan tatapan khawatir. Bagaimana tidak, mereka berdua—Liora dan Andrew—sudah seperti orang gila. Mabuk berat. Sudah nyaris sepuluh botol alkohol kadar tinggi mereka teguk. Ia menghela napas dan menggelengkan kepalanya dengan pelan. Dan masalahnya saat ini tidak ada Marcus yang dapat mencegah mereka berdua. Jika dia mencegah, sudah pasti kedua orang itu tak akan mendengarkannya.

“Apa tidak apa-apa membiarkan mereka seperti itu?” tanya Angela yang sama khawatirnya dengan Spencer.

Namun Spencer tak menjawab Angela, ia sendiri bingung harus berbuat apa. Tadi saja Liora menolak mentah-mentah untuk diantar pulang. Angela menatap kedua orang itu yang sedang sibuk dilantai dansa. Kedua orang itu sudah seperti tak sadarkan diri

“ Mereka tidak bisa dibiarkan terus seperti itu. Apa yang harus kita lakukan?”

“ Tidak ada yang bisa kita lakukan,” desah Spencer.

Tiba-tiba Andrew dan Liora menghampiri Spencer dan Angela yang tengah terduduk di bilik dekat meja bartender.

“Kami pergi duluan,” ucap Andrew seraya merangkul Liora yang sudah mabuk pada Spencer dan Angela. Liora tersenyum lebar sementara pandangan matanya sudah tidak fokus.

MWO? Kalian mau kemana?” ucap Spencer bangkit dari duduknya.

Pria itu terlihat kesal, kedua orang itu sudah mabuk dan sekarang mereka mau pergi. Apa mereka mau mati? Andrew mengindahkan perkataan Spencer dan tertawa kencang lalu berbalik meninggalkan Spencer dan Angela.

“ Andrew menyetir dalam keadaan seperti itu?!” gusar Angela cemas.

==

Atas permintaan Liora, Andrew memilih membawanya ke dalam apartemen mewahnya. Gadis itu memilih untuk tidak pulang ke rumah karena teringat dengan segala masalah yang ditimbulkan di dalam rumah yang nyaris seperti neraka olehnya. Andrew melepaskan kemejanya dengan asal kemudian melemparnya ke sembarang arah. Dengan langkah sempoyongan pria itu berjalan menuju konter dan mengambil gelas yang diisinya dengan air putih.

Liora mengerjapkan kedua matanya, dan melihat kekasihnya sedang berada di dapur dan meneguk air putih. Gadis itu membuka kamar Andrew—kamar satu-satunya yang ada di apartemen ini. Ia melempar tasnya ke sembarang arah di kamar sembari melepaskan vest miliknya dan kemudian menarik selimut. Tidur akan membuatnya lebih baik.

Sementara Andrew yang masih dalam keadaan setengah mabuk, dengan langkah sempoyongan ia membuka kamarnya. Ia tersenyum manis ketika dilihatnya Liora sudah tertidur nyenyak. Ia pun melangkah pelan dan duduk di pinggir tempat tidurnya, menatap wajah gadis itu dalam tidur. Andrew tersenyum. Dengan pelan ia menyusuri lekuk wajah Liora yang tertidur itu dengan lembut.

Tiba-tiba saja, Andrew menundukkan wajahnya semakin mendekat wajah gadis itu dan lalu menciumnya. Pada awalnya gadis itu belum menyadari bahwa pria itu sedang menciumnya, namun ketika ciuman Andrew semakin memanas dan ia mengangkat tubuh Liora supaya sejajar dengannya. Dalam sekejap Liora sontak terbangun dan terkejut. Andrew menciumnya semakin dalam, dan membuat kissmark di lehernya. Liora menjerit.

Ia bangkit dari tempat tidur Andrew berusaha menjauhinya. Andrew memejamkan kedua matanya dan mendekati Liora yang ketakutan. Andrew…. Mengapa Andrew seperti ini?! Sungguh sangat menakutkan. Andrew mendekati Liora dan kemudian mencium gadis itu lagi, dengan susah payah gadis itu berusaha melepaskan diri.

Andrew memojokkan Liora ke dinding, kedua tangan kekarnya memegang kedua bahu gadis itu dan ia terus mencium gadisnya itu. Liora berusaha melepaskan dirinya dari pria yang ada dihadapannya kini.

“An—Andrew…” lirihnya.

Wae?”jawab Andrew sedikit marah. Alkohol masih menguasai dirinya.

“Ini sa—“ ucap Liora terpotong karena pria itu kembali mendaratkan bibirnya pada gadis itu.

Seketika Liora mendorong Andrew sehingga pria itu mundur beberapa langkah darinya. Tiba-tiba gadis itu mendaratkan tamparan yang cukup keras pada pipi Andrew yang mulus. Keduanya terdiam.

“Ma—maaf… tapi—tapi ini salah…”

“Liora, maafkan aku—aku—sungguh,“ ucap Andrew merasa sungguh menyesal. Apa yang sudah dilakukannya pada gadisnya ini?

“Andrew—aku tidak bisa… ini sudah salah. Maaf kupikir. Ini harus sudah berakhir,” ucap Liora tercekat. Gadis itu juga bingung dengan apa yang dialaminya sekarang dan apa yang baru saja dikatakannya.

“Apa maksudmu?”

“Kupikir—kita… sampai disini saja,” ucap Liora pelan namun sangat terdengar jelas oleh Andrew.

Andrew terkejut, apakah berarti hubungannya akan berakhir begitu saja? Ia tak ingin.

“Ra, maaf aku—“

“Maafkan aku,” ucap Liora yang langsung mengambil tasnya serta memakai vestnya dengan terburu-buru  dan meninggalkan Andrew yang terdiam membatu.

Gadis itu berlari meninggalkan tempat itu—ia menangis. Air matanya mengalir begitu saja dari pelupuk matanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Ia merogoh tasnya dan mengambil ponselnya dan sial ponselnya mati. Tangisnya pecah, memecah keheningan malam kota Seoul.

Ia segera berjalan menuju telepon umum yang terdekat bisa ia jangkau. Ia mengangkat gagang telepon dan menekan tombol angka, nomor seseorang, nomor yang sudah di hapalnya di luar kepala. Dengan tangan gemetar ia memegang gagang telepon, sementara digigit bibirnya dengan kuat mengharapkan sambungan teleponnya diangkat. Teleponnya tersambung tapi tiba-tiba ia memutuskan teleponnya sebelum orang itu mengangkat telepon darinya. Lalu ia kembali menekan nomor yang di hapalnya diluar kepala—nomor yang berbeda.

“ Kumohon angkat teleponku.”

**

Ya! Kemari habiskan makan malamku!” ujar Marcus sedikit memaksa dan menarik gadis itu mendekatinya dan dengan paksa menyodorkan sesendok makanan penuh ke dalam mulutnya. Carrie menggerutu kesal dengan mulut penuh makanan.

“ Ini makananmu! Habiskan!” gerutunya kesal dan merebut sendok dari tangan Marcus dan dengan kesal menyodokkan sendok makanan itu ke dalam mulut pria itu.

“ Untuk apa makanan hambar ini! Ngga enak! Lagipula, besok pun aku sudah boleh pulang.”

Carrie mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Marcus tertawa dan mengambil Nintendo DS miliknya lalu menyalakannya. Tiba-tiba saja ponsel Carrie berdering dengan begitu keras, Marcus mendelik dan mengambil tas milik Carrie yang berada di atas meja dekatnya lalu merogoh ponsel Carrie. Pria itu mengerutkan keningnya begitu nomor tidak dikenal sebagai id callernya.

“ Ini… bukankah nomor telepon umum?” gumam Marcus.

“ Siapa?”

Marcus mengangkat bahunya dan menyerahkan ponsel Carrie kepada gadis itu. Dengan ragu Carrie menekan tombol hijau di screen ponselnya.

Yeobosseyo.”

Orang itu tak berkata apa-apa, hanya terdengar suara tangisan.

“Carrie.”

Seketika Carrie terkejut. Ia menoleh ke arah Marcus dengan bingung. Marcus mengangguk pelan.

“Liora?”

“Carrie, tolong. Tolong aku kumohon.

“Ra, kau kenapa? Kau ada dimana sekarang? Tunggu disana yah, aku akan menelepon ayah,” ucap Carrie panik. Carrie tak ingin sesuatu terjadi pada Liora—saudarinya.

“Jangan—jangan beritau ayah ataupun ibu. Kumohon, hanya kau dan aku.

Carrie terdiam. Mengapa ayah dan ibu tidak boleh tahu?

“Carrie kumohon.”

“Ba—baiklah, tapi kau dimana sekarang?”

Aku di bilik telepon umum di seberang Sungai Han, tepat di pinggir jalan. Kumohon, Car. Cepatlah datang.”

“ Ba—baiklah. Kau tunggu disana, ne? Aku akan segera kesana!”

Carrie menutup teleponnya dan bergantian ia menatap Marcus dengan bingung. Marcus menghela napas dan kemudian beranjak dari tempat tidurnya lalu menyambar jaket miliknya dan memakainya dengan segera sembari mengambil kunci mobil yang ditinggalkan kakaknya di dalam laci.

“ Aku antar, ayo!” ujar Marcus dingin.

“ Tap—mana mungkin, kau menyetir! Kau belum sembuh.”

“ Aku baik-baik saja. Ayo, jangan membuang waktu!”

Carrie menghela napas dan mengambil tasnya mengikuti Marcus yang sudah keluar dari ruang rawatnya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, dengan terburu-buru ia mencari sebuah kontak di ponselnya dan ia tersenyum lega lalu menekan tombol panggil.

“ Ada apa, Car?”

“ Tunggu sebentar, aku harus memanggil Aiden juga.”

“ Kenapa harus Aiden!”

“ Karena dia yang lebih mengerti Liora di saat seperti ini!” bentak Carrie. Marcus mendengus kesal. Dengan kesal ia melipat kedua tangannya di dada dan menyenderkan punggungnya di dinding rumah sakit.

“ Aiden! Sekarang kau ada dimana?!” pekik Carrie kencang. Marcus mengangkat jari telunjuknya di bibir, memberi isyarat agar gadis itu memelankan suaranya. Carrie tersenyum, dan mengangguk mengerti.

Aku ada di rumah. Ada apa?”

“ Kalau begitu kau harus bersiap-siap sekarang juga, jadi begitu aku dan Marcus tiba di rumahmu kau sudah langsung bergegas. Mengerti?”

“ Eh? Untuk apa kau ke rumahku—dan Marcus?! Ya! Dia belum sembuh benar, untuk apa kau ke rumahku!”

“ Aish, akan kujelaskan begitu aku sudah bertemu dengan kau! Kututup teleponnya!”

Carrie mematikan teleponnya dan memasukkannya ke dalam tas. Marcus mengangguk pelan, dan menarik lengan Carrie bersama dengannya menuju tempat parkir untuk ke menjemput Aiden. Para suster yang melewatinya mereka terkadang berbisik pelan, atau menggelengkan kepalanya. Tentu saja kepala Marcus yang masih di perban sudah keluar malam-malam seperti ini?

**

Tiga puluh menit kemudian, akhirnya Carrie dan Marcus tiba di depan flat milik Aiden. Aiden yang sudah hampir menunggu selama sejam langsung merubah posisi berdirinya yang menyender di pagar menjadi tegak. Dengan malas, Marcus membuka kaca jendela mobilnya hingga keduanya saling bertatapan dengan ekspresi malas.

” Aiden, ayo cepat masuk!” teriak Carrie yang membuka jendela mobil belakang dengan kencang.

” Ngga perlu teriak kencang bisa, ‘kan?” gusar Marcus sedikit kesal.

Carrie mengerucutkan bibirnya dengan kesal seraya menutup kaca jendela dan menyenderkan punggungnya di jok mobil menatap pria di bangku depannya dengan kesal. Aiden mengangkat bahu pelan dan berjalan menuju samping kemudi yang kosong.

” Jelaskan padaku apa yang terjadi dengan Liora?” ujar Aiden yang langsung menginterupsi begitu duduk di samping Marcus.

Marcus mendelik kesal ke arah Aiden seraya menarik tuas dan memutar kemudi segera melaju menuju tempat Liora.

” Car, jelasin,”

” Tunggu sebentarlah, baru saja masuk sudah main interupsi!” gerutu Marcus kesal karena Aiden begitu berisik di sampingnya. Aiden menoleh dan mendecak kesal.

” Aku ngga tahu persis, Aiden. Liora tiba-tiba meneleponku dengan cepat tanpa sempat menjelaskannya. Tapi dia seperti ketakutan, dan dia juga melarangku untuk memberitahu ayah dan ibu.” jelas Carrie.

Aiden terdiam. Dengan lesu ia menyanderkan diri di jok mobil seraya menghela napas panjang. Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk pada gadis itu.

” Bisa ngga sih menyetir lebih cepat, huh?!” gertak Aiden kesal. Marcus menoleh dan mendesis kesal.

” Kau saja yang menyetir! Turun dari mobilku, naik saja taksi yang bisa kau suruh-suruh.”

Aiden menipiskan bibirnya dengan kesal. Sementara Carrie di belakang mereka hanya bisa menghela napas mendengar pertengkaran yang terjadi anatara Aiden dan Marcus.

**

Liora terdiam ditempat yang tak jauh dari telepon umum tadi. Tubuhnya terasa membeku. Kedua pipinya sudah basah dibanjiri oleh air matanya. Entah mengapa ingatannya memutar memori indah yang dulu pernah dialaminya. Memori indah yang dialaminya dengan orang yang begitu berharga dalam hidupnya—Aiden.

“Liora~”

Liora mendongakkan kepalanya, melihat orang yang baru saja menyebut namanya. Dilihatnya Carrie yang sudah ada didekatnya. Lalu tak lama datang seorang pria dari balik tubuh Carrie. Sosok pria yang sangat dikenalnya. Pria itu menghentikan langkahnya. Menatap Liora dengan tatapan khawatir. Tiba-tiba Liora menghambur kedalam pelukannya. Ia terkejut dengan apa yang dilakukan gadis itu, lalu ia tersenyum dan memeluk Liora erat. Gadis itu benar-benar merasa lega, seketika masalahnya hilang begitu saja dan ia suka ketika Aiden memeluknya–menghilangkan beban yang begitu berat dipundaknya.

Carrie melongo menatap adegan itu. Menatap Aiden yang sungguh erat memeluk Liora. Aiden menatap Carrie dan tersenyum bahagia padanya. Sekarang Carrie mengerti kenapa pemuda itu datang ke Seoul dan kenapa Liora begitu marah ketika mengetahui Aiden dekat dengan dirinya.

Aiden melepaskan pelukannya, menatap Liora lekat. Lalu pria itu melepaskan jaket yang dikenakannya.

“Apa kau bodoh, huh? Tengah malam seperti ini hanya menggunakan pakaian seperti ini dan tak menggunakan jaket,” ucap Aiden yang lalu memakaikan jaketnya pada gadis yang ada dihadapannya itu.

“Kau yang bodoh! Kenapa melepaskan jaketmu, huh?” ucap Liora kesal seraya melepaskan jaket milik Aiden yang dipakaikan kepadanya.

“Jangan keras kepala!” ucap Aiden mendengus kesal namun tak lama ia menatap gadis itu lembut dan kembali memakaikan jaketnya pada Liora.

Gadis itu terdiam. Membiarkan  Aiden kembali memakaikan jaket itu padanya. Ia menatap pria yang ada dihadapannya itu.

“Eng… ayo pulang,” ucap Carrie—memecah kebisuan sesaat yang terjadi antara Aiden dan Liora.

Lalu gadis itu berjalan terlebih dahulu menuju mobil Marcus yang tak begitu jauh dari tempat mereka berdiri sekarang. Sedangkan Aiden langsung meraih lengan Liora dan menuntun gadis itu bersamanya. Liora menatap punggung Aiden. Kenapa? Kenapa pria ini selalu memberikan kenyamanan dan ketenangan untuknya? Mengapa pria ini selalu membuatnya tak ingin jauh darinya?

Tak lama, mereka tiba di dekat mobil Marcus. Liora membelalakkan matanya ketika mendapati Marcus yang bersandar di mobilnya lengkap dengan perban yang masih terpasang rapi di kepalanya.

Ya! Kenapa kau disini?!” ucap Liora kesal.

Marcus menatap Liora denga tatapan mengejek.

“Kau ini bodoh? Aku disini karena kau! Merepotkan!”

Lalu perhatian Marcus berpusat pada tangan Aiden dan Liora yang masih bertautan. Pria itu menatap Liora dan Aiden bergantian. Liora menyadari tatapan aneh Marcus lalu ia berusaha melepaskan genggaman tangan Aiden, namun pria itu tak membiarkan tangan Liora lepas dari genggamannya. Liora menatap Aiden  tapi Aiden hanya tersenyum manis padanya.

Marcus menggelengkan kepalanya.

“ Ayo masuk ke mobil! Kau mau kedinginan disini, huh? Aku mau kembali ke rumah sakit!” ujar pria itu lalu berjalan menuju pintu kemudi sedangkan Carrie hanya menatap mereka bertiga dengan bingung.

” Carrie Cho, bisa ngga sih jalanmu cepat?!” bentak Marcus kesal dan sontan Liora dan Aiden menoleh ke arah Marcus dengan bingung.

” Nama margaku Park!” rutuk Carrie kesal.

Marcus mendengus kesal namun tidak lama kemudian tersenyum manis.

” Tinggal menunggu waktu saja,” ujar Marcus yang menarik lengan gadis itu dengan kasar. Aiden hanya tersenyum geli dan masuk ke jok mobil belakang bersama Liora yang sudah masuk terlebih dahulu.

” Menunggu apa sih?!”

” Ah, kelamaan mikir!” ujar Marcus segera mendorong gadis itu dengan paksa ke jok samping kemudi.

==

Mereka kini berada didalam mobil Marcus. Carrie duduk di depan, samping jok kemudi. Sedangkan Liora dan Aiden duduk di belakang. Liora menatap keluar jendela dalam diam, ia masih bingung dengan semua yang terjadi. Ia menghela nafas. Tiba-tiba Aiden kembali menggenggam tangannya. Liora menolehkan kepalanya menatap Aiden. Pria tersenyum ke arahnya.

“Semuanya akan baik-baik saja, percayalah.”

Liora menundukkan kepalanya pelan. Semoga saja apa yang dikatakan Aiden benar. Semuanya akan baik-baik saja.

Marcus melihat Liora dan Aiden dari kaca spionnya. Menyadari sedang diperhatikan, Aiden menatap Marcus.

“Kita kerumah sakit aja, biar Liora aku yang antar.”

“Kau yakin?” tanya Marcus.

Aiden menganggukkan kepalanya yakin. Lalu ia menolehkan kepalanya menatap gadis yang ada disampingnya, gadis itu masih bergelut dengan pikirannya.

Semuanya akan baik-baik saja.

**

Keesokan harinya…

Liora merasakan ada seseorang yang duduk di pinggir tempat tidurnya dan mengusap kepalanya dengan lembut. Gadis itu membuka matanya. Dilihatnya sosok pria yang selama ini dibencinya.

Dennis—pria itu tersenyum ketika Liora terbangun dari tidurnya.

“Kau sudah bangun.”

Liora bangkit dari tidurnya, kenapa dia ada disini?

“Kau pasti bertanya untuk apa aku berada disini,” ucap Dennis tersenyum.

Eh? Kenapa dia tahu?

“Liora, sebenci apapun kau padaku kau tetaplah putri ku walaupun mungkin kau tak pernah menganggapku sebagai ayahmu itu tak jadi masalah untukku dan kau tetaplah putriku. Aku bersyukur dapat menikah dengan ibumu dan menjadi ayahmu, aku senang kau menjadi putriku. Tapi jangan karena aku kau membenci ibumu. Dia sangat menyayangimu bahkan dia sangat mengkhawatirkanmu, setiap hari dia memikirkanmu. Dia ingin kau tetaplah menjadi seorang Liora—Liora putrinya dan bukanlah seorang Liora yang tak dikenalnya. Kau mengerti?”

Liora terdiam mendegar perkataan Dennis tadi. Apa yang baru saja dikatakan oleh ayah tirinya itu memang benar. Sebenarnya apa yang membuat dirinya begitu membenci Carrie dan juga ayahnya? Liora sendiri bingung mengapa ia bisa menjadi seperti sekarang ini.

Dennis bangkit dari duduknya, “lebih baik kau istirahat dulu.”

Liora menatap Dennis yang berbalik dan berjalan menjauhi dirinya. Ia membuka mulutnya, mengatakan sesuatu sebelum pria itu benar-benar hilang di balik pintu kamarnya.

“A-ayah.”

Dennis menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Liora, menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari bibir putrinya yang satu ini.

“Ayah, maukah kau… mengantarku ke kampus?”

Dennis tersenyum—senyum bahagia. Betapa bahagianya Dennis ketika Liora memanggilnya dengan sebutan ayah. Lalu Dennis menganggukkan kepalanya.

“Baiklah, lebih baik kau siap-siap sekarang.”

Perlahan senyuman terukir indah diwajah Liora. Ditatapnya Dennis yang kembali berjalan keluar kamarnya. Ayah, sudah lama sekali ia tidak memanggil seseorang dengan sebutan… Ayah.

==

Carrie duduk di sofa ruang tengah seraya menunggu ayahnya. Dia mangerucutkan bibirnya karena sudah hampir setengah jam ia menunggu ayahnya yang masih bersiap-siap. Carrie langsung bangkit dari duduknya ketika mendapati Dennis yang sudah siap dengan jasnya dan ibunya yang membawakan tas kerjanya.

“Ayah, ayooo cepat!” ucap Carrie menarik tangan Dennis.

Pria itu tersenyum melihat tingkah Carrie. Tiba-tiba Carrie terdiam ketika mendapati Liora yang menuruni tangga dari lantai dua rumahnya.

“Ayah tunggu di mobil,” ucap Dennis yang kemudian berjalan meninggalkan Carrie, Liora dan Taeyeon.

Seketika suasana menjadi kaku. Carrie menatap Liora dengan canggung. Tiba-tiba Liora tersenyum padanya, menghampiri Carrie dan meraih tangan Carrie.

“Ayo berangkat,” ucap Liora.

Carrie melongo mendengar perkataan Liora. Apakah baru saja Liora mengajaknya untuk pergi ke kampus bersama? Carrie menganggukkan kepalanya.

Liora terhenti lalu menolehkan kepalanya, menatap ibunya. Gadis itu tersenyum.

“Kami berangkat,” ucap Liora yang kemudian mengecup pipi ibunya.

Lalu Liora menarik tangan Carrie bersamanya. Carrie tersenyum lalu mensejajarkan langkahnya dengan Liora.

” Liora bagaimana jika pulang kuliah nanti kita jalan-jalan?”

“Eum… baiklah.”

Taeyeon tersenyum. Liora, putrinya sudah kembali.

**

Marcus bersandar di mobilnya menunggu kedatangan Carrie seraya sibuk dengan PSP kesayangannya sedangkan Aiden terduduk di bangku yang terdapat di sekat mobil Marcus dengan earphone yang terpasang di telinganya. Aiden melepas earphonenya ketika mendapati mobil Mercedes hitam milik Dennis memasuki lingkungan kampus.

” Carrie datang.”

Marcus menghentikan kegiatannya dan menatap mobil yang ditunjuk Aiden. Mobil itu berhenti tidak jauh dari tempat mereka berada. Seketika kedua pria itu membelalakkan matanya ketika mendapati Carrie dan Liora turun dari mobil yang sama dengan bersamaan.

“Apa perlu kujemput?”

Carrie menggelengkan kepalanya.

Anni, aku dan Liora akan ke Hyundai pulang kuliah nanti,” ucap Carrie menatap ayahnya seraya melingkarkan tangannya ke tangan Liora.

“Baiklah kalau begitu, tapi jangan pulang larut malam. Arassoyo?”

Carrie menganggukkan kepalanya semangat. Liora melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.

” Sebaiknya ayah pergi sekarang, bukankah ayah ada meeting sebentar lagi?” ucap Liora menatap Dennis.

Dennis tersenyum, ” Ne, baiklah.”

“Ayah…” ucap Liora sebelum Dennis benar-benar meninggalkan keduanya.

“Hati-hati dijalan.”

==

Liora dan Carrie berjalan berdampingan. Carrie tak henti-hentinya bercerita dan membuat Liora terkikik ketika mendengar cerita konyol Carrie.

Tiba-tiba Carrie menghentikan langkahnya.

“Liora, apakah kau menyukai Aiden?”

Liora terbatuk ketika mendengar pertanyaan Carrie.

“Kenapa… kau bertanya seperti itu, huh?”

Carrie menggelengkan kepalanya, “Anni, kupikir Aiden—“

Ya! Kalian lama sekali, dasar wanita!” ucap Marcus menghampiri Liora dan Carrie, membuat Carrie menghentikan perkataannya.

Liora menoleh ke arah Marcus dan Aiden yang sudah berada di dekatnya.

” Kau! Awas saja sampai berani menyakiti Carrie. Kalau sampai kau menyakitinya lagi, aku akan—“

” Kau mau apa, huh?” ucap Liora.

Gadis itu mendengus kesal.

“Asal kau tau saja ya Marcus Jo, aku menampar Carrie itu gara-gara kau!”

Marcus membelalakkan matanya, apa yang baru saja dikatakan Liora? Gadis itu menampar gadisnya gara-gara dirinya?

Marcus menatap Carrie tajam. Carrie menggelengkan kepalanya. Sedangkan Liora tersenyum puas ketika melihat ekspresi Marcus. Tiba-tiba Liora berjalan meninggalkan mereka, lalu Aiden berjalan menyusul gadis itu. Marcus menatap heran pada Liora dan Aiden.

Mau kemana mereka?

==

Liora berjalan lebih cepat, mungkin sekarang ia bisa dibilang berlari. Ia mengejar pria itu, pria yang selama ini mengisi hidupnya. Nafasnya mulai tersengal-sengal.

“Andrew tunggu!”

Pria itu—Andrew menghentikan langkahnya. Membalikan tubuhnya dan menatap Liora yang kini berjalan ke arahnya. Ia tersenyum, tepatnya senyum yang terpaksa dan senyum yang penuh penyesalan.

“Hai Ra,” ucap Andrew lembut.

“Andrew.. aku—aku minta maaf… mungkin—“

“Kau tak seharusnya minta maaf padaku, justru akulah yang salah. Maafkan aku, aku justru tak bisa menjagamu… aku terlalu egois Ra,” ucap Andrew memotong perkataan Liora.

Liora menatap pria yang ada dihadapannya ini nanar. Bagaimanapun pria inilah yang selama ini selalu ada disisinya, dan membuat dirinya merasa tak sendirian. Entah mengapa matanya mulai terasa panas dan buliran air mata jatuh membasahi kedua pipnya. Liora menundukkan kepalanya, berusaha agar Andrew tak melihatnya menangis. Ia sungguh merasa rapuh. Namun ternyata Andrew terlebih dahulu melihat buliran air mata gadis itu.

“Hey, kenapa menangis?” ucap Andrew lembut seraya mengangkat wajah Liora dan menghapus air mata gadis itu.

Andrew tersenyum manis.

“Kau tak seharusnya menangis Liora, gadisku tak akan pernah mudah menangis…” hibur Andrew, entah mengapa hatinya begitu perih ketika melihat gadis itu menangis.

“Terima kasih,” ucap gadis itu tercekat, menahan tangisnya.

Andrew mengangguk pelan lalu ia menatap sosok pria yang berdiri tak jauh dari mereka, tepatnya dibelakang Liora.

“Sudah, kau jangan menangis lagi. Aku tak ingin dia salah paham dan menghajarku lagi,” goda Andrew menunjuk Aiden yang berdiri didekat mereka.

Sontak Liora menolehkan kepalanya mentap Aiden. Pria itu berdiri dengan kedua tangannya yang dimasukkan kedalam saku celananya. Tiba-tiba Andrew mencium pipinya kilat membuat Liora menatap Andrew terkejut dan membuat Aiden membelalakkan matanya.

“Kau—“
“Maaf, itu untuk terakhir kalinya. Aku harus pergi, bye…” ucap Andrew yang kemudian meninggalkan Liora.

Liora tersenyum menatap kepergian Andrew. Pria itu sungguh baik bahkan sangat baik.

“Apa yang dia katakan?” tanya Aiden yang kini sudah berdiri disamping gadis itu.

Liora menolehkan kepalanya lalu merubah posisinya sedikit menghadap Aiden. Gadis itu tersenyum.

“Rahasia.”

Aiden mendengus kesal.

“Ayo!” ucapnya meraih tangan Liora lalu menuntun gadis itu bersamanya.

“Eh? Kemana?”

“Taman.”

Aiden masih menggenggam tangan Liora lalu pria itu duduk disalah satu bangku taman ketika keduanya tiba di taman kampus. Lalu Liora mengikuti Aiden dan duduk disampingnya. Gadis itu tiba-tiba saja tersenyum. Perlahan gadis itu menyandarkan kepalanya ke pundak Aiden. Aiden tesenyum seraya menatap gadis itu.

“Aiden.”

“Hmm?”

“Aku ingin ke Mokpo,” ujar gadis itu.

Aiden menatap Liora heran. Tak lama kemudian pria itu tersenyum. “Baiklah, aku akan mengajakmu ke Mokpo dan menemui orang tua ku,” ujar Aiden.

Liora mengangkat wajahnya, menatap Aiden heran.

“Untuk apa?”

Aiden menghela nafas, “ aku ingin mereka tau jika kau adalah gadis yang sangat berarti dalam hidupku, gadis yang selama ini ada dihatiku, membuatku tak henti-hentinya tersenyum sendiri ketika mengingat saat kita bersama, membuatku seperti orang gila… membuatku selalu ingin bersamanya, menjaganya, selalu ada disisinya dan menjadi orang pertama yang dicarinya ketika ia sedang membutuhkan seseorang untuk menjadi pelindungnya,” ucap Aiden seraya menatap Liora lembut, pria itu menarik nafas dan menghembuskannya sesaat sebelum kembali melanjutkan kata-katanya.

“ Aku bahkan hampir putus asa, telebih ketika aku datang kesini dan melihatmu sudah bersama Andrew. Aku bahkan berniat untuk melupakanmu tapi ternyata itu sangatlah sulit. Walaupun kau sempat berbeda denga Liora yang dulu, tapi bagiku kau tetaplah Liora.”

“Tapi—kenapa?”

Aiden terkikik.

“Karena aku mencintaimu Liora. Aku ingin kau menjadi milikku, menjadi Liora-ku,” ucap Aiden menatap Liora lekat.

Liora mengalihkan pandangannya, menatap sekelilingnya. Entahlah jantungnya kini berdegup lebih kencang apalagi ketika mendengar Aiden menyebut degan ‘Liora-ku’.

“Tapi Aiden, aku—“

“Aku tak peduli apakah nama margamu Kim atau Park, yang kulihat bukanlh itu melainkan sosok Liora yang selalu tersenyum—tersenyum untukku, sosok Liora yang selalu menangis dipelukanku, sosok Liora yang bisa mengalahkanku di permainan basket, sosok Liora yang selalu memaksaku untuk mengartarnya ke pelabuhan jika paman pulang, sosok Liora yang selalu mengajakku ke kedai es krim setiap pulang sekolah, aku mencintai mu Liora…”

Liora terdiam, entahlah perasaannya bercampur aduk. Pria ini—pria yang selalu mengerti dirinya mengatakan jika ia mencintainya. Kuharap ini bukanlah sekedar mimpi~

“Kenapa? Apa kau—tidak mencintai ku?”

“Bukan begitu Aiden, aku hanya—“

“Aku tahu, kau pasti mencintaiku.” ucap Aiden memotong perkataan Liora seraya mengerling pada pada gadis itu.

Liora menatap Aiden tak percaya, sejak kapan pria ini menjadi begitu percaya diri?

Ya! Kau ini sedang menyatakan cinta atau—“ ucap Liora terpotong karena kini bibir Aiden mendarat di bibirnya. Jantungnya berdegup semakin kencang. Perlahan Aiden menjauhkan wajahnya dari wajah Liora. Aiden tersenyum.

“Berarti kau mencintaiku,” ujar Aiden tersenyum pada Liora.

“Aiden! Kau—aish…” ucap Liora mendengus kesal namu pria yang ada disampingnya ini hanya tertawa melihat ekspresinya.

Liora perlahan tersenyum. Iya, dia juga mencintai Aiden bahkan sangat mencitai pria itu. Ia tak ingin Aiden pergi jauh darinya, ia ingin Aiden selalu bersamanya, disisinya dan juga menjaganya.

“Gomawo.”

“Untuk?” tanya Aiden.

“Mencintaiku,” jawab Liora yang kembali menyandarkan kepalanya ke pundak Aiden.

“Tak masalah selama itu kau.”

**

EPILOG

Marcus dan Aiden memakirkan mobilnya di tempat parkir yang ada di sana. Akhirnya mereka tiba di Mokpo, tempat kelahiran Aiden dan Liora.

Lirora menatap hamparan lautan yang ada dihadapannya, sungguh indah.

“Aaa indah sekali!” pekik Carrie girang. Gadis itu melebarkan kedua tangannya seraya menghirup udara pantai dan angin pantai yang berhembus begitu kencang.

Marcus melepaskan kacamata yang bertengger di batang hidungnya seraya membanting pintu mobil di belakangnya seraya menyender di sana melihat tingkah Carrie yang menurutnya norak itu sambil melipat kedua lengannya. Carrie membalikkan badannya dan tersenyum lebar ke arah Marcus, tidak lama gadis itu pun berlari menghampiri Marcus.

“ Hey, ayo kita jalan-jalan di pinggir pantai itu! Asyik!” ujar gadis itu antusias seraya melompat girang menunjuk hamparan pasir putih yang berjarak beberapa meter dari mereka.

“ Aku malas. Kau saja, aku tunggu disini. Lagian, acara Liora Aiden, kau pakai acara ikut-ikutan segala ke Mokpo.”

Carrie mengerucutkan bibirnya dengan kesal.

“ Ih, kapan lagi kita ke pantai?! Ayo!” gerutu gadis itu seraya menarik lengan Marcus bersamanya. Marcus menggelengkan kepalanya dan mengikuti langkah gadis itu sementara membiarkan lengannya dituntun oleh Carrie.

Begitu tiba di tepi pantai dengan sendirinya, Carrie melepaskan tangannya dari Marcus dan berlari girang menghampiri ombak dan sesekali melompat menghindari datangnya ombak. Dari kejauhan Marcus hanya tersenyum sekaligus ingin tertawa melihat tingkah gadis itu. Ia pun berjalan pelan di pinggir pantai seraya mengikuti gadis itu yang berlari-lari kecil mengikuti garis pantai di depannya.

Ya! Kau belum pernah ke pantai ya?!” teriak Marcus kencang. Carrie menoleh dan tersenyum lalu mengangguk girang.

“ Nanti ajak aku lagi ke pantai lain kali, yah, Marcus! Hehehe…”

Marcus mendesis dan sesaat kemudian tertawa pelan. Tiba-tiba di depannya Carrie tertunduk seperti terjatuh atau terantuk sesuatu. Ia pun segera berlari kencang menghampiri gadis itu. Begitu menghampirinya ia menjongkokkan diri di samping Carrie.

“ Ah, haknya lepas! Bagaimana ini~” kesah Carrie seraya menunjuk hak sepatunya yang lepas. Marcus tertawa dan mengulurkan tangannya membantu gadis itu berdiri.

“ Pakai sebelah saja, lebih lucu kok.”

“ Ish! Pergi, percuma kau nggga bisa membantu!” gerutunya kesal seraya mendorong Marcus menjauh darinya. Pria itu tertawa dan menggelengkan kepalanya lalu berjalan terlebih dahulu meninggalkan gadis itu di belakangnya.

“ Marcus, tunggu aku!” pekik Carrie di belakangnya seraya menenteng kedua sepatunya di tangan. Marcus menghela napas dan lalu merebut sepatu tersebut dari tangan Carrie kemudian melemparnya jauh-jauh ke lautan.

Carrie melongo ketika melihat sepatu mahal hadiah ayahnya dari Paris itu dibuang begitu saja ke tengah lautan. Marcus menepuk-nepuk tangannya dengan santai. Gadis itu melirik ke arahnya dengan kesal, sebelum akhirnya mendorong Marcus ke arah ombak dengan sembari memukul dada Marcus dengan kesal.

“ Ah, itu sepatu mahalku! Ayah bisa marah kalau sepatu itu hilang dan terlebih itu dibuang begitu saja olehmu! Ish, Marcus nyebeliin~”

“ Kalau sepatu mahal ternyata ngga menjamin kualitas haknya, percuma saja!”

“ Lalu, nanti aku pulang pakai apa?!” teriak gadis itu kesal sementara kedua matanya sudah memerah dan siap-siap mengeluarkan air matanya. Marcus tertawa dan lalu mendekatkan diri ke arah Carrie dan mencium bibir gadis itu dengan lembut namun tak lama dengan kesal gadis itu mendorong tubuhnya menjauh darinya.

“ Jangan sembarang menciumku, pria menyebalkan!”

“ Oh, baiklah.”

Marcus menghela napas dan kemudian melepaskan kedua sepatunya. Carrie mengulum bibirnya dan melihat pria itu dengan aneh. Marcus menatap gadis itu dengan tajam, dan memaksa Carrie memegang kedua sepatunya di tangannya, kemudian menunduk di depan gadis itu.

“ Naiklah! Jangan banyak bicara!” ujar Marcus seraya menepuk punggungnya.

“ Tidak mau! Bisa saja, kau tiba-tiba melemparku ke lautan!”

Marcus berbalik dan membuka mulutnya, seperti ingin membentak namun tidak jadi. Ia memejamkan kedua matanya sejenak, dan lalu menunduk kembali.

“ Naik! Kalau tidak naik sekarang juga, aku akan benar-benar membuangmu ke lautan!”

“ Aish, ancaman apa itu! Oke, kalau kau membuangku ke lautan, demi lautan Mokpo yang menjadi saksi, aku akan menghantuimu sepanjang hidupmu!” ancam Carrie yang kontan membuat Marcus tertawa terbahak-bahak.

“ Baiklah, hantui saja aku. Aku tidak takut dengan setan bodoh sepertimu!”

“ Cish, diam! Aku akan naik.” Gerutu Carrie kesal dan lalu naik ke atas punggung pria itu. Marcus bangkit seraya menggendong gadis itu dalam punggungnya, Carrie melingkarkan kedua lengannya di leher Marcus dan menumpukan dagunya di pundak pria itu.

“ Marc, janji yah jangan pernah meninggalkan aku.” ucap Carrie pelan dalam pundak Marcus. Marcus menoleh sekilas dan tersenyum.

“ Baiklah, kau boleh pegang janjiku tidak akan pernah meninggalkanmu. “

“ Bagus. Eum, aku lapar. Boleh ke kita pergi makan sekarang, hmm kita harus mencoba makanan laut khas Mokpo.”

“ Kalau kau ingin makan, maka cium aku dulu.”

Ya!

“ Tidak mau? Baiklah, tidak ada jatah makan malam, sehabis ini kita langsung pulang.”

“ Ish, ancaman ngga bermutu.” Gerutu Carrie. Carrie mengerucutkan bibirnya dengan kesal dan kemudian mencium pipi Marcus dengan kilat, sebelum kedua pipinya menjadi semakin memanas. Marcus tertawa.

“ Kenapa hanya di pipi?”

Dengan kesal gadis itu mengetuk kepala Marcus.

“ BERI AKU MAKAN MALAM!”

“ Oke, tuan putri!”

**

Liora merentangkan tangannya ketika ia sudah berada di tempat favoritnya; pantai. Ia memejamkan matanya, merasakan angin pantai yang berhembus ke arahnya. Pantai memang tempat yang sangat indah. Ia kembali teringat ketika ayahnya—Jordan membawanya ke pantai. Sungguh memori yang sangat indah.

“Rasanya baru kemarin aku kesini dengan ayah,” ucap Liora pelan namun terdengar begitu jelas di telinga Aiden.

Aiden tersenyum lembut.

“Apa kau merindukannya?”

Liora menggelengkan kepalanya seraya menoleh ke arah Aiden yang ada disampingnya. Aiden menatap Liora heran.

Anni, aku tidak merindukannya. Karena ayahku, Jordan Kim selalu ada untukku, menjagaku, melindungiku dan dia akan selalu ada dihatiku selamanya. Walaupun…” ucap Liora tercekat, dadanya kembali terasa sesak jika mengingat ayahnya.

Aiden menyadari perubahan suasana yang terjadi pada gadisnya itu. Perlahan ia menarik Liora dan merengkuh ke dalam pelukannya.

“Aku tahu, kau tak perlu melanjutkannya lagi. Ayahmu pasti bangga padamu sekarang,” ujar Aiden lembut seraya mengusap kepala Liora lembut.

“Apa menurutmu begitu?”

Aiden menganggukkan kepalanya.

Ne,” ucap Aiden seraya mengecup puncak kepala Liora dan memeluk gadis itu semakin erat.

“Bahkan aku mungkin lebih bangga padamu ketimbang paman yang ada di surga,” ucap pria itu lembut.

Liora tersenyum lalu gadis itu mendongakkan kepalanya, “Aiden…”

“Hmm?”

“Ayo kita beli es krim.”

Aiden teresenyum menatap Liora dan melepaskan pelukannya.

Kkaja!” ujar pria itu menuntun Liora, gadis yang kini menjadi miliknya—menjadi Liora-nya.

Tiba-tiba Aiden menghentikan langkahnya, dan membuat Liora menoleh ke arahnya. Namun pria itu menyapukan bibirnya di bibir Liora. Gadis itu terdiam, rasanya kakinya tertancap begitu dalam ke tanah.

Pria itu menjauhkan wajahnya beberapa senti dari Liora lalu tersenyum pada gadis itu lalu berjalan terlebih dahulu seraya tertawa. Liora menatap Aiden kesal. Pria ini, selalu saja membuat jantungnya berdebar.

“Aiden!” pekik gadis itu berlari menyusul pria yang berjalan didepannya.

Aiden membalikkan tubuhnya, merangkul gadis  yang ia cintai ini.

“Kau berdebar, huh?”

END

10 thoughts on “[FF] Life (Disclosure) part 4”

  1. OHMIGOOOOOOD, akhirnya dipublish!😄
    ngga tau kenapa apa, apa karena kembaran gue yang maen atau karena emang gue yang maen. EH?! ngga pernah bosen bacanya ~.~
    apalagi bagian yang kecelakaan, terus bagian di rumah sakit apalagi ;~~~;
    Marcus ssi, c’mon lamar aku ~;~ tapi habis aku udah kuliah , tunggu 6 tahun lagi /PLAK!

    Duh, setan menelku >.< aih, epilog the best scene in this fics! HAHAHAHAHAHA
    neomu neomu joaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
    cmon ga, kita rempong lagi bikin epep hahaha

    1. wakakakakaka selow boss! hahaha
      iya yah, gua juga ga bosen baca kisah gua /LOH? (u,u)
      hahahaha itu yang dirumah sakit ngakak aku bacanya, Carrie tulul *ups* /kabooor hahaha
      eum ngga sabar yeuh ganti marga LOL

      zzz -_________- sejak kapan sih itu setan jadi menel pisan? ngerakeun eh /PLAK!! *digigit setan menel* (uuuh mau duuund digigit setan menel kara Marc :*) /diuber Carrie <<< mulai gaje bos haha
      AYOOOOO!!! KITA BERKARYA LAGI HUAHAHAHAHAHHAHA \(^o^)/ <<< on fire ceritanya hahahahaha

      1. iyaaaaaa niiiiyh, ngga sabar buat ganti marga. EH?!
        euuum nunggu Marcus jadi bapak dokter dulluuuuuu aja deh wkwkwkwkwk

        kan kan kan Carrie si GADIS BODOH yang membuatnya menjadi MENEL
        eaeaeaea hahahahaha *peluk Marc. minta ke pantai lagi wkwkwkwk
        sipppp beibh, hahahaha ajang pelampiasan setreseuu sekolah -___-

        1. hahahahahaha berasa nyata >//////< yaah gabisa berobat sama dokter Marc dong, kan aye juga dokter (amin~) ^^v

          CARRIE! KAU APAKAN TEMANKU HUH?!! /eh? haha
          eum Carrie menel -,-
          yeeeees! pelampiasan boooooo~

  2. liora jahat banget!!!!!!!!!!!!!!! keren ih taeyeon sm dennis><<<<. pingin difilmin. liora itu yang mana ya?trs carrie ilistrasinya mana? aku suka ceritanya bagus dan terkesan nyata. akhirnya liora milih donghae. because donghae has love while siwon has much money…

    1. eh? liora jahat? eum.. mungkin dia memang sedikit jahat~ hehe ^^v
      liora itu ulzzang yg pake baju hitam dan carrie yang pakai kaca mata ^_^
      makasih🙂 makasih juga udah sempetin baca dan komen ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s