[FF] Memory of Innocence – Prologue

Tittle : Memory of Innocence

Author: Liora Lee
Rating : PG+15 / straight
Casts: Super Junior and OC
Other Casts: Super Junior
Genre: Romance, Friendship, Family, AU, Angst
Length : Chaptered
Part: prologue

Disclaimer : The characters in this story is the character of their own with a bit of my imagination and this story is only a fiction. So don’t sue me.

A/N:
– This is my fail fanfic (LMAO)
– You can find another cast in next part (if I post the next part LOL)
– Please give your comment to this story, so I might post the next part if you give it her🙂

***

Dulu… duniaku indah dan penuh warna

Sekarang… semuanya berubah

Gelap dan tak berwarna

Hitam

Itulah warna kehidupanku sekarang

***

Seorang gadis terdiam menatap lurus kedepan, tatapannya begitu kosong. Semuanya terasa gelap. Mengapa? Mengapa harus dirinya yang mengalami ini semua. Tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangan itu.

“Pagi, apa kabarmu?” ucap seorang wanita lembut pada gadis itu.

Gadis itu terus menatap lurus kedepan. “Aku… tak tau…” jawabnya datar.

“Baiklah, sekarang aku akan cek ke—“

“Tinggalkan aku sendiri,” ucap gadis itu tercekat, matanya terasa panas.

“Tapi—“

“AKU TAK BUTUH SIAPAPUN!” teriak gadis itu histeris. “AKU BENCI SEMUANYA!!!”

“Nona, tenanglah..” ucap wanita itu lembut, menenangkan gadis itu. Dengan cepat ia memanggil rekannya lalu menyuntikkan beberapa cc obat penenang. Dengan perlahan gadis itu pun bisa tenang.

Mengapa dunia ini begitu jahat padanya?

==

Seorang pria menatap kedalam sebuah ruang rawat inap. Didalam ruangan itu terdapat seorang gadis yang terdiam di tempat tidurnya. Gadis itu menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong. Tiba-tiba seorang perawat tersenyum padanya lalu memasuki ruangan itu. Tak lama kemudian ia mendengar teriakan histeris dari dalam ruangan itu.

Dia menatap gadis itu nanar.

Maafkan aku.

**

Seorang gadis membuka pintu kamar dengan kasar. Ia menatap saudarinya yang sedang asik memainkan Mac Booknya. Gadis itu menatapnya tajam dan kesal.

“Yaa! Carrie! Mana es krimku?” tanya gadis yang bernama Liora itu kesal pada Carrie—saudarinya.

Carrie tersenyum polos menatap Liora. Ia lupa mengganti es krim Liora yang dimakannya tadi. Gadis itu memang akan marah jika Carrie memakan es krimnya tanpa menggantinya kembali.

“Aku lupa hehehe.”

Liora mendengus kesal.  Lalu gadis itu keluar dari kamar Carrie dan berjalan melewati ruang tengah rumahnya.

“Kau mau kemana?” tanya Alice—ibu Liora dan Carrie yang keluar dari dapur seraya membawa secangkir kopi untuk Dennis yang sedang berkutat dengan pekerjaannya di ruang kerjanya.

“Mau ke mini market,” jawab Liora ketus.

“Ini ‘kan sudah malam,” ucap Alice lembut pada putri sulungnya yang satu ini.

“Aku akan segera kembali bu,” ucap Liora yang tak lama kemudian menghilang dibalik pintu.

Alice hanya menggelengkan kepalanya, menatap Liora yang keluar dari rumah dengan langkah yang dihentakkan kesal.

==

Liora menyerahkan sejumlah uang pada pegawai mini market yang tak begitu jauh dari rumahnya. Gadis itu tersenyum seraya menerima bungkusan es krim yang dibelinya.

“Silahkan datang kembali,” ucap pegawai mini market itu ketika Liora hendak berjalan keluar.

Liora menatap sekelilingnya, hanya ada satu bintang yang dapat dilihatnya saat itu. Lalu tiba-tiba ponselnya bergetar. Gadis itu merogoh saku celananya. Ia tersenyum ketika melihat id caller yang meneleponnya. Dengan segera gadis itu menenyentuh gambar answer yang tertera di ponselnya yang berlambangkan apel tergigit itu.

“Halo,” ucapnya senang.

“Halo, bagaimana kabarmu?”

“Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Eum, kapan kau akan kembali ke sini? Kau bilang hanya beberapa minggu disana dan sekarang sudah hampir dua bulan lebih,” keluh gadis itu pada pria yang meneleponnya.

Pria itu terdegar terkekeh.

“Apa kau merindukanku?”

Liora tersenyum lalu ia mengangguk walaupun ia tau jika pria yang meneleponnya ini tak dapat melihatnya. “Ne~

“Maaf, tapi aku juga merindukanmu. Jaga dirimu baik-baik. Dan kau jangan pernah berpaling dariku! Gadisku hanya untukku dan milikku!”

Liora tertawa mendengar perkataan pria itu. Dia begitu senang jika pria yang meneleponnya itu menyebutnya dengan sebutan ‘gadisku’.

“Harusnya aku yang berkata seperti itu!”

Liora terus berjalan seraya berbincang di ponselnya sampai-sampai ia tak menyadari jika lampu lalu lintas sudah berganti warna. Ia terus berjalan dan tak menyadari ada mobil yang melaju kencang ke arahnya. Hingga akhirnya ia terhempas ke aspal. Seketika ia melihat sekelilingnya buram dan kemudian gelap.

Ayah… Ibu…

**

Mereka berjalan tergesa-gesa menuju ruang gawat darurat Seoul Hospital. Dilihatnya seorang perawat memasuki ruangan tersebut. Seketika Dennis menghampirinya dan berbicara sesuatu dengan perawat tersebut. Lalu perawat tersebut berbicara sesuatu dan kemudian berjalan meninggalkan Dennis.

Dennis begitu khawatir, perasaannya tak tenang—terlebih ia masih belum tau dengan pasti keadaan putri sulungnya saat ini. Carrie menatap ibunya yang khawatir setengah mati. Wanita itu tak henti-hentinya menangis ketika mengetahui jika Liora mengalami kecelakaan.

“Ibu, tenanglah dulu.” ucap Carrie berusaha menenangkan Alice.

Carrie terdiam, seharusnya ia tadi tak lupa untuk mengganti es krim Liora. Sungguh konyol bukan hanya karena sebuah es krim Liora jadi mengalami kecelakaan?

“Ayah,” panggil Carrie menatap Dennis yang sedari tadi hanya mondar-mandir didepannya dan juga ibunya.

Tak lama kemudian seorang pria paruh baya keluar dari ruang gawat darurat tersebut yang lengkap dengan stetoskop yang melingkar dilehernya. Seketika Dennis menghampiri pria itu, begitupun dengan Carrie dan Alice.

“Bagaimana dengan putriku?” ucap Dennis khawatir.

Pria itu tetap tenang seraya menatap Dennis, Alice dan Carrie secara bergantian. Berusaha agar tak membuat mereka lebih panik.

“Kecelakaan itu membuat penglihatan putri anda menjadi terganggu. Kami belum bisa memastikan apakah itu sementara atau permanen, karena kami masih harus memeriksanya lebih lanjut,” ujar pria itu.

Carrie membelalakkan matanya. “Apakah artinya Liora—“ ucap Carrie terpotong, ia membekap mulutnya sendiri—berusaha bayangan buruk itu segera menghilang dari kepalanya.

Namun pria itu tak menjawab dan hanya menundukkan kepalanya. Dennis memegang keninnya, ia tak dapat membayangkan bagaimana nantinya jika putri sulungnya itu tak dapat melihat. Ya Tuhan~

“Kami akan terus berusaha agar hal tersebut tak terjadi pada putri anda.” Ucap pria itu menepuk bahu Dennis yang kemudian berjalan meninggalkan mereka.

Bagaimana ini?

**

Carrie berjalan memasuki ruangan tempat Liora berada. Dilihatnya Liora yang berbaring dengan perban yang terpasang di kepalanya dan menutupi matanya. Liora menolehkan kepalanya.

“Carrie, apakah itu kau?” tanya Liora ketika mendengar suara langkah kaki yang berjalan menuju arahnya.

Carrie menghapus air mata yang mengalir dipipinya.

“Iya, ini aku.” Ucap Carrie tercekat.

“Yaa! Apa kau habis menangis?” tanya Liora yang menyadari perubahan suara adiknya ini.

Mianhae… jeongmal mianhaeyo. Maafkan aku,” isak Carrie.

Liora tersenyum seraya menjulurkan tangannya, perlahan Carrie meraih tangan Liora lembut.

“Ini bukan salahmu bodoh! Aku yang salah, aku tak memperhatikan jalan. Jadi jangan salahkan dirimu yang bodoh itu!” ujar Liora terdengar begitu tenang.

Carrie merasa sedikit tenang, Liora memang paling bisa membuatnya merasa lebih tenang walaupun sebenarnya ia masih merasa bersalah atas kecelakaan yang menimpa saudarinya ini.

Tiba-tiba Dennis memasuki ruang tersebut.

“Ayah.”

Dennis tersenyum lalu menatap Carrie. Perlahan Carrie melepaskan tangannya lalu meninggalkan Liora dan juga ayahnya.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Dennis lembut.

Pria itu kini duduk di samping tempat tidur. Perlahan Liora bangkit dari tidurnya dan Dennis membantu putrinya itu bangkit dari tidurnya.

“Entahlah ayah. Ayah, kenapa mataku diperban seperti ini? Ini sungguh mengganggu dan membuatku… err—tak nyaman,” ucap Liora.

Dennis menumpukan tangannya ke bahu Liora lalu pria itu mengusap kepala Liora lembut.

“Kata dokter matamu memang harus diperban terlebih dahulu,” ucap Dennis yang tetap tenang.

“Benarkah?”

Ne, jadi kau harus sedikit bersabar. Arasso?

Liora menganggukkan kepalanya pelan. Ia masih bisa melihat dengan normal, bukan?

**

Liora meremas jemarinya, jantungnya berdegup lebih kencang. Hari ini perban yang menutupi matanya akan dibuka. Ia tak sabar untuk melihat semuanya lagi dan kembali melakukan aktivitasnya yang sempat terganggu.

“Yaa! Apa kau takut?” ucap seorang pemuda yang sejak tiga jam yang lalu menemani Liora, ia duduk di sofa depan tempat tidur dan kini ia sedang sibuk dengan PSP kesayangannya.

“Entahlah Marcus, aku merasa tidak enak.”

“Itu hanya perasaanmu saja,” ujar pria yang bernama Marcus itu yang tetap sibuk dengan kegiatan bermain gamenya.

Tak lama kemudian Dennis, Alice, Carrie dan dokter seraya perawat memasuki ruangann tersebut.

“Apa kau siap?” tanya dokter itu lembut.

Liora menganggukkan kepalanya ragu. Lalu dokter itu mengambil sebuah gunting yang diberikan oleh perawat yang bersamanya. Perlahan perban yang menutupi mata Liora terbuka. Semuanya menatap Liora khawatir.

Perlahan Liora membuka kedua matanya. Gelap.

“I-ibu… sekarang belum malam ‘kan?” tanya Liora lirih.

Seketika Carrie membekap mulutnya sendiri. Air matanya turun begitu saja dari pelupuk matanya. Marcus menolehkan kepalanya menatap Carrie.

“A-ayah… kenapa? Semuanya gelap,” ucap Liora tercekat, air matanya keluar begitu saja dari pelupuk matanya.

“Liora, tenanglah…” ucap Alice menggenggam tangan Liora.

Dennis menatap dokter yang ada di samping Liora. Dokter tersebut hanya menggelengkan kepalanya, menandakan tak ada yang dapat diperbuat lagi selain menunggu hasil pemeriksaan laboratorium lebih lanjut dan artinya untuk sementara ini Liora tak dapat melihat dunia.

“I-ibu… kenapa? Kenapa diam? Aku—aku tidak buta ‘kan? Aku masih bisa melihat ‘kan? Ayah… Ibu… jawab aku!” ucap Liora setengah berteriak.

Dennis merengkuh putrinya kedalam pelukannya. Ia menangis—tak kuasa melihat putrinya yang seperti sekarang ini.

Seketika Carrie keluar dari ruangan itu. Marcus menatap Carrie yang berjalan meninggalkan tempat itu lalu pria itu memutuskan untuk menyusul Carrie.

“Ayah… katakan jika aku hanya bermimpi.”

==

Sudah hampir satu bulan lebih gadis itu dirawat di rumah sakit semenjak kecelakaan itu dan semenjak itu pula ia tidak berinteraksi dengan dunia luar. Semuanya masih terasa berat baginya karena ia tak dapat meihat dunia lagi.

Gadis itu difonis mengalami kebutaan dan harus menerima cangkok jika ia ingin melihat dunia seperti sedia kala. Sungguh menyakitkan baginya.

Gadis itu berjalan perlahan menuju gantungan pakaian yang terletak tidak jauh dari tempat tidur. Ia berusaha menggapai sesuatu yang ada didekatnya, ia meraba sekitarnya—berusaha menemukan barang yang dicarinya. Tangannya mulai berhenti kita ia sudah mendapati barang yang dicarinya.

Gadis itu menggunakan jaketnya yang berwarna cokelat itu dan berjalan menuju pintu. Perlahan ia membuka pitu ruang inapnya. Sepi, seprtinya sudah malam. Ia menghela nafas dan dengan yakin ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Semoga ia tak bertemu dengan para perawat nantinya.

**

Sudah beberapa minggu ini ia sering kesini, ketempat gadis itu dirawat. Hampir setiap malam ia mendatangi rumah sakit ini hanya untuk melihat keadaan gadis itu. Ia merasa sungguh bersalah pada gadis itu. Seandainya ia menuruti apa yang dikatakan saudaranya mungkin ia tak akan membuat gadis itu menjadi seperti saat ini.

Ia berjalan menuju lantai dua rumah sakit itu dan tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat gadis itu berjalan menuju ke arahnya—ke arah lift. Entahlah ia tidak yakin, tapi sepertinya gadis itu ingin kabur dari rumah sakit. Tapi, bagaimana ia tau letak lift ada disebelah sana?

Pemuda itu lebih memilih diam dan menemani gadis itu. Tiba-tiba gadis itu menolehkan kepalanya ke arah pemuda itu, apa mungkin gadis itu merasakan kehadirannya?

Tak lama, mereka tiba di loby rumah sakit. Dilihatnya seorang perawat menghampiri mereka dan akan berkata sesuatu namun pemuda itu menempelkan telunjuknya ke bibirnya menandakan agar perawat itu tak bicara apa-apa. Lalu ia dan gadis itu perlahan keluar dari rumah sakit.

Pemuda itu mengikuti langkah gadis itu.

Mereka terus berjalan disepanjang trotoar dalam hening.  Ia menatap punggung gadis yang berada didepannya. Gadis itu berjalan perlahan seraya meraba sekelilingnya, berusaha menemukan sesuatu yang dapat digunakannya sebagai pegangan.

Keadaan jalan yang sepi tiba-tiba menjadi sedikit ramai karena memang sekarang adalah hari Sabtu—hari dimana muda-mudi kota itu menghabisakan waktu malamnya.

Semakin terus berjalan, gadis itu semakin sering menubruk orang yang berpapasan dengannya hingga seseorang kesal dan berteriak padanya. “APA KAU BUTA HUH?!!”

Gadis itu terdiam sama seperti pemuda yang mengikutinya dari tadi. Ia merasa hatinya tersayat saat mendengar kata-kata yang menusuk itu. ‘Iya, aku memang buta.’—batin gadis itu.

Tiba-tiba gadis itu terjatuh sesaat seteleh seseorang kembali menabraknya. Dengan cepat pemuda yang mengikutinya itu menghampirinya. “Kau—baik-baik saja?”

Sontak gadis itu menoleh ke arah sumbe suara. Suara ini—suara yang dirindukannya. Matanya terasa panas, air mata sudah menggenang. Perlahan air mata menetes di pipi gadis itu, ia menyentuh wajah pemuda tadi. Setelah yakin dengan orang yang ada dihadapannya itu, ia menghambur ke pelukan pemuda itu. Ia menangis. Ia sungguh merindukan sosok pemuda yang ada dihadapannya itu.

‘Aku akan menjaganya untukmu,’—batin pria itu.

To be continued

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s