[FF] Moya Zvezda (Infidelity) part 1

Title:Moya Zvezda

Author: Liora Lee
Rating : PG+16 / straight.
Casts: Oh Sehun, Kim Jongin (EXO-K) and OC.
Other Casts : EXO-K, EXO-M, miss A, A Pink
Genre: Romance, Friendship, AU, Angst, PG.
Length : Chaptered.
Part: 1 of ?

Disclaimer : The characters in this story is the character of their own with a bit of my imaginationand this story is only a fiction. So don’t sue me. Do not copy paste this fics without any permission from author.

A/N :

-This is only my IMAGINATION.
-I put some english translations of some songs but this is not a songfics.
-I made some characters kinda…. harsh but don’t hate them please~ this is only fanfiction.
-You can find other cast when you read this story.
-Don’t forget to give your comments and happy reading.

***

You’re my star, the biggest star in the world~ Shining a light on my darkened heart~ You’re my star, the biggest star in the world~ Melting me, who was once frozen~

***

“Err… Kita harus bicara…”

“Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Aku…. ingin bicara tentang kita…”

“Kita? Maksudmu?”

“Maafkan aku… ini tidak akan berhasil… ini salahku… uhh… lebih baik… kita putus…”

***

“JENNA!”

Seorang gadis menghentikan langkahnya. Gadis berambut hitam panjang bergelombang itu membalikkan tubuhnya. Menatap seorang pemuda yang baru saja memanggilnya. Pemuda berparas tampan dengan rambut hitamnya dan tubuhnya yang tinggi itu berlari menghampiri gadis yang sedari tadi dicarinya. Ia tersenyum ketika melihat gadis itu masih berada di lingkungan sekolah.

“Ah… untung saja aku tidak terlambat,” ucap pemuda itu yang disambut dengan tatapan heran dari gadis yang ada dihadapannya itu.

“Terlambat untuk?”

Pemuda itu tersenyum manis pada gadis yang ada dihadapannya. Senyuman yang khas—yang dapat membuat gadis manapun jatuh hati terhadapnya. “Untuk mengantarmu pulang,” jawab pemuda itu seraya meraih tangan gadis itu. “Ayo~” sambungnya seraya menuntun gadis yang kini ada disampingnya.

***

I’m so sorry~ I am crumples and ripped apart… I am hurt~ You are bad guy… You are wicked guy… what about me? I’m watching you only~ Weak girl, good girl… what should i do? if you leave me what about me?

Air mata terus mengalir dari kedua pelupuk matanya. Lemah—itu yang dia rasakan saat ini. Gadis itu menghela nafas panjang, mencoba menenangkan diri—tapi tak bisa. Air mata kembali membasahi pipinya. Menangis—itulah yang terjadi sejak ia kembali dari Han River.

Inikah rasanya dikhianati?

Ia merogoh tas yang tadi dipakainya menuju Han River—mengambil ponselnya yang lambangkan buah apel yang tergigit dibagian belakangnya. Ia menatap ponselnya—menatap layar ponselnya yang dihiasi foto seorang pemuda. Pemuda yang berarti dalam hidupnya dan juga yang membuatnya hancur.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamarnya. “Nuguya?” tanya gadis itu seraya menghapus jejak air matanya. “Zhè shì wǒ de. Nǐ hái hǎo ma? (1)” ucap seorang pemuda dari luar kamarnya dengan suara yang khawatir.

Gadis itu menarik napas panjang. “Iya~ aku baik-baik saja,” jawabnya dengan suara yang masih bergetar.

“Jangan bohong padaku!” ucap pemuda itu setengah berteriak. Pemuda itu menyadari jika adik perempuannya itu sedang tidak baik. Ia yakin telah terjadi sesuatu padanya. Ia mengenali adiknya dengan baik.

Gadis itu mendengus lalu berjalan menuju pintu kamarnya dengan malas. Ia tau pasti jika kakaknya tidak akan tinggal diam jika ia tidak segera membuka pintu kamarnya. Dengan malas gadis itu membuka pintu kamarnya dan benar saja seorang pemuda dengan rambut blonde dan postur tubuh yang tinggi sedang berdiri dihadapanya—menatpnya serius dengan melipat kedua tangannya di dada bidangnya. “Wae?

Pemuda itu mendelik, menatap adiknya geli sekaligus khwatir. “Kau habis menangis, huh?”

“Siapa? Aku?” ucap gadis itu seraya menunjuk dirinya sendiri. “Aku tidak menangis.”

“Bohong!”

Gadis itu—Jenna Wu—diam. Ia menggigit bibir bawahnya—berusaha untuk tidak kembali menangis. Ia menundukkan kepalanya, tak berani mentap kakaknya yang masih berdiri dihadapannya. Tiba-tiba sepasang tangan memeluknya erat. Seakan-akan memberikan sebuah tanda jika ia dapat menangis didalam pelukan kakaknya itu. “Ceritakanlah padaku…”

***

Sakit… bahkan terlalu sakit. I better know if you cheated on me… it’s better than knowing you like her before we’re dated. So, I’ll be fine if you cheated on me…

Sepasang handsfree terpasang dengan sempurna di kedua telinganya. You’re my star—lagu yang sedari tadi didengarnya menemani langkahnya menuju kelasnya. Namun tiba-tiba seorang gadis cantik, tinggi semampai dengan rambut panjangnya yang hitam berlari menghampirinya dan memeluknya.

Gwaenchana?” ucap gadis itu seraya melepaskan pelukannya.

Jenna menatap Suzy—salah satu teman baiknya dengan heran. Gadis itu mengerjapkan matanya. “Aku baik-baik saja~ kau yang kenapa?” ucap Jenna dengan senyuman candanya.

“Aku sudah tau tentang kau dan… Jongin.”

Seketika tubuh Jenna membeku. Lidahnya terasa kelu mendengar nama pemuda itu—Jongin. Hatinya kembali dirasuki rasa sakit yang mendalam. Dia tersenyum pahit. “Aku baik-baik saja, oke?” ucap Jenna dengam senyum yang dipaksakan. “Lagi pula… aku juga bukan gadis yang baik untuknya…”

Suzy mendengus kesal mendengar pernyataan temannya yang satu ini. “Kau terlalu baik Jenna,” keluh gadis dengan gigi kelincinya itu.

“Setelah apa yang terjadi, kau masih bilang jika kau bukan gadis yang baik untuknya? Bodoh!” ucap Suzy kesal. Bagaimana tidak, secara tidak langsung ia selalu menyalahkan dirinya sendiri ketika seseorang berbuat salah kepadanya.

“Dengar, aku… “

“Apa? Kau bahkan tidak bisa membela dirimu sendiri~ Ini bukan salahmu, oke? Ini salahnya, dia yang telah menyia-nyiakan kau. Menyia-nyiakan temanku!” ucap Suzy yang semakin kesal. Namun gadis itu berusaha menenangkan dirinya. Gadis itu menghela nafas sebelum melanjutkan kembali kata-katanya. “Sebaiknya kau lupakan dia, dia tak pantas untukmu. Dan aku tak akan rela temanku disakiti oleh pria seperti Jongin.”

Jenna hanya terdiam mendengar perkataan temannya itu. Ya—dia harus melupakan Jongin, sama seperti apa yang pemuda itu lakukan padanya. Melupakannya…

***

Bell tanda sekolah usai telah berbunyi. Seluruh siswa dan siswi Seoul High School berhamburan keluar. Kecuali segelintir siswa yang masih memiliki kegiatan ekstra disekolah. Seorang pemuda berlari menuju sebuah kelas yang terletak di lantai dua sekolahnya. 2-A—kelas dimana oran yang dicarinya berada.

“JENNA!” teriak pemuda itu ketika memasuki ruangan kelas juniornya yang satu itu. Gadis itu menatapnya penuh arti seakan-aka ia berkata ‘kau-sungguh-memalukan-Byun-Baekhyun’.

“Ah Baekhyun oppa~” pekik salah satu teman sekelas Jenna. Bagaimana tidak, pemuda itu cukup populer di Seoul High School. Ia dan teman-temannya yang lain memang merupakan kalangan orang terpopuler disekolah—termasuk Jenna dan kakanya.

“Err… sunbae…”

“Sudah kubilang jangan panggil aku sunbae! Sekarang kau ikut aku!” ucap Baekhyun seraya menarik Jenna bersamanya menuju tempat dimana para kalangan orang populer itu biasa bertemu ketika memiliki waktu senggang.

“Yah~ oppa~” ucap Jenna berusaha melepaskan genggaman tangan Baekhyun. Namun pemuda itu tak bergeming. Ia terus menarik Jenna menuju gedung B—temapat dimana ruangan ‘eksklusif’ itu berada.

Baekhyun langsung membuka pintu ruangan yang berarsitektur bagaikan sebuah ruangan yang memang di desain untuk orang-orang tingkat menengah ke atas. Ruangan yang disediakan khusus untuknya—pemilik yayasan sekolah. Seketika seluruh penghuni ruangan tersebut menatap ke arah Baekhyun dan Jenna. Tak terkecuali Luhan yang asik dengan rubrik miliknya.

Baekhyun menarik Jenna ke salah satu bangku yang ada di ruangan itu—membuat gadis itu terduduk diatasnya. “Sekarang, jelaskan padaku apa yang terjadi padamu dan Jongin.”

Jenna terdiam, ia menolehkan kepalanya ke arah kakaknya yang sedang berdiri didekat jendela dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku celananya membuat dia tampak sempurnya. Kris berjalan menghampiri Baekhyun dan Jenna.

“Apa yang akan kau lakukan pada adikku huh?” ucap Kris dengan suaranya yang khas. “Pulanglah~” sambung Kris menatap Jenna. Jenna berdiri dari duduknya—menatap Kris dan Baekhyun. Tiba-tiba pintu ruangan tersebut kembali terbuka dan masuklah seorang pemuda berpostur tubuh tinggi dan rambut hitam dengam senyumannya yang khas itu. Pemuda itu membeku ketika melihat Jenna berada didalam ruangan tersebut dengan yang lainnya.

“Aku akan menjelaskannya nanti… atau… kau bisa bertanya padanya,” ucap Jenna seraya menoleh ke arah pemuda itu—Kim Jongin—yang masih terpaku menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan rasa bersalah.

Gadis itu mengambil tasnya dan berjalan meninggalkan ruangan tersebut namun langkahnya terhenti ketika hendak meninggalkan tempat itu.

“Maaf..”

Gadis itu diam. Tak membalas perkataan maaf yang terlontar dari mulut pemuda itu. Ia hanya menatap lurus kedepan—tak ingin menatap pemuda yang menahannya pergi.

“Kau membenciku?”

Aniyo,” kali ini gadis itu menjawad dengan nada datar. “Bisakah kau melepaskanku?” sambung gadis itu yang kini menatap pemuda yang bernama Jongin itu.

Perlahan Jongin melepaskan genggamannya dan menatap punggung Jenna yang menghilang dibalik pintu ruangan itu. Mianhae…

Jongin menghela nafas. Ia menatap Kris penuh arti. Kris hanya diam menatap Jongin dengan tatapannya yang dingin—tatapan yang seakan-akan berkata ‘jika-kau-bukan-temanku-akan-kubunuh-kau-Jongin’.

___

Jenna terus berjalan lurus—tatapannya kosong. Perlahan ia menaiki tangga menuju rooftop sekolahnya. Entah mengapa ia masih merasakan sakit yang begitu mendalam jika ia bertemu dengan Jongin. Gadis itu berhenti didepan sebuah pintu, perlahan ia membuka pintu tersebut dan seketika mentari menyinari dirinya. Ia berjalan menuju pagar—menatap bangunan lain yang dapat dilihatnya dari tempat favoritnya itu. Gadis itu mengeleha nafas.

“Bodoh…”

Kutuknya pada diri sendiri. Ia merasa bodoh, mengapa ia masih merasakan sakit itu? Apakah Jongin begitu berarti baginya? ‘Gadis bodoh’—itulah yang dipikirkannya saat ini. Betapa bodohnya ia karena masih memikirkan pemuda yang bernama Kim Jongin itu.

“KAU BODOOOOH!” teriak gadis itu seraya tersenyum mengejek. Kini perasaannya membaik meskipun hatinya masih terasa sakit. “Kau bodoh…”

“Kau memang bodoh,” ucap seorang pemuda yang entah sejak kapan berada di belakang Jenna. Seketika Jenna membalikkan tubuhnya menatap pemuda berambut cokelat yang sedang tertidur itu. Pemuda itu bangkit dari tidurnya—menatap Jenna dan berjalan menghampirinya.

“Yah, tak bisakah kau tak menggangguku?” keluh pemuda itu.

Jenna mengerutkan keningnya. “Sedang apa kau disini?” tanya Jenna heran. Bagaimana tidak—selama ia bersekolah disini, belum pernah ada orang selain dirinya, Kris, Suri dan Jongin yang datang ketempat ini meskipun mereka bertiga datang kesini hanya untuk mencarinya.

“Aku sedang tidur dan kau mengganggu tidurku Jenna Wu,” jawab pemuda itu dengan penekanan ketika ia menyebut nama lengkap Jenna. “Kenapa kau tidak berkencan saja dengan Jongin dan jangan menggangguku,” sambung pemuda itu dengan nada dan wajah datarnya.

Jenna menatap pemuda ini heran. Siapa dia?—pikirnya. Belum pernah ia melihat pemuda ini disekolahnya dan hey! dia tau nama lengkap gadis itu dan juga… Jongin.

“Siapa kau?” tanya Jenna datar.

“Aku… ah~ kau tidak perlu tau siapa aku,” jawab pemuda itu.

Gadis itu melirikkan matanya ke arah jas sekolah pemuda itu yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya berdiri. “Oh Sehun…”

Pemuda itu mengerjapkan matanya terkejut, bagaimana bisa gadis yang ada dihadapannya itu mengetahui namanya. “Kau tau darimana namaku?”

Jenna tersenyum mengejek dan menunjuk ke arah jas pemuda itu. “Jas mu bodoh,” ucap Jenna menahan tawanya. Pemuda itu mendengus lalu tersenyum manis pada gadis itu.

“Sedang apa kau disini huh? Bukankah seharusnya kau pulang, seorang gadis tidak baik pulang terlambat~” ucap pemuda yang bernama Sehun itu dengan nada suara yang lebih bersahabat.

Jenna menarik nafas panjang. “Aku… entahlah~ aku hanya ingin kemari,” jawab Jenna seraya tersenyum pada Sehun

“Kau…” ucap Sehun terpotong ketika ia melihat seseorang yang dikenalnya di lapangan parkir. “Yah~ bukankah itu kekasihmu?”

Jenna menoleh ke arah pemuda yang ditunjuk oleh Sehun. Jongin—pemuda itu berjalan dengan wajah yang cerah bersama gadis yang tak lain adalah seniornya. ‘Apa yang mereka lakukan?’—pikir Jenna.

“Uhm… bukan… dia bukan kekasihku,” jawab Jenna seraya mengalihkan pandangannya. Sehun menatap Jenna heran. “Maksudmu?”

Jenna tersenyum pahit. Gadis itu menatap Sehun. “Dia bukan kekasihku, kami… tak lagi bersama,” jawab gadis itu dengan suara yang mulai bergetar.

Jangan menangis Jenna—batin gadis itu. Ia mengalihkan pandangannya, mentap sekelilingnya—berusaha mencari udara yang menurutnya semakin menipis. Dadanya kembali tersasa sesak.

Tiba-tiba Sehun meraih tangan Jenna dan menuntunnya, berjalan meninggalkan tempat itu. Jenna menatap punggung pemuda yang menggandeng tangnnya itu heran. “YAH! Kita… mau kemana?”

Sehun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Jenna. “Aku akan bertanggung jawab,” jawab pemuda itu yang disambut dengan tatapan heran Jenna. “Aku tau tempat yang bagus untuk membuat mood-mu kembali.”

***

Kris terus menekan nomor telepon adiknya. Ini sudah hampir jam sembilan malam dan adiknya itu belum kembali kerumah. Ia menatap lurus kedepan.

Hyung, apakah kau punya mentega?” teriak Kyungsoo dari dalam dapur rumahnya. Kris menghela nafas. “Ada diatas meja makan,” jawab pemuda itu. Kris memijat keningnya. Kemana kau Jenna?—batin pemuda itu.

Hyung, apakah Jenna sudah mengangkat teleponmu?” tanya Jongin yang kini duduk di samping Kris. Kris hanya menggelengkan kepalanya—menjawab pertanyaan Jongin.

Kemana gadis itu?—pikir Jongin. Ia merasa khawatir, meskipun ia sadar telah menyakiti perasaan gadis itu namun ia juga tak bisa membohongin dirinya sendiri jika ia masih menyayangi gadis yang bernama Jenna itu. Jongin bangkit dari duduknya.

“Aku akan mencarinya,” ucap pemuda itu seraya mengambil kunci motornya dan berjalan menuju pintu depan rumah.

“Tidak perlu.”

Jongin menghentikan langkanya, pemuda itu membalikkan tubuhnya dan menatap Kris. “Dia akan segera pulang, kau tak perlu repot mencarinya,” jawab Kris menatap Jongin.

“Tapi hyung…”

___

Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Pemuda itu mengendarai motor sport hitamnya melaju di jalanan kota Seoul. Ia berhenti didepan sebuah rumah yang berarsitektur minimalis namun tetap terlihat megah itu. Seorang gadis turun dari jok belakang motornya. Gadis itu tersenyum manis pada pemuda yang berada dihadapannya. Rasanya sudah lama ia tidak melakukan hal yang menyenangkan seperti tadi. Mengunjungi rumah sakit dan menghibur para pasien terutama pasien anak-anak. Meskipun kegiatan ini terdengar sepele namun baginya, melihat senyum dan tawa anak-anak itu merupakan sesuatu yang sangat menyenangkan.

“Terimakasih untuk hari ini,” ucap Jenna dengan senyuman yang masih terpasang sempurna diwajahnya.

Sehun melepas helm yang dipakainya seraya tersenyum kea rah gadis itu. “Tak masalah. Aku pikir kau tak akan sesenang ini,” canda Sehun.

Jenna memutar kedua bola matanya. Gadis itu merasa begitu senang. Entahlah, rasanya ia sudah lama mengenal pemuda ini. “Yah, masuklah dulu. Akan kubuatkan cokelat hangat untukmu,” ucap gadis itu.

Sehun terlihat menimbang tawaran gadis itu. “Uhm mungkin lain kali, aku harus pulang sekarang.”

Jenna menganggukkan kepalanya. “Baiklah, aku masuk dulu. Bye~” ucap Jenna berjalan meninggalkan Sehun yang masih menatap gadis itu.

“Uh Jenna,” panggil Sehun yang membuat gadis itu menghentikan langkahnya. Jenna berbalik dan menatap pemuda itu. “Uhm… good night~” ucap Sehun seraya memakai kembali helmnya dan melaju meninggalkan rumah gadis itu. Jenna menatap kepergian pemuda itu heran. Gadis itu tersenyum geli seraya menggelengkan kepalanya dan kembali berjalan memasuki rumahnya.

___

Jongin bersikeras untuk mencari Jenna meskipun Kris sudah mencegahnya untuk mencari gadis itu. Setelah melalui perdebatan kecil dengan Kris akhirnya pemuda itu memutuskan untuk mencari Jenna. Ia berjalan menuju pintu dan ketika ia akan membuka pintu itu, dilihatnya Jenna yang beranjak masuk dengan raut wajah yang sudah lama tak dilihatnya.

Senyuman manis yang menghiasi wajah gadis itu sempat membuat Jongin ingin memeluknya dan memarahinya karena telah membuatnya khawatir. Namun, ia tersadar akan satu hal—ia tak lagi memiliki hak untuk melakukan itu semua. Jenna bukan miliknya lagi dan terkadang itu membuat Jongin membenci dirinya sendiri, ditambah lagi cacian yang dilontarkan Suzy tak lama ketika ia dan Jenna mengakhiri hubungan mereka—mungkin lebih tepatnya ia meninggalkan gadis itu.

Sontak Jenna terdiam sejenak ketika ia melihat Jongin berada tepat dihadapannya. Gadis itu tersenyum pada Jongin—entahlah, hari ini ia merasa dapat lebih tenang jika berhadapan dengan pemuda itu. Lalu gadis itu berjalan meninggalkan Jongin dan menghampiri Kris yang berada di ruang tengah rumah mereka.

“Aku pulang~” ucap gadis itu dengan nada suara yang berbeda—nada suara seorang gadis yang habis berkencan dengan pemuda yang disukainya, mungkin.

“Darimana saja kau?” tegur Kris kesal namun tetap dengan nada suaranya yang tetap tenang. Jenna menyeringai seraya menatap Kris yang terlihat khawatir.

“Habis dari rumah sakit,” jawab gadis itu santai.

“Apa kau sakit?” Tanya Kyungsoo terkejut seraya membawa beberapa macam makanan dari dalam dapurnya. Pemuda itu bagaikan ibu dari sekumpulan pemuda yang berada di rumah Jenna. Jenna terkekeh.

Anniya~ aku tidak sakit oppa~ jangan khawatir,” jawab Jenna dengan senyuman yang sedari tadi tidak lepas dari wajah manisnya.

“Ah syukurlah kalau begitu, apa kau sudah makan?” sambung Kyungsoo yang terlihat begitu perhatian pada gadis ini. Jenna tersenyum dan mengangguk.

“Aku sudah makan oppa~” ucap gadis itu. “Gege~ aku akan tidur sekarang,” ucap Jenna pada Kris yang terduduk di sofa, menatap Baekhyun dan Minseok yang sibuk dengan game mereka. Kris menatap Jenna dan mengangguk. “Tidurlah~”

“Selamat malam semuanya~” ucap Jenna pada semua orang yang berada di dalam ruangan itu dibalas dengan anggukan dan lambaian tangan mereka.

“Selamat malam… Kai,” ucap Jenna pada Jongin yang sedari tadi berdiri dibelakangnya tanpa bicara sedikitpun. Jongin tersenyum ketika Jenna masih memanggilnya dengan sebutan ‘Kai’. Hanya gadis itu dan orang-orang terdekatnya yang memanggilnya dengan sebutan ‘Kai’.

“Selamat malam, tidurlah yang nyeyak.”

Jenna tersenyum pada pemuda itu lalu berjalan meninggalkan mereka yang masih sibuk dengan urusan masing-masing menuju kamarnya yang terletak di lantai dua rumahnya. Jongin tersenyum menatap Jenna. Ia merasa lebih tenang meskipun ia tau gadis itu mungkin akan membencinya lebih dari ini jika ia tau apa yang terjadi. Jongin pun sadar jika ia masih menyayangi gadis ini.

Ya, Jongin masih menyayangi Jenna…

***

Sehun memasuki kamarnya yang berarsitektur minimalis itu. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya. Pemuda itu tersenyum menatap langit-langit kamarnya. Akhirnya, ia dapat pergi dengan gadis itu—gadis yang membuatnya menunggu. Sungguh lucu bukan, ia menunggu seorang gadis yang bahkan tak mengetahui jika kehadirannya itu ada. Tapi ia tak peduli, yang ia pedulikan saat ini hanyalah membuat gadis itu bahagia dan tersenyum.

OPPA!” teriak seorang gadis tepat di telinganya. Gadis berambut cokelat terurai hingga bahunya itu menatap oppa-nya dengan tatapan kesal. Bagaimana tidak, ia sudah memanggil Sehun sedari tadi namun pemuda itu tetap asik dengan dunianya sendiri.

“YAH! Tak bisakah kau tak berteriak di telingaku huh?” ucap Sehun yang langsung bangkit dari tidurnya. Pemuda itu mendengus.

“Aku sudah memanggilmu dari tadi tapi kau malah sibuk dengan lamunan mu itu,” protes gadis yang umurnya terpaut dua tahun dengan Sehun seraya mengembungkan pipinya kesal. Sehun terkekeh lalu mencubit kedua pipi adiknya itu gemas.

Mianhae,” ucap Sehun lembut.

Gadis itu duduk disamping Sehun. “Oppa, apakah oppa habis berkecan dengannya?” Tanya Hayoung—adik perempuan Sehun antusias.

Sehun mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan adiknya ini, lalu ia terkekeh seraya mengacak-acak rambut Hayoung. “Tau apa kau tentang kencan huh?”

“Aku tau segalanya. Jangan meremehkan aku!” keluh gadis itu dengan suaranya yang khas. Gadis itu mendelik kesal. Sehun selalu menganggapnya masih kecil padahal umur mereka hanya terpaut dua tahun.

Arasso~” ucap Sehun sambil terkekeh melihat tingkah adiknya jika sedang kesal. “Hayoung-ah­… apa menurutmu…” sambung Sehun tertahan. Hayoung menatap kakaknya—menunggu pemuda itu melanjutkan kembali kata-katanya.

“Ah lupakan,” ucap Sehun yang disambut dengan cubitan gadis itu. Hayoung mendengus kesal, lalu gadis itu mengerlingkan matanya. Ia mengambil selembar foto dari saku celananya.

“Tak heran kau menyukainya~” ucap Hayoung seraya melirik kearah kakaknya itu. Sehun membelalakkan matanya ketika mendapati Hayoung memegang foto gadis itu—gadis yang selama ini membuatnya menunggu dan tak dapat berhenti memikirkannya.

Dengan cepat pemuda itu mengambil kembali foto yang ada ditangan Hayoung. “Yah! Sana tidur!” ucap Sehun seraya mendorong adik perempuannya keluar dari kamarnya. Hayoung hanya tertawa karena telah merasa puas membuat kakaknya salah tingkah.

Ara~ aku akan tidur. Kau tak perlu medorong ku keluar,” ucap Hayoung seraya keluar dari kamar pemuda itu. Namun langkahnya terhenti, gadis itu membalikkan tubuhnya dan menatap Sehun. “Oppa~ jika kau memang menyukainya… kau harus cepat bergerak sebelum kau menyesal,” ucap gadis itu seraya menganggukkan kepalanya. Meyakinkan kakaknya dengan apa yang baru saja dikatakannya.

Dia benar…

***

Suara dering alarm membuat gadis itu terbangun dari tidurnya. Ia menatap jam yang teletak di meja kecil sebelah tempat tidurnya. Gadis itu bangkit dari tidurnya dan berjalan kearah cermin yang terletak di dekat jendela kamarnya. Ia menatap pantulan dirinya—gadis itu menghela nafas. ‘Aku akan baik-baik saja’—gumam gadis itu pada dirinya sendiri.

Lalu ia mengambil ponselnya yang ia simpan di meja dekat tempat tidurnya. 5 new messages—gadis itu mengernyitkan dahinya. Dibacanya satu per satu pesan yang masuk dengan pengirim yang sama—Suri dan Suzy. Gadis itu tersenyum ketika membaca tiga pesan dari Suri dan dua pesan dari Suzy. Kedua gadis itu memang teman baik Jenna—keduanya sama-sama meminta Jenna pergi ke Kona Beans, café yang akhir-akhir ini sering dikunjungi oleh ketiganya yang bertempat di Apgujeong.

Jenna kembali menatap jam yang ada di meja itu—masih ada waktu beberapa jam lagi untuk bersiap-siap. Waktu yang sangat cukup baginya untuk bersiap-siap dan pergi menuju café itu. Gadis itu menarik nafas panjang lalu berjalan keluar kamarnya setelah Kris memanggilnya untuk sarapan.

___

Setelah menempuh waktu kurang lebih empat puluh menit, gadis itu tiba di Kona Beans. Gadis itu melangkankan kakinya memasuki café tersebut. Ia disambut dengan aroma kopi yang tercium dengan sangat jelas ketika memasuki café tersebut dan sambutan pegawai café yang begitu ramah. Gadis itu berjalan ke salah satu meja yang terletak disudut café dekat kasir. Dilihatnya Suri dan Suzy yang sedang menunggunya.

“Hai,” sapa Jenna pada kedua teman baiknya itu. Suri dan Suzy langsung memarahi Jenna karena kebiasaannya yang selalu datang terlambat. Jenna hanya terkekeh mendengar ocehan kedua temannya itu. “Apa kalian sudah memesan?” Tanya Jenna kepada kedua temannya itu yang disusul dengan anggukkan keduanya.

“Kau pesanlah dulu, kami sudah memesan tadi~” ucap Suri—gadis keturunan Kanada dan Korea yang sudah menjadi temannya sejak kecil. Jenna mengangguk lalu ia memesan minuman dan makanan favoritnya, Oreo Konaccino—minuman dingin dengan oreo yang lembut dan kenyal itu selalu dibelinya jika ia datang kemari ditemani Strawberry Cup Muffindan Cheese Cake kesukaannya.

Tak lama pesananan ketiganya tiba, Ice Choco dan Choux Cream kesukaan Suzy, Mocha Konaccino dan Crape Cake—sebuah kue Perancis yang terbuat dari beberapa lapisan, yang biasanya terbuat dari tepung dan susu dengan vla itu siap disantap Suri, serta Oreo Konaccino dan Strawberry Cup Muffin yang baru saja dipesan Jenna telah tersedia di atas meja.

Perlahan Jenna menyesap minumannya, lalu menatap kedua temannya dengan tatapan heran. Tak biasanya kedua temannya ini terdiam seribu kata. “Kalian kenapa?” Tanya Jenna seraya menyesap kembali Oreo Konaccino-nya. Suzy dan Suri saling bertatapan, seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

“Kalian tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku bukan?” ucap Jenna yang kini menaruh curiga pada Suri dan Suzy. “Suri,” ucap Jenna menatap gadis keturunan Kanada itu. Suri terlihat bingung, ia menatap Suzy.

“Uh… mungkin Suzy lebih bisa menjelaskannya padamu,” ucap Suri seraya menyeringai. Suzy menatap Suri kesal, gadis itu menghela nafas panjang sebelum mulai berbicara dan menjelaskan apa yang terjadi pada Jenna.

“Dengarkan aku… kau haru melupakan Jongin,” ucap gadis itu tegas. Jenna menatap Suzy dan Suri bergantian. Kenapa mereka mengungkit kembali masalah Jongin? Bukankah mereka sudah setuju untuk tidak membicarakan masalan itu lagi?

“Maksudmu? Kenapa kita kembali membicarakan ini?”

“Uh… apa kau tau siapa yang disukai Jongin?” kali ini Suri mulai berbicara. Jenna menatap gadis itu seksama seraya menggelengkan kepalanya.

“Dia… uh… menyukai Eunji eonni,” sambung Suri. Jenna terdiam, Eunji?

Gadis tu menghela nafas, ia tersenyum—senyuman yang dipaksakan. “Lucu.”

Suri dan Suzy menatap Jenna heran, apa gadis itu sudah bodoh? Lucu? Apanya yang lucu? Apakah menyakiti perasaan seseorang merupakan hal yang lucu? Jenna tertawa mengejek.

“Bodoh! Kenapa kau tertawa huh?” keluh Suzy seraya menyesap Ice Choco-nya. Bagaimana bisa Jenna tertawa padahal ia tahu jika hal itu membuatnya kembali merasakan sesak.

“Entahlah, lucu saja mengetahui jika Jongin menyukai Eunji eonni. Kau pasti tau maksudku bukan?” ucap Jenna menatap keduanya. “So epic.

“Sejak kapan?” sambung gadis itu setelah menyuapkan sesendok Strawberry Cup Muffin kedalam mulutnya, tatapannya kembali kosong. Suzy menghela nafas, gadis itu menatap Jenna nanar.

“Sebelum kalian berpacaran,” jawab Suzy dengan suara yang hampir seperti orang yang berbisik.

Jenna tersedak, bagaimana tidak—ia terkejut ketika mendengar Jongin menyukai Eunji sebelum ia berpacaran dengan pemuda itu. “Lalu untuk apa dia memintaku menjadi kekasihnya jika dia menyukai gadis lain?”

“Bukankah saat itu Eunji eonni berpacaran dengan Daehyun oppa?” ucap Suri pelan—berusaha untuk tidak menyinggung perasaan Jenna.

“Jadi… aku… adalah pelarian?” ucap Jenna dengan senyumannya yang dipaksakan. Gadis itu bangkit dari duduknya—membuat kedua temannya itu terkejut.

“Kau mau kemana?” Tanya Suri khawatir.

“Aku lupa jika aku ada janji dengan seseorang,” jawab Jenna datar. Gadis itu hendak meninggalkan Kona Beans namun langkahnya terhenti ketika Suzy menghalanginya.

“Kau bohong pada kami bukan? Kau takada janji dengan siapapun ‘kan?” ucap gadis dengan gigi tikusnya itu. Jenna hanya tersenyum dan kembali melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu dan juga meninggalkan kedua temannya yang menatapnya dengan tatapan khawatir. Gadis itu memang keras kepala, akan sia-sia jika Suzy ataupun Suri mencegahnya pergi.

Ia butuh waktu untuk sendiri…

***

Sudah jam delapan malam dan Jenna belum pulang, padahal gadis itu bilang jika ia hanya akan pergi ke Kona Beans bersama Suri dan Suzy tapi kenapa sampai saat ini gadis itu belum pulang juga?

Kris duduk di sofa ruang tengah rumahnya, pemuda itu menyesap cappuccino-nya yang baru saja dibelinya ketika kembali dari rumah Joonmyun tadi sore. Pemuda itu menyalakan televisi yang ada dihadapannya. Gadis itu akhir-akhir ini semakin membuatnya khawatir.

Tiba-tiba bel rumahnya berbunyi. ‘Ah, mungkin itu Jenna. Tapi untuk apa membunyika bel?’—pikir pemuda itu. Lalu ia berjalan menuju pintu rumahnya. Ia cukup terkejut ketika mendapati Suri sedang berdiri didepan pintu rumahnya. Gadis manis yang membuat jantungnya berdegup lebih kencang itu sedang berdiri dihadapannya.

Suri menatap Kris seraya membungkukkan tubuhnya—memberi salam. “Annyeong~ apa Jenna sudah kembali?” Tanya Suri membuyarkan lamunan pemuda itu. Kris mengernyitkan dahinya.

“Bukankah Jenna pergi bersama mu?” Tanya Kris tak mengerti.

Suri mengerjapkan matanya. Astaga! Seharusnya tadi ia mengikuti Jenna saat gadis itu meninggalkannya di Kona Beans.

Keduanya langsung dilanda perasaan panik. “Apa Jenna sudah tau masalah Eunji?”

Suri mengangguk, tatapannya mencerminkan kekhawatiran. “Setelah mengetahui masalah itu, ia langsung pergi. Kupikir ia sudah kembali kerumah…uh… maafkan aku,” jelas Suri dengan nada menyesal.

Kris menghela nafas. “Tak apa… uh… masuklah, aku akan mencari Jenna. Kau bisa menunggu disini,” sambung Kris yang berjalan memasuki kembali rumahnya disusul Suri yang berjalan dibelakangnya. Pemuda itu mengobrak-abrik laci yang ada di ruang tengah rumahnya—mencari kunci mobilnya. “Sial!” gerutu pemuda itu ketika mengingat mobilnya sedang berada di bengkel.

Kemudian ia mengambil ponselnya yang tergeletak di meja yang tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Ia membuka kontak telepon dan menekan tombol ‘call’ setelah menemukan sebuah nama yang dikiranya dapat membantunya kali ini.

“Aku butuh bantuanmu…”

***

Ia melangkahkan kakinya tanpa tujuan. Hatinya kembali terasa sesak. ‘It will be better if he cheated on me’—pikirnya. Mengetahui jika Jongin menyukai Eunji sebelum mereka berpacaran itu lebih sakit dibandingkan jika Jongin bermain hati dengan gadis lain. Gadis itu menatap sebuah gedung yang bertuliskan Le Café. Tempat yang sering ia kunjungi jika ia sedang sendirian.

Gadis itu melangkahkan kakinya memasuki tempat tersebut. Untunglah tempat itu tidak begitu ramai seperti biasanya. Ia duduk di salah satu bangku dekat jendela, tempat favoritnya. Gadis itu memesan pasta dan Grapefruit Ade, lalu memandang keluar jendela. Pikirannya masih belum tenang semenjak tadi siang. Tak lama pesanannya pun datang, gadis itu tersenyum kepada pelayan yang mengantarkan pesanannya itu. Ia menatap pasta yang ada dihadapannya, entah kenapa ia tak begitu lapar.

Gadis itu kemudian meminum minuman yang dipesannya itu, terasa segar dan cukup membuat pikirannya kembali tenang. Mau tak mau dia memakan pasta yang dipesannya, sayang bukan jika pasta itu ditinggalkannya begitu saja? Setelah yakin ia tak ingin makan lagi, ia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu dan kembali menyusuri jalan kawasan Apgujeong.

Langkahnya terhenti ketika melihat siluet seorang pemuda yang tak diharapkannya untuk bertemu disini. Pemuda itu menggandeng tangan seorang gadis dengan sangat mesra, bagaikan pasangan kekasih yang baru saja berkencan. Matanya terasa panas dan hatinya kembali diliputi rasa sesak. Rasanya ia ingin berteriak saat itu juga. Jenna mengepalkan tangannya, ia merasa kehabisan oksigen.

Tiba-tiba ada seseorang menutup matanya dan membalikkan tubunya. “Jangan menatapnya seperti itu,” ucap seorang pemuda yang kini ada dihadapannya. Jenna mendongakkan kepalanya, menatap pemuda yang ada dihadapannya itu.

“Sehun?” bisik Jenna namun terdengar begitu jelas di telinga Sehun. Suara Jenna yang bergetar menahan tangis membuat Sehun merasa kesal. Pemuda itu kemudian menarik Jenna kedalam pelukannya—memeluk gadis itu dengan erat, memberikan rasa aman pada gadis itu.

“Menangislah jika kau ingin menangis,” ucap Sehun lembut yang masih memeluk Jenna.  Gadis itu menangis, untuk pertama kalinya ia menangis dihadapan orang yang baru saja dikenalnya. Sehun menatap kearah dua orang yang telah membuat gadis yang ada dalam pelukannya ini menangis—Jongin dan Eunji. Rasanya ia ingin menghampiri Jongin dan memukulnya karena telah menyia-nyiakan gadis sebaik Jenna.

Tanpa disangka-sangka Jongin menoleh ke arah Sehun yang sedang memeluk Jenna. Pemuda itu membeku menatap Sehun yang juga menatap dirinya dengan tatapan kesal.

“Lebih baik kita pergi,” ucap Sehun seraya melepaskan pelukannya dan menghapus airmata Jenna. Pemuda itu kembali menatap Jongin yang masih membeku lalu meraih tangan Jenna dan menuntunnya meninggalkan tempat itu.

Jenna berjalan mengikuti Sehun yang menggenggam tangannya erat. Ia menatap punggung pemuda itu. ‘Kenapa?’—pikirnya. Kenapa Sehun begitu baik?

Gadis itu menundukkan kepalanya sejenak, rasanya ia ingin menoleh kebelakang—memastikan jika penglihatannya tidak salah. Namun bagai membaca pikirannya, Sehun menghela nafas sebelum berkata, “jangan menoleh kebelakang.”

___

Jongin berjalan keluar dari sebuah café bersama Eunji. Ia menggenggam tangan gadis itu—gadis yang kini mengusik pikirannya. Mereka bercanda gurau, menampilkan jika mereka saling menyukai satu sama lain.

Namun ada seorang gadis yang menatap keduanya dengan tatapan tak percaya. Menyadari sedang diperhatikan, Eunji menolehkan kepalanya dan mendapati Jenna sedang menatap keduanya dan sontak membuat Eunji membeku.

Noona~ ada apa?” Tanya Jongin. Eunji menggelengkan kepalanya tanpa menatap Jongin sedikitpun. Jongin menatap Eunji heran dan menolehkan kepalanya kearah objek yang sedari tadi ditatap oleh Eunji.

Jongin membelalakkan matanya ketika mendapati seorang pemuda yang memeluk gadis yang dikenalnya. Pemuda itu menatap Jongin tajam—menyiratkan kekesalan yang amat dalam. Jongin terdiam, ia memperhatikan siluet tubuh gadis yang dipeluk oleh pemuda yang merupakan temannya itu.

Dilihatnya Sehun melepaskan pelukannya dan berbicara sesuatu pada gadis itu dan tak lama kemudian keduanya meninggalkan Jongin yang masih terdiam. Jongin terhenyak ketika menyadari siapa gadis yang sedang bersama Sehun itu. Dia… Jenna…

***

To be continued…

Translation:

  1. Ini aku. Apa kau baik-baik saja?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s