[FF] First Snow

Title: First Snow

Author: chodingfish
Rating : PG+16 / straight
Casts: Kim Jongin (EXO) and OC
Other Casts: EXO
Genre: Romance, Friendship, AU, Angst
Length : Oneshoot
Part: –

Disclaimer : The characters in this story is the character of their own with a bit of my imagination and this story is only a fiction. So don’t sue me.

A/N :
– This is the very first story that I made and sorry if the story is kinda flat.
– The characters in the original story is Super Junior.
– I edited this story and I changed the characters to EXO.
– Feel free to change the main cast to your own name.
-You can find other cast when you read this story.
– Don’t forget to give your comments and happy reading.

READ THE ORIGINAL STORY HERE.

***

***
I just want to see your smile…your beautiful smile… a beautiful smile from my girlfriend…
***

Di suatu malam di musim dingin kota Seoul, dimana semua orang tengah tertidur pulas dan di mana semua orang tengah bermimpi indah terdapat seorang anak perempuan yang masih terjaga dari tidurnya menunggu seseorang untuk menghubunginya .

Haish, kenapa dia belum menghubungiku ? padahal tadi dia berjanji untuk menghubungi ku malam ini. Tapi kenapa dia belum menghubungi ku juga?” gumam anak itu.

Dia terus menunggu dan menunggu, tetapi orang yang dinantinya tidak kunjung menghubunginya sampai-sampai dia tenggelam dalam heningnya malam lalu akhirnya tertidur.

==

“Hyejung! Ireona!” ucap seorang pemuda yang berusaha untuk membangunkan seorang gadis yang tak lain adalah adik perempuanya sambil menggoyang-goyangkan tubuh gadis itu.

Haish aku masi mengantuk,” jawab gadis itu sambil membalikan tubuhnya membelakangi pemuda yang sedari tadi berusaha membangunkannya.

“Ayooo bangun Hyejung!” sambung kakak laki-lakinya yang masih berusaha membangunkan gadis itu—yang bernama Hyejung—yang kini menarik selimut yang digunakan Hyejung. “Memangnya kau tidak sekolah huh?” Tanya pemuda itu yang semakin kesal dengan tingkah laku adik perempuannya itu.

“Tentu saja aku sekolah,” jawab Hyejung yang masih tertidur sambil memeluk bantal berbentuk strawberry kesayangannya.

“Kalau kau memang hari ini akan ke sekolah kenapa kau sekarang masih tertidur? kau tau sekarang jam berapa? sekarang itu sudah jam 6.30! jika kau tidak bangun juga nanti kau terlambat!” sambung pemuda itu.

Mwo?” Hyejung langsung terbangun dari tidurnya lalu dia langsung melihat jam dinding berwarna biru sapphire yang di gantung di dinding kamarnya,“Aku terlambat!” Hyejung langsung berlari kecil menuju kamar mandinya dan tidak sengaja menabrak salah satu meja hias yang terletak di dekat pintu kamar mandi.

Dialah Kim Hyejung, putri kedua pasangan pemilik Kim Corporation.ltd yang masih bersekolah di salah satu sekolah menengah atas yang terdapat di Seoul. Mr.Kim adalah salah satu pengusaha hebat yang terkenal di Seoul dan Tokyo, sedangkan Mrs.Kim adalah seorang designer terkenal seantero kota Seoul. Dan Kim Joonmyun yang biasa dipanggil Suho, putra pertama di keluarga Mr.Kim yang akan menjadi penerus perusahaan milik ayahnya yang sekarang masih mengenyam bangku kuliah di salah satu universitas tenama di Seoul.

Suho dan Hyejung sangat akrab walau terkadang terjadi pertengkaran kecil yang disebabkan oleh hal yang sepele, namun walau pun begitu Suho sangat menyayangi Hyejung adik satu-satunya begitupun dengan Hyejung.

___

Setelah selesai mandi dan bersiap-siap, Hyejung segera menuju ruang makan yang terletak di lantai pertama rumahnya. Di ruang makan sudah ada Mrs.Kim dan Suho.

”Ayah mana bu?” tanya Hyejung kepada ibunya sambil mengambil sebuah roti tawar yang sudah diolesi selai strawberry kesukaannya.

”Ayah sudah pergi ke kantor dari tadi,” jawab ibu Hyejung. ”Kau kenapa bisa sampai telat bangun Hyejung?” sambung ibunya khawatir.

”Err—mian, aku tidur larut malam,” jawab Hyejung sambil memasang tampang tak berdosa.

”Kau ini, ibu ’kan sudah bilang. Jangan tidur larut malam. Lalu kenapa kau tidur sampai larut malam seperti itu hmm?” tanya Mrs.Kim menasehati putrinya.

“Karena—” belum sempat Hyejung menyelesaikan kalimat yang akan di katakannya, Suho langsung memotong perkataan adiknya itu.

”Karena Hyejung menunggu telepon dari kekasihnya, iya ’kan Hyejung?” ucap Suho sambil tersenyum puas karena telah berhasil membuat muka Hyejung memerah karena malu sambil memamerkan lesung pipitnya.

”Benarkah itu Hyejung?” tanya Mrs.Kim sambil menatap Hyejung dengan tatapan curiga.

”Ah, aniyo!” ucap Hyejung sambil menatap sinis Suho. ”Err—aku sudah terlambat, aku pergi ke sekolah dulu,” sambung Hyejung.

”Mau ku antar tidak?” tanya Suho sambil terkekeh melihat sikap adiknya.

”Tidak! aku naik bis saja,” jawab Hyejung kesal sambil pergi meninggalkan Mrs.Kim dan Suho yang masih berada diruang makan.

___

Sesampainya di depan gerbang sekolah, Hyejung langsung berlari menuju kelasnya karena sebentar lagi bel tanda pelajaran dimulai akan segera bebunyi. Dan tepat saat Hyejung sampai di depan kelasnya, bel pun berbuyi. Hyejung berjalan menuju bangkunya dengan nafas yang masih belum beraturan.

”Kau kenapa Hyejung? kau bangun kesiangan lagi?” tanya Jinhee, teman sebangkunya sekaligus sahabat Hyejung dari kecil .

”Eum—ne,” jawab Hyejung seraya memasang wajah polos andalannya itu.

Waeyo? karna kekasih mu itu? memangnya kenapa lagi?” tanya Eunmi kembali.

”Kemarin dia janji akan menghubungi ku, tapi dia tidak menghubungi ku juga,” jawab Hyejung sambil menundukan kepalanya.

”Lalu kau menunggunya sampai larut malam?” tebak Eunmi.

”Dari mana kau tau Eunmi ?” tanya Hyejung yang terkejut karena tebakkan Eunmi tepat.

”Aku sudah mengenal mu sejak kecil, jadi aku tau persis sifat mu.” jelas Eunmi seraya menghembuskan napas kesal.

___

Setelah beberapa jam belajar di dalam kelas mereka pun pergi ke kantin untuk beristirhat. Sesampainya di kantin Hyejung, Eunmi dan Jinhee memesan makanan dan minuman kesukaan mereka lalu menuju salah satu bangku yang terdapat di kantin dan mereka pun duduk di bangku tersebut.

Eum, dia mana yaa?—gumam Hyejung sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kantin, mencari seseorang yang dinantinya.

”Kau mencari siapa Hyejung ?” tanya Jinhee penasaran.

”Ng—aniyo, ” jawab Hyejung singkat dan langsung meminum minuman yang baru saja di antar oleh salah satu petugas kantin.

”Oh iya, beberapa minggu lagi ’kan malam natal, apa kau sudah membuat rencana dengan keksih mu.” ucap Eunmi.

”Belum, akhir-akhir ini saja aku jarang mengobrol dengannya. Jangan ’kan mengobrol, email yang ku kirim sja tidak dia balas.” jawab Hyejung lesu seraya menggelengkan kepalaya.

”Kau telepon dia saja,” ucap Jinhee berusaha memberikan semangat.

”Percuma saja, dia juga jarang mengangkat telepon dari ku.” ucap Hyejung yang semakin lesu . ”Lalu kalian sendiri bagaimana?” sambung Hyejung.

”Malam natal nanti aku akan jalan-jalan bersama Sehun oppa. dia mengajakku pergi ke taman sambil melihat pohon natal raksasa yang indah.” jawab Jinhee dengan semangat.

”Enaknya,” gumam Hyejung iri. ”Lalu kau Eunmi ?” tanya Hyejung. Eunmi tersenyum, wajahnya mulai bersemu merah.

”Aku akan jalan-jalan bersama kakak mu Hyejung~” ucap Eunmi yang wajahnya berubah menjadi merah karena tersipu malu. Eunmi dan Suho sudah berpacaran cukup lama, tak heran Eunmi dan Hyejung begitu akrab karena mereka memang sering menghabiskan waktu bersama.

”Suho oppa baboya! pantas saja kemarin malam ia senyum-senyum sendiri. Ternyata ia sudah punya recana dengan mu. Kau sebaiknya hati-hati dengan Suho oppa!” kata Hyejung kesal.

Lalu setelah mereka selesai menghabiskan makanan mereka, Jinhee pergi menemui Sehun sedangkan Hyejung segera menuju ke ruang kelas yang terdapat di sebelah ruang kelasnya.

___

Annyeong, ada Kim Jongin?” tanya Hyejung kepada salah satu teman Jongin—kekasih Hyejung.

”Baru saja Jongin keluar~” jawab Tao—salah satu teman sekelas Jongin.

”Kau tau kemana dia pergi?”

”Katanya dia mau ke kantin bersama Luhan,” jawab Tao singkat seraya mengembangkan senyumannya pada Hyejung.

”Oh arasso,” ucap Hyejung sambil menghela nafas.

”Memangnya kau tidak bertemu dengan Jongin di kantin?” sambung Tao.

”Hmm, aniyo,” jawab Hyejung sambil menggelengkan kepalanya. ”Kalu begitu sampaikan padanya jika aku mencarinya dan katakan juga pulang sekolah nanti aku menunggunya di depan pintu gerbang.” sambung Hyejung.

”Baiklah.”

Lalu Hyejung pun pergi meninggalkan Tao yang berada di depan pintu kelasnya dan masuk ke kelasnya sendiri.

___

Tidak lama setelah Hyejung masuk ke kelasnya, Jongin kembali dari kantin bersma Luhan sambil membawa snack kesukaannya dan duduk di sebelah Tao yang sedang sibuk membaca sebuah buku favoritnya.

”Kau sudah kembali, tadi ada yang mencari mu,” ucap Tao yang masih tetap membaca bukunya.

Nugu?” tanya Jongin penasaran sambil membuka bungkus snack yang di bawa nya dari kantin dan memakannya satu per satu.

”Siapa lagi kalau bukan Hyejung kekasih mu,” jawab Tao sambil menutup bukunya dan mengambil beberapa snack yang dimakan oleh Jongin. ”Dan dia bilang, dia akan menunggu mu di depan gerbang sepulang sekolah nanti,” sambung Tao.

Setelah mendengar jika Hyejung mencarinya, raut wajah Jongin tiba-tiba berubah. Pemuda itu menghela napas. Sampai sebegitukah Hyejung khawatir padanya?

”Yah! kau sedang bertengkar dengan Hyejung?” tanya Tao sambil menatap Jongin.

”Ah, aniyo… aku—dan dia baik-baik saja,” jawab Jongin singkat sambil meninggalkan Tao menuju teman-temannya yang lain yang sedang berada di barisan belakang, sedangkan Tao sendiri masih menatap Jongin dengan heran karena akhir-akhir ini sikap Jongin berubah menjadi lebih dewasa dari biasanya setelah beberapa bulan yang lalu dia dan Hyejung resmi berpacaran.

Kim Jongin, seorang anak laki-laki yang sekarang menjadi pacar Hyejung adalah seorang yang tampan dan penuh semangat, dia adalah anak dari seorang pengusaha terkenal seantero kota Seoul yang tak lain adalah rekan kerja ayah hyejung. Jongin—atau yang biasa dipanggil Kai—adalah salah satu anggota dace club di sekolahnya yang cukup populer bersama sahabatnya—Oh Sehun kekasih Jinhee. Akhir-akhir ini sikap Jongin sedikit berubah yang tadinya kekanak-kanakan sekarang menjadi lebih dewasa setelah Jongin dan Hyejung beberapa hari yang lalau pergi bersama.

___

”Ah~ akhirnya usai juga pelajaran hari ini.”ucap Eunmi sambil sibuk merapikan buku-bukunya.

”Dan akhirnya besok kita mulai libur musim dingin, asiiknya~” pekik Jinhee dengan semangat.

”Oh ya, apa kau mau pulang bersama kami?” ajak Eunmi sambil membalikan tubuhnya menghadap Hyejung, namun ajakan Eunmi tidak di respon oleh Hyejung.

”Tsk, anak ini,” gumam Eunmi dalam hati. ”YAH! KIM HYEJUNG!” ucap Eunmi yang kesal karena apa yang dia katakan sedari tadi tidak di tanggapi oleh Hyejung.

Lalu Hyejung pun terkejut dan tersdar dari lamunannya. ”YA! EUNMI-YA! kau pikir aku tuli?” ucap Hyejung kesal.

”Habisnya dari tadi kau tidak merespon apa yang tadi ku katakan,” jawab Eunmi seraya mendengus kesal.

”Ah mian.

”Apa yang sedang kau pikirkan? ceritakan semuanya pada ku,” hibur Jinhee.

”Hmm, gwaenchana—jangan khawatirkan aku,” jawab Hyejung tersenyum yang dipaksakan.

”Baiklah, kalau begitu mau pulang bareng tidak?” ajak Eunmi.

”Tidak terimakasih, aku masih ada urusan.”

”Kalau begitu aku dan Jinhee pulang duluan ya. Oh! selamat natal,” ucap Eunmi.

”Iya… selamat natal,” ucap Hyejung sambil tersenyum melihat Eunmi dan Jinhee yang semakin lama semakin menjauh dari hadapannya. Lalu Hyejung pun segera merapikan bukunya dan segera menuju pintu gerbang.

___

”Hyejung-ah,” terdengar suara lelaki yang ia kenal memanggilnya. Gadis itu menolehkan kepalanya dan membalikkan tubuhnya seraya menatap Jongin yang kini ada dihadapannya.

Oppa.” ucap Hyejung sambil mengembangkan senyuman kepada Jongin.

Mian… kau pasti sudah lama menunggu ku,” sambung Jongin sambil menggruk kepala yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.

Gwaenchanayo~ , akhir-akhir ini kenapa kau sulit ku hubungi?” tanya Hyejung dengan penasan.

Mianhae~ akhir-akhir ini aku—sibuk.” jawab Jongin merasa bersalah.

”Sibuk?” Hyejung semakin penasaran. Jongin hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan gadis yang ada dihadapannya ini. Hyejung menatap Jongin heran dan terlihat dari raut wajah gadis itu jika ia merasa penasaran dengan kata ’sibuk’ yang baru saja Jongin ucapkan.

”Bukan apa-apa—ini tidak penting,” jawab Jongin singkat.

”Tidak penting bagaimana? kau tau—semalaman aku menunggu telepon dan balasan email dari mu, sampai-sampai aku tidur larut malam. Dan kau tidak menghubungi ku juga. Apakah itu masih tidak penting bagi mu?” ucap Hyejung hampir menangis.

Rasanya ia ingin berteriak, ia benar-benar tak dapat menahan perasaannya lagi. Ia merindukan pemuda yang ada dihadapannya ini, pemuda yang mengisi hari-harinya.

”Bukan itu maksud ku , tapi—”

”Tapi apa? apa kau lupa hari ini adalah hari terakhir masuk sekolah saat musim dingin dan sebentar lagi adalah malam natal, apa kau lupa akan hal itu?” ucap Hyejung yang akhirnya mengeluarkan air mata. ”Atau mungkin, kau memang tidak mau menghubungi ku lagi?” sambung Hyejung sambil mengusap air matanya perlahan.

”Bukan itu maksud ku—aku tidak mungkin lupakan semua hal itu,” ucap Jongin sambil memegang kedua bahu Hyejung.

”Lalu apa?” tanya Hyejung sambil menatap mata Jongin dalam-dalam. Namun Jongin terdiam tidak dapat menjawab pertanyaan Hyejung. Gadis itu menghela nafas.

Nan jib-e gago sip-eo,” ucap Hyejung sambil pergi meninggalkan Jongin. Tapi Jongin berusaha mencegah Hyejung dengan menggenggam tangan Hyejung.

”Aku antar kau pulang,” ucap Jongin.

”Tidak perlu. aku bisa pulang sendiri,” jawab dingin Hyejung sambil melepaskan genggaman tangan Jongin dan pergi meninggalkan Jongin .

Sementara itu Jongin masih terdiam, lalu Sehun segera menghampiri Jongin yang sedari tadi melihat pertengkaran antara Jongin dan Hyejung.

”Kenapa kau tidak jujur saja padanya?” tanya Sehun yang sekarang berada si samping Jongin.

”Aku tidak ingin dia merasa khawatir,” jawab Jongin.

”Justru jika kau seperti ini, kau membuatnya semakin tersiksa. Dia sangat mencemaskan mu, dia sangat mencintai mu Kai,” sambung Luhan yang entah sejak kapan sudah berada di antara Jongin dan Sehun.

”Lalu aku harus bagaimana?” tanya Jongin bingung seraya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

”Sebaiknya kau jujur padanya,” ucap Sehun sambil meninggalkan Jongin.

­­­___

”Aku pulaang,” ucap Hyejung sesampainya di rumah dengan raut wajah yang muram.

”Yah! pelankan suara mu!” balas Suho dengan nada kesal.

Oppa, kau tidak ada jadwal?”

Aniyo~ aku sedang ingin di rumah,” jawab Suho.

”Ibu kemana ?” tanya Hyejung lagi.

”Ibu pergi ke butik,” jawab Suho singkat. ”Waeyo? seperti nya kau ada masalah, ceritakanlah pada ku,” sambung Suho menatap adiknya.

Hyejung hanya terdiam. Matanya terasa sangat panas dan dadanya terasa sesak. Akhirnya gadis itu menangis di hadapan Suho seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

”Kemarilah,” ucap Suho sambil menarik Hyejung ke dalam pelukannya. ”Menangislah sepuas mu, sampai hati mu merasa tenang lalu ceritakan lah semuanya pada ku. Arasso?” sambung Suho sambil membelai rambut panjang Hyejung yang terurai dan mempererat pelukannya.

Setelah merasa lebih tenang Hyejung pun tidak menagis lagi dan Suho mulai melepaskan pelukannya lalu Hyejung menceritakan semua kejadian yang terjadi padanya.

”Kau mencitainya ’kan?” tanya Suho menatap Hyejung yang ada dihadapannya. Hyejung hanya mengangguk tnpa mengeluarkan sepatah kata pun. ”Kalau begitu… seharusnya kau percaya padanya,” sambung Suho.

”Aku percaya padanya tapi jika dia seperti ini dan tidak cerita pada ku bagaimana aku bisa mengetahui apa yang terjadi padanya?” ucap Hyejung.

”Kalau memang kau belum siap untuk bertemu dengannya kembali tidak apa-apa, tenangkan lah dulu perasaan mu. Jika kau sudah merasa lebih baik temui lah dia,” ucap Suho. Gadis itu hanya mengangguk menanggapi perkataan kakaknya itu.

==

Hari demi hari pun dilalui oleh Hyejung dengan dengan suasana yang berbeda—tanpa Jongin disisinya. Dan begitu pun dengan apa yang dirasakan oleh Jongin. Dan akhirnya malam natal pun tiba.

”Na eureureong eureureong eureureong dae… Na eureureong eureureong eureureong dae…” terdengar suara ponsel Hyejung. Terdapat 1 pesan baru. Dibukanya pesan itu dan ternyata pesan itu dari Jongin—orang yang sebenarnya sangat dirindukannya.

Received           : 07:00pm

From                : nae pabo kai

Hyejung-ah, mianhae~ aku selama ini tidak memberi kabar dan menghubungi mu. Aku harap sekarang kau datang ke taman yang waktu itu. Aku menunggu mu Hyejung, sarangheyo ♥

Namun Hyejung tidak memperdulikannya karena dia masih belum ingin bertemu dengan Jongin. Ia melanjutkan kegiatannya menonton televisi yang ada dihadapannya, namun ia tak dapat membohongi perasaannya. Gadis itu terus memikirkan Jongin. Diliriknya jam dinding yang menempel disalah satu sisi ruangan tempatnya kini—sudah jam sembilan malam. Ah, mana mungkin dia menungguku sampai jam sembilan. Munkin ia sudah pulang—pikir Hyejung.

”Kau tidak pergi menemuinya ?” tanya Suho yang sedang duduk di sebelahnya.

”Untuk apa aku pergi? lagi pula mana mungkin dia menunggu ku di sana. Ini sudah terlalu malam,” jawab Hyejung yang menatap lurus ke arah televisi dengan tatapan kosongnya.

”Kau tau? aku kemarin melihat Jongin bekerja sambilan di sebuah cafe,” sambung Suho.

Mwo? gojitmalhaji maseyo!” ucap Hyejung terkejut mendengar perkataan kakaknya. Ia menatap Suho dengan tatapan apa-kau-serius?

”Aku tidak bohong, aku melihatnya sendiri,” ucap Suho.

Hyejung terdiam—pikirannya dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Mengapa pemuda itu tak bilang padanya jika dia bekerja sambilan? Mengapa pemuda itu harus bekerja sambilan? Mengapa?

”Temuilah dia,” ucap Suho yang membuyarkan lamunan Hyejung. Gadis itu menatap Suho kebingungan, ia tak tau apakah ia harus menghampiri Jongin atau tidak.

”Kau mencintainya bukan?” sambung Suho pelan seraya menghampiri Hyejung dan duduk disampingnya. Hyejung hanya mengangguk menjawab pertanyaan kakaknya. ”Lalu apa yang kau tunggu?”

Gomawo oppa,” ucap gadis itu seraya mencium pipi kanan Suho dan beranjak dari duduknya.

Sudah jam setengah sepuluh malam, Hyejung bergegas mengambil jaketnya lalu berlari menuju taman dimana dia melihat salju pertama turun bersama Jongin. Dia terus berlari, dia tidak peduli akan hal lain. Yang ada di pikirannya saat ini adalah hanya Jongin.

Lalu Hyejung hanya bisa terdiam dan akhirnya masuk ke dalam kamarnya, dia tidak menyangka jika Jongin benar-benar serius dengan perkataannya saat itu, dia semakin merasa bersalah pada Jongin .

Apa benar kau bekerja sambilan?—gumam Hyejung dalam hati sambil mengingat kejadian saat dia dan Jongin pergi besama.

—FLASH BACK—

Setelah beberapa minggu yang lalu Jongin dan Hyejung berpacaran, mereka pun pergi bersama ke suatu tempat yang sangat indah di hari pertama musim dingin. Tempat yang dapat melihat indahnya laut biru yang jernih.

Lalu mereka pergi jalan-jalan untuk melihat-lihat, sepanjang jalan yang mereka lewati terdapat toko-toko yang menjual beberapa jenis aksesori. Lalu tanpa sengaja Hyejung melihat sebuah kalung yang begitu indah, liontin berbentuk bintang itu telah mencuri hatinya. Ingin rasanya ia membeli kalung tersebut saat itu juga

”Kau suka kalung itu?”

Ne… sangat indah,” jawab Hyejung seraya menganggukkan kepanya. Matanya tak dapat berpaling dari kalung tersebut—gadis itu menghembuskan napas dalam.

”Kalau begitu nanti akan ku belikan,” ucap Jongin sambil menatap Hyejung lekat. Gadis itu hanya terkekeh mendengar perkataan pemuda yang ia sayangi.

”Hmm—tidak usah. Kau tidak usah membelikannya,” ucap Hyejung tersenyum seraya menggandeng tangan Jongin. ”Bagaimana kalau kita duduk di sana,” sambung Hyejung mengalihkan pembicaraan sambil menunjuk ke arah salah satu bangku yang terdapat di sebuah taman yang sangat indah dan mereka pun duduk di situ sambil menikmati indahnya langit sore.

”Kau tau Hyejung, aku sangat senang bisa bertemu dengan mu,” ucap Jongin.

”Aku juga oppa,” ucap Hyejung menatap Jongin dan memberikan senyuman termanisnya pada pemuda itu. Jongin begitu senang dapat memiliki gadis yang selama ini menjadi pujaan hatinya.

”Hatchii…”

Gwaenchana ?” tanya Jongin menatap Hyejung khawatir.

”Ah, gwaenchana~” jawan Hyejung sambil tersenyum.

Jongin melepas jaket yang ia kenakan, lalu mengenakannya pada Hyejung. Pemuda itu merangkul Hyejung agar gadis itu tidak kedinginan.Dan Hyejung pun menyandarkan kepalanya pada bahu Jongin.

”Aku akan membuat mu bahagia, aku janji. Sarangheyo nae Hyejung,” sambung Jongin sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Hyejung. Lalu bibir Jongin pun mendarat di bibir Hyejung dengan sangat lembut.

Salju pertama musim dingin pun mulai turun, Hyejung sangat bahagia karena dapat melihat salju pertama turun bersama orang yang sangat dicintainya.

—FLASH BACK END—

”Hhh…oppa—” ucap Hyejung terengah-engah karena lelah berlari sambil menghampiri Jongin yang sedang duduk di salah satu bangku taman sambil menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya.

”Akhirnya kau datang,” ucap Jongin senang sambil mengangkat wajahnya lalu berdiri.

Hyejung langsung memeluk Jongin dengan erat, tanpa disadari keluar air mata dari sela-sela matanya.

Mianhae,” ucap Hyejung lirih.

”Sudahlah, seharusnya aku yang minta maaf,” sambung Jongin. ”Aku punya sesuatu untuk mu,” ucap Jongin sambil mengeluarkan sebuah kotak dan diberikan kotak itu kepada Hyejung. ”Bukalah.”

Saat di buka ternyata benar, isi kotak itu adalah sebuah kalung yang berliontin bintang yang pernah dilihatnya dulu ketika bersama Jongin. Gadis itu terkejut. Lidahnya terasa kelu, matanya terasa panas—kali ini ia merasa terharu dan juga bersalah.

Gomawo.

”Kemarilah, akan ku pakaikan pada mu,” diambilah kalung itu oleh Jongin dan dipakaikan kalung itu di leher Hyejung.

”Indah sekali, gomawo,” ucap Hyejung yang kembali memeluk Jongin. Jongin tersenyum—betapa ia merindukan sosok gadis yang ada dipelukannya kini. ”Kenapa kau lakukan ini semua?” tanya Hyejung .

”Aku sudah bilang, jika aku akan membelikan kalung ini untuk mu dan aku berjanji untuk membuat mu bahagia,” jawab Jongin sambil menenggelamkan wajahnya ke rambut Hyejung sampai hangatnya nafas Jongin begitu terasa oleh Hyejung. ”Selama ini aku bekerja sambilan karena aku ingin memberi sesuatu untuk mu yang ku beli dari hasil kerja keras ku,” sambung Jongin.

Mianhae—aku telah egois,” ucap Hyejung sambil melepaskan pelukannya dan menatap Jongin.

”Tak apa-apa, kau tak egois. Aku yang ingin memberikan sesuatu untuk kekasihku dan membuatnya tersenyum, senyuman yang membuatku semakin jatuh cinta padanya—itu saja,” sambung Jongin.

Hyejung tersenyum—ia sungguh bahagia karena memiliki seseorang yang begitu mencintainya dan sangat berarti baginya. Jongin mendekatkan wajahnya ke wajah Hyejung. Lalu dikecuplah bibir gadis itu lembut. Dan tersenyum manis pada Hyejung.

Saranghaeyo.

Nado saranghae.

–END–

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s