[FF] So Into You

Title:So Into You

Author: Liora Lee
Rating : PG+16 / straight.
Casts: Park Chanyeol (EXO) and Choi Jinri (f(x)).
Other Casts : EXO, SHINee
Genre: Romance, Friendship, AU, Angst, PG.
Length :Ficlet.
Part: –

Disclaimer : The characters in this story is the character of their own with a bit of my imaginationand this story is only a fiction. So don’t sue me. Do not copy paste this fics without any permission from author.

A/N :
-This is only my IMAGINATION.

-This is my first f(exo) pairing hohoho
-I put Chanyeol and Sulli here but feel free to change the character’s name with your own bias or your own name.
-You can find other cast when you read this story.
-Don’t forget to give your comments and happy reading.

***

***

It’s like you’re uninterested, it’s like you’re always busy and it’s like you think if you call first you’re losing a game… You’re different this time…

~~~

Kutatap layar ponselku. Tak ada pesan satupun. Aku menghela napas, semuanya berubah, semuanya terasa sia-sia. Apa yang salah denganku? Ku buka kotak masuk pesan di ponselku. Masih belum ada balasan.

Aku menyerah, aku lelah—aku tak tau harus apa. Dia, dia yang selama ini mengisi hari-hariku, dia yang selama ini menjadi penyemangatku telah hilang begitu saja. Tuhan…apa salahku?

Ku ambil jaketku yang kugantungkan di balik pintu, kulangkahkan kakiku menuju keluar kamarku. Entah apa yang kupikirkan, aku ingin menyegarkan diri, menyegarkan pikiranku. Mungkin aku harus menghilangkan pikiran jelekku tentangnya.

Aku terus berjalan menyusuri jalanan. Entah kemana tujuanku. Tiba-tiba bulir air mata jatuh dari pelupuk mataku—apa yang ku tangisi?

Dadaku terasa sesak, sakit yang kurasakan bukan sakit karena tak ada kabar satupun darinya—melainkan sakit karena aku merasa dia telah hilang menjauhiku. Aku terus menangis seraya memegang dadaku yang semakin terasa sesak.

“Jinri?”

Ku hentikan langkangku ketika kusadari dihadapanku ada seorang pemuda—dia menatapku.

“S-sehun?”

Ucapku terisak. Dia menatapku—bukan tatapan iba melainkan tatapan kekecewaan karena dia melihatku menangis.

Dia berjalan perlahan ke arahku. Tak satupun kata terucap darinya—dia menatapku lekat dan tak lama dia merengkuhku kedalam pelukannya. Aku—aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukannya.

Dia mengusap rambutku dan mengecup puncak kepalaku. Kupeluk tubuhnya sambil terus menangis.

Uljimayo…

Ucapnya lembut terhadapku. Kali ini pelukannya semakin erat. Dia—Oh Sehun—pemuda yang bisa kusebut sebagai sahabat terbaikku meskipun aku telah melukainya berkali-kali. Dia selalu ada disisiku ketika aku merasa sedih ataupun senang. Dia yang bisa menenangkanku dikala aku sedang membutuhkan seseorang.

Kulepaskan pelukanku. Dia menatapku lekat, tangannya menyentuh pipiku—jemarinya menghapus air mata yang mengalir dari mataku.

“Kau tau bukan, aku tak suka melihatmu menangis. Jadi tersenyumlah,”

Aku tersenyum mendengar perkataannya. Dia selalu bisa membuatku tersenyum tapi, aku tak bisa selalu ada disisinya. Aku menyayanginya selayaknya aku menyayangi kakakku. Maaf, aku tak bisa menyayangimu selayaknya aku menyayangi Chanyeol oppa….

___

Sudah tiga kali Jinri mengirimkan pesan padaku. Entah apa yang merasuki ku hingga tak ada satupun pesannya yang ku balas. Oh Tuhan… maafkan aku.

Kutatap langit-langit kamarku, bayangan itu masih terngiang dikepalaku. Bayangan ketika Sehun mengungkapkan perasaan terhadap Jinri—terhadap gadisku.

Aku cemburu, aku marah, aku marah karena aku membiarkan seseorang mengungkapkan cintanya pada gadisku. Egoiskah aku jika aku menginginkan dia hanya untukku?

Kuhembuskan napas putus asa. Aku tak ingin menyakiti Jinri, tapi mengingatnya membuatku marah pada diriku sendiri.

Kuputuskan untuk pergi menghampiri Jinri dirumahnya. Ku ambil jaket dan kunci mobilku. Kulajukan mobilku dalam kecepatan tinggi. Aku ingin meminta maaf padanya, meminta maaf dengan semua perlakuanku padanya.

Tak lama lagi aku akan sampai didepan rumahnya. Namun ku hentikan laju mobilku ketika kulihat sesosok gadis berjalan menyusuri jalanan yang akan ku lewati. Dia—Jinri—berjalan sambil menundukkan kepalanya. Dia…menangis, astaga maafkan aku Jinri-ya.

Ku putuskan untuk berlari menghampirinya, namun lagi-lagi langkahku terhenti ketika kulihat pemuda menghampirinya. Kulihat dia—Sehun—menghampiri gadisku. Jantungku rasanya terhenti ketika ku lihat dia memeluk Jinri.

Kukepalkan tanganku, ingin rasanya kuhampirinya dan kulayangkan pukulanku padanya. Tapi, ku urungkan niatku.

Jinri menangis—menangis dalam pelukannya. Astaga Chanyeol, pria macam apa kau membiarkan gadismu menangis dalam pelukan pria lain?

Inikah rasanya? Sesakit inikah rasanya ketika kau melihat gadismu bersama pria lain? Kurasakan mataku mulai memanas, emosiku mulai memuncak. Ku putuskan untuk kembali masuk kedalam mobilku dan kulajukan mobilku—entah kemana.

___

Ah udara sore hari mungkin bisa menjernihkan pikiranku yang kacau. Kutatap jam dinding yang menggantung di dalam kamarku,4:15pm KST belum terlalu sore untuk menikmati matahari sore bukan?

Kulangkahkan kakiku meluar rumah. Udara di bulan Februari memang terasa dingin. Angin musim gugur memang terasa lebih dingin.

Kulangkahkan kakiku menyusuri jalanan yang tak begitu jauh dari rumahku. Kulihat sekelilingku dan mataku tertuju pada seorang gadis yang berjalan menuju ke arahku. Dia menundukkan kepalanya, ku lihat bulir air mata jatuh dari matanya. Aku terhenyak seketika saat kulihat ia menangis.

Ku hampiri dia yang masih menangis—terisak—seperti orang yang merasakan kepedihan yang amat mendalam.

“Jinri?”

Ku panggil namanya pelan namun cukup untuknya mendengar suaraku dengan jelas karena memang suasana disekitarku yang tak begitu ramai.

Dia mendongakkan kepalanya menatapku, dan kulihat matanya yang merah dan sembab.

“S-sehun?”

Ucapnya terheran menatapku dengan suara paraunya. Hatiku terasa sakit melihatnya menangis. Melihat gadis yang sangat ku sayangi meskipun ku tahu dia hanya menyayangiku sabatas seorang kakak.

Aku melangkahkan kakiku mendekatinya, ku tatap dia yang kembali menundukkan kepalanya—menyembunyikan air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Aku tak dapat mehanan rasa ini, ku peluk dirinya erat—ku usap rambutnya dan ku kecup puncak kepalanya dengan lebut.

Kurasakan tangannya yang balas memelukku, dia menangis sejadinya dalam pelukanku. Hatiku merasa teriris melihatnya seperti ini.

Uljimayo…”

Ucapku padanya seraya memeluknya semakin erat. Sungguh, aku membenci pemandangan seperti ini. Aku tak ingin melihatnya menangis seperti ini.

Ku sentuh pipinya dengan kedua tanganku ketika dia melepaskan pelukannya, ku hapus air matanya dengan jemariku.

“Kau tau bukan, aku tak suka melihatmu menangis. Jadi tersenyumlah,”

Ku tatap kedua matanya dan dia tersenyum. Aku merasa lega ketika melihat senyumannya. Senyuman yang selalu kurindukan setiap saat. Seandainya senyuman itu hanya untukku Jinri-ya.

***

Ku tatap layar televisi yang ada dihadapanku. Ku pegang remot televisi seraya memindahkan channel televisi yang kutatap itu.

“Yah, tak bisakah kau menonton satu acara televisi saja?”

Keluh kakak ku seraya menghampiriku dan memukul kepalaku dengan bantal yang dipeganggnya. Aku hanya mendengus kesal menanggapinya. Ia duduk di sebelahku, ia menatapku dan menyesap coklat hangat yang baru saja dibuatnya.

“Tak bisakah kau tak menatapku seperti itu?”

Ucapku yang terus menatap lurus ke layar televisi yang ada dihadapanku. Ia terkekeh mendengar celotehanku.

“Ini sudah hari ke lima kau bertingkah seperti mayat hidup Jinri-ya.”

Keluhnya seraya mengacak-acak rambutku. Kutepis tangannya yang terus mengacak-acak rambutku.

“Aku masih hidup oppa, kau tak perlu khawatir.”

Ucapku menolehkan kepalaku menatapnya. Dia semakin terbahak mendengar ucapanku.

Baboya

Kali ini aku memilih untuk diam. Ku hembuskan napas ku. Ku rebahkan kepalaku dipangkuannya. Aku kembali menangis. Kakak laki-lakiku—Choi Minho—menatapku dan mengusap kepalaku lembut.

“Belum ada perubahan dari Chanyeol, huh?”

Tanyanya padaku sambil terus mengusap kepalaku. Aku hanya mengangguk memberikan jawaban atas pertanyaan yang diberikannya padaku.

“Kau sudah menanyakan hal itu padanya?”

Kali ini buka anggukkan yang ku berikan padanya, melainkan gelengan kepala yang kuberikan sebagai jawaban. Aku terlalu takut mengutarakan pendapatku, aku takut dia semakin menjauhiku, aku takut kehilangan sosok Chanyeol oppa dari hidupku.

“Jinri-ya…aku bukannya tak mau membantumu dalam hal ini. Tapi, aku tak ingin terlalu mencampuri urusan kalian. Kau harus mampu mengutarakan perasaanmu saat ini. Mungkin, dia menunggumu untuk berbicara. Kau perlu berbicara dengannya…”

Ucap Minho oppa padaku, ya—kakakku benar dan aku perlu membicarakan ini semua dengan Chanyeol oppa.

Gomawo

Ucapku seraya memeluk kakak laki-lakiku. Dia memang tahu bagaimana cara untuk membuka pikiranku yang sedang kacau seperti saat ini.

***

Drrtt…

Kurasakan ponselku bergetar, kurogoh saku celanaku dan ku lihat ada satu pesan baru. Ku buka pesan yang baru saja masuk.

From: nae jinri❤

Oppa…ada yang ingin ku bicarakan padamu. Temui aku di taman sepulang sekolah J

Nafasku tercekat ketika kulihat isi pesan yang baru saja kubaca. Keringat dingin mulai keluar dari tubuhku. Pikiran ku melayang entah kemana. Apakah ini akhir dari semuanya?

Kurasakan jantungku berdegup semakin kencang tak kala kulihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tanganku menunjukkan jam pulang sekolah.

“Yah! Wae geurae?

Tanya Baekhyun—teman sekelasku yang menatapku heran. Aku hanya menggelengkan kepalaku pelan. Baekhyun masih menatapku.

“Apakah kau sudah berbicara pada Jinri?”

Tanyanya lagi membuyarkan lamunan sesaatku. Kini lidahku terasa kelu ketika Baekhyun menyebut nama Jinri. Degup jantungku semakin cepat, dan aku pun semakin merasa gelisah.

Tak lama bell tanda sekolah usai pun berbunyi, napasku semakin memburu ketika seluruh teman sekelasku berhamburan keluar.

“Sebaiknya kau bicarakan hal ini dengan Jinri secepatnya”

Ucap Baekhyun seraya menepuk bahuku dan menghilang dibalik pintu kelasku. Kurasakan keringat dingin kini benar-benar membasahi tubuhku. Ku rapikan buku yang ada di atas meja ku dan perlahan ku berjalan meninggalkan ruang kelasku dan beranjak menuju taman—tempat dimana aku dan Jinri bertemu.

___

I prayed for this moment with closed eyes… I will embrace you, my lover’s heart… Today is the only chance, I’ll take the first step… I promise you, I’ll be good to you…

~~~

Aku terduduk di sebuah bangku yang terdapat di taman—tempat aku dan Chanyeol oppa bertemu. Kenangan indah bersamanya melayang-layang dipikiranku. Aku tersenyum ketika mengingatnya. Kurasakan udara semakin dingin, ku eratkan jaketku yang kupakai. Tiba-tiba terasa sebuah tangan menyentuh bahuku. Aku sedikit terperanjat karenanya, namun ku lihat Chanyeol oppa tersenyum dan duduk tepat di sampingku.

Rasanya ingin sekali ku peluk pria yang sangat kurindukan selama ini. Namun, yang ku lakukan hanyalah tersenyum—membalas senyumannya yang sungguh indah dimataku.

Entah mengapa mataku terasa begitu panas ketika melihatnya. Ku hembuskan napasku sebelum ku membuka topic pembicaraan kami.

“Ehm…bagaimana kabarmu?”

Tanyaku dengan suara yang tercekat, entah mengapa tapi kini kurasakan pedih yang menggerogoti dadaku.

Mianhae…”

Hanya itu yang terucap dari mulutnya. Kini aku tak dapat menahan tangisku. Aku kembali menangis, menangis karena kini orang yang sangat ku sayangi berada di dekatku. Aku tak berani menatap matanya, aku terus menundukkan kepalaku hingga kurasakan tangannya memelukku erat.

Ku rasakan napasnya yang hangat di tengkukku. Aku masih terisak dan ia mempererat pelukannya.

Jeongmal mianhae…”

Bisiknya tepat di telingaku, ku peluk erat tubuhnya—rasanya tak ingin ku lepaskan pelukan ini meskipun hanya sebentar saja.

Wae?”

Tanyaku dalam isak tangis. Dapat kurasakan tubuhnya yang ikut bergetar. Entah apa yang kurasakan saat ini, semuanya bercampur menjadi satu.

Dia melepaskan pelukannya, menatap kedua mataku dalam. Ku lihat sorot mata penyesalan, apa yang dia sesali?

“Aku…aku hanya takut kau hilang dari hidupku…”

Ucapnya seraya menghapus air mata yang mengalir di pipiku. Aku menatapnya heran, aku tak mengerti dengan apa yang baru saja dia ucapkan. Aku berpikir sejenak, tubuhku bergetar ketika aku mulai mengerti apa yang dia maksud. Tiba-tiba aku teringat Sehun yang mengungkapkan perasaannya padaku dua minggu yang lalu.

“Aku…aku cemburu.”

Sambungnya yang membuat aku terkejut. Aku tak percaya dia menghindariku hanya karena cemburu. Bukan kah seharusnya dia tahu, dihatiku hanya ada satu orang yang amat aku sayangi—orang itu tak lain adalah dia, Park Chanyeol.

“Tak percaya kah kau padaku?”

Ucapku yang kembali meneteskan air mataku. Entah apa yang merasuki ku, kutepis tangannya yang berusaha menggenggam tanganku. Aku kecewa, aku merasa dia tak mempercayaiku. Aku beranjak dari dudukku dan hendak pergi meninggalkannya. Langkahku terhenti ketika ia menarik tanganku dan memelukku begitu erat.

Mianhae…”

___

Aku berjalan menuju taman—tempat dimana aku akan bertemiu dengan Jinri. Aku memperlambat langkahku ketika aku melihat sosok gadis yang amat ku rindukan. Ingin rasanya aku berlari dan memeluknya. Namun ku urungkan niatku, aku berjalan menghampirinya perlahan dank u sentuh bahunya. Ku lihat dia sedikit terkejut, aku tersenyum—gadis ini memang selalu membuat ku tersenyum melihat tingkah lakunya. Betapa aku merindukan mu Jinri-ya.

“Ehm…bagaimana kabarmu?”

Ucapnya membuka pembicaraan diantara kita. Ku tatap wajahnya, pipinya terlihat merah—aku tersenyum melihatnya. Ku lihat matanya yang terlihat habis menangis berhari-hari, selama itu kah aku membuatnya bersedih sehingga matanya terlihat sembab. Ku hembuskan napasku.

Mianhae…”

Hanya itu kata yang terucap dari mulutku. Mendadak ku rasakan tenggorokanku begitu kering. Sulit rasanya berkata dan menjelaskan semuanya pada Jinri. Hatiku lagi-lagi dipenuhi rasa bersalahku karena membuatnya seperti ini. Aku begitu menyayanginya—aku tak ingin kehilangan sosok gadis seperti dia.

Bulir air mata kembali membasahi pipinya—aku terhenyak. Sungguh bodoh kau Park Chanyeol, membiarkan dia menangis terus-menerus karena ulahmu yang sungguh kekanak-kanakan. Aku segera menariknya kedalam pelukanku. Tubuhnya bergetar, isak tangisnya membuat hatiku terasa lebih pedih. Kueratkan pelukanku, dan dia masih menangis.

Jeongmal mianhae…”

Bisikku tepat di telinganya. Dapat ku rasakan baju ku yang kini basah oleh air matanya. Bodoh sekali kau Park Chanyeol—gerutuku.

Wae?”

Tanyanya pelan namun terdengar jelas di telingaku. Ku lepaskan pelukanku dan ku tatap kedua matanya. Maafkan aku Jinri-ya.

“Aku…aku hanya takut kau hilang dari hidupku…”

Ucapku seraya menghapuskan air mata yang membasahi kedua pipinya. Kutatap wajahnya, kurasakan tubuhnya kembali bergetar.

“Aku…aku cemburu.”

Sambungku seraya menghela napas. Ku lihat dia terkejut dengan ucapanku barusan. Maafkan aku karena kecemburuanku membuatmu seperti ini Jinri.

“Tak percaya kah kau padaku?”

Tanyanya yang membuat hatiku kembali dijerat rasa bersalah padanya. Sungguh, aku percaya padanya tapi rasa cemburu yang kurasakan selama ini telah membuat ku melupakan hal terpenting dalam hidupku, yaitu kau—Choi Jinri.

Aku mencoba menggenggam tangannya, aku ingin menjelaskan semuanya padanya namun ia menepis tanganku. Aku menatapnya dalam diam, maafkan aku telah membuatmu kecewa, maafkan aku.

Jinri bangkit dari duduknya dan hendak meninggalkan ku, aku tahu dia sangat kecewa padaku. Aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku menarik lengannya, menghentikan langkahnya dan memeluknya—memeluknya dengan sangat erat. Aku tak akan melepaskanmu Jinri—tak akan pernah.

Mianhae…”

Tak ada jawaban darinya. Ia berusaha melepaskan pelukanku namun aku tak akan melepaskannya, ku eratkan pelukanku padanya.

“Maafkan aku karena aku sudah membuatmu bersedih. Sungguh, aku tak ingin kau pergi dariku. Aku cemburu, maafkan aku karena cemburu ku ini membuatmu merasa tersiksa. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan. Aku tak ingin kau meninggalkan ku dan pergi bersamanya. Aku percaya dengan cintamu padaku. Hanya saja, aku tak ingin melihat kau berpaling dariku.”

Ucapku mengungkapkan segalanya, mengungkapkan perasaan yang selama ini mengusikku, perasaan yang membuat gadisku tersiksa. Tiba-tiba dia mendorongku dan aku pun melepaskan pelukanku dan mundur beberapa langkah. Aku menatapnya terkejut. Dia—dia mengangis, namun tersenyum.

Neo…baboya…”

Ucapnya tersenyum padaku. Gadis itu menutup mulutnya dan kembali menangis. Astaga Chanyeol, kau membuatnya kembali menangis. Aku perlahan mendekatinya.

“Kau—kau benar-benar bodoh. Mana mungkin aku meninggalkanmu. Ingin rasanya aku membencimu, tapi aku tak bisa. Kau selalu memenuhi pikiranku. Aku takut, aku—aku…”

Ucapannya terhenti tepat ketika ku raih wajahnya dan ku kecup bibirnya. Aku sungguh menyayanginya bahkan aku benar-benar mencintainya. Perlahan ku jauhkan wajahku darinya dan kutatap kedua matanya. Aku tersenyum padanya.

“Maafkan aku, maafkan sikapku. Aku hanya tak bisa jika kau pergi dariku.”

Ia terdiam sejenak mendengar perkataanku. Tak lama senyuman kembali mengembang di wajahnya—yang membuatnya semakin sempurna dimataku. Ku peluk erat tubuhnya dan aku berjanji satu hal.

“Aku tak akan membuatmu menangis lagi, percayalah padaku. Aku akan membuatmu tersenyum—senyuman yang ditujukan hanya untukku.”

Jeongmal saranghae nae Jinri.

***

Ungkapkan lah perasaanmu sebelum kau terlambat. Ungkapkan lah apa keluh kesah mu, sebenlum kau menyesal. Ungkapkan lah segalanya, sebelum kau kehilangan sesuatu yang amat berharga dalam hidupmu.

Jangan takut kalah, karena ini bukan masalah menang atau kalah. Melainkan masalah yang nantinya akan menentukan hidupmu.

Jangan menyia-nyiakan hal yang kau takuti hilang dari hidupmu karena kedepannya mungkin kau bisa mencari yang lebih baik tapi apakah yang lebih baik itu dapat membuatmu nyaman dan menjadi dirimu sendiri?

I’m right next to you but I feel blue, even if I try, it’s all the same. I’m like a puzzle piece that fell out. Honestly, I’m lonely. It’s an unbelievable irony. Like a withering flower covered by your shadow, I slowly harden.

Are we feeling distant because the camouflage of love is coming off? Haven’t you ever been like this when you felt lonely? Haven’t you ever been like this when tears fall? If we turn the ending page to our novel, what kind of story will it be? If I fill my heart with you, I hope it won’t fill with tears. I hope our love remains on top…

 

-END-

12 thoughts on “[FF] So Into You”

  1. Halo! Aku new visitor! FF-nya keren. Banyak pesan dan pelajaran yang disampaikan dalam fiksi ini, and this fic is so amazing, i love it. Pairing chanlli emang paling jjang! ><
    Anyway aku ada saran nih, itu aku agak pusing sama alurnya, soalnya pov-nya sering ganti2 padahal adegannya sama. Coba kalau pake author pov semua aja, dan suasana hati para cast di gambarkan lewat author-nya aja, jadi bisa lebih singkat (adegannya ga diulang2) hehe, itu cuma saran kok. Maaf kalo berasa gimana, soalnya plot FF ini udah kece bgt, aku cuma pengen FFmu makin kece dengan alur yang baik. Terus semangat nulis FF nya ya!

    1. Halo hehe makasih dear~ >.<
      iyaa aku memang sengaja di ff ini aku tampiling setiap pov dari setiap charanya hehe
      iyaaa gapapa ko dear, makasih sarannya hoho makasih juga udah sempet baca dan komen hihi aku seneng banget❤

  2. Ya ampunn,, ini ini ini DAEBAKK!!! Bahasanya itu bahasa umum, tapi baku jadinyaa AKKK DAEBAK BANGET LAH INI FF!!! KEEP WRITING AWESOME AUTHOR!!! SARANGHAEEEE /?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s